Minggu, 03 September 2017

DISCOVERING ABILITY

_Review Tantangan 10 hari Sesi #7_

_Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional_

*DISCOVERING ABILITY*

Tantangan 10 hari yang sudah bunda lakukan di game level #7, kali ini berjaitan dengan "Discovering Ability".

Dua kata dalam bahasa inggris di atas, apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi panjang yaitu, kemampuan daya jelajah para orangtua dan guru selaku pendidik anak-anak untuk menemukan harta karun potensi-potensi yang ada dalam diri anak-anak.

Ada empat ranah yang sudah dilakukan oleh para Ibu Profesional di kelas bunda sayang ini  untuk melakukan proses pencarian potensi kecerdasan anak yaitu :

a. *Ranah intrapersonal (Konsep Diri)*

b. *Ranah Interpersonal (Hubungan dengan sesama)*

c. *Ranah Change Factor (Hubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan perubahan)*

d. *Ranah spiritual : (Hubungan dengan Sang PenciptaNya)*

Mari kita bahas satu persatu

1⃣ *Ranah Intrapersonal : KONSEP DIRI ANAK*

Konsep diri pada anak adalah suatu persepsi tentang diri dan kemampuan anak yang merupakan suatu kenyataan bagaimana mereka memandang dan menilai diri mereka sendiri .

Hal ini  berpengaruh pada sikap yang mereka tampilkan.

Konsep diri anak terbentuk melalui perasaan anak tentang dirinya sendiri sebagai hasil dari :

a.Interaksi dan pengalaman dengan lingkungan terdekat

b.Kualitas hubungan yang signifikan dengan orangtua dan keluarga terdekat

c.Atribut yang diberikan lingkungan terhadap dirinya.

Langkah-langlah yang wajib dikenalkan oleh orangtua dalam rangka proses mengenal konsep diri anak adalah sbb:

a. *Mengenal Allah dan ciptaanNya*

Anak yang makin mengenal dirinya pasti akan makin mengenal siapa penciptaNya

b. *Dilatih untuk membaca diri*

Dua fase penting dalam hidup  anak kita adalah ketika mereka  dilahirkan dan ketika mereka  menemukan jawaban mengapa mereka dilahirkan. Maka bantu anak-anak untuk meyakinkan dirinya sebagai ciptaan Allah yang terindah dan khalifah di muka bumi ini.

c. *Dilatih untuk membaca alam*

Anak-anak dilatih untuk memahami mengapa mereka ditempatkan Allah di alam dimana mereka tinggal saat ini. Memahami kearifan lokal dimana mereka dibesarkan.

d. *Dilatih membaca jaman*

Anak-anak bukanlah milik kita, mereka adalah milik jamannya. maka didiklah anak-anak kita sesuai jamannya. Mereka akan belajar mengapa mereka dilahirkan di jaman seperti ini dan tantangan jaman apa saja yang harus mereka hadapi.

Bantu anak-anak untuk mempersiapkan dirinya sehingga percaya diri menghadapi jamannya.

e. *Membaca Kehendak Allah*

Anak-anak yang sudah diilatihkan segala macam konsep diri dengan metode Iqra' seperti yang sudah dijelaskan di atas (membaca diri, membaca alam, membaca jaman) maka akan menjadi orang yang ikhlas dengan segala kehendak Allah padanya.  

Cara memahami konsep diri di atas akan menguatkan anak di ranah

*IMAN Dan AKHLAK*

Dua hal inilah yang perlu dikuatkan ke anak-anak di ranah konsep diri.

2⃣  *Ranah Interpersonal: HUBUNGAN DENGAN SESAMA*

Setelah anak memahami konsep dirinya dengan baik, saatnya mereka kita latih untuk menguatkan kecerdasan interpersonalnya (hubungan dengan sesama) lewat konsep diri yang sudah didapatkannya dengan menguatkan IMAN dan AKHLAK.

Dengan demikian diharapkan ketika berinteraksi dengan orang lain anak tetap kuat imannya, makin baik akhlaknya, makin mengenal jati dirinya dan tidak mudah terpengaruh.  

Dua fase penting dalam hidup seseorang adalah ketika bertemu dengan jodohnya ( jodoh ini bisa pasangan hidup, bisa partner kerja, bisa tetangga, bisa pekerjaan, bisa komunitas dll) dan fase di saat kita menemukan jawaban mengapa kita dipertemukan.  

Kecerdasan hubungan dengan sesama ini menjadi hal yang sangat penting bagi anak, karena akan menguatkan peran hidupnya dalam menjaga amanah berikutnya, yaitu amanahnya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Ketika sudah masuk usia aqil baligh mau tidak mau anak  harus berhubungan dengan orang lain, minimal jodoh hidupnya dan keluarganya.

Dua senjata utama yang perlu dilatihkan ke anak-anak untuk meningkatkan kecerdasan hubungan dengan sesama adalah

*ADAB dan BICARA*

ADAB  akan membuka tabir ilmu yang tertutup, BICARA akan memudahkan seseorang untuk menyampaikan ilmu yang dimilikinya.

Untuk itu anak-anak perlu :

a. Belajar berbagai ADAB dalam hidup ini, agar bisa diterima  oleh lingkungan dimana mereka akan ditempatkan.

b Belajar mengkomunikasikan semua gagasan dan ilmunya dalam berbagai cara.

3⃣  *Ranah Perubahan: FAKTOR PERUBAHAN*

Sebagai Khalifah di muka bumi ini, salah satu tugas anak-anak ketika aqil baligh nanti adalah membawa perubahan ke arah yang lebih baik terhadap apa yang dipimpinnya. Perubahan itu minimal adalah perubahan pada dirinya sendiri, karena sejatinya semua orang adalah pemimpin untuk dirinya sendiri.

Anak yang sudah paham konsep diri, memiliki kecerdasan berhubungan dengan sesama, akan selalu membandingkan dirinya hari ini dengan dirinya kemarin. Hal ini memicu perubahan pada dirinya sebelum melakukan perubahan pada orang lain.

Seseorang yang sudah bisa memimpin dirinya, membawa perubahan untuk dirinya akan bisa membawa perubahan untuk keluarganya.

Seseorang yang bisa memimpin dirinya dan keluarganya, akan dengan mudah membawa perubahan untuk masyarakat/komunitas sekitarnya.

Dengan pola ini insya Allah kita bisa mengantarkan anak-anak menuju peran peradabannya, mampu memikul kewajiban baik secara individu maupun secara sosial.

4⃣  *Ranah Spiritual : HUBUNGAN dengan PENCIPTANYA*

Ketika anak-anak memahami peran peradabannya di muka bumi ini, maka mereka akan tumbuh menjadi individu yang meletakkan ranah spiritual sebagai yang utama dan pertama dalam kehidupannya. Mereka akan kembali ke fitrah sebagai makhluk spiritual, yaitu makhluk yang   pada dasarnya menerima siapa dirinya, mampu menjadi diri sendiri sesuai dengan peran hidup dari penciptaNya, dan mampu menyelaraskan dengan kebenaran yang hakiki.

Spiritualitas yang sesungguhnya adalah kemampuan setiap jiwa untuk hidup selaras dengan Sang Pencipta, hidup sesuai dengan kehendakNya.

Dari penjelasan di atas, Semakin yakin kita bahwa "discovering ability" yang dilakukan orangtua pada anak menjadi hal penting yang harus kita lakukan dalam membersamai anak-anak. Karena hal tersebut tidak hanya berpengaruh dalam peran hidup anak secara individu saja, melainkan sangat berpengaruh terhadap perubahan peradaban umat manusia di saat anak-anak kita aqil baligh dan menjalankan peran kekhalifahannya  di muka bumi ini.


_Salam Ibu Profesional_

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚 *Sumber Bacaan* :

_Howard Gardner, Multiple Intellegences, ISBN : 9789791208642, 2006_

_Septi Peni Wulandani,  Pola Pendidikan di Padepokan Margosari, makalah ilmiah, 2017_

🍁🍁🍁🍁🍁

1⃣Teh mekar, izin bertanya

Assalamu'alaikum ibu septi,
1. Bisa dicontohkan teknis memperkenalkan konsep diri kpd anak berumur 2th?
2. Bagaimana tahapan usia golden age anak utk pengenalan 4 ranah tsb?
3. Bagaimana jika ada ibu yg terlanjur belum memahami konsep dirinya, sehingga berimbas pada ranah hubungan dengan sesama, khususnya adab dan bicara kepada keluarga pasangan?

Terimakasih ibu🙏🏻

➡ Wa'alaykumsalam wr.wb

1.Bunda, untuk anak umur 2 tahun, konsep diri yang perlu dilatihkan adalah mulai dari ranah tentang proses "aku" anak ini. Misal namaku, rumahku, orangtuaku, makananku dll.

Setelah itu kenalkan  dengan berbagai ciptaan Allah yang ada di muka bumi ini, karena manusia yang makin mengenal dirinya maka dia makin memgenal siapa Tuhannya.

2.Untuk anak golden age, mulai saja dg mengenal siapa dirinya dan memahami lingkungan sekitar. Belum perlu ke ranah change factor dan ranah spiritual

3.Seorang ibu yang belum memahami konsep dirinya biasanya akan menjadi ibu yang "tuna adab" saat masuk ke ranah hubungan dengan sesama.

Maka kita perlu menguatkan konsep diri terlebih dahulu✅

2⃣Saya mau menanyakan, bila pada perjalanan mengamati interpersonal  nya anak anak. Lalu kita menemukan hal yang tidak baik pada anak. (Ujian bagi ranah intrapersonalnya) misalnya anak meniru apa yang dilakukan teman nya (sikap).
Bagaimana cara mengatasi hal tersebut?

Apakah mengurangi intensitas bermain dengan teman nya. Sambil mengokohkan interpersonal nya.

Rasanya kok seperti membentuk antibodi gitu ya Bu.

Karina - IIP Babel

➡Mbak Karina, seseorang yg konsep dirinya belum kuat, biasanya akan menjadi gampang terpengaruh ketika masuk di ranah hub dengan sesama.

Sehingga solusinya adalah menguatkan konsep diri anak, bukan mengurangi intensitasnya di ranah hub dengan sesama✅

Karina : Berarti tahapan itu harus terevaluasi dan dikuatkan terus menerus ya Bu?

Sambil lihat kembali jawaban Nomor 3.

Bu Septi : Betul mbak, tidak akan pernah terputus, harus dikuatkan pijakan awalnya, karena akan berpengaruh pada pijakan berikutnya. Dan ini tidak boleh berhenti sampai akhir hayat✅

3⃣Assalamualaikum Ibu,

Saya Lulu - Bekasi

Bu, sebelumnya Terimakasih sekali penjelasannya, jadi semakin paham posisi "Discovering Ability" ini memang Saya fokus ke 4 ranah itu selama tantangan, dan minim sekali materi tentang penjelasannya... Akhirnya sampai bertemu dengan artikel Howard Gardner...

Rasa curiosity Saya belum selesai bu...

Tadinya Saya memaknai Discover Ability ini ke arah potensi atau dikaitkan dengan talent anak anak...

Bagaimana cara mengaitkan dan menyimpulkannya Bu? Senang sekali jika diiringi dengan contoh...

Jazakillah Khairan Katsiran Bu 🙏

➡ wa'alaykumsalam wr.wb, mbak lulu. Kalau dikaitkan dg multiple intelkegences nya howard gardner, maka memahami kecerdasan anak ini masuk rabah konsep diri.

Contoh :

Konsep diri,
kita amati kekuatan anak ternyata di kecerdasan natural.

Ranah hubungan dengan manusia,
Kita ajak anak-anak untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki passion yg sama di ranah natural.

Ranah change factor,
Mulailah anak-anak mengasah dengan 3 pertanyaan. Mengapa, bagaimana jika, mengapa tidak?

Ranah spiritual
Anak-anak jadi semakin paham apa kehendak Allah ataa dirinya✅

4⃣Bu Septi, bagaimana jika konsep diri ini belum selesai dipahami untuk orang dewasa?
Bagaimana treatment yang sebaiknya dilakukan, karena untuk membersamai anak maka kita harus selesai terlebih dahulu,
Mohon pencerahannya 🙏🏻😊

Fitri - Tangsel

➡Mbak Fitri, ketika anak sudah ada di rahim kita, artinya diri kita sudah disiapkan Allah untuk mendidik anak-anak.sehingga pakai prinsip "belajar bersama" bukan "mengajar"

Karena belajar bersama maka tentukan jam belajar bersama, paling dasar adalah  berbagi bukan saling menuntut✅

5⃣Iyie-Cirebon
Membaca review ibu Septi ttg game level 7 ini, membuat saya merinding, karena bukan tugas yang bisa dibilang mudah. Dan sebenarnya bisa lebih mudah dijalani dengan kesamaan visi dengan pasangan. Jadi yang ingin saya tanyakan, *langkah apa yang harus diambil jika "negatif thinking" pasangan yang sepertinya mengambil porsi lebih besar pada pemikiran anak dibanding "positif thinking" saya*.
Contohnya begini, dalam banyak hal, anak saya selalu berpikir yang jelek dulu jika ditawarkan sesuatu misalnya outbond, biasa memikirkan akan jatuh, kotor terluka dan pikiran jelek lainnya. Padahal ketika terpaksa mengikuti outbond itu, akhirnya malah ketagihan.
Yang saya amati, pasangan saya pun hampir seperti itu, terbiasa menganggap negatif dulu dari segala sesuatu (entah itu kiriman berita, postingan tulisan saya di FB, bahkan tulisan-tulisan saya yang kadang memang berlatar belakang masalah kami, dengan tujuan berbagi hikmah, juga disikapi negatif) sebelum akhirnya mengambil kesimpulan bahwa itu memang bertujuan baik.
Makasih...

➡ Bunda Iyie, kl saya justru merinding  ketika menuliskan review ini, bahwa discovering ability ini bukan sekedar passion, talent, atau kognitif saja, itu bagian kecil dari proses discovering ability. Yang paling mendasar justru ini proses menjadi insan kamil.

Untuk tantangan bunda di keluarga, maka ini penting unt menguatkan pola komunikasi di keluarga kita. Ubahlah sesuatu yg negatif menjadi positif. Termasuk mengungkapkan kalimat negatif menjadi positif.

Misal : masalah ➡ tantangan

Nggak tahu ➡ ayo kita cari tahu.

Kalimat itu merepresentasikan pola pikir kita✅

6⃣Kami lihat putri2 kami, alhamdulillah tidak bermasalah dalam bersosialisasi. Kami lihat bisa bergaul dengan usia kelompok umur mana saja. Akan tetapi nenek dan kakeknya selalu khawatir karena (nenek dan kakek) seperti diintimidasi oleh lingkungan/orang2 yg bertanya ttg sosialisasi anak2 HS. Bagaimana sebaiknya menyikapi ini Bu?

Betty

➡ Nibet, berikan bukti bukan janji. Jadi tidak perlu banyak menjelaskam atau mengklarifikasi ttg konsep sosialisasi anak HS. Cukup berikan bukti bahwa anak-anak kita bisa bersosialisasi baik secara horisontal maupun vertikal✅

7⃣Menurut saya discovering ability itu proses seumur hidup...benarkah?

-Kris-

➡Betul bu Tati, tidak ada batas usianya karena ini proses menuju insan kamil.

Yang menjadi kendala kita dan para ahli pendidikan serta pengembangan bakat, discovery ability itu hanya seputar bakat dan ilmu kognitif yang perlu dijelajah

Padahal kedua hal tsb hanya bagian kecil saja.✅

8⃣Oya Bu, bila di usia Ananda yang 7tahun.

Apakah bisa diberikan kesempatan untuk memilih melanjutkan sekolah atau tidak?
Karena kalau saya ajak ngobrol sepulang sekolah yang diceritakan hal yang membahagiakan bagi nya ketika sekolah adalah bertemu dengan teman teman nya..
Hmm kadang cerita juga sih tentang belajar nya..

-Karina-

➡ Kalau sudah bahagia nggak perlu diganggu kebahagiaannya, nanti lama-lama anak akan menemukan sisi ketangguhan di ranah passion yg mana.✅

9⃣ Berarti yang paling awal daei discovering ability itu yang pemahaman diri ya bu?

Maaf saya masih belum "dapet" nih😅

-Rima-

➡Mbak Rima,

1. Ini tahapan yg harua diselesaikan satu-satu. Karena biasanya anak yg belum selesai konsep dirinya ketika masuk hub dengan sesama akan terjadi "Tuna Adab"

2. Apabila hanya kuat salah satunya, maka perjalanan ke insan kamilnya tidak sempurna.

Karena semua akan terjadi totalitas dan utuh

Anak yg memiliki konsep diri positif ➡ membuat/gabung komunitas positif ➡ membawa perubahan positif ➡ menjadi makhluk spiritual yang totalitas mengabdi pada Allah

Demikian juga sebaliknya.

Bakat, Kecerdasan majemuk itu ada di ranah konsep diri. Anak yakin, Pede dengan kecerdasan yang dimilikinya, kemudian menggunakan kecerdasan itu unt menjalankan tahapan berikutnya. Jadi kecerdasan itu hanya bagian kecil yg diperlukan anak.✅

Rima :Owh ya bu, mulai memahami😊

Sebuah hal baru buat saya nih😍
Telat menyadari saya nya🙈
➡ Wajar mb, karena kebanyakan dr kita melihat sesuatu yg tersurat, sehingga menyamarkan yg tersirat hehe...✅

🔟Berarti Kalau kita melihat anak yang suka mengikuti arus temannya berarti konsep diri belum kuat ya bu?
-Fahrina-

➡Betul mb, indikator anak sudah kuat di konsep diri ➡ rasa PERCAYA DIRI nya tinggi ➡ shg siap jadi khalifah, minimal memimpin dirinya sendiri ➡ anak yg sdh bisa memimpin dirinya sendiri kelak akan memimpin keluarganya ➡ seseorang yg sdh selesai dengan diri dan keluarga maka akan memimpin umat

Demikian juga sebaliknya✅

1⃣1⃣ Bu jika prosesnya terus menerus berkelanjutan bagaimana memandirikan anak anal bua setelahnya akil baligh terkait dgn discovering ability ini? Pematangan di konsep diri juga kah?
-lulu-

1⃣2⃣ Membaca penjelasan ibu tentang konsep diri diatas, bikin saya "cenut cenut" dan melihat di sekitar bahwa "tuna adab" yang terjadi di sekitar kita ini, berkaitan erat dengan konsep diri individu tersebut.

Saya sangat merasakan kalau sedang ada di kelas untuk mengajar, banyak rekan pengajar pun yang mengeluhkan tentang "adab" anak2 sekarang 🤔.

Berarti, konsep dirinya dulu yang harus dibenahi ya bu.

-Ummi-

➡Mbak lulu dan mbak ummi,

Ranah konsep diri ini menjadi SANGAT PENTING
, dengan membaca review ini kita jadi paham harus banyak "IQRA'" unt memahami konsep diri.

2.Untuk anak aqil baligh, ajak anak berpikir tentang jamannya,

kalau anak pre aqil baligh, dikayakan wawasan dan aktivitasnya, kemudian latih logika berpikirnya, ijinkan anak-anak melatih pola pikirnya. Jangan didikte dengan konsep kita.

Dengan harapan setelah aqil baligh anak siap memimpin jamannya.

3.Indikator  tahapan konsep diri adalah rasa PERCAYA DIRI nya tinggi.

Indikator ranah hubungan dengan sesama : anak-anak mulai bermanfaat untuk lingkungan terkecilnya, lingkungan terdekatnya.

Indikator Ranah perubahan : anak-anak mulai melakukan aksi/project untuk melakukan perubahan

Indikator Ranah spiritual : anak-anak sudah *IKHLAS* terhadap segala kehendak Allah terhadap dirinya.

Ikhlas ini mendekatkannya pada ridho Allah, sehingga hidupnya senantiasa dinaungi keberkahan ➡ keberkahan ini pemicu BAHAGIA✅

1⃣3⃣Ibu izin bertanya unt konsep diri apakah ada batasan usia anak sebaiknya usia berapa sudah mampu menjadi pemimpin dan paham konsep diri.

Apakah ini tidak berkaitan dengan bakat kepemimpinan pada anak yang setiap bakat anak berbeda-beda bu?
-Lita-

➡Mbak lita, tugas manusia di muka bumi ini adalah sebagai khalifah, maka tidak perlu bicara bakat memimpin, karena setiap orang ditakdirkan bisa memimpin dirinya sendiri. Tinggal scope area kepemimpinannya ini akan selaras dengan ujian dan ikhtiar di dalam kehidupannya.

Sehingga tidak ada batasan usia, krn konsep diri tidak sebanding dg usia, tapi sebanding dg kapan dia mulai mencari dirinya✅

Tidak ada komentar:

Posting Komentar