Blog ini berisi portofolio selama saya berproses menjalankan misi hidup saya yaitu menjadi manajer pendidikan keluarga. Disini saya belajar dan mempraktekan materi dari Institut Ibu Profesional, dan Fitrah Bassed Education untuk mendampingi anak-anak. Semoga menginspirasi bagi yang membaca
Senin, 31 Juli 2017
Belajar Jarimatika
Minggu, 30 Juli 2017
Belajar Berhitung dari Pesanan Part 3
#Tantangan10Hari
#GameLevel6
#KuliahBunsayIIP
#MathArroundUs
#ILoveMath
#MyFamilyMyTeam
Sabtu, 29 Juli 2017
Belajar dari Pesanan Part 2
Hari ini jadwal beli paha ayam untuk pesanan besok. Berhitung berapa kilo paha yang dibutuhkan untuk 80 box nasi. Yak...dan kaminpun menjatuhkan pilihan 1kg 9 potong paha, agar ukurannya lebih besar. Karena anak-anak biasanya kepingin kalau pas ada pesenan gini jadi ditambah 10 potong lagi, jadi beli paha ayam 90 potong. Akhirnya kami pun beli 10kg paha ayam.
Kali ini tidak tentang anak-anak, karena anak-anak mempunyai kesibukan sendiri-sendiri. Oza bermain di sawah dengan ayah setelah periksa di RS Puti Asih. Aisya subuk bermain dengan sepupunya.
Salatiga 29 Juli 2017
#Tantangan10hari
#Gamelevel6
#kuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#matharroundus
Jumat, 28 Juli 2017
Belajar Berhitung dari Pesanan
#Gamelevel6
#Tantangan10Hari
#kuliahBunsayIIP
#ILOVEMATH
#Matharroundus
Kamis, 27 Juli 2017
Belajar dari Lampu Lalu Lintas
Beberapa hari ini banyak kunjungan dibeberapa rumah teman yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Dengan motor roda 2 saya biasa mengajak anak-anak jalan-jalan. Kali ini ada beberapa acara yang harus dikunjungi dengan letak berjauhan. Ternyata kami melewati beberapa Lampu lalu lintas. Saat sampai di "bangjo" , dari kejauhan lampu yang tadinya hijau berubah menjadi kuning dan merah. Ya...saat tepat berada di garis batas lampu tepat berwarna merah. Terdengar Oza memyeleletuk "Yah....merah, lama lho mah ini". Saya manjawab "memang berapa lama kak?". Oza menjawab "1 menit itu mah, yang trtulis itu detik". Sayapun bertanya "memangnya 1 menit berapa detik?", Oza menjawab "1 menit ya 60 detik ". Mamahpun tersenyum.
Kesimpulan : ternyata Oza sudah paham mengenai waktu, dan aplikasinya.
Aisya baru menjadi pendengar saja....
#Tantangan10Hari
Rabu, 26 Juli 2017
Belajar Matematika dari Tumpeng Nasi Kuning
Selasa, 25 Juli 2017
Bermain Tiga Jadi
Ya sampai juga ditantangan hari ke 6 Menstimulus anak suka matematika. Di hari ke 6 ini kami tertarik mengenalkan permainan tiga jadi ke anak-anak. Tanpa sadar mereka pernah bermain ini di HP (tetris), tapi terkadang mereka berhasil karena kebetulan. Nah sekarang saya dan suami mengenalkan ini u tuk anak-anak.
Pertama, saya siapkan kardus tidak terpakai (disini saya pakai bagian belakang permainan ular tangga), lalu saya buat persegi yang dibagi 9. Nah aturan mainnya:
1. Ada 2 pemain yang masing-masing memiliki 3 kertas yang berbeda antar pemain
2. Pemain harus membuat garis lurus baik vertikal, horisontal dan diagonal.
3. Sembari menyusun strategi, pemain harus menghalangi lawan agar tidak membentuk garis horisontal, vertikal atau diagonal.
4. Pemain yang berhasil membentuk garis terlebih dahulu yang menang.
Pelajaran yang diambil dari permainan ini:
1. Anak belajar membuat garis vertikal, horisontal dan diagonal
2. Belajar menyusun strategi
3. Belajar untuk sportif
Saat bermain ini awalnya Oza hanya fokus ke horisontal dan vertikal, dia kurang fokus ke garis diagonal sehingga menyebabkan kekalahan, setelah paham dia mulai menyusun strategi, bukan hanya berhasil menyusun garis tapi membuat saya kebingungan karena dihalang-halangi....hahahaha selamat ya kak, kamu berhasil...
Bagaimana dengan Aisya (4 tahun), saat ini baru bisa membuat garis lurus untuk dirinya belum paham menghalangi lawan...
#gamelevel6
#Tantangan10Hari
#kuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#matharroundus
Senin, 24 Juli 2017
Bermain dan Belajar dengan Permainan Ular Tangga
Minggu, 23 Juli 2017
APA DAN BAGAIMANA HOME EDUCATION
📚 *Resume Kulwapp Ⓜatrikulasi#5 HEbAT Community* 📚
*Materi Pokok 1⃣
🏡 APA DAN BAGAIMANA HOME EDUCATION 🏡
SME :
👤 *Ustadz Harry Santosa*
🗓 Kamis, 20 Juli 2017
⏰ 19.30-21.30 wib
Host : Bunda Erli
Admin : Bunda Rima
Relayer : Bunda Antik
Notulis : Ayah Eko
===================
☘🌹☘🌹☘🌹☘🌹☘🌹☘🌹☘
#Materi Pokok 1
🏡 "Apa dan Bagaimana Home Education" 🏡
Narasumber :
💬 Ust.Harry Santosa
💬Ibu Septi Peni Wulandani
----------------------------
Bagian 1
💖 Home Education
(Pendidikan berbasis Rumah)
Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dilaksanakan oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanah-Nya.
Jadi tidak ada yang “LUAR BIASA” yang akan kita kerjakan di HE. Kita hanya akan melakukan yang “SEMESTINYA” orangtua lakukan. Maka syarat pertama adalah “dilarang minder” ketika pilihan kita berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan “misi hidup” dari Sang Maha Guru.
➡Home Education dimulai dari proses seleksi calon ayah/ibu yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak yang pertama adalah mendapatkan ayah dan ibu yang baik.
➡ Setelah itu kemudian dilanjutkan mulai dari proses terjadinya anak-anak di dalam rahim ibu, sampai dia lahir.
➡Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun
➡ Tahap usia 8-14 tahun,
➡ Pada usia 14 tahun keatas kita sudah mempunyai anak yang aqil baligh secara bersamaan.
Home Education sebagai orang tua dan untuk anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa, delivery method HE pun sudah jauh berbeda.
Kita dipercaya sebagai penjaga amanah-Nya, SEMESTINYA, kita menjaganya dengan ilmu, sehingga orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya merupakan hal yang BIASA, namun sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yang mau melakukannya.
💕Hal-hal yang SEMESTINYA orang tua lakukan :
◈ Mendidik
◈ Mendengarkan
◈ Menyanyangi
◈ Melayani (pada usia 0-7 thn)
◈ Memberi rasa aman & nyaman
◈ Menjaga dari hal-hal yang merusak jiwa dan fisiknya
◈ Memberi contoh dan keteladanan
◈ Bermain
◈ Berkomunikasi dengan baik sesuai dengan usia anak
Bagian 2
💖 “OUTSIDE IN“ vs “INSIDE OUT”
Tugas mendidik bukan menjejali atau \“OUTSIDE IN“, tetapi “INSIDE OUT”, yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitrah baiknya sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh. Satu-satunya lembaga yang tahu betul anak-anak kita, mampu telaten dan penuh cinta hanyalah rumah, dimana amanah mendidik adalah peran utama ayah bundanya.
Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut.
⭐Fitrah Kesucian.
Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, dan malu terhadap dosa.
⭐Fitrah Belajar.
Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.
⭐ Fitrah Bakat.
Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khilafah atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi ini pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.
⭐ Fitrah Perkembangan.
Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintahkan untuk mengajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak.
🌎 Pendidikan Berbasis Shiroh
Kita perlu mengkaji lebih dalam pendidikan yang dialami oleh Rasulullah dari lahir sampai dewasa, sebagai contoh pendidikan untuk anak-anak nanti. PENDIDIKAN dan PERSEKOLAHAN adalah 2 hal yang berbeda. Bukan sekolah atau tidak sekolah yang ditekankan, tetapi bagaimana pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak sehingga potensi alamiah anak dapat dikembangkan, karena setiap anak memiliki potensi yang merupakan panggilan hidupnya.
🌎 Pendidikan Berbasis Potensi & Akhlak
Yang dimaksud disini adalah yang terkait dengan performance (kinerja). Dimulai dengan mengenal sifat bawaan atau istilah Abah Rama dengan Personality Productive yang kemudian menjadi aktivitas dan performance, lalu menjadi karir dan peran peradaban yang merupakan panggilan, akhirnya menentukan destiny. Jadi pengembangan potensi berkaitan dengan performansi, namun performansi memerlukan nilai-nilai yang disebut sebagai akhlak dan moral karakter.
Dalam mengembangkan bakatnya, anak-anak perlu diingatkan dan diteladankan dengan nilai-nilai dalam keyakinannya (Al Islam) agar perannya bermanfaat dan rahmat atau menjadi akhlak mulia.
Setiap keluarga memiliki kemerdekaan untuk menentukan dan mengejar mimpinya, termasuk dalam hal pendidikan.
"Semangat belajar & bertumbuh bersama, saling menginspirasi dalam kebaikan"
Disusun Oleh:
Tim Fasilitator Nasional HEbAT Community
☘🌹☘🌹☘🌹☘🌹☘🌹☘🌹☘
*Tanya Jawab*
*1⃣ Meng-Istimewakan HE*
*Bunda Nira - Bandung*
1. Kalau mengutip pernyataan di atas
_"Dalam menjalankan HE sebenarnya biasa namun kini menjadi luarbiasa,"_
barangkali ini jika dipandang dari fenomena hari ini mungkin ya.
Nah apakah boleh jika kita malah menspesialkan dan atau menganggap luarbiasa HE yg kita jalankan untuk menumbuhkan rasa berharga dalam membersamai anak-anak kita?
Sehingga tugas mendidik bukan menjadi hal yang biasa, tapi luarbiasa sehingga dengan keluarbiasaan ini kitapun berupaya untuk menjemput ilmu yang luarbiasa pula dari orang-orang luarbiasa yg Allah kirimkan sebagai guru kehidupan di masa kini.
Silakan ustadz....🙏🏻😊
👳🏻 *Ust. Harry*
1⃣ bunda Nira yang baik di Bandung,
Dalam perspektif sesuatu yang alami, HE bukanlah hal yang luarbiasa, namun dalam perspektif tugas atau misi, tentu saja HE adalah karunia yang luar biasa atau istimewa. Inilah mengapa pernikahan disebut sebagai peristiwa besar peradaban, krn di dalam pernikahan ada tugas atau peran luarbiasa yaitu mendidik generasi peradaban dan mengantarkannya kpd peran peran peradaban istimewa terbaik dengan adab mulia. Sesungguhnya dari rumahlah, baik dan buruk peradaban dimulai. ✅
*2⃣ Menumbuhkan Rasa PD dalam ber-HE*
*Bunda Yuthia - Sumbar*
*Bunda Okta - Malang*
❓Pertanyaan :
1. Syarat 1 HE adalah _"dilarang minder"_.
Bagaimana cara supaya tidak minder?
Cakupan _"minder"_ saya disini bukan sekedar ketika pilihan kita berbeda dengan yg lain, tapi minder karena :
1. Merasa kurang mampu untuk melakukan yg *"SEMESTINYA"*.
2. Emosi dan amarah yg masih kurang terkontrol dalam mendidik anak.
3. Masalah keteladanan yg masih kurang.
4. Masalah kebiasaan yg sudah melekat karena pendidikan masa lalu orang tua kita yg secara tidak langsung juga diterapkan dalam mendidik anak-anak.
Saya tetap berusaha untuk belajar dan berubah ke yg lebih baik dalam mendidik anak-anak, tapi saya takut dalam saya berproses, saya menciderai fitrah anak.
2. Kesadaran diri yang tumbuh ketika kita dewasa itu hasil dari pemantapan Fitrah yang mana?
Karena sewaktu kecil orang tua saya tidak pernah mendampingi saya (saya bungsu dari 7 bersaudara), saya anak _culculan_ (lepasan) istilahnya tapi naluri saya yg mengatakan ini baik dan itu buruk, hingga dewasa paham tentang hablumminallah dan hablumminannas
Tapi saat ini saya agak kesulitan dalam mendampingi anak-anak saya sendiri terutama si sulung karena nalurinya belum tumbuh seiring usianya, saya harus mengingatkan dan mengingatkan.
Mohon penjelasannya.
Terimakasih
👳🏻 *Ust. Harry*
2⃣Bunda Yuthia dan bunda Okta yang baik, Ada beberapa kaidah yang kita pahami bersama dalam menjalankan HE
1. Allah tdk akan memanggil mereka yg mampu, tetapi *Allah akan memampukan mereka yg terpanggil*.
2. Raise your Child, Raise your Self. Tumbuhkanlah fitrah ananda, maka fitrahmu akan juga tumbuh.
3. Banyaklah bersyukur atas fitrah diri dan fitrah anak2, Allah akan curahkan banyak hikmah.
4. Tetaplah rileks dan optimis. Ahli parenting terbaik utk anak anaknya adalah orangtuanya.
5. Yakinlah bahwa setiap anak punya peran istimewa di masa depan.
Kesadaran yang tumbuh itu bisa karena berasal dari fitrah keimanan karena menyadari kewajiban dakwah, bisa pula dari fitrah seksualitas sebagai seorang ibu atau ayah, bisa juga karena fitrah belajar yang menggebu dsbnya.
Tetapi perlu diingat bahwa fitrah adalah jalan sukses, tahapan dan metodenya adalah cara sukses, namun doa adalah kunci suksesnya.
✅
❓Pertanyaan :
3⃣ *Tahapan HE sesuai Fitrah dan Siroh*
*Asep Sumarna - Bekasi*
*Arif - Bandung*
*Gita - Depok*
*Pandji - Depok*
*Rini - Jember*
*Mira - Bandung*
*Wahid - surabaya*
*Ayunda - Malang*
*Rizky - Jakarta*
1. Didalam materi disampaikan bahwa tahap perkembangan itu dari 0-7 lalu 8-14. Tapi di penjelasan tentang fitrah perkembangan dikatakan bahwa anak mulai diperintahkan sholat pada usia 7 tahun. Saya menangkapnya seperti 7 tahun ini adalah tahapan kedua. Jadi berdasarkan penjelasan tentang fitrah perkembangan, yang saya tangkap perkembangannya 0-6 baru usia 7.
Mohon pencerahannya.
2. Saya ingin memastikan bahwa saya dan istri tidak salah dalam mendidik anak. Bagaimana kita tahu bahwa kita sudah mendidik anak dgn benar? Apakah ada indikator2 pencapaian yg bisa dievaluasi utk setiap tahap perkembangan anak? Contoh: 0 - 7 tahun, sudah harus bisa .....
Karena menurut saya, kalo telat menyadari kalo ada kesalahan pendidikan, akan susah memperbaikinya
3. Assalamualaykum warrohmatullohi wabarokatuh izin bertanya, saya Gita ibu dari 2 anak usia 6 dan 4 tahun. Tahapan pendidikan sesuai siroh apa saja?
4. apakah 4 fitrah itu akan muncul bersamaan atau satu2?, mohon pnjelasannya, terima kasih
5. Assalamualaikum Ustadz...
Ingin bertanya ya...
Kapan atau pada usia berapa fitrah2 anak yg disebutkan diatas akan muncul atau terlihat?
Fitrah tersebut akan mulai terlihat dg sendirinya atau para orang tua yg mengasah hingga fitrah itu terlihat atau muncul.
Jazakalloh khoir Ustadz😃🙏🏻
6. "Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut." Bagaimana cara kita mengukurnya ya Ustadz... Untuk memastikan bahwa apa yang kita lakukan sesuai syari'at..
7. Assalamu'alaikum...
Materi pembelajaran anak pada usia 0-7 tahun apa saja? (Al-Quran, akhlak, tauhid, membaca??) Kemudian bagaimana cara pembelajarannya?
8. Penerapan pendidikan anak usia 0-3 tahun di dalam rumah seperti apa? Apa para orang tua khususnya ibu (yang mungkin memiliki waktu lebih banyak dengan anak) menerapkan pendidikan seperti pendidikan di sekolah dalam artian tiap hari dengan batas jam maximal belajar dan pelajaran yang ingin disampaikan pada anak atau seperti apa?
Terimakasih.
9. Kami memiliki 2 Putri 3,7 tahun dan 14 bulan. Yang ingin kami tanyakan bagaimana mengkombinasikan pendidikan berbasis siroh Nabi dan berbasis akhlak dan fitrah agar berkesinambungan di setiap jenjang usia ?
Terimakasih banyak atas kesempatannya 🙏🏻
👳🏻 *Ust. Harry*
3⃣ Ayah Bunda yang baik,
1. Fitrah perkembangan yang benar memang 0-6 tahun, karena usia 7 tahun sudah masuk pada tahap berikutnya karena ada perintah sholat. Tahap berikutnya adalah 7-10 tahun, karena di usia 10 kamar dipisah dan boleh "dipukul" (bukan hukuman) jika meninggalkan sholat. Tahap berikutnya, bisa 10-14 tahun atau 11-14 tahun, karena usia 15 tahun sudah dianggap AqilBaligh atau Mukalaf atau setara orangtua dalam tanggungjawab mengemban syariah.
2. Indikator untuk tiap fitrah dan tiap tahapan berbeda. Ukurannya kualitatif dan subyektif pengamatan orangtua. Tetapi secara umum, tahap 0-6 tahun adalah tahap penguatan konsepsi melalui imaji imaji positif yg memunculkan ghairah kecintaan.
📌 Misalnya fitrah keimanan, jika ananda terlihat sudah antusias dan penuh cinta kepada Allah, RasulNya dan Islam atau alQuran ini sudah bagus. ADAB seperti sholat pada tahap ini ukurannya bukan tertib waktu, tertib bacaan atau gerakan, tetapi ANTUSIAS ketika menyambut adzan, gairah bergerak sholat atau ke masjid walau bermain dan tdk tuntas, gairah pd kebaikan dll
📌Misalnya fitrah bakat, jika ananda sudah bisa diobservasi sifat uniknya, dihargai keunikannya dan tdk dibenturkan dengan akhlak, ini sudah bagus.
📌Misalnya fitrah belajar, jika ananda sudah suka buku, suka bergerak di alam, terawat curiositynya dll ini sudah bagus.
3. 0-2 tahun karena ada menyusui. Nabi SAW menjalani fase ini dengan tuntas
➡ 3-6 tahun, karena ada perintah sholat ketika usia 7 tahun
➡ 7-10 tahun, karena ada perintah utk memisahkan kamar dan memukul bila tdk sholat (fitrah keimanan dan fitrah seksualitas secara potensi sudah selesai)
➡ 11-14 tahun, karena usia 15 tahun disepakati ulama, sebagai batas anak dan batas dewasa (aqilbaligh). Izin berperang dan menikah juga kewajiban syariah dalam Islam dimulai usia 15 tahun
4. Fitrah itu tumbuh beriringan, sepanjang tidak ada intervensi apapun atau yang menciderainya. Setiap fitrah berujung kepada peran. Namun ada tahap usia tertentu dimana fitrah tertentu mengalami puncaknya, misalnya fitrah keimanan, justru masa emasnya ada di usia 0-6 tahun, sementara fitrah belajar dan bernalar, masa emasnya di usia 7-10 tahun, fitrah bakat bahkan di tahap usia 11-14 tahun dsbnya.
5. Fitrah itu terlihat dengan sendirinya namun perlu interaksi dengan orangtua, alam, kehidupan, Kitabullah sesuai tahapannya agar tumbuh baik. Misalnya fitrah keimanan, ini sudah diinstal di alam rahim (QS 7:172) namun memerlukan penguatan melalui kehadiran orangtua. Begitu pula fitrah bahasa, sdh diinstal, namun dikuatkan dengan bahasa ibu dsbnya.
Usia 0-6 tahun adalah tahap penguatan konsepsi dengan penuh cinta.
Usia 7-10 tahun adalah tahap penyadaran potensi dengan aktifitas.
Usia 11-14 tahun adalah tahap pengokohan eksistensi dengan ujian dan tanggungjawab
Itulah peran orangtua membersamai ananda, namun tidak banyak intervensi dan obsesi.
6. Secara umum, syariat Islam sudah memberi tahapannya, misalnya perintahkan sholat anak ketika berusia 7 tahun. Apa maknanya? Kita berupaya agar sebelum masa 7 tahun, fitrah keimanan ananda muncul (inside out) berupa gairah mencintai kebenaran termasuk sholat. Gunakan akal, nurani, firasat dan bagian fitrah mendidik orangtua dsbnya untuk menemukan caranya, krn tiap anak adalah manusia yang punya keunikan. Karenanya mendidik mirip berdakwah, perlu menyentuh dan memahami jiwa ananda.
Misalnya, pisahkan kamar dan pukulah ketika meninggalkan sholat di usia 10 tahun. Apa maknanya? Upayakan, antara usia 7-10 tahun fitrah keimanan tumbuh baik, dari sekedar kecintaan kepada Allah kpd potensi ketaatan. Bagaimana caranya? Gunakan nurani, firasat, fitrah mendidik dan doa kpd Allah agar diberikan jalan dan cara terbaik.
7. Dalam konsep fitrah, kita tidak membahas materi atau konten, karena dalam mendidik ukurannya bukan jumlah materi atau konten yang harus dikuasai, tetapi gairah ananda utk mencintai alQuran, mencintai belajar dan ilmu, mengenal dirinya dengan sebaik baiknya, tumbuh semua fitrah sesuai tahapan usianya. Silahkan tentukan materi yang sesuai. Anak yg fitrah imannya tumbuh paripurna, mencintai Allah, mencintai Rasulullah SAW dan mencintai alQuran akan mendalami dan mengamalkan alQuran dan ilmu2 keIslaman sepanjang hidupnya.
8. Ada 7 hal penting pendidikan usia dini (0-6 tahun), yaitu
- gairahkan cintanya pada Allah, berikan lingkungan yg hanif
- puaskan ego sentris dan beri kesempatan berkembang sifat uniknya,
- kembangkan kepemimpinan (executive funtioning) dengan memelihara hewan atau tumbuhan,
- belajar di alam terbuka dengan menyentuh, memegang, bergerak dstnya,
- bahasa ibu (mother tongue) sehingga utuh melalui komunikasi dan membacakan bacaan bersastra baik,
- kelekatan ayah dan bunda secara utuh dan seimbang,
- rawat fisik yang baik dengan mempertahankam pola tidur, pola makan, pola kebersihan yg alami.
9. Dalam Islam, ada 2 tema besar dalam mendidik yaitu *Fitrah dan Adab/Akhlak*
Fitrah dirawat dan ditumbuhkan (tarbiyah)
Adab/Akhlak ditanamkan atau dibentuk (ta'dib)
Keduanya tidak boleh dibenturkan dan punya proporsi untuk tiap tahapan usia.
Fitrah Manusia adalah kesiapan untuk menerima Syariah atau Adab atau Nilai2 alQuran, karenanya Ibnu Taymiyah menyebut Kitabullah dengan Fitrah Munazalah, karena antara fitrah dan adab sejatinya kompatibel. Karenanya pahami tahapan mendidik fitrah dan adab serta proporsinya agar tidak dibenturkan.✅
4⃣ *Terlambat Mengenal HE*
*Dwi raisnawati - Tangerang*
*Adek - Tangerang*
*Mera Jakarta*
*Suryawati - Bogor*
*Desna-Riau*
*Bunda Putri*
*Lilis Bandung*
*Ganda - Mataram*
*Dwi Yuniati - Mataram*
❓Pertanyaan :
Assalamu'alaikum...
1. Saya dwi raisnawati (bunda zahra 8th dan athar 3th) - Tangerang..
Langkah awal apa yang harus dilakukan dalam memulai HE karena tahapan yg pertama (memilih pasangan yang tepat) dan kedua (masa mengandung) sudah jauh terlewat?
2. Assalamualaikum
Saya ibu dari 2 anak yang berusian 6,7 bulan dan 3,7 bulan
Bagaimana tahapan awal nya dalam melakukan HE? Karena mungkin saya dalam mendidik anak terdapat kesalahan, jadi saya ingin memperbaiki nya..
3. Assalamualaykum saya mau tanya jika anak sudah usia 10 thn dan saya baru tau HE,berarti ada tahap ( memilih pasangan di usia 0-7 thn) yg terlewati. Apa yg sebaiknya saya lakukan?
4. Bagaimana halnya jika pendidikan di rumah tidak maksimal sampai usia aqil baligh (14 tahun), sejak kecil punya sifat bawaan yang baik kemudian dikondisikan berada pada lingkungan yang baik misal memilihkan sekolah yang baik, bahkan diikutkan program tahfidz.
Nah, bagaimana "menebus" kelalaian dan kesalahan ortu karena minimnya ilmu agar anak ketika memasuki usia aqil baligh bisa berkembang sesuai fitrahnya?
Jazakillah khair...
5. Assalamualaikum
Saya mau tanya bagaimana jika anak2 sudah besar sementara waktu kecil saya menyerahkan pendidikanya ke sekolah yg berbasis islam saja. Ini terjadi krn ketidaktahuan saya.
Adakah cara2 yg bisa saya tempuh untuk mengejar ketertinggalan saya?
6. Mau bertanya, sebenarnya bingung mau mulai dr mana. Krn kedua anak saya sudah usia 12 th dan 9 th, bagaimana kami bs memulai HE Krn suami dan kakek nya ingin agar selepas SD anak masuk pesantren, sementara saya ingin menyempurnakan pendampingan s.d usia 15 tahun, saya ingin mengejar ketertinggalan dalam mendidik fitrah anak2 ?
7. Disebutkan bahwa setiap anak punya fitrah belajar, nah bagaimana kalau sudah terlanjur anak sudah usia 9 tahun misalnya dan selama 0-9 tahun kita sudah terlanjur menjejalinya (outside in) sehingga dia sudah terlanjur gak suka belajar...dia harus kita suruh untuk belajar. Bagaimana untuk me-reset ulang itu.
Terimakasih.
8. Bagaimana cara menumbuhkan fitrah fitrah anak ketika sudah mengalami pola asuh yg salah?
👳🏻 *Ust. Harry*
4⃣ Ayah Bunda yang baik,
Tiada kata terlambat ya, sepanjang ruh masih ada di jasad. Selalu ada kesempatan utk mengembalikan fitrah kita sbg orangtua maupun fitrah anak anak kita yg terlewat bahkan cidera.
Bukankah Islam mengenal Iedul Fitri, yaitu kembali ke fitrah, setiap tahun sekali, setelah melalui bulan pembakaran bernama Ramadhan, yang menjungkirbalikkan semua kebiasaan buruk, kecanduan yang melenakan, dan obsesi yang menyengsarakan.
Begitupula, dalam kehidupan kita, kembali ke fitrah diri maupun mengembalikan fitrah anak anak kita selalu terbuka luas.
📌 Maka mulailah dengan Tazkiyatun Nafs, agar ruh dan hati kita menjadi bercahaya kembali.
📌 Mulailah memetakan fitrah ananda, mana yang sudah tumbuh baik dan mana yang nampak belum tumbuh baik atau menyimpang atau cidera. Fitrah yang tak tumbuh sangat mudah melihatnya.
📌 Misalnya fitrah keimanan akan nampak pada tidak bergairah sholat, atau sholat tapi mekanistik dan robotik.
📌 Misalnya fitrah bakat, akan nampak pada tidak punya aktifitas atau sesuatu yang produktif dilakukan, galau karena tdk mengenal dirinya dsbnya.
*ULANGI semua proses penumbuhan fitrah sesuai framework.*
📌Misalnya anak usia 11 tahun masih malas sholat, maka ada masalah pada konsepsi keimanannya, dia butuh penguatan konsepsi ttg Allah, ttg Rasulullah SAW dstnya sebagaimana ketika usia 0-6 tahun. Namun tentu dengan keteladanan dan suasana keshalihan yang lebih intensif, misalnya di homestay kan di keluarga shaleh selama beberapa waktu dsbnya.
📌 Misalnya anak usia 15 tahun masih galau perannya dalam kehidupan, maka dia butuh penguatan konsepsi keunikan dirinya atau fitrah bakatnya, dengan menelusuri sifat2 unik kemudian menemukan aktifitas yang relevan dgn sifat unik tsb.
📌 Misalnya anak usia 10 tahun masih tidak bergairah belajar apalagi berinovasi maka dia butuh penguatan konsepsinya ttg indahnya belajar dan bernalar, melalui inspirasi hebat dan idea menantang pada club atau sanggar belajar sesuai minatnya atau sesuai bakatnya.
HE ini adalah kewajiban para orangtua sampai anak masuk aqilbaligh di usia 15 tahun, *sosok ayah ibu tidak boleh hilang sepanjang masa mendidik ini*, maka jika terpaksa dikirim ke pondok sebelum aqilbaligh usia 15 tahun maka upayakan bukan boarding, tetapi homestay. ✅
5⃣ *HE vs Social Environtment*
*Nafilah - Surabaya*
*Yoshe-Pekanbaru*
*Echi-Lampung*
1. Banyak yg bilang kalo kl HE membuat anak sulit/kurang bersosialisasi, apakah memang benar seperti itu?
Dan kira2 apa saja yg harus orang tua lakukan yg memilih HE agar anak2 bisa tetap bersosialisasi dg baik?
2. Assalamualaikum.
Jika dalam satu rumah, anak tidak tinggal hanya dengan orang tua saja. Tapi juga ada orang lain. Si ibu misalnya melarang minum es, tapi ternyata tanpa sepengetahuan ibu mereka memberi es pada anak. Bahkan mungkin ayahnya sendiri pun begitu. Padahal sudah dikomunikasikan sebelumnya. Jika diprotes, lantas mereka bilang "gpp, dikit aja". Bagaimana ya menyikapinya?
3. Assalamualaikum... saya kan punya anak dibawah usia 7 th 2 org.. kakak 4,8bln dan adik 2 th.. keduanya masih di fase egosentris. Kalau rebutan perihal apa saja, biasanya si adik pergi sambil menangis, seperti mengadu ke saya. Jika begini, saya mesti bawa adik ke hadapan kakaknya untuk memberi tahu keadaan yg semestinya, yaitu mana hak masing-masing atau adik dipisahkan dlu sampai reda nangisnya?
dan jika sikap mempertahankan hak ini dilakukan diluar rumah (misal saudara), dan mereka mengkritik sikap anak, padahal sudah saya berikan sedikit penjelasan ke mereka, apa harus memperbaiki sikap anak di hadapan keluarga besar? contoh real nya gini, waktu lebaran saya dan anak-anak silaturahim ke rumah bibi, lalu anak saya duduk di sofa. Tiba-tiba bibi saya duduk juga disitu dan menyuruh anak saya untuk pindah. Anak saya tidak mau dan ngotot ingin duduk disitu sambil bilang dengan teriak-teriak (sudah mulai marah), bahwa dia yg duluan disitu. jadi nenek aja yang pindah katanya.
Nah sikap itu yg dikritik bibi saya bahwa itu gak baik, gak mau berbagi sama org lain, dibilang juga gak hormat sama org tua. 😢
Nah jika terjadi begitu apa saya harus bilang ke anak bahwa peraturan siapa yg duluan adalah yg berhak hanya berlaku dirumah kita atau dibiarkan saja?
👳🏻 *Ust. Harry*
5⃣ Ayah Bunda yang baik,
Sosialisasi ada 3 tahapan, pada usia 0-6 tahun, sosialisasi terbaik adalah dengan orangtua di rumah atau di masa lalu meliputi keluarga besar yaitu kakek, nenek, paman, bibi dstnya. Pada usia 7-10 tahun, sosialisasi pada lingkungan terdekat seperti lingkungan tetangga, lingkungan masjid, komunitas terbatas dll. Usia 11-14 tahun dstnya mulai kepada lingkungan yang lebih luas.
Namun perlu dicatat bahwa dalam HE bersosial itu vertikal, jadi tidak ada segregasi usia atau pembatasan usia. Inilah mengapa banyak sekolah modern yang menggunakan "multi age class" bukan "single age class". Karena sosialisasi terburuk adalah mengumpulkan anak bersama teman seumuran seharian.
Oleh karena HE ini melibatkan semua anggota keluarga, maka perlu ada kesamaan Misi Keluarga atau Misi Pendidikan Keluarga, misalnya disepakati bahwa pendidikan keluarga berbasis kepada fitrah anak dan adab Islam, sehingga semua bekerjasama menumbuhkan fitrah dan menanamkan adab, sesuai tahapan perkembangannya, serta tidak membenturkannya. Selama misi pendidikan keluarga belum disepakati, sebaik apapun komunikasi, maka tidak akan efektif, karena semua bermula dari kejelasan dan kesepakatan misi mendidik. Hendaknya ayah bunda, meluangkan waktu utk merenung dan menuliskan kembali misi keluarga dan misi dan tujuan mendidik anak anaknya.
Pada tataran teknis, bersosial di rumah, walau penting, tidak seindah yang dibayangkan. Tetapi pada usia tertentu, misalnya tahap 0-6 tahun harus melihat dari sisi pertumbuhan fitrah dan tidak membenturkan dengan adab. Kita sering tergesa membenturkan perkembangan fitrah dengan adab, sehingga banyak menciderai fitrah ananda. Umumnya kita lebih mementingkan perasaan oranglain daripada perasaan anak kita, sehingga ikut2an memaksa anak yang masih di bawah 7 tahun utk beradab. Sudah banyak kasus, anak yang dipaksa beradab sebelum waktunya malah akan menjadi biadab.
Dalam lingkungan sosial yang tdk memahami fitrah anak, kita sebaiknya konsisten untuk tdk menciderai fitrah anak. Anak memang tidak akan mau dipaksa berbagi ketika sedang tidak mau. Aturan manapun tak akan diterima anak usia di bawah 7 tahun pada saat ego nya sedang puncak. Temukan saja cara2 jitu, misalnya mengalihkan perhatian atau memindahkan kursi beserta anaknya dan mengganti kursi baru dsbnya. Intinya keep konsisten. Tetapi bacakan kisah indahnya berbagi ketika egonya reda, teladankan indahnya berbagi dgn mengajak makan bareng dan bagi2 hadiah di panti asuhan dsbnya ✅
6⃣ *HE VS Sekolah*
Mesa & Rachmad- Jombang
Ayah Suhud
1. Dalam HE, saat memilih sekolah, sebaiknya kita pilih sekolah yang bisa diajak kerjasama, selaras dengan visi misi keluarga sehingga pendidikan keluarga dengan pembelajaran di sekolah dapat berjalan beriringan. Lalu bagaimana jika di daerah tempat tinggal saat ini belum didapatkan sekolah demikian?
2. Berapa usia minimal anak masuk ke sistem persekolahan? Saya pernah membaca menurut YKBH, minimal usia 5 tahun. Bagaimana secara HE?
3. Kalau HE ini apakah anak betul2 tidak Sekolah di Sekolah umum? Lalu bagaimana dengan kebutuhan materi2 seperti di Sekolah umum yg dibutuhkan anak?
👳🏻 *Ust. Harry*
6⃣AyahBunda yang baik,
Sebenarnya HE tidak mempermasalahkan anak bersekolah atau tidak, namun proporsi sekolah harus dikembalikan sebagaimana mestinya. Sekolah pada awalnya berasal dari kata Sokole atau Skolae yang artinya "waktu luang". Jadi di masa lalu, sekolah hanyalah pengisi waktu luang setelah dididik di rumah. Namun sejak era industri, sekolah justru mengambil begitu banyak porsi mendidik orangtua, dan makin lama peran mendidik orangtua semakin tergerus sehingga kehilangan fitrah mendidiknya sbg orangtua.
Dalam pandangan HE, pendidikan yang utama adalah di rumah, sekolah hanyalah opsi semata apabila mendukung HE.
Tidak perlu khawatir kita harus mengajarkan anak ini dan itu, karena HE tidak memindahkan sekolah ke rumah. Hari ini pengetahuan bisa diperoleh dari manapun, orangtua bisa meracik kebutuhan pengetahuannya, maka sepanjang fitrah belajar dan bernalar tumbuh hebat ananda akan bergairah belajar apapun, kapanpun dan dimanapun.
Maka tugas kita adalah "dont too much teaching" tetapi banyaklah menginspirasi hebat dan memberi idea menantang agar curiosity dan antusias belajar terus tumbuh. Anak yang fitrah belajar dan bernalarnya tumbuh paripurna akan belajar sepanjang hidupnya, tetapi anak yang banyak diajarkan akan selallu meminta diajarkan dan berhenti belajar jika tdk diajarkan.
Sebuah buku berjudul "better late than early" memaparkan bahwa anak yang lebih lambat dimasukkan ke sekolah ternyata lebih bagus gairah belajarnya, kemampuan mengikat maknanya, juga lebih hebat kemampuan abstraksi dan imajinasinya dsbnya. Ini karena kebanyakan sekolah usia dini adalah formal dan fokus pd aspek kognitif, sehingga memaksa anak utk fokus pd penggunaan otak kiri dan belajar formal, yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan usia dini. Buku ini menyarankan anak bersekolah usia 7-9 tahun. Tentu berlawanan dgn di Indonesia yang bangga anaknya bisa cepat sekolah, kalau perlu usia 2.5 tahun sdh bersekolah. Sudah banyak kasus dimana anak mengalami mental hectic pd usia 7 tahun ke atas apabila terlalu cepat disekolahkan, belum termasuk fitrah2 yang cidera.
Jadi baik anak bersekolah maupun homeschooling atau tidak, tidak mengurangi sedikitpun tanggungjawab dan kewajibannya untuk menjalankan HE, untuk merancang personal kurikulum tiap anaknya sesuai fitrahnya karena inilah amanah terbesar para orangtua.
Jalur karir itu tidak selalu akademis, tetapi bisa professional dan enterpreneur. Ijasah kesetaraan bisa diupayakan jika masih dibutuhkan. Hari ini sertifikasi profesi bisa menjadi pilihan, atau bisnis yang sama sekali tidak memerlukan ijasah maupun sertifikasi.✅
*7⃣ Imunitas Anak terhadap Pengaruh Negatif*
*Fitriani-Jember HC.*
*Arie - Bogor*
1. Bagaimana membentengi anak (akhlaknya) sehingga saat berada di lingkungan masyarakat dia tidak ikut hal-hal yg kita tdk inginkan.
(Misalnya lingkungan tempat tinggal dominan suka bicara dengan nada membentak baik itu dengan teman sesamanya maupun dengan orang tua, sementara kita menganggap hal itu tdk pantas).
Terima kasih.
2. Hal2 seperti apa yg dapat merusak jiwa anak? Bagaimana cara mencegah jiwa anak rusak?
👳🏻 *Ust.Harry*
7⃣AyahBunda yang baik,
Seorang bijak mengatakan, "setinggi dan sekokoh apapun kita mendirikan benteng utk menghadang air bah, maka akan roboh juga. Maka ajarilah anak untuk berenang atau membuat perahunya sendiri"
Orang bijak lain mengatakan, "jadilah seperti ikan hidup di laut yang tak pernah asin walau setiap hari direndam air laut. Janganlah menjadi seperti ikan mati, yang menjadi asin hanya direndam air garam beberapa hari".
Apa maknanya? Hidupkanlah fitrah anak anak kita, maka mereka akan melayari kehidupan ini dengan sebaik baiknya. Fitrah yang hidup dinamis bagai air sungai yang mengalir, bening dan jernih, menyehatkan sekitarnya.
Namun sebaliknya, fitrah yang redup ibarat sungai yang tdk mengalir, menjadi tempat sarang nyamuk dan penyakit juga sampah.
Bagaimana teknisnya agar tidak terpapar lingkungan yang buruk?
1. Usia 0-6 tahun, ini masa paling rentan, maka lingkungan sebaiknya cukup steril. Karenanya bersosialisasi terbaik adalah dengan orangtua dan keluarga dekat, dengan asumsi bhw orangtua dan keluarga terdekat mustahil merusak.
2. Usia 7-10 tahun, ini masa dimana anak dianggap sdh mulai kokoh konsepsinya ttg Allah, ttg dirinya, ttg orangtuanya, ttg alam dstnya. Mereka sdh memerlukan sosial yang lebih luas dari di rumah. Maka lingkungan yang tidak terlalu buruk, tidak mengapa, justru baik untuk menguatkan imunitas. Pastikan kedekatan ayah bunda dengan ananda, sehingga selalu menjadi rujukan dalam setiap masalah perilaku yang dipapar oleh lingkungan. Jika lingkungan amat buruk, maka wajib hijrah.
3. Usia 11-14 tahun, ini sebenarnya tahap ujian, jadi ananda perlu diuji keimanannya, bakatnya, gairah belajarnya dll dengan dibenturkan pada kehidupan nyata. Latih mereka utk banyak idea atau inovatif, kemauan menjadi da'i (penyeru kebenaran), menjadi problem solver (nadziro) sekaligus solution maker (bashiro) dalam lingkungan yang seperti apapun. Ini tahap tega dengan membenturkan pd kehidupan. Ayahlah sang raja tega, namun Bundalah sang pembasuh luka.
Sebagai catatan, 90% masalah anak sesungguhnya bukan dari luar rumah, justru dari dalam rumah. Obsesi orangtua, kecanduan menggegas dan menitipkan anak dsbnya menjadi penyebab cideranya atau menyimpangnya fitrah ananda .✅
8⃣ *Fitrah vs Adab*
*Ayunda - Malang*
Pertanyaan :
Pada usia berapa kita orang tua mengajarkan batasan2 norma pada anak? Bagaimana Penerapannya pada anak dibawah 3tahun seperti apa?
Terimakasih
👳🏻 *Ust.Harry*
8⃣bunda Ayunda yang baik di Malang,
Dalam bahasan Islam, norma norma itu disebut Adab, sumbernya Kitabullah, termasuk kearifan2 di dalam keluarga yang tentu tidak bertentangan dengan Kitabullah. Adab ini sering diartikan etika, disiplin, SoP dsbnya. Padahal secara makna, Adab adalah perbuatan yang berderajat dan bermartabat namun sangat terkait dengan kondisi fitrah manusia, waktu dan tempat.
Dalam proses mendidik, Adab ini bisa ada di depan, sebagai hikmah. Bisa ada di proses sebagai penyempurna. Bisa ada di akhir sebagai buah dari hasil mendidik.
Secara umum, Adab "diperintah" sejak usia 7 tahun, terkait dengan perintah Sholat, *karena perintah sholat adalah Adab tertinggi. Maka semua Adab atau Norma mulai disampaikan sebagai perintah sejak usia 7 tahun*, misalnya adab makan, adab belajar, adab berkunjung dsbnya. Tetapi pada tahap 7-10 sifatnya bukan perintah wajib, tetapi perintah yang memunculkan kesadaran perlunya keteraturan, adanya Zat Yang Maha Mengatur melalui logika dan nalar.
Bagaimana di bawah 7 tahun?
Adab, norma, etika di bawah 7 tahun belum diperintah, tetapi diteladankan, disuasanakan, diinspirasikan, digairahkan, diimajikan positif dstnya melalui kisah, contoh, wajah sumringah dll.
Ananda di bawah 7 tahun belum punya nalar yang cukup, mereka masih individualis belum punya tanggungjawab sosial apalagi moral, maka buatlah ananda berkesan mendalam pada norma atau adab bukan memaksanya, agar kelak ananda menyambut adab dengan suka cita.
Kebanyakan kita tergesa ingin melihat anak segera shalih, sehingga memaksakan norma atau adab, maka anak kemudian menjadi cidera fitrahnya dan membenci norma dan adab sepanjang hidupnya atau mengerjakannya dengan terpaksa ✅
9⃣ *HE untuk ABK*
*Suciani-Riau*
Di sekolah
Saya menemui beragam anak2..
Dan bahkan sekolah kami menerima anak istimewa
Nah yg ingin saya *tanyakan* 🙋🏻
Sesuai dengan materi Matrikulasi 1
Yg menjelaskan bahwa semua anak baik
Ayah dan ibu nyalah yg telah menjadikannya ini dan ini...
Kalo dalam agama semua anak dilahirkan fitrah, orangtuanya lah yg menjadikan majusi, yahudi, dan nasrani..
Saya ingin mendapat penjelasan. Bagaimana dengan anak2 yg dikemudian hari diketahui ADHD, atau autis, berkebutuhan, apakah di HE, mempercayai analisa pembagian anak2?
Bagaimana mengajarkan mereka fitrah agama?
Sesuai dengan usianya..
Ataukah ada pengecualian..
Misal pada usia 7 tahun anak sudah boleh diajarkan utk shalat, jika pada usia 10 tahun juga tidak sholat boleh dilakukan sesuai anjuran nabi...
Sedangkan mereka belum utuh memahami krn memang berbeda...
Di kelas saya ada anak yg di analisa kan oleh pakar parenting kota saya, bahwa dia ADHD
nah, dia sangat tdk menyukai shalat berjamaah, krn lama banget...
Sementara anak AdHD itu pembosan..
👳🏻 *Ust.Harry*
9⃣bunda Suciani yang baik di Riau,
Semua anak, tanpa kecuali, lahir dengan membawa fitrahnya. Fitrah sendiri artinya innate goodness atau bawaan baik, dalam bahasan lain disebut nature disposal, terkait dengan keimanan maupun kemanusiaan, yang secara alami sudah diinstal. Lebih jauh lagi, Islam menjelaskan bahwa di alam rahiem bahkan sudah diinstal tauhid Rubbubiyatullah (QS 7:172).
Dengan fitrah inilah kelak tiap anak punya peran istimewa di masa depan. Syaratnya hanya satu, yaitu diTarbiyah atau dididik dengan baik dan benar, sesuai fitrah itu sendiri termasuk tahapannya.
Jadi anak apapun, berpeluang punya peran istimewa di masa depan. Namun hal hal yang kiranya menghambat fitrah sebaiknya ditherapy dulu, misalnya kemampuan bicara (spech delay therapy), kemampuan mengendalikan tangan, kemampuan membaca bagi anak disleksia dsbnya.
Dari pengalaman dengan anak Autis Asperger maupun anak Down Syndrom, mereka secara bertahap bisa membaik sosialnya dan keterampilan dasarnya spt bicara, namun bisa hehat sesuai potensi keunikannya. Dibalik kelemahan mata dan telinga anak Autis Asperger ternyata ada kekuatan hebat utk bisa memahami pola visual dan audial yang tdk bisa dipahami orang biasa. Dibalik kelemahan anak down syndrome dgn IQ hanya 70 saja ternyata menyimpan kekuatan pd kemampuan emphaty nya yang tinggi.
Tentu obsesi dilarang pada anak ABK maupun bukan. Carilah metode dan cara yang terbaik sesuai keunikannya. Anak ADHD nampak gelisah jika suasana tenang, selalu membuat keributan, energi mereka melimpah dsbnya. Jangan dianggap kenakalan, tiada anak yg berdoa menjadi nakal atau masuk neraka bukan? Maka temukanlah cara dan metode yang tepat dan spesial karena tiap anak memang spesial.
Pendiri sekolah Alam, bang Lendo Novo, SME di group HEbAT itu seorang ADHD. Dahulu belum ditemukan alat utk mendeteksi seseorang itu ADHD. Beliau selalu dihukum sepanjang masa anak2nya sampai masa kuliah. Alhamdulillah beliau bisa kuliah di ITB dan dikenal sebagai konseptor Sekolah Alam. Tiada anak yang berhak dikatakan nakal.
Tentu kita tidak dapat berharap pertumbuhan fitrah yang ideal sesuai tahapan usia, krn mereka harus membenahi beberapa hal basic seperti dipaparkan di atas, namun sekali hal basic bisa dinormalkan, maka mereka akan mulai tumbuh normal namun tetap diperlukan kurikulum terpersonalisasi sesuai potensi uniknya. Dalam kaitan ini, semua anak, siapapun dia adalah very special edition.
Yakinlah, setiap anak pasti punya peran istimewa di masa depan.
✅
*Clossing Statement*
👳🏻 *Ust.Harry*
Deraskan maknamu
Bukan tinggikan suara
Karena hujanlah yang menumbuhkan bunga bunga
Bukan petir dan guruhnya
Fokuslah pada cahaya ananda
Bukan sisi gelapnya
Karena kegelapan ada ketika tiada cahaya....
Kelak ketika cahayanya melebar menyinari semuanya, maka kegelapan akan sirna... 🙏😊
====END====
Jalan-Jalan ke Pasar Sambil Belajar Berhitung
Saya dan Aisya ada di rumah dan berencana untuk jalan-jalan ke pasar. Biasanya lami mengendarai motor, kali ini kami jalan kaki. Saat jalan kami melewati bendera-bendera yangbsudah dipasang untuk acara 17 Agustus mendatang. Hm...kebetulan nih Aisya bisa belajar berhitung.
M : Coba Aisya hitung berapabjumlah bendera di sepanjang jalan ini
A : (Aisya mulai berhitung, sepertinya dia tidak sabar langsung menghitung semua dari pojok sampai ujung jalan) "delapan mah"
M : 8 ya .... coba ada 2 macam bendera, satu warna warni dan yang satu merah putih, berapa jumlah masing-masing?
A : (dia berpikir lagi dan berhitung) yang warna 4 yang merah putih 4
M : waah hebat Aisya.....
Nah itu sepenggal kisah bersama Aisya pagi ini.
Selain beragam aktivitas saya kaitkan dengan matematika, permainan kami pun selama seminggu ini tidak jauh dengan menghitung. Saya, Oza dan Aisya setiap hari bermain sambil berhitung, kami tidak tahu apa nama permainan ini. Kami membuat aturan sendiri. Yang penting anak-anak senang. Begini permainannya:
Kami bertiga berdiri berjajar, lalu hompimpa yang menang holeh memberi aba-aba yang lain mengikuti aba-aba itu, aba-abanya perintah untuk maju atau mundur berapa lantai. Yang salah akan mendapat hukuman, mengjitung beberapa barang di rumah seperti berapa pintu, berapa ember,berapa jendela dan lain-lain. Saat ini anak-anak belum bosan dan tiap hari inhin memainkannya.
#Tantangan10hari
#Gamelevel6
#kuliahbunsayiip
#ILoveMath
#MathAroundUs
Sabtu, 22 Juli 2017
Belajar Berhitung dengan Permen
Hari ini Aisya mengambil uang celengannya yang sudah dibendel-bendel kemarin. 1 bendel uang 200 san sejumlah 5 buah berarti 1000 rupiah.
A (Aisya) M (Mama)
A : mah aku jajan ya ke rempat mbah dengan satu bendel uang ini, berarti 1000 ya mah?
M: Iya
Dan Aisya pun langsung berhamburke luar untuk beli permen.
Sampai di rumah dia bercerita "Mah aku dapat 5 permen" , sambil menunjukkan kepada saya.
M : Coba yuk dihitung...
A : (mulai berhitung) 1,2,3,4,5
Sekarang aku makan 1 mah, tolong bukain ya...
M : oke, sekarang sisa berapa?
A : 4 mah
M : hm...hebat
Lalu dia berlari bermain bersama kakak lagi..
Tiba-tiba datang menghampiri saya
M : ada apa?
A : aku makan 1 lagi mah, sekarang sisa 3
M : berarti 5 permen dimakan Aisya 2 sekarang tinggal 3
A : betuuul
Aisya pun lari mainan lagi
Dan lagi....
A : mah aku mau makan lagi 1, biar sisa 2
M : berarti Aisya sudah makan berapa ?
A : 3
M : Tadi beli berapa?
A : 1000 dapat 5, sudah dimakan 3 sekarang tinggal 2
M : Hebat anak mama, kami pun berpelukan.
#Tantangan10Hari
#GameLevel6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathArroundUs
Jumat, 21 Juli 2017
Mengenal Mata Uang, Mengelompokkan Uang, dan Belajar Berhitung dari Uang Celengan
Kalau kemarin sehari bersama Oza, hari ini sehari bersama Aisya (4,5tahun). Oza sedang Tour the Tallent ke suatu kamyor di Ungaran. Ya ... dari bangun sampai nanti menjelang malam Aisya bersua bersama saya.
Aktifitas hari ini lumayan padat, setelah pagi sekolah, siang menemani saya siaran, lalu belanja, jalan-jalan membeli helm sampai pulang kehujanan. Setelah hujan-hujan kami menyantap bakso dan mie ayam berdua ... hahaha emang kadang bersua itu asyk.
Lalu Aisya memgambil celengannya, "mah sudah banyak ya ...", mata saya langsung berbinar-binar .... wau saya teringat tantangan math arroun us hahahaha. Apalagi setlah Aisya menumpahkan semua ke karpet ...
A: uang berapa ini ... (sambil melihat angka yang ada di mata uang), ooo seratus, kalau ini 200, kalau ini 500, betul nggak mah ...
M: Betul, yuk kita kelompokin ... yang 100 disusun 10, nanti jadi 1000, yang 200 disusun 5, yang 500 disusun 2
A: okey
Aisya bersemangat sekali, sambil memilah milih uang-uang itu, mengelompokab mengesankan sesuai i truksi saya. Lalu disusun rapi kata Aisya seperti orang upacara sedang baris dan tara .... hasilnya rapi. Lalu kami menghitung bersama tumpukan uang2 itu. Satu, dua tiga dan akumulasi 15.800rupiah. Alhamdulilah, aisya senang ternyata uang recehnya sudah terkumpul banyak.
Ya hari ini Aisya belajar mengenal mata uang, berhitung dan mengelompokkan mata uang sejenis
# Tantangan10Hari
# GameLevel6
#kuliahbunsayiip
#ILoveMath
#MathArroundUs
Kamis, 20 Juli 2017
Mengenal Beragam Bagun Ruang di Sekitar Kita
Hari ini Tantangan Hari 1, game Level 6, dengan tema menstimulus anak suka matematika. Pas bangt dengan Oza yang baru belajar bangun ruang. Pagi ini setelah selesai akrivitas pagi dan merawat hamster, saya ngobrol dengan Oza entang bermacam-macam bangun ruang. Saya gambar saru per satu bangun ruang dan ciri-cirinya.
Saat siang hari setelah makan siang, kami diskusi lagi dilanjutkan dengan membuat game, cari bangun ruang yang ada di dalam rumah. Yuk kita mulai dēngan
1. Balok
Oza berkeliling rumah mencari bebda-benda yang berbentuk balok, akhirnya dia menemukan almari mama,almari Oza, Almari Aisya, dan almari buku yang berbentuk balok
2. Kubus
Oza sudah berkeliling rumah, ternyata tidak menemukan satu bendapyn yang berbentuk kubus, akhirnya ke kamar mandi dan menemukan bak mandi yang berbentuk kubus.
3. Tabung
Oza berpikir keras leliling rumah, akhirnya menemukan ember, blek roti, gelas, dan gembes (tempat air)
4. Kerucut
Oza keliling tumah dan tidak menemukan benda berbentuk kerucut. Kata oza yang berbentuk kerucut adalah tumpeng. Oza jadi terinspirasi membuat tumpeng beok hari Minggu.
#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIIP
#ILoveMath
#MathArroundUs
Mensilumuls Matematika Logis Pada Anak
RESUME diskusi
Senin, 17 Juli 2017 pukul 20.00-21.00
Pemateri: Bunda Septi Peni Wulandani
Korlan: Ratih Tahiyatur
_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang sesi #6_
*MENSTIMULUS MATEMATIKA LOGIS PADA ANAK*
Semua anak lahir cerdas, masing-masing diberikan potensi dan keunikan yang menjadi jalan mereka untuk cerdas di bidangnya masing-masing. Dua macam kecerdasan dasar yang memicu munculnya kecerdasan yang lain adalah kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematis logis. Dimana di dua kecerdasan ini banyak orangtua yang salah menstimulus, tidak paham tujuannya untuk apa, ingin anak-anaknya segera cepat menguasai dua hal tersebut, sehingga banyak diantara anak-anak BISA menguasai dua kecerdasan tersebut tetapi mereka TIDAK SUKA. Sebagaimana kita ketahui di materi sebelumnya bahwa
" *Membuat anak BISA itu mudah, membuatnya SUKA baru tantangan* "
*MATEMATIKA LOGIS*
Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai _kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan_.
Dapat diartikan juga sebagai *_kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya_*
Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematika logis dan kecerdasan bahasa. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan bahasa diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.
*CIRI-CIRI ANAK DENGAN KECERDASAN MATEMATIKA LOGIS*
a. Anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut
b. Mengamati benda-benda yang unik baginya
c. Hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba
d. Sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan.
e. Suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung
Yang sering salah kaprah di dunia pendidikan dan keluarga saat ini adalah buru-buru menstimulus matematika logis anak dengan cara memberikan pelajaran berhitung sejak dini. Padahal berhitung adalah bagian kecil dari sekian banyak stimulus yang harus kita berikan ke anak untuk merangsang kecerdasan matematika logisnya.Dan harus diawali dengan berbagai macam tahapan pijakan sebelumnya.
Yang perlu kita pelajari di Ibu Profesional adalah Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagaimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? bukan buru-buru mengajarkan kemampuan berhitung ke anak.
*STIMULASI MATEMATIKA LOGIS DI SEKITAR KITA*
*Bermain Pasir*
Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.
*Bermain di Dapur*
a.Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna.
b. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa.
c. Membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran.
d. Membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu.
*Belajar di Meja Makan*
Saat dimeja makan pun kita bisa mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekeluarga kebagian semua, roti ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila roti sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan.
*Belajar Memahami Kuantitas*
a. ketika melihat akuarium, tanyakan berapa jumlah ikan hias di akuarium tersebut?
b.Ketika duduk di depan ruma atau sedang jalan-jalan, tanyakan berapa jumlah sepeda motor yang lewat dalam jangka waktu 1 menit?
*Belajar mengenalkan konsep perbandingan, kecepatan, konsep panjang dan berat*
a. Menanyakan pada anak roti mana yang ukurannya lebih besar, roti bolu atau donat?
b. Mengenalkan dan menanyakan pada anak, mana yang lebih cepat, mobil atau motor?
c. Mengenalkan dan menanyakan ke anak mana yang lebih tinggi pohon kelapa atau pohon jambu?
d. Menanyakan ke anak mana yang lebih berat, tas kakak atau tas adik?
*Kegiatan di Luar Rumah*
a.Mengajak anak berbelanja
ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan.
b. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya.
c. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya.
d. Permainan Tradisional
Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung, permainan patil lele, permainan lompat tali, permainan engklek dll.
e.Belajar Memecahkan Masalah ( problem solving) melalui mainan
Menyusun lego atau bermain puzzle adalah cara agar anak berlatih menghadapi masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas.
Dengan memberikan stimulus-stimulus tersebut diharapkan anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Dengan model stimulus ini anak-anak akan paham makna kabataku (kali, bagi, tambah, kurang) sebagai sebuah proses alamiah sehari-hari, bukan deretan angka yang bikin pusing. Mereka jadi paham bahwa :
Menambah ➡ proses menggabungkan
Mengurangi ➡ proses memisahkan
Mengalikan ➡ proses menambah/menjumlahkan secara berulang.
Membagi ➡ proses mengurangi secara berulang.
Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di rumah dan di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman anak dan problem solving (pemecahan masalah).
Kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik.
Dengan demikian matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.
_Salam Ibu Profesional_
/ _Tim Fasilitator Bunda Sayang_/
📚Sumber bacaan:
_Hernowo, Menjadi Guru yang Mampu dan Mau Mengajar dengan Menyenangkan, MLC, 2005_
_Howard Gardner, Multiple Intelligence, Gramedia, 2000_
_Septi Peni Wulandani, Jarimatika, Mudah dan Mneyenangkan, Kawan Pustaka, Agromedia, 2009_
TANYA JAWAB:
🍒1⃣ Bunda Septi, berdasarkan pengalaman Ibu, butuh waktu berapa lama anak-anak mulai distimulus kecerdasan matematika logis hingga mereka menjadi suka dg matematika?
Dan apakah bagi anak-anak yg hanya diajarkan matematika di sekolah, dan terlanjur tidak suka matematika, proses stimulus kecerdasan matematika logis ini harus diulang dari awal? Terimakasih 🙏🏻😊
Ainun IIP Surabaya
1⃣ Mbak Ainun, matematika logis itu bisa distimukus sejak anak-anak mulai bisa berbicara. Nanti akan terlihat ketika anak suka mengelompokkan, suka menjajarkan sesuatu yg sama, itu artinya matematika logisnya mulai berkembang.
Untuk anak-anak yang terlanjur mengenal matematika hanya yg ada di sekolah saja, harus dipahamkan tentang matematika logis dan matematika realistik. Sehingga anak-anak paham mengapa mereka harus belajar matematika. Dengan cara ini anak-anak akan sangat menyukai matematika karena sesuai dengan kebutuhannya.
Contoh : Saya tidak pernah meminta Elan untuk mempelajari matematika yg diajarkan di sekolah. Tetapi saya menstimulus dg berbagai hal logis dan projek. Dari projek2 itulah Elan mulai merasa perlu belajar perkalian, permutasi dll. ✅
🍒2⃣Assalaamu'alaikum Ibu Septi.
Bu anak sulung saya ini cenderung suka berhitung, usianya baru 5,8 tahun. Dia juga talkactive. Yang mau saya tanyakan bu :
a. Di beberapa buku kami di rumah, halaman belakangnya ada lembar tambah dan kurang. Dia selalu kekeuh pingin ngerjain padahal menurut kami agak sulit untuk usianya. Bagaimana sebaiknya bu?
b. Karena senang dengan hitungan, dia sering minta dispensasi dengan angka.
Bun, aku makannya 5 sendok lagi ya
Bun, 5 menit lagi ya mandinya aku masih ngantuk
Bun aku beresinnya yang 2 ini aja ya
😅🙈
Itu gimana ya bu? paling susah sih masalah makan selalu dihitung padahal belum tentu dia kenyang
c. Bersambung dengan membaca dan berbicara, dia senang menggambar dan bercerita dengan gambarnya. Tapi dia belum tertarik dengan baca, namun selalu menulis. Dia tiru tulisan yang saya tulis. Dalam menggambar, dia juga sering melibatkan angka angka.
Itu bagaimana ya bu?
Terima kasih ibu atas pencerahannya. 🙏🏻
Ismi_IIP Bandung
2⃣ Teh Ismi, artinya anak teteh kecerdasan matematika logisnya saat ini terlihat menonjol. Maka perkuat terus, ini namanya *meninggikan gunung* ( anak terlihat suka angka perkuat dengan angka dan bilangan) bukan _meratakan lembah_ ( anak tidak suka matematika, pusing kalau lihat angka, justru kita les kan matematika).
yang
Tahapan mengenalkan angka dan bilangan ke anak adalah sbb :
Mengenal bilangan
Mengenal lambang bilangan
Mengenal konsep kabataku
Semua menggunakan benda kongkrit dulu, jangan buru2 di dril apalagi disuruh menghafal
b. Kalau anak lebih suka menulis daripada membaca, tidak masalah. Berarti begitulah caranya membacanya, kemungkinan besar bergaya visual ✅
🍒3⃣Bunda, mau tanya dong...
Mulai usia berapakah sebaiknya kita mulai mengenalkan konsep2 kabataku bu?
Rima_IIP Banyumas Raya
3⃣ Mbak Rima, konsep kabataku sebaiknya disampaikan setelah konsep mengenal bilangan, lambang bilangan/angka sudah disampaikan dengan baik.
Anak-anak paham apa itu angka dan bilangan ( keduanya jelas berbeda)
Saya mengenalkan bilangan ke anak-anak itu lama sekali.
Bahkan mengenalkan angka "0" ( nol) itu misteri yang luar biasa kalau dibahas secara detil. Matematika itu asyik jadinya.
Saya berikan contoh betapa hebohnya belajar bilangan 👇
🍒4⃣Assalaamu'alaikum Bunda,
melihat materi #6 ini, saya benar-benar sedih karena sepertinya sudah salah dalam memberikan stimulasi tentang matematika. Sehingga anak saya sekarang, bukan tidak suka matematika, tapi kurang teliti dan terburu-buru dalam mengerjakan soal matematika sehingga banyak yang salah. Padahal, kalau mengerjakan tugas di rumah yang saya dampingi, fine-fine aja alias bisa dan paham dalam mengerjakannya. Yang saya ingin tanyakan bagaimana memberikan stimulasi yang tepat untuk kasus seperti ini. Makasih...
Iyie_IIP Cirebon
4⃣ Wa'alaykumsalam mbak Iyie, biasanya kita itu penginnya mengajarkan memang instan, karena tidak ingin anak-anak kita tertinggal di sekolah.
Matematika yg diajarkan secara cepat atau instan itu akan membuat anak tidak paham akar masalahnya.
Sehingga saat kondisi tegang, buru-buru, memori yang didapatkanpun akan cepat menguap.
Maka mulai sekarang kuatkan di konsep ya mbak.
Contoh : anak paham bagaimana cara menemukan 3x4 = 12. Kuatkan dulu dengan berbagai permainan dan konsep real, setelah itu ijinkan anak menemukan sendiri perkaliam yang lain.✅
🍒5⃣Assalamualaikum Ibu Septi,
Putra Saya sekarang sudah kelas 2 SD, dulu waktu di kelas 1 Matematika setelah di review Alhamdulillah Paham tapi pada saat Ada Ulangan yang kebetulan Saya berhalangan review Ada beberapa yg secara konsepnya dasarnya sudah kuat, tapi saat Kita belajar bersama lagi Alhamdulillah ingat lagi, Saya berfikir disini mungkin secara pemahaman dasar kurang pas Saya menjelaskan konsepnya...
Mohon Tipsnya untuk saya bisa perbaiki Cara membimbingnya
Terimakasih Bu atas jawabannya
Lulu - Bekasi
5⃣ Wa'alaykumsalam mbak lulu, apa yg mbak lakukan ketika review? Anak-anak mengulang mengerjakan soal-soal yang ada, atau membuat metode lain saat mengenalkan soal matematika yg sama.
Kalau sekedar mengulang soal yg sama, memang akan memendekkan masa anak paham sebuah konsep
Tetapi kalau membuat metode memahamkan konsep dengan cara yg berbeda, akan awet pemahaman itu.
Contoh :
Ketika anak-anak belajar tentang geometri. Luas segitiga, maka saya tidak meminta mereka unt menghafal luas segitiga adalah .....
Tetapi saya mengajak anak2 mengambil kertas berbentuk persegi panjang, yuk kita potong dua tepat secara garis diagonal. Andaikata luas persegi panjang itu ( p x l), berapakah luas segitiga?
Anak-anak lsg cepat menjawab 1/2 (pxl)
Oke, kalau panjang bunda ganti jadi alas (a), dan lebar bunda ganti degan tinggi (t), jadi berapakah luas segitiga?
*1/2 a x t* ✅
🍒6⃣ Ibu, untuk contoh pengenalan lambang, bilangan dan konsep katabaku bagaimana y?
Saya belum ada gambaran ketiganya. Anak saya umar sekarang 4 tahun
Uus Uswatun Hasanah
6⃣Untukmengenalkan lambang bilangan 2, misalnya. Maka kita ambil dua apel, mulut kita bicara ini dua apel, tangan kita menuliskan lambang bilangan dua itu seperti ini 2. Konsep kabataku, harus memakai benda konkrit. Menambah itu menggabungkan, mengurangi itu memisahkan, mengalikan itu menambah berulang, membagi itu mengurang berulang ✅
🍒7⃣ Bu mau tanya kalo anak ini unt mengerjakan soal matematika bisa dan suka, tapi yang saya kadang bingung mengapa dia suka lupa kalo diminta menentukan arah yang sederhana saja, misalnya kiri atau kanan.ini ada masalah apa ya bu? Padahal usianya sudah 9th
Litasekolahmentari
7⃣Coba cek kepekaan orientasi medannya, bisa jadi disorientasi, tidak paham kanan kiri, atau kemampuan melihat ruangnya yg perlu distimulus. Yup, ini salah satu contoh kekeliruan kita belajar arah dulu, diminta menyanyi dulu untuk menghafal, sebelum paham konsep✅
🍒8⃣ Bunda, saat membimbing matematika, saat memahamkan ke anak, adakah tahapan prosesnya?
Ratih_IIP Jepara
8⃣Pintu gerbang matematika itu *aritmatika* maka pahamkan dulu konsep ini dengan baik. Karena ini pijakan dasar untuk tahap matematika berikutnya seperti aljabar, geometri dkk.
Perkuat aritmatika sampai tahap anak menemukan rumus sendiri.
Kalau istilah di keluarga kami "merekonstruksi ulang, para ahli menemukan rumus matematika✅
🍒9⃣ Apakah anak yang sudah usia SMP bisa diulangi lagi kecintaan nya pada matematika ya bu? Anak saya kalo mengerjakan puzzle, sudoku, tangram,atau teka teki dia sangat jeli dan cepat.
Menurut pengamatan matematika nya kurang baik. Sayangnya waktu SD memang pernah mengalami trauma dengan matematika.
Apakah bisa diperbaiki ya bu?
Karena sayang sekali kemampuan logisnya.
Rima_IIP Banyumas
9⃣Masih bisa mbak, selama tidak dikaitkan terus dengan pelajaran sekolahnya, dan jangan dituntut macam-macam untuk pelajaran sekolahnya.
Eksplorasi banyak hal tentang matematika di sekitar kita✅
🍒🔟 Izin bertanya di sisa waktu bu...
Untuk perkalian, sebaiknya dihafal atau menghitung dengan alat peraga (jari misalnya)?
Yani Retno Hapsari
🔟Untuk tahap awal tidak dua-duanya mbak. Kita perlu mengenalkan konsep perkalian dulu.
Saya pakai permainan 3 x 4 saja bisa sampai 1 bulan, sampai anak-anak paham 3 x4.
Setelah itu anak-anak diminta membuat soal sendiri, cari solusinya sendiri, sehingga ketemu Aha! Moment
Diulang-ulang terus, baru dipakai tools yg lain untuk jalan cepat misal jari.
Yang tidak boleh adalah menghafal/di drill✅
🍒1⃣1⃣ Bunda Septi adakah masukan buku bacaan untuk menemukan alat peraga matematika?. Wah mesti kreatif nih menemukan alat peraga
Fitrah
1⃣1⃣ https://soundcloud.com/jarimatika-indonesia/perkalian
Ini contoh kumpulan lagu. Mbak saya dulu menerapkan seminggu 1 lagu matematika, seminggu 1 alat peraga matematika. Akhirnya jadi unit usaha sendiri✅
🎖🎖🎖🎬🎬🎖🎖🎖
Rabu, 19 Juli 2017
Membangun Keluarga Literasi
_Institut Ibu Profesional_
_Review Materi Bunda Sayang sesi #5_
📚 *MEMBANGUN KELUARGA LITERASI* 📚
Selamat untuk anda para bunda di kelas bunda sayang yang sudah berhasil menyelesaikan tantangan game level 5.
Banyak kreasi literasi yang muncul, mulai dari pohon literasi, pesawat literasi, galaksi literasi dll. Semua yang sudah bunda kerjakan di tantangan kali ini sesungguhnya bukan hanya melatih anak-anak dan seluruh anggota keluarga untuk SUKA MEMBACA, melainkan melatih diri kita sendiri agar mau berubah.
Seperti tagline yang kita gunakan di tantangan level 5 kali ini, yang menyatakan
" *_for things to CHANGE, I must CHANGE FIRST_*"
Sebagaimana yang kita ketahui, tantangan abad 21, tidak cukup hanya membuat anak sekedar bisa membaca, menulis dan berhitung, melainkan kita dan anak-anak dituntut untuk memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, berbicara dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat di sekitar kita. Kemampuan inilah yang saat ini sering disebut literasi ( _National Instiute for Literacy, 1998_ )
Institut Ibu Profesional akan mendorong munculnya gerakan literasi yang nyata yaitu mulai dari dalam keluarga kita. Apabila seluruh keluarga Ibu Profesional sudah menjalankan gerakan literasi ini maka akan muncul _rumah literasi_, muncul _kampung literasi_, dan insya Allah negara kita dipenuhi masyarakat yang literat. Tidak gampang mempercayai dan menyebarkan berita yang baik tapi belum tentu benar, makin memperkuat struktur berpikir kita, sehingga selalu mengutamakan "berpikir terlebih dahulu, sebelum berbicara, menulis dan menyebar berita ke banyak pihak"
*KOMPONEN LITERASI*
☘ *Literasi Dini ( Early literacy)*
_Kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah_. Pengalaman anak-anak dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.
☘ *Literasi Dasar ( Basic Literacy)*
_Kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi_
☘ *Literasi Perpustakaan (Library Literacy)*
_Kemampuan memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah_
☘ *Literasi Media (Media Literacy)*
_Kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya_.
☘ *Literasi Teknologi (Technology Literacy)*
_Kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi_
_Kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet_
☘ *Literasi Visual (Visual Literacy)*
_Pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat_
*_Keluarga hebat adalah keluarga yang terlibat_*
Maka libatkanlah diri kita dalam gerakan literasi di dalam keluarga terlebih dahulu.
Pahami komponen-komponen literasi, dan lakukan perubahan yang paling mungkin kita kerjakan secepatnya.
Pohon literasi janganlah berhenti hanya sampai di tantangan materi kali ini saja. mari kita lanjutkan sehingga gerakan ini akan membawa dampak bagi keluarga dan masyarakat sekitar kita.
_Salam Ibu Profesional_
*/Tim Fasilitator Bunda Sayang/*
📚Sumber bacaan :
http://dikdas.kemdikbud.go.id/wp-content/uploads/2016/03/Desain-Induk-Gerakan-Literasi-Sekolah1.pdf
_Clay dan Ferguson_ (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) , 2001
_Beers, dkk, A Principal’s Guide to Literacy Instruction, 2009_
_National Institute for Literacy, 1998_
Pendekatan Permainan Dalam Mengajar Membaca
🍦 *CEMILAN RABU* 🍦
*_Materi #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca_*
*Pendekatan Permainan dalam Mengajar Membaca*
🌟Pada hakikatnya membaca adalah proses memahami dan merekonstruksi makna yang terkandung dalam bahan bacaan.
🌟Kemampuan membaca yang diperoleh seseorang pada tahap membaca permulaan, akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut kelak.
🌟Karenanya, para ahli merancang berbagai metode permainan untuk mengembangkan kemampuan membaca anak usia dini dalam rangka memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan.
*Berikut adalah beberapa metode permainan membaca yang dimaksud:*
1⃣*Metode sintesis*
Metode ini berdasarkan pada teori asosiasi. Metode ini menekankan pemahaman bahwa suatu unsur (dalam hal ini: unsur huruf) akan bermakna apabila unsur tersebut bertalian atau dihubungkan dengan unsur lain (huruf lain) sehingga membentuk suatu arti.
Unsur huruf tidak akan memiliki makna apa-apa kalau tidak bergabung (bersintesis) dengan unsur (huruf) lain, sehingga membentuk suatu kata, kalimat atau cerita yang bermakna. Karenanya, dalam permainan ini, membaca dimulai dari unsur huruf.
Permainan membaca ini dilakukan dengan menggunakan bantuan gambar pada setiap kali memperkenalkan huruf, misalnya huruf a disertai gambar ayam, angsa, anggur, apel.
2⃣*Permainan membaca metode global*
Metode ini dibuat berdasarkan teori ilmu jiwa keseluruhan (gestalt).
Dalam metode ini, anak pertama kali memaknai segala sesuatu secara keseluruhan. Keseluruhan memiliki makna yang lebih dibandingkan dengan unsur-unsurnya. Kedudukan setiap unsur, hanya berarti jika memiliki kedudukan fungsional dalam suatu keseluruhan.
Contohnya: unsur “a” hanya bermakna, jika “a” ini fungsional dalam kata atau kalimat, misalnya “ayam berlari.”
Maka, metode global memperkenalkan membaca permulaan pada anak yang dimulai dengan memperkenalkan “kalimat.”
Kalimat dalam permainan membaca permulaan ini dipilih dari kalimat perintah agar anak melakukan hal-hal yang ada dalam perintah tersebut, seperti “ambil apel itu”. Permainan ini dapat dilakukan dengan menggunakan kartu kalimat, kata, pecahan suku kata, dan huruf. Kegiatan permainan ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan papan flanel dan karton yang dapat ditempel.
3⃣ *Permainan membaca metode _whole-linguistic_*
Dalam pendekatan ”whole-linguistic” permainan membaca tidak dilakukan dengan menggunakan pola kata atau kalimat yang berstruktur melainkan dengan menggunakan kemampuan linguistik (bahasa) anak secara keseluruhan.
Kemampuan linguistik secara keseluruhan akan melibatkan kemampuan anak dalam melihat (mengamati), mendengar (menyimak dan memahami), meng- komunikasikan (mengungkapkan atau memberi tanggapan), membaca gambar dan tulisan yang menyertainya. Dalam menggunakan pendekatan ini, lingkungan dan pengalaman anak menjadi sumber permainan yang utama.
Pendekatan ini juga tidak hanya menfokuskan pada pengembangan bahasa saja tetapi juga intelektual dan motorik anak.
Contoh: pada tema ”tanaman” dengan subtema buah-buahan, orang tua mengenalkan buah apel. Ortu bertanya pada anak tentang pengetahuan buah apel dari segi warna dan bentuk, rasa, jumlah buah apel. Pengenalan membaca permulaan dalam pendekatan _”whole-linguistic”_ ini dilakukan secara terpadu tanpa mengenal struktur pada anak, misalnya setelah anak menggambar atau mewarnai sesuatu, misalnya rumah atau binatang, ortu meminta anak memberi nama dari gambar tersebut dan ortu membantu menuliskan nama dari gambar yang diinginkan anak. Dan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, anak masih diminta untuk menceritakan tentang isi gambar yang telah dibuatnya itu.
*Sumber:*
http://windaulfah-pgsd11.blogspot.co.id/2013/12/metode-membaca-permulaan-di-sekolah.html?m=1
http://www.membumikanpendidikan.com/2015/02/pendekatan-permainan-membaca-dan.html?m=1
http://susipebrianti1300682.blogspot.co.id/2015/12/rancangan-permainan-membaca-dan-menulis_99.html?m=1
*Salam Ibu Profesional*
//Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang//
⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛⏳⌛
















