Selasa, 28 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Hari ke 6

Alhamdulilah sudah masuk tantangan melatih kemandirian hari ke 6. Tantangan kemandirian hari ke 6 adalah malam ke 5 Oza tidur sendiri. Tadi malam saya mendapat kehutan saat Oza memutuskan tidur sendiri. Akhirnya dengan senang hati, mulai merapikan tempat tidur sebelum tidur dan akhirnya tidur sendiri. Kata Oza saat pagi hari "mah, ternyata enak ya mah, tidur sendiri hehehe". Alhamdulilah satu bintang hijau untuk oza. Mendapat bintang hijau adalah salah satu angannya, Oza mengatakan dipikirannya hanya bagaimana caranya agar bisa mendapat bintang hijau, karena 10 bintang hijau akan mendapat hadiah. Dan saat mendapat bintang hijau Oza sangat senang

Sama halnya dengan Oza, Aisya di hari ke 6 juga semakin asyik makan sendiri. Sudah menjadi kebiasaannya untuk tidak minta disuapi. Alhamdulilah, setelah makan, Aisya pun meletakkan piring kotor di tempat cuci piring kotor. Jadi Aisya menambah 1 bintang hijau di lembar kemandiriannya.

Senin, 27 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Hari ke 5

Sudah memasuki hari ke 5 dalam tantangan melatih kemandirian anak. Anak pertama, Oza ada sedikit kemajuan. Tadi malam tanpa diminta, oza menyiapkan kamarnya sendiri, untuk tidur sendiri. Setelah menyiapkan kamar, Oza pamit tidur sendiri kepada saya, sambil minta dipeluk sebelum tidur endiri. Sebelum Oza tidur lelap, Oza minta ditemani Ayah di kamarnya. Ayah bekerja dengan laptopnya, Oza tidur. Hanya sela 30 menit Oza tidur lelap. Yes he cans pikir saya. Dan sayapun tidur, hm... tengah malam jam 12 oza datang ke kamar saya, ternyata dia terbangun dan tidak bisa tidur lagi, sampai jam 1 malam masih duduk. Akhirnya Oza saya ijinkan tidur bersama saya. Di malam ke 4 Oza berhasil tidur sendiri 3 jam. Semoga malam-malam berikutnya bisa berhasil. Bintang kuning untuk Oza :)
Berbeda dengan Oza, Aisya menyelesaikan tantangan makan sendiri dengan baik. Setelah makan, meletakkan piring kotor ke tempat cuci piring. Aisya malah menambah sendiri tantangan kemandirian. Melihat kakanya belajar tidur sendiri, Aisya tertarik untuk melakukan tantangan tidur sendiri. Di mulai dengan tidur dengan ranjang rpisah dengan saya. Tadi malam Aisya sudah berhasil tidur sendiri dengan ranjang terpisah.
Semangat nak.... bintang hijau untuk Aisya :)
#level 2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

Minggu, 26 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Hari ke 4

Di hari ke 4 ini, belum ada perubahan dari latihan kemandirian oza. Oza masih tidur sekamar dengan saya, walaupun pisah ranjang. Dulu pernah saya paksa tidur sendiri. Tapi akibatnya dia mengigau dan tantrum saat malam. Sekarang saya hanya memberi pengertian saat usia 7 tahun,btiba saatnya tidur sendiri. Oza pernah bertanya kepada saya, mengapa dia harus tidur sendiri sedangkan ayahnya yang sudah dewasa boleh tidur dengan mamah. Hm... saya jawab kalau seseorang sudah menikah boleh tidur dengan suami atau istrinya. Sepertinya oza tidak puas dengan jawaban saya, maka dalam hatinya belum trima dia tidur sendiri dan ayahnya sekamar dengan saya. Saya harus belajar tentang ini... :( kali ini Oza masih mendapatkan bintang kuning

Berbeda dengan oza, Aisya hari ini berhasil makan sendiri sebanyak 3 kali. Setelah makan meletakkan di tempat cuci piring. Kemajuannya lagi lauknya sudah tidak minta diiris kecil-kecil, tetapi di gigit sendiri. Alhamdulilah ini kemajuan yang luar biasa untuk Aisya.
Satu bintang hijau untuk Aisya

#level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

Sabtu, 25 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Hari ke 3

Alhamdulilah di hari ke tiga tantangan melatih kemandirian masih berjalan. Di malam kedua Oza sudah bersiap di kamarnya dan merapikan kamarnya. Sampai pukul 21.00, oza datang di kamar saya, "mah, aku tidak bisa tidur, malam ini aku tidur di sini di bawah ya... di kasur lantai, besok insya allah aku tidur di kamarku sendiri". Saya menjawab "oke, berarti besok tidur sendiri ya..." ." Karena tadi malam, tidur sekamar lagi dengan mama, maka oza mendapat bintang kuning lagi ya...nanti oza akan mendapat hadiah jika berhasil mengumpulkan bintang hijau 10 bintang. Oza akan mendapat bintang hijau kalau berhasil tidur sendiri". "Oke mah" jawab oza
Foto oza menempel bintang keduanya

Berbeda dengan oza, hari ini Aisya masuk tantangan hari ke tiga. Dua hari yang lalu Aisya sudah berhasil makan sendiri tanpa disuapi selama 2 hari. Sayangnya di hari ketiga ini Aisya tidak mau nyendok sendiri nasinya karena kelingking kanannya sakit dan berdarah karena terjepit tembok depan rumah yang pecah. Aisya berusaha makan sendiri, tetapi mamah yang nyendok nasi dan lauknya. Karena hari ini Aisya makan sendiri tapi dibantu mamah, maka Aisya dapat bintang kuning.... padahal 2 hari lalu sudah dapat bintang hijau. Hm... tidak apa-apa. Aisya janji kalau sudah sembuh akan makan sendiri lagi :)

Foto Aisya menempel bintang ketiganya 
Demikian proses melatih kemandirian di hari ketiga. Semoga dihari-hari berikutnya juga berjalan lancar dan hasilnya juga lebih baik ya....

#level2
#kuliahbunsayiip
#melatih kemandirian

Jumat, 24 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Hari ke 2

Ditantangan hari ke 2 ini saya akan bercerita tentang kedua anak saya....

1. Oza (7 tahun)
Tantangan : tidur sendiri dan merapikan tempat tidur.
Setelah di hari pertama kemarin, oza sudah setuju untuk mengalahkan rasa takutnya tidur sendiri. Hasilnya tadi malam oza masih tidur sekamar dengan saya cuma sudah pisah tempat tidur. Tadi malam oz tidur di kasur lantai hehehehe, dia rapikan sendiri dan dia tidur di sana. Alasannya masih pengin lihat mama, hehehe. Walaupun oza belum berhasil tapi itu sudah menunjukkan sedikit kemajuan, tidak minta dikeloni. Atas usahanya itu oza mendapat bintang kuning. Jika berhasil oza akan mendapat bintang hijau, jika gagal akan mendapat gambar orang menangis hehehe. Setelah bangun yidur tugas oza merapikan tempat tidur. Walaupun belum tidur sendiri, oza merapikan kamar tidurnya yang bantal gulingnya kemarin diambil di bawa ke kasur lantai. Atas usahanya ini oza mendapat bintang hijau.
Foto oza tidur di kasur lantai, tidur sendiri tetapi masih 1 ruangan

Merapikan tempat tidur versi oza

2. Aisya (4 tahun)
Aisya berhasil makan sendiri pagi dan siang ini di ruang makan tanpa disuapin, lalu menaruh piring di tempat cuci piring. Saya cukup memotong kecil-kecil lauk agar aisya bisa makan sendiri. Untuk ini Aisya mendapat bintang hijau.
Makan sendiri, lesehan di ruang makan
#level2
#kuliahbunsayiip
#kemandiriananak


Kamis, 23 Februari 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Hari 1

Bismilah, Yup pada materi ke 2 kelas Bunda Sayang membahas tentang Melatih Kemandirian, bisa dengan anak, diri sendiri atau dengan pasangan. Saat ini saya akan menerima tantangan dengan mengambil tema tantangan kemandirian anak. Mengapa saya mengambil tantangan ini? Hm...kemandirian untuk diri sendiri atau pasangan, sudah terlatih bertahun-tahun yang lalu, kami LDM, dimana masing-masing dari kami harus bisa menyelesaikan tugas rumah tangga yang biasanya bisa dilakukan berdua, kami lakukan sendiri. Saya harus bisa membetulkan antena, atau stop kontak yang rusak dengan obeng di rumah, dan suami diperantauan harus bisa menyetrika baju sendiri hehehe, berubung kami dulu anak kos saat kuliah, jadi melakukan pekerjaan sendiri bukan hal yang sulit bagi kami.
Melatih kemandirian anak, sudah saya lakukan sejak anak-anak masih kecil. Oza anak saya yang berusia 7 tahun, sudah mulai membantu menyapu, memasak, cuci piring sejak usia setahun. Bukan karena saya minta membantu, tapi memang dia yang minta untuk ikut serta saat saya melakukan. Toilet training sudah selesai sebelum usia 2 tahun, menyapih saat usia 2 tahun 4 bulan. Saat ini, oza bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Mulai membersihkan rumah, mencuci, memasak tanpa saya awasi. Namun demikian, saya tidak pernah menjadikan kewajiban untuk melakukan semua sendiri. Cukup saya tawarkan, hari ini apa yang ingin kakak lakukan? Kami ngobrol dan ketemu aktivitas suka dan bisa dia lakukan, ternyata mencuci adalah kegiatan yang paling dia sukai. Sudah 2 bulan ini, oza mencuci semua pakaian keluarga. Selain itu memasak, hari ini dia memasak nasi, kemarin membantu memasak semur dan cap jay. Alhamdulilah pekerjaan saya menjadi lebih ringan.
Dari semua kemandiriannya ada 1 hal yang saat ini mengalami kemunduran yaitu tidur sendiri. Sejak usia 5 tahun 6 bulan, oza tidur sendiri di kamarnya. Tapi seminggu yang lalu dia sakit panas dan mengigau teru, karena tidak tega saya minta dia tidur di kamar saya, tapi ternyata yang saya lakukan ini berakibat dia tidak mau tidur sendiri lagi. Nah ini menjadi tantangan buat saya. Minggu pertama ini saya akan melatih kemandiriannya tidur sendiri. Saya sudah diskusi dengan oza, bagaimana tentang tantangan tidur sendiri ini. Dia terima tantangan ini, walau dengan berat hati katanya hehehe YES WE CAN

Foto oza menyiapkan lembaran yang di tempel untuk mendapatkan bintang jika selesai melakukan tantangan.


Untuk Aisya, sebelum usia 1 tahun, sudah mulai makan sendiri, tetapi sayangnya tidak pernah sampai tuntas, saat di tengah-tengah makan, aisya sudah males melanjutkan, nggak mau, atau bosan ingin segera mainan. Nah saat ini usianya 4 tahun, saya ingin melatih aisya makan sendiri sampai selesai dan aisya pun setuju dengan tantangan ini
Alhamdulilah hari ini, hari pertama tantangan makan sendiri aisya. Hasilnya... berhasil makan sendiri. Asalkan lauknya sudah saya potong kecil-kecil, jadi aisya tinggal nyendok dan masuk mulut saja. Sesudah itu menaruh piring ke tempat cuci piring


Foto Aisya, bersabar makan sendiri di tantangan hari pertama, walaupun belum mau makan sendiri di ruang makan 


#level2
#kuliahbundasayangiip
#melatihkemandirian

Rabu, 22 Februari 2017

Membangun dan Mendidik Kemandirian Anak

🍯🧀Cemilan Rabu #1🧀🍯

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

*Membangun dan Mendidik Kemandirian pada Anak*

Membangun dan mendidik kemandirian anak bukanlah pekerjaan yang mudah, terutama melatih anak mandiri ketika masih di usia dini. Secara alamiah anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian "Yes, I can!" Kata-kata ajaib ini merupakan sinyal dari kesadaran seorang anak terhadap diri dan kemampuannya sendiri untuk menentukan dirinya.

Orang tua yang bijaksana memanfaatkan keinginan akan kemandirian ini dengan membiarkan anak-anak mereka mempraktikkan keterampilan mereka yang baru muncul sesering mungkin pada lingkungan yang aman atau ramah anak. Dukungan orang tua yang seperti ini memang sangat dibutuhkan anak agar dapat melakukan berbagai hal secara mandiri, termasuk aktivitas yang masih relatif sulit.

Namun realita yang ada, orang tua terkadang merasa tidak tega, tidak bersabar, khawatir yang lahir karena bentuk rasa sayang yang berlebihan kepada anak.  Inilah salah satu penyebab dari kegagalan anak dalam proses kemandiriannya. Oleh karena itu, orang tua perlu memperbaiki sikap mental agar tidak mudah khawatir dengan anak.

Faktor lingkungan juga terkadang ikut andil dalam kegagalan proses kemandirian anak. Dorongan negatif dari lingkungan sekitar yang terkadang menganggap apa yang orang tua lakukan untuk melatih kemandirian anaknya sebagai bentuk eksploitasi. Padahal yang paling terpenting dan utama dalam membangun dan mendidik kemandirian anak adalah ketika anak merasa senang dalam melakukan aktivitas kemandiriannya tanpa ada rasa takut ataupun karena ada rasa tekanan dari luar.

Perlu diketahui bahwa kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan perkembangan usianya.

Adapun jenis kemandirian anak yang perlu dibangun adalah sebagai berikut:

*1. Kemandirian dalam Keterampilan Hidup*

Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam keterampilan hidup adalah memberi kesempatan, bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan, mengenakan baju sendiri, mandiri sendiri, dsb.

Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.

Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

*2. Kemandirian Psikososial*

Bertengkar itu tidak baik. Tetapi menghentikan pertengkaran begitu saja, menjadikan anak kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan konflik. Kita memang harus menengahi dan adakalanya menghentikan. Tetapi kita juga harus membantu anak menggali masalahnya, merunut sebabnya dan menawarkan jalan keluar kepada anak, baik dengan menunjukkan berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil maupun menanyakan kepada anak tentang apa saja yang lebih baik untuk dilakukan.

Apa yang terjadi jika kita bertindak keras terhadap berbagai konflik yang terjadi antar anak? Banyak hal,  salah satunya anak tidak berani mengambil sikap yang berbeda dengan teman-temannya, meskipun dia tahu bahwa sikap itulah yang seharusnya dia ambil. Padahal kita seharusnya menanamkan pada diri anak sikap untuk mendahulukan prinsip daripada harmoni. Rukun itu penting, tapi hidup dengan berpegang pada prinsip yang benar itu jauh lebih penting. Kita tanamkan kepada mereka _principles over harmony_ , melakukan hal-hal yang benar semata-mata karena prinsip. Bukan karena ada orang lain yang memaksa anak melakukannya.

Lalu apakah yang harus kita lakukan jika anak sedang bertengkar? Apakah kita biarkan mereka? Tidak. Kita tidak boleh membiarkan. Kita harus menangani. Membiarkan anak bertengkar dengan keyakinan mereka akan mampu menyelesaikan sendiri dapat memicu terjadi situasi submisif, yakni siapa kuat dia yang menang. Dan inilah yang sedang terjadi di negeri kita. Bahkan urusan antre pun, siapa yang kuat dia yang duluan. Dampaknya akan sangat luas dan bisa menakutkan.

Kita juga dapat melatih kemandirian psikososial anak secara lebih luas. Melatih _toilet trainee_ beserta adab-adabnya. Melatihnya bagaimana adab ketika bertamu atau menerima tamu, adab berbicara kepada yang lebih tua atau yang lebih muda, dan lain sebagainya.

*3. Kemandirian Belajar*

Inilah proses serius kita hari ini. Banyak sekolah yang bersibuk mengajari anak agar terampil membaca, menulis semenjak usia dini, tapi lupa bahwa yang paling mendasar adalah sikap positif, kemauan yang kuat, dorongan dan kebanggaan akan kegiatan tersebut.

Jika anak memiliki kemauan yang kuat untuk belajar disertai keyakinan (bukan hanya paham) bahwa belajar itu penting, maka kita dapat berharap anak akan cenderung menjadi pembelajar mandiri saat mereka memasuki usia 10 tahun. Sebaliknya jika kita hanya mengajari mereka berbagai kecakapan belajar semisal membaca, menulis, dan berhitung di usia dini, mungkin awalnya mereka menggebu-gebu untuk mempelajari semua itu, namun di usia 10 tahun justru menjadi titik balik berupa kejenuhan serta keengganan belajar.

*4. Kemandirian Emosional*

Bekal pokok dari kemandirian emosional adalah pengenalan diri yang diikuti dengan penerimaan diri, kemudian pengendalian diri. Ini memerlukan peran orangtua dalam mengajak anak untuk mengenali kelebihan-kelebihan, kekurangan, kemampuan dan kelemahannya sendiri. Pada saat yang sama orangtua menunjukkan penerimaan terhadap kekurangan maupun kelemahan anak, tetapi bukan berarti membiarkan anak melemahkan dirinya sendiri. Malas dan enggan mengatasi masalah merupakan bentuk sikap melemahkan diri sendiri. Orangtua perlu menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka tak patut merendahkan orang lain, tak pantas pula meninggikan diri. Lebih-lebih untuk sesuatu yang diperoleh tanpa melakukan usaha apa pun alias sepenuhnya merupakan pemberian semenjak lahir.

Yang juga penting untuk dilakukan adalah mendampingi anak mengenali kebutuhannya. Balita pun tak perlu rewel jika ia telah dapat mengenali kebutuhannya untuk istirahat. Perlu juga mendampingi mereka untuk belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan perlu dipenuhi, meski tak serta-merta. Sedangkan keinginan, adakalanya dapat dituruti, tetapi tetap perlu belajar menahan diri. Semua ini ditumbuhkan bersamaan dengan menguatkan dorongan sekaligus kemampuan bertanggung-jawab, termasuk berkait dengan konsekuensi atas berbagai tindakan mereka.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Sumber bacaan :

Muhammad Fauzil Adhim, Anak Perlu Belajar Mandiri, Majalah Hidayatullah edisi November 2014.

Ciri Anak Mandiri dan Tahapan Perkembangan Kemandirian, www.AlMaghribiCendekia.com, 2015

William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

Senin, 20 Februari 2017

Melatih Kemandirian Anak

📒 *Resume Diskusi Materi "MELATIH KEMANDIRIAN ANAK"* 📒

*Kelas Bunda Sayang Kordi*
Narasumber : Bu Septi Peni Wulandani
Senin, 20 Februari 2017
Pukul 20.00 - 21.00 WIB

➖➖➖➖➖➖➖

Institut Ibu Profesional
Materi Bunda Sayang Sesi #2

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?

☘Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
✅Toilet Training
✅Makan sendiri
✅Berbicara jika memerlukan sesuatu

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th  adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦 Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
👨‍👩‍👦‍👦 Mau repot di 6 bulan pertama. Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
👨‍👩‍👦‍👦Komitmen dan konsisten dengan aturan

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

☘Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
✅ Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
✅Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
👨‍👩‍👦‍👦Hargai keinginan anak-anak
👨‍👩‍👦‍👦Jangan buru-buru memberikan pertolongan
👨‍👩‍👦‍👦 Terima ketidaksempurnaan
👨‍👩‍👦‍👦 Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
👨‍👩‍👦‍👦 Berbagi peran bersama anak
👨‍👩‍👦‍👦 Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
✅Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
✅Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
✅Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

☘Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

⛔Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

🔑Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah
👨‍👩‍👦‍👦Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya
👨‍👩‍👦‍👦Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
👨‍👩‍👦‍👦Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
👨‍👩‍👦‍👦Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko

Contoh :
✅Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
✅Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

☘Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1⃣Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
2⃣Ketrampilan Literasi
3⃣Mengurus diri sendiri
4⃣Berkomunikasi
5⃣Melayani
6⃣Menghasilkan makanan
7⃣Perjalanan Mandiri
8⃣Memakai teknologi
9⃣Transaksi keuangan
🔟Berkarya

☘3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1⃣Konsistensi
2⃣Motivasi
3⃣Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?

☘Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1⃣Rumah harus didesain untuk anak-anak
2⃣Membuat aturan bersama anak-anak
3⃣Konsisten dalam melakukan aturan
4⃣Kenalkan resiko pada anak
5⃣Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita

Salam,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber bacaan:

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014
Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara
Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi

➖➖➖➖➖➖➖
*PERTANYAAN*
1⃣ Anak saya kembar umur 3 th 2 bulan. Skrg lg saya latih utk tidur sendiri terpisah dr saya. Sebelumnya hanya terpisah tempat tidurnya saja tp masih dalam 1 kamar. Skrg saya latih utk tidur di kamar mereka. Sblmnya saya menidurkan mereka dulu dgn membaca dongeng, setelah mereka tidur baru saya pindah ke kamar saya. Gak apa2 bu anak umur segitu saya latih tidur sendiri? Kadang di hati saya masih suka bertanya apakah ini terlalu cepat? Takutnya mereka merasa kehilangan atau diasingkan (atau sebenernya saya yg kehilangan ya bu😂) tp di sisi lain saya ingin melatih kemandirian mereka. Setiap hari saya komunikasikan bahwa mereka sudah besar jdi tidurnya di kamar mereka. Pagi2 ketika mereka bangun saya apresiasi dgn bilang "anak bunda sudah bangun. Tdi malam tidur sendiri di kamar karin kiran ya? Hebat anak bunda" betulkah bu cara yg saya lakukan?

Sukma - IIP Pekanbaru

*JAWABAN*
1⃣ Mbak Sukma betul perkiraan mbak, ketika ada pertanyaan "takutnya mereka merasa kehilangan" itu sebenarnya lebih ke kitalah yang merasa kehilangan. Maka melatih untuk tidur sendiri di usia 3-5 th, kalau berhasil bagus banget. Tetapi kalau belum maka masih ada waktu di usia sekolahnya nanti. Yang tidak boleh adalah sampai besarpun tetap satu kamar dengan kita.  karena sejatinya anak sedang belajar mengelola rumah tangganya kelas dengan mengelola kamarnya saat ini. ✅

----------
*PERTANYAAN*
2⃣ Ibu, bagaimana menyelesaikan tahapan kemandirian yang belum selesai di usia sebelumnya?
Apakah ada batas waktu menyelesaikan ketertinggalannya?

Nur'aini - IIP Bandung

*JAWABAN*
2⃣ Teh Nuraini, apabila ada yang tertinggal sebaiknya dituntaskan sebelum aqil baligh, setelah aqil baligh tinggal menyempurnakan saja, bukan lagi dari nol✅

----------
*PERTANYAAN*
3⃣ Assalaamu'alaykum bu septi..
Sy defi dari solo.
1. Alhamdulillaah anak sulung saya (2th 7bln) termasuk anak yg saya rasa mandiri bahkan terasa dr sejak bayi.
Makin kesini, sy berusaha memberi tugas2 harian sprti memasukkan baju ke mesin cuci, mengambil beras utk dicuci, merapikan mainan, mengembalikan piring dan gelas stlh makan.
Seperti ini apakah berlebihan utk skala umur segitu bu? Soalnya misal bumer dtg liat cucunya pas sy suruh2 gt, sy sllu dblg "ra mesakne tho ndhuk..."

2. Utk hal lain memotong sayur dg gunting, lalu dimasukkan ke plastik utk stok kulkas, sy upah 1000/2000 (ini apakah boleh bu, anak diupah?, apa akan menjadikannya malas bekerja klo tdk diupah? Bagaimana cara yg benar dlm pemberian upah agr tdk terjadi hal sprti itu? Apa malah tdk perlu upah ibu?)

Matursuwun bu, atas waktunya utk sharing..

💐💐💐💐💐

*JAWABAN*
3⃣ Mbak Defi, memberikan tugas ke anak-anak usia 1-3 th itu harus seperti bermain, tidak boleh menjadi rutinitas dan kewajiban anak-anak sehari-hari. Maka kalimat yang kita pakaipun bukan " ibu minta tolong nyuci beras ya nak" melainkan "Ibu mau mencuci beras, apakah kakak/adik mau ikut?

Sedangkan untuk pemberian upah sebaiknya dihindari, karena hal tersebut akan mendidik anak berperilaku buruk, mereka akan terbiasa melakukan sesuatu karena ada external motivation, padahal di usia sekolah anak-anak harus muncul yang namanya internal motivation. Sehingga kita akan terkaget-kaget saat memasuki usia sekolah nanti, apabila dari usia 5 tahun ke bawah, motivasinya karena upah. ✅

----------
*PERTANYAAN*
4⃣ Assalaamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh Bu Septi..

Mohon penjelasannya y ibu 🙏🏻

Untuk proses kemandirian anak ini, wajar nggak sih bu kalau anak mengalami fase kemunduran? Padahal sebelumnya bisa dibilang, anak sudah cukup mandiri. Anak saya yang berusia 4 tahun, sekarang sering meminta tolong untuk hal-hal kecil dan dia sedang dalam kondisi santai, misalnya minta untuk dibalikkan baju (bagian dalam baju posisinya diluar).
Lalu bagaimana kiat supaya fase ini terlewati bu?

Satu lagi y bu ☺
kalau kita berikan tanggung jawab tidak menyesuaikan dengan usia anak, tetapi berdasarkan hasil pengamatan kita bahwa anak mampu diberikan tanggung jawab lebih, kira-kira ada efek samping yang negatif nya nggak bu?

Terima kasih banyak y ibu atas jawabannya 😍😍😍

Tamia - IIP Kalbar

*JAWABAN*
4⃣ Mbak Tamia, anak-anak mengalami fase kemunduruan dalam kemandirian itu sangat mungkin. Hal tersebut biasanya disebabkan beberapa faktor. kalau anak di usia sekolah biasanya karena faktor beban tugas di sekolah. Kalau anak di bawah 5 tahun, biasanya fastor psikis, seperti punya adik lagi, perlu kasih sayang ibu/bapaknya dll.
Maka carilah penyebab utama mengapa anak kita mundur kemandiriannya. bahkan kalau saya, ketika anak-anak sakitpun, pasti ada faktor psikologis yang menyebabkan daya tahan tubuhnya turun. Sehingga pengobatan awal tidak buru-buru ke dokter melainkan menyelesaikan urusan psikisnya terlebih dahulu. Karena secara alamiah anak yang bahagia, imunitas tubuhnya  naik, sehingga jarang sakit.
Anak yang sering sakit juga akan berpengaruh terhadap kemandiriannya, karena kita terlalu melindunginya.

Efek samping memberikan tanggung jawab anak yang tidak sesuai dengan usianya, biasanya akan membuat anak-anak tersebut tidak mau mengerjakan tanggung jawab tersebut tepat di usia yang seharusnya. Maka apabila hasil pengamatan mbak tamia melihat anak tersebut mengerjakan tanggung jawabnya karena internal motivation, silakan dilanjut, apabila bukan , mohon dipertimbangkan kembali✅

----------
*PERTANYAAN*
5⃣ Assalamualaikum, ibu . Ijin bertanya. Anak saya usia 5 menjelang 6thn. Akhir2 ini menjadi segala sesuatu ingin bersama bunda seperti mandi, makan minta disuapin, tidur harus diusapan. Padahal sdh bisa mandiri. Bagaimana saya kembali menerapkan kemandirian?
Lalu kalau ada sesuatu yang kurang berkenan mudah sekali menangis, jika bertengkar dg sang kakak reaksinya cpt memukul. Namun setelah menyesal dan bermain lagi seperti biasa.
B. Untuk sang kakak yang berusia 8thn bagaimana melatih kemandirian nya? Kadang konsisten dg tugas yg diberikan, kadang sama sekali tidak mau bergerak kalau lihat adik tdk membantu.
Terima Kasih ibu🙏🏻

Tika - IIP Karawang

*JAWABAN*
5⃣ Mbak Tika, carilah penyebab utama mengapa adik bersikap seperti itu. Ada baiknya kita tidak buru-buru menyalahkan si adik, mungkin banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Selesaikanlah faktor penyebabnya terleboh dahulu. Inilah pentingnya kita belajar mendiagnosis permasalahan anak, tidak buru-buru mencari jalan pintas.

Kemudian untuk kakak, jadikanlah ia assisten bunda untuk menjadi buddy adik-adiknya, buddy itu adalah orang yang selalu ada di saat sedih maupun suka. Sehingga kakak tidak akan bergantung pada adik. Ini pentingnya berbagi peran, bukan menyamakan peran✅

----------
*PERTANYAAN*
6⃣ Point ke-5 dari dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak adalah berikan tanggung jawab sesuai usia anak. Contoh tanggung jawab nya seperti apa ya yg sesuai usia anak?

Fitrah - IIP Bogor

*JAWABAN*
6⃣ Mbak Fitrah, seperti yang sudah saya sampaikan di materi, bahwa anak usia 1-3 th adalah saatnya mengontrol diri, maka latihlah toilet training, makan sendiri dan berbicara baik-baik, dll ( ini tugas utama mereka) jangan dibebani tugas yang lain, karena anak-anak harus selesai dengan ketrampilan yang berkaitan dengan dirinya terlebih dahulu, baru belajar ketrampilan untuk melayani orang lain.

Usia 3-5 tahun, saatnya ia muncul inisiatif untuk melakukan aktivitas sesuai dengan keinginannya dan meniru aktivitas orang dewasa sangat tinggi. Maka ijinkanlah anak-anak usia ini untuk mengerjakan pekerjaan orang dewasa yang dia ingin lakukan. Karena kalau kita larang, maka start usia 3-5 tahun inilah anak-anak akan mulai kecanduan game, karena aktivitas meniru orang dewasa makin berkurang dan aktivitas bermain dengan orangtuanya mulai tidak seru.

Usia sekolah ( 6-18 th)

Mulailah dengan menjalankan 10 ketrampilan dasar yang harus diikuasai anak-anak setahap demi setahap , seperti yang saya tuliskan di materi.

Usia 18 tahun ke atas
Saatnya mereka menjadi orang dewasa, tanpa tuntunan kita lagi✅

----------
*PERTANYAAN*
7⃣ 🙋🏻 ass bu septi..saya risni iip payakumbuh, mau bertanya
1. Bagaimana cara melatih kemandirian ank usia 3th7bln untk tdk minum susu dgn botol lg.. saat anak berhenti asi usia 2 thn, diganti dg mnum susu dg botol..sampe sekarang blm mau minum susu dg gelas.mhon pencerahannya bu..
2. Si kakak usia 6 th..sangat suka melakukan apa yg saya lakukan...seperti memasak..ada 1 kejadian pas usia 5th,dia mau bantu saya saat sya goreng ikan.. Eh ternyata kenak ciprat minyak panas.. Semenjak saat itu jdi takut klo liat saya lg goreng2. Gmna cra mengatasi traumanya buk??
Mksi buk.

*JAWABAN*
7⃣ Uni Risni,
1. lakukan upacara pembuangan botol, katakan pada anak kita, bulan depan kita lakukan upacara pembuangan botol ya, agar adik bersiap-siap secara mental. Ini saya lakukan ke enes dulu, dan berhasil. Dia buang sendiri botolnya, kemudian dia sapih dirinya dari botol. Gelisah di hari pertama, saya perbanyak dengan minum susu kotak waktu itu, karena selain susu botol dia paling suka susu kotak. Tapi waktu mau tidur sangat gelisah, saya temani untuk menghadapi rasa itu, dan 3 hari selesai.

2. Kenalkan pada resiko, dulu ketika usia 3-5 th, anak-anak berusaha untuk masak sarapan sendiri. Maka sebelum mereka memasak saya siapkan segala peralatannya, seperti tangga kayu kecil yang kokoh, agar mereka sampai ke kompor, dan tidak jatuh. Salep dan terigu dingin saya siapkan di dekat kompor dan di kulkas, untuk jaga-jaga, apabila kena minyak maka::
a. matikan kompor
b. oleskan salep/ambil terigu dingin yang ada di kulkas, masukkan tanganmu kesana.

Apabila ada telur pecah:
a. ambil lap
b. bersihkan telur
c. kemudian buang ke tempat sampah
d. ambil pel + pewangi
e. pel sampai bersih

Apabila ada gelas /piring pecah
a. Ambil sandal, pakai
b.Ambil sapu dan pengki
c. Sapu serpihan kaca yang besar-besar
d. Ambil lap basah
e. Bersihkan serpihan kecil-kecil
f. Buang selap-lapnya ke tempat sampah

Pengenalan resiko ini membuat anak-anak makin PD menjalankan aktivitasnya dan kita tidak panik apabila ada kejadian/kecelakaan✅

----------
*PERTANYAAN*
8⃣ 1. Bu septi saya teringat akan pemaparan ibu mengenai jika kita berhasil di anak pertama (role model) maka anak kedua dan selanjutnya akan lebih mudah karena bisa meniru kakanya. Nah yang terjadi saat ini dengan anak-anak saya adalah Aa (6th) mulai bisa diajak Mandiri mengerjakan tugas ringan sendiri seperti menyimpan kembali mainannya tapi adiknya (4th) malah jadi berkesan mengandalkan kakanya, pertanyaannya bagaimana agar Kakak dan adik ini bisa menerapkan konsep Mandiri seutuhnya sesuai usianya sehingga sikap saling mengandalkan ini tidak muncul pada adik?

2. Pemilihan Diksi yang bisa memunculkan motivasi untuk mandiri seperti apa yang tepat untuk diterapkan  kepada anak? Apakah "ayo a rapikan lagi bukunya supaya enak rapi kamarnya" atau kah 'aa kemarin rajin merapikan buku, hari ini juga yaa' Mengingat kedua anak saya tingkat motivasi nya lumayan berbeda aa lebih mudah tersentuh sedangkan adiknya agak cuek.

Fiena_Bandung

*JAWABAN*
8⃣ Teh Fiena,
1. Ini pentingnya memberikan peran ke adik dan kaka secara bergantian. kalau umurnya berbeda jauh, berikan peran sesuai kategori umurnya, kalau umur berdekatan maka berikanlah peran yang berbeda setiap pekan. Misal pekan ini kakak menjadi direktur mainan, memastikan semua yang bermain mengembalikan pada tempatnya. Si adik menjadi direktur sampah, memastikan semua sampah berada pada tempatnya. Kemudian di putar peran tersebut.

2. Kalimat yang efektif adalah bukan menyuruh, melainkan mengajak melakukan bersama. Seperti yang saya lakukan dulu ke anak-anak, ketika mainan berantakan

"Wow mainannya kemana-mana, seperti gula yang bertebaran"
"Oke Ibu akan jadi semut besar, kalian jadi semut kecil" kita akan berlomba untuk mengambil gula-gula yang berserakan"
"Siapa yang lebih dulu selesai, akan jadi juara malam ini"

Kamar berantakan
"Mas, kamarmu artistik sekali, bagaimana kalau kita rapikan bersama, ibu bagian meja, mas bagian kasur ya, kapan kira-kira siapnya? ibu dikabari ya. Dengan pola komunikasi yang bukan sok bossy, membuat anak-anak lama-lama sadar dengan sendirinya. Itu yang saya lakukan dan bekerja ke anak-anak. maka pahami anak-anak ya teh, Komunikasi seperti apa yang paling produktif✅

----------
*PERTANYAAN*
9⃣ Ibu Septi yg baik, contoh kemandirian apa sajakah yg sudah mulai dikenalkan utk bayi 0-12 bulan?
Dulu saya sempet denger, ibu mulai men-toilet training anak2 ibu sejak usia < 12 bulan, bisa diceritakan prosesnya/langkah2nya gmn bu?

Ketika ibu sedang mengandung Ara, kemandirian apa saja yg ibu kenalkan pd mba Enes dan apa saja yg dipersiapkan utk menyambut kelahiran adik?

Ria - IIP Bandung

*JAWABAN*
9⃣ 🍀Teh Ria, bayi 0-12 bulan baru taraf sensomotorik, masih bergantung semuanya ke orang lain. Sehingga jangan buru2 diminta mandiri, kecuali memang anak kita yg sudah minta.

🍀Mengebai toilet training,  kampanye saya di materi kemadirian anak ini  sebenarnya secara implisit adalah "HENTIKAN PEMAKAIAN POSPAK" ( popok sekali pakai) ke anak usia 1-3 th.

saya adalah ibu yang anti pospak sejak punya anak. Sehingga sejak anak-anak usia 6 bulan, sudah mulai saya latih toilet training dengan cara ditatur ( istilah jawa), secara periodik, membawa anak ke kamar mandi, dan bilang "ssst...ssst"  sampai dia pipis sendiri. Bahkan saat 1/3 malam, saya bangunkan untuk di tatur lagi....

Sehingga anak-anak tidak pernah mengompol, saat pup pun disesuaikan dengan bioritme tubuhnya. kalau mereka sudah bisa merangkak, saya letakkan bebek-bebekan toilet anak, di depan kamar mandi, dan saya mulai memperagakan. Kalau mau pup, pegang perut, maka merangkak ke depan kamar mandi, dan duduk di atas bebek ya. terus menerus seperti itu, sehingga saat 1-3 tahun sudah merdeka untuk urusan yang satu ini.

Sedih kalau lihat ada anak, dibiarkan berdiri, mengejan sampai merah, kemudian ibunya tenang-tenang saja.

Saat saya tanya " kenapa anaknya dik?"

"Nggak papa bu, udah biasa, itu sedang pup" huuffft....kebayang betapa orangtuanya malas untuk melatih anak-anak.

Setelah selesai, saya datangkan elan, untuk cerita tentang bagaiman dia melatih kucing usia 1 bulan, pup dan pee di tempatnya. Anak kucing saja bisa dilatih, lha kok kita menurunkan kemuliaan anak manusia.

🍀Ketika mengandung ara, saya hanya full bermain dg enes, bermain adik-adikan, ibu-ibuan, shg saat adiknya lahir, kita berdua seperti punya mainan adik-adikan.

Enes sdh lihai mengganti popok unt bobekanya, memandikan bonekanya.

Shg ketika ara lahir, dia berpikir ibunya sdg main boneka seperti dirinya.

Untuk menyambut sang adik, jauh2 hari kita ajak enes mempersiapkan segala keperluan adik.

Kemudian saat ara lahir, saya hanya menyusui ara, kemudian ara saya minta bapaknya yg pegang, setelah itu saya harus full dg enes.

Saat banyak orang menengok ara, saya minta enes yg membuka kado, sambil saya kampanye kl nengok anak ke dua, berikan kado ke kakaknya bukan ke adiknya✅

----------
*PERTANYAAN*
🔟 Assalamu'alaikum bu Septi, ada yang ingin saya tanyakan...
1. Mulai tahun ini, saya sudah menstimulasikan anak sy laki2 (12 th) utk membuat jadwal harian, yg isinya semua aktivitas yg dia lakukan sehari2. Saya amati memang sudah mulai ditepati, tetapi ada beberapa kegiatan (seperti membaca) yang memang di masukkan ke dalam  jadwal sesuai anjuran saya (aslinya rada malas membaca, bu). Kalo diingatkan, selalu jawabannya "kan, mama yang nyuruh... 😊" Gimana ya, bu supaya anak senang membaca. Padahal saya dan suami senang baca. Dan di rumah juga sengaja saya sediakan banyak sekali bahan bacaan...

2. Apakah memberi uang saku mingguan atau bulanan, termasuk melatih kemandirian dalam keuangan? Gimana teknik pelatihan yang terbaik?

Terimakasih

Sri Prihatiningsih - IIP Cirebon

*JAWABAN*
🔟 Mbak Sri Prihatiningsih
🍀 Semua anak yang berbicara, pasti bisa membaca. Permasalahannya adalah saat awal dulu stimulus membaca anak-anak itu apakah di dril?dipaksa atau bagaimana? Karena membuat anak BISA membaca itu mudah, membuatnya SUKA membaca itu baru tantangan.

kalau stimulus awalnya sudah menarik, maka tahap berikutnya lihat gaya belajarnya

Mengenail pertanyaan mbak sri ini nanti ada kuncinya semua di bunda sayang, sampai ke kecerdasan finansial anak, jadi mohon bersabar yaaa....

Sampai jumpa di tahap-tahap berikutnya

----------selesai----------

Sabtu, 18 Februari 2017

wirausahawan kecil

Late post
Bermula dari saya membelikan cemilan untuk dimakan di rumah, makroni super, yang bantat agar keras dengan rasa pedas, ternyata di gemari oza (7 tahun) dan aisya (4 tahun). Saat itu hari rabu 8 feb 2017
Sambil ngobrol nyemil tiba-tiba oza mengambil plastik dan memasukan ke dalam plastik. Oza bilang "mah ini bisa dijual". Saya bilang "kakak mau jualan?, yang mau beli kira2 siapa? ". Oza jawab "anak-anak mah". Saya jawab "okey kalau begitu berarti kita jual dengan bungkus kecil, bisa dijual di warung dan tetangga dengan harga bedha, kakak punya uang buat kulakan?" Kakak jawab " 15 ribu, cukup mah? ". "Cukup untuk setengah kilo" jawab saya.
Hari minggu tanggal 12 Februari 2017, kami pergi kulakan. Sebagai leader, oza punya bakat arranger. Membagi tugas seuai dengan keahlian. Berikut tugas anggota keluarga:
OZA : mengukur seberapa banyak makroni yang dimasukkan di plastik, memasukkan makroni ke plastik
Aisya : menggunting kertas label
Mamah: memasukkan label
Ayah : merekatkan plastik
Satu keluarga bekerjasama, ya .... pelerjaan lekas selesai. Anak-anak senang karena tidak merasa bekerja.
Setelah selesai, ini bagian pentingnya, adalah menjual produk. Oza menawarkan ke warung mbah, untuk dijual kembali. Harga satuan @500, apabila beli 10 jadi 4000. Kali pertama berhasil, oza senang mendapat uang 4.000, lanjut jual ke tetangga sebelah rumah... dan terdengar teriakan " mamah... aku berhasil jualan 1 bandel lagi". Tidak berhenti disitu, oza juga menawarkan ke pelanggan yang ngeprint di rumah kami... hm... tapi nggak ada yang beli... hehehe nggak papa. Masih pantang menyerah... oza menawarkan dagangannya dihari-hari berikunya sampai habis makroni pedasnya.
Setelah dagangannya habis, saya mengajari oza melakukan pembukuan sederhana. Berapa uang yang di gunakan untuk modal dan berapa penghasilannya, terus untung atau rugi... dan hasilnya dia untung 10ribu rupiah... oza senang sekali dengan hasilnya sendiri. Lalu dia menyimpulkan "mah, cari uang itu mudah ya, besok aku jualan lagi". Oza juga bercerita setiap kali menerima uang dagangannya laku dia mengucapkan syukur alhamdulilah di dalam hati....
Dari peristiwa ini saya dapat melihat bahwa fitrah keimanan mulai tumbuh dengan meminta, tahu Allah maha memberi  dan kepada Allah kita bersyukur
Fitrah bakat : sebagai arranger, marketer, activator semakin terlihat
Fitrah belajar: rasa ingin tahu yang tinggi tentang jual beli, tidak mudah menyerah, ingin inovasi baru setelah dulu pernah berjualan jus jambu.
Fitrah estetika: bagaimana menata dagangan agar menarik dan indah dilihat
Fasilitator : mama dan ayah

#FBE
#oza7tahun 
 Kerjasama memasukkan makroni, membuat label, memasang label, pic by ayah
 Mencatat pengeluaran, pemasukan dan keuntungan yang di dapat
Makroni yang dijual kakak oza

Kamis, 16 Februari 2017

I'm responsible for my communication result

☕πŸͺ cemilan rabu #2 πŸͺ☕

BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP HASIL KOMUNIKASI KITA

Ini adalah cemilan disela-sela kuliah Komunikasi Produktif yang disampaikan Ibu Septi Peni Wulandani 

Bulan ini bagi teman-teman yang sudah bisa menyelesaikan tantangan 10 hari, akan mendapatkan badge yang bertuliskan

I'm responsible for my communication result

Artinya apabila hasil komunikasi kita dengan pasangan hidup, dengan anak-anak, dengan teman-teman di komunitas, rekan kerja dan masyarakat sekitar kita, tidak sesuai harapan, maka jangan salahkan penerima pesan, kitalah yang bertanggung jawab untuk mengubah strategi komunikasi kita.

Contoh kasus saya pernah jengkel dengan assisten rumah tangga saya yang biasa dipanggil budhe. Berkali-kali diberitahu cara setrika yang benar, tapi hasilnya selalu salah.

Kondisi seperti ini biasanya akan menyulut emosi kita ke penerima pesan.

Maka saya harus segera mencari orang ketiga untuk cari solusi lain.

Saya ceritakan kondisi ini ke pak dodik, beliau hanya menjawab simple

"Kalau sekali saja diberitahu langsung paham, maka budhe itu sudah pasti jadi manager sebuah bank, bukan kerja di rumah ini"

(πŸ˜€ beginilah salah satu gaya komunikasi pak dodik)

Hmmm....sayalah yang harus mengubah strategi komunikasi saya, artinya gaya komunikasi saya tidak tepat saat itu, bukan salah budhe.

Akhirnya ketemulah pola, kalau berkomunikasi dengan budhe harus diberi contoh, tidak hanya diberitahu lewat omongan saja.

Ini baru satu contoh komunikasi kita dengan assisten rumah tangga, belum lagi kasus komunikasi kita dengan ibu kita atau dengan ibu mertua kita, pasti makin kompleks. Dan yakinlah semua itu membuat kita makin terampil berkomunikasi, selama kita tidak menyalahkan hasil komunikasi kepada orang yang kita ajak bicara.

_There is NO failure, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE our strategy_

Tidak ada kegagalan berkomunikasi itu yang ada hanya hasil yang berbeda, tidak sesuai harapan, untuk itu segera ubah strategy komunikasi anda.

Ingat satu hal ini, pada dasarnya kebutuhan manusia yang paling dalam adalah keinginan agar perasaannya didengar, diterima, dimengerti dan dihargai.

Jadi dalam komunikasi, kita perlu meningkatkan kemampuan kita dalam mencoba memahami perasaan orang lain, apakah itu teman, pasangan hidup, rekan kerja, atasan, anak atau siapapun juga yang menjadi lawan bicara kita.

Untuk anak-anak, seringkali mereka belum mampu untuk mengatakan apa yang mereka rasakan, bisa jadi karena perbendaharaan kata mereka yang belum banyak.

Maka mereka akan menggunakan bahasa tubuh bahkan jauh ketika mereka belum pandai berbicara.

Sebagai orang tua maka kita harus meningkatkan kepekaan kita dalam menangkap makna dibalik bahasa tubuh dan perasaan apa yang mendasari sehingga kita bisa memahami perasaan yang ingin disampaikan si anak.

Rasa kurang percaya diri biasanya muncul karena kita “menidakkan perasaan” sehingga lawan bicara menjadi bingung, kesal, tidak mengenali perasaannya sendiri akhirnya tidak percaya pada perasaannya sendiri.

Jadi ingat dialog saya dan ibu waktu kecil

Saya : “Ibu, aku benci sama pak Guru. Tadi aku dimarahi di depan kelas”

Ibu : “Pasti kamu melakukan kesalahan makanya pak Guru marah sama kamu. Tidak mungkin kan pak Guru tiba-tiba marah”

Kalimat itu membuat saya jengkel sekali karena ibu seakan-akan justru membela pak guru dan otomatis menyalahkan saya.

Padahal saya hanya ingin di dengarkan. Sehingga kalimat

"Mbak jengkel banget ya sama pak guru, sini duduk sebelah ibu, minum teh hangat, dan mbak lanjutkan ceritanya"

Selamat melanjutkan tantangan komunikasi anda, jangan pernah menyerah walau kadang anda merasa lelah.

Salam Ibu Profesional,

/Septi Peni/

Sumber bacaan :

_Pengalaman pribadi dalam menghadapi tantangan komunikasi sehari-hari_

Berkomunikasi Sesuai Bahasa Cinta Anak



Menurut Gary Champan & Ross Campbell, MD, dalam buku mereka yang bertajuk The Five Love Languages of Children, terdapat 5 cara anak dan manusia memahami dan mengekspresikan cinta, yakni;

1. Sentuhan Fisik,

2. Kata-kata Mendukung,

3. Waktu Bersama,

4. Pemberian Hadiah,

 5. Pelayanan.


Umumnya setiap anak bisa menerima cinta melalui 5 bahasa di atas, namun ada satu bahasa yang paling dominan pada masing-masing anak. Berikut adalah tips dalam berkomunikasi dengan si kecil sesuai bahasa cintanya.

1. Apabila bahasa cinta anak kita adalah Sentuhan Fisik
* Saat bertemu dan berpisah dengan si kecil, berilah pelukan.
* Saat si kecil stres, beri belaian untuk menenangkannya.
* Peluk dan cium si kecil saat ia tidur malam dan bangun pagi.
* Setelah mengajar disiplin pada si kecil, beri pelukan sejenak dan jelaskan bahwa pengajaran yang diberikan adalah untuk kebaikannya dan Anda tetap sayang padanya.
* Saat memilih hadiah untuknya, beri benda yang dapat ia pegang/peluk, seperti bantal, boneka, atau selimut.
* Saat menghabiskan waktu bersama si kecil, seperti menonton televisi bersama, duduklah berdekatan dengannya, sambil berpelukan.
* Sering-seringlah bertanya padanya apakah ia mau digandeng atau dipeluk.
* Apabila ia terluka, pegang dan peluk mereka untuk memberi kenyamanan.

2.Apabila bahasa cintanya adalah Kata-kata Mendukung
* Saat menyiapkan bekal untuknya, masukkan kertas kecil berisi kata-kata mendukung.
* Saat ia berhasil mencapai prestasi, tunjukkan rasa bangga Anda dengan memberi kata-kata membangun, seperti “Mama bangga dengan adik bermain adil di permainan tadi,” atau “Kakak baik sekali membantu adik membangun rumah-rumahan itu.”
* Simpan hasil karya si kecil, seperti lukisan atau tulisan, dan pajang dengan tambahan tempelan kertas mengapa Anda bangga dengan karyanya itu.
* Biasakan mengucap kata, “Mama sayang kamu,” tiap berpisah dengan si kecil atau menidurkannya di malam hari.
* Saat si kecil bersedih, bangun kepercayaan dirinya dengan mengucapkan alasan-alasan yang membuat Anda bangga padanya.


3. Apabila bahasa cintanya adalah Waktu Bersama
* Coba libatkan anak dalam aktivitas-aktivitas Anda, seperti belanja ke supermarket, memasak, mencuci piring, dan lain sebagainya.
* Saat si kecil ingin bercerita, hentikan sejenak aktivitas Anda untuk benar-benar menatap dan mendengarnya.
* Ajak si kecil memasak bersama, seperti membuat kue atau camilan lainnya.
* Tanyakan kepada si kecil mengenai tempat-tempat yang ingin ia kunjungi, dan jika ada kesempatan, beri kejutan dengan mengajak mereka ke tempat-tempat tersebut.
* Biasakan untuk memintanya menceritakan hari yang ia lalui di sekolah atau aktivitas lain yang telah ia lakukan.
* Saat mengajak si kecil bermain, bermainlah bersamanya ketimbang hanya menonton.
* Jika Anda memiliki lebih dari 1 anak, tetapkan jadwal bermain dengan masing-masing anak secara individu, tanpa melibatkan yang lain.


4. Apabila bahasa cintanya adalah Pemberian Hadiah
* Kumpulkan hadiah-hadiah kecil (tak perlu mahal) untuk diberikan kepada si kecil di saat-saat yang pas.
* Bawa permen atau camilan kecil lain yang dapat Anda berikan pada si kecil saat sedang bepergian.
* Beri makanan kesukaan si kecil, Anda bisa memasaknya sendiri atau mengajak si kecil ke restoran kesukaannya.
* Buah sebuah “kantong hadiah” berisi hadiah-hadiah (tak perlu mahal) yang dapat dipilih si kecil saat ia melakukan prestasi.
* Saat menyiapkan bekal untuknya, selipkan hadiah kecil untuknya.
* Buatkan semacam permainan teka-teki untuknya mencari hadiah dari Anda.
* Daripada membeli hadiah ulang tahun yang mahal, buatkan pesta ulang tahun meriah di tempat yang ia sukai.


5. Apabila bahas cintanya adalah Pelayanan
* Temani ia saat mengerjakan pekerjaan rumahnya.
* Saat ia sedih atau menghadapi kesulitan, buatkan makanan kesukaannya.
* Daripada menyuruhnya tidur, gendong atau gandeng mereka ke tempat tidur.
* Saat sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah, bantu mereka memilih pakaian untuk hari itu.
* Mulai ajarkan si kecil mengasihi orang lain dengan memberi contoh membantu orang lain atau memberi sumbangan kepada orang yang kurang mampu.
* Saat si kecil sakit, angkat semangatnya dengan menonton film, membaca buku, atau masak sup yang ia sukai.
* Saat menyiapkan sarapan, makan siang, atau makan malam, selipkan makanan penutup atau camilan kesukaan mereka.

Cara mengamati bahasa cinta anak :

1.  Amati cara si Kecil mengekspresikan cintanya pada Mama
Apabila si Kecil seringkali mengucapkan “Aku sayang Mama” atau “Terima kasih Mama atas makan malam yang enak”, Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin adalah “Kata-kata Mendukung”.

2. Amati cara si Kecil mengekspresikan cinta kepada orang lain
Apabila si Kecil seringkali ingin memberikan hadiah kepada teman atau gurunya, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Pemberian Hadiah”.

3. Pelajari apa yang seringkali diminta oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering meminta Mama untuk menemaninya bermain atau membacakan cerita untuknya, maka Bahasa Cinta yang dominan padanya mungkin “Waktu Bersama”. Sedangkan kalau si Kecil sering meminta pendapat Mama mengenai apapun yang sedang dilakukannya, seperti “Mama suka ga sama gambarku?” atau “Bajuku bagus ga Ma?”, mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Kata-kata Mendukung”.

4. Pelajari apa yang seringkali dikeluhkan oleh si Kecil
Apabila si Kecil sering mengeluh mengenai kesibukan Mama atau Papa diluar rumah, seperti “Papa kok kerja terus yah” atau “Mama kok ga pernah mengajakku ke taman lagi,” maka mungkin Bahasa Cinta yang dominan padanya adalah “Waktu Bersama”.

5. Beri 2 pilihan kepada si Kecil
Dalam melakukan aktivitas sehari-hari, Mama bisa menanyakan apa yang diinginkan si Kecil, untuk menemukan Bahasa Cinta yang dominan padanya. Pertanyaan yang diberikan dapat berupa pilihan antara 2 Bahasa Cinta. Contohnya, saat Mama ada waktu luang, dapat memberi pilihan kepada si Kecil seperti “Sore ini adik mau Mama temani jalan-jalan atau mau Mama betulkan rok adik yang rusak?”, dengan memberi pilihan ini maka Mama memberikan pilihan antara Bahasa Cinta “Waktu Bersama” atau “Pelayanan”.


_Sumber bacaan_:

_Gary Chapman & Ross campbell M.D, The 5 Love language of children, jakarta, 2014_

_Eric Berne, Games people Play, jakarta_

_Eric Berne, Transaksional Analysis, jakarta._
.

Rabu, 15 Februari 2017

Aliran Rasa Komunikasi Produktif

Alhamdulilahirobbil alamin.... Segenap syukur kami panjatkan kehadirat Allah, yang telah menuntun saya sampai di kelas bunda sayang di Institut Ibu Professional. Saya sangat bersyukur sekali berada di kelas ini, karena ini adalah KM 1 saya dalam menjalani misi hidup saya.

Sebagai ibu saya merasa terlambat baru tahu ilmu tentang komunikasi produktif secara gamblang dan praktek secara nyata dengan hasil tercatat sebagai tantangan 10 hari. Tantangan 10 hari adalah tantangan awal dalam komunikasi produktif. Tantangan yang sebenarnya adalah saat kita menjalani kehidupan ini sampai menutup mata de gan tetap mempraktekkan komunikasi produktif. Sebelumnya saya sudah  pernah menerima materi ini, tetapi dalam pelaksanaannya kurang terukur keberhasilannya.

Saat menerima materi, suami saya, ayah Dedi Irawan tercinta ikut membaca materi ini. Bapak dari anak-anak ini yang mengingatkan saya terutama saat saya lalai.

Saya akan menceritakan hikmah yang kami rasakan setelah menerima materi ini.
1. Saya dan suami
Saya dan suami sudah mengenal cukup lama sebelum akhirnya kami menikah. 9 tahun..... adalah waktu yang cukup untuk mengenal satu sama lain. Delapan tahun menikah menambah lama waktu kami saling mengenal. Bukan hanya sebagai suami, tapi juga teman bermain...ya bermain saya dengan anak-anak. Bermain bersama adalah salah satu family forum kami, hampir tiap hari kami bermain bersama.lalu kami akan bercerita impian-impian kami dan bagaimana menggapainya.
Namun demikian kadang juga masih terjadi salah paham. Salah paham ini lebih ke kesalahan saya yang terkadang FoE dan FoR kami bedha. Saya yang punya bakat analitik, kalau dengar berita, langsung tanya nerocos bukti-bukti dan sebagainya. Ini suami yang tidak suka jika dalam waktu yang tidak tepat. Saya sering kena tegur dalam hal ini. Alhamdulilah komunikasi kami komplementer, tidak pernah komunikasi silang bahkan tersembunyi. Jika ada masalah harus diselesaikan dahulu sebelum tidur walaupun perlu waktu yang lama atau sampai larut malam.  Kami bicara blak-blak an. Suami lebih sabar. Di akhir pembicaraan suami sering menyimpulkan FoE dan FoR kita. Dan saling mengingatkan apabila ada yang melakukan pelanggaran (kayak sepakbola saja hihihi.......

2. Dengan anak-anak

Ehm....paling parah saya mempertahankan suara ramah apabila lomdisi sedang tidak fit, banyak kerjaan, dan anak berkelahi..hwaaaaa mungkin lebih baik saya tidur saja... daripada jadi srigala. Tidak ada pengganti saya di rumah. Mau sakit atau sehat semua harus saya kerjakan kalau suami kerja. Kalau suami di rumah lumayan ada yang bantu-bantu. Anak-anak tidak biasa dengan eyangnya. Suara ramah masih jadi PR saya setelah tantangan 10 hari.
Materi lainnya alhamdulilah nyantol dikepala, dan bisa lakukan lakukan lakukan. Penginnya family forum ditulis terus, tapi apadaya setelah tantangan 10 hari selesai, anggota keluarga sakit bergantian. Sampai sekarang jadi belum sempat saya posting cuma sudah saya tulis tangan.

Saya banyak minta maaf dengan anak pertama saya, karena saat awal menjadi ibu, amburadul komunikasi saya. Berimbas dengan komunikasi dia yangbkurang baik, terlebih saat dia lahir, kami masih jadi 1 dengan keluarg besar jadi banyak pengaruhnya juga. Anak nangis terlalu lama, saya kena marah, anak mau eksplore saya kena marah. Itu yang membuat anak-anak tidak mau dengan eyangnya karena banyak larangan.

Dari semua materi, saya paling tertarik dengan bahasa cinta. Saya sudah mendeteksi ini sebelum ada materi ini. Dengan adanya materi ini jadi lebih jelas kalau deeksi saya benar.

a. Anak pertama
Bahasa cintanya sentuhan fisik dan waktu bersama.kemarin dia menyatakan, pengin ngiras bakso berdua dengan mamah, tanpa adik dan ayah. Karena jika kami hanya berdua bisa cerita banyak hal dan tertawa bersama.

b. Anak kedua
Bahasa cintanya kata pendukung, waktu bersama, sentuhan fisik, hadiah. Hm...ini lebih banyak... tapi ini memudahkan saat kakaknya ingin berdua. Cukup kata-kata pendukung dan hadiah sudah bisa membuatnya bermain sendiri, walau untuk sesaat.

C. Suami
Bahasa cintanya....kata pendukung, sentuhan fisik, pelayanan....

Kalau saya sendiri.....hwa.... tidak ada yang nanya.....hm... saya suka sentuhan fisik dan hadiah hahahaa...(tutup muka )

Itulah aliran rasa saya....intinya saya bahagia dengan mendapat materi ini, mulai dari manggut-manggut, tertampar dan instropeksi diri....semoga bisa istiqomah dan selalu melakukan perbaikan setiap hari. Setiap malam instropeksi, dan memulai pagi dengan belajar lagi...

Terimakasih kepada Bu Septi yang telah memberikan materi yang sangat menarik, semoga menjadi jariah. Kepada ketua kelas dan koordinator bulanan juga terimakasih sudah memudahkan kami menerima materi, mengumpulkan tantangan dan memandu diskusi. Love you full deh...


Family forum Link

Eaaaaa Sebenarnya dalam materi bunda sayang, ada praktek mbuat family forum, dulu saya save di google docs. Penginnya dicopas sini semua. Tapi sarana kurang mendukung. Baru tidak ada lap top. Sudah copas puanjang, tinggal pos ee... hilang semua, hasil ngeblog pake hape si...,rada trauma, maklum bloger baru masih amatirrrr jadi untuk saat ini di tulis linknya dulu aja y...Semoga ada waktu bisa copas di mari..,aamiiin



Family Forum day 1
https://docs.google.com/document/d/1YEcX4ytzbixU2M0nvfprkclotDqRHcvDcoQoj3ibCys/edit?usp=drivesdk

Family forum day 2
https://docs.google.com/document/d/1bESM8SPc1MfbrOBuCDIKANwkl4AMtyDw4aFgKm4xYsE/edit?usp=drivesdk

Family forum day 3
https://docs.google.com/document/d/1t4Xsc1B8TJRgYSuGHCgVaFOirQQ6Fi5o2PpeAtnGJFc/edit?usp=drivesdk


Family forum day 4
https://docs.google.com/document/d/1YEcX4ytzbixU2M0nvfprkclotDqRHcvDcoQoj3ibCys/edit?usp=drivesdk


Family forum day 5
https://docs.google.com/document/d/1HMzohtiAsa9wbdUKOjwH6qeCeIAlfXOR2s2YlCk2u-8/edit?usp=drivesdk

Family forum day 6
https://docs.google.com/document/d/11u8ETbjQb9aXPvn-3wChRoFK4VsiqbX7lOFF7oOZS0w/edit?usp=drivesdk

Family forum day 7
https://docs.google.com/document/d/1_XUK2KUN5r1W32l6w_Wawtv_zEl8AsFF1ZiNwf8CU64/edit?usp=drivesdk

Family forum day 8
https://docs.google.com/document/d/1E660nBe8teIyGa9gcF_ouAarULBgouItqcaFTmZX9T8/edit?usp=drivesdk

Family forum day 9
https://docs.google.com/document/d/1pY1NC84e_9DQUTnvLriGTR1S2NlwBDXDfIG4V2tFzxo/edit?usp=drivesdk

Family forum day 10
https://docs.google.com/document/d/18iKzN9w7roete4GaEvIYe-b2PomLsaSpw45UVKbC3UY/edit?usp=drivesdk

12 Gaya Populer, Kegagalan dalam Komunikasi

Cemilan Rabu #1
πŸ“† Hari baru, Semangat Baru
Satu minggu sudah kita memperdalam materi “Komunikasi Produktif”. Dan teman-teman saat ini sedang melatih kekonsistenan diri dalam menjaga komunikasi dengan diri kita sendiri, dengan partner atau rekan kerja dan dengan anak-anak kita. Banyak tantangan ya pasti, tapi seru. Di pekan pertama ini, kami ingin berbagi tentang 12 gaya populer, yang menghambat komunikasi kita.
Mungkin sebagian besar dari kita sudah sering mendengar tentang 12 gaya populer (parenthogenic). Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari.
Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa tidak percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri.
Padahal sangat penting bagi anak untuk belajar percaya dengan perasaannya dan dirinya, hal tersebut akan mendukung perkembangan emosinya dan mendorong anak tumbuh menjadi percaya diri.
Jika perkembangan emosi anak baik, ia juga akan memiliki kontrol diri yang baik ketika menghadapi suatu masalah, bahkan ia akan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Berikut adalah contoh-contoh 12 gaya populer:
1⃣ Memerintah, 
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”
2⃣ Menyalahkan, 
contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”
3⃣ Meremehkan, 
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”
4⃣ Membandingkan, 
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”
5⃣ Memberi cap, 
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”
6⃣ Mengancam,
contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”
7⃣ Menasehati, 
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”
8⃣ Membohongi, 
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”
9⃣ Menghibur, 
contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”
πŸ”ŸMengeritik, 
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”
1⃣1⃣ Menyindir, 
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”
1⃣2⃣ Menganalisa, 
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”
Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus.
Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/
Sumber bacaan:
Elly Risman, Penghambat Komunikasi Dalam Keluarga, artikel, 2014
Tim Fasilitator Bunda sayang IIP, Hasil Tantangan 10 hari, komunikasi produktif, 2017

Komunikasi Produktif

Bunda2 sayang, berikut adl resume materi dan tanya jawab Bunda Sayang sesi #1: Komunikasi Produktif
🌸🌸🌸🌸🌸
Institut Ibu Profesional
Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1

KOMUNIKASI PRODUKTIF

Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.
KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.
Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.
Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda
Kata masalah gantilah dengan tantangan
Kata Susah gantilah menarik
Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu
Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.
Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya
Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.
Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.
Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.
Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR)_* dan *_Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.
FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.
FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.
Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.
Komunikasi dilakukan untuk *MEMBAGIKAN* yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.
Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA
Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.
Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; *_bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi_*
Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.
Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.
Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.
Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:
1. Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.
2. Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.
3. *Kaidah 7-38-55*
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.
4. *Intensity of Eye Contact*
Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.
5. *Kaidah: I'm responsible for my communication results*
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.
KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy
Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?
a. *Keep Information Short & Simple (KISS)*
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya” ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)
b. *Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah*
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)
Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.
c. *Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan*
Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”
d. *Fokus ke depan, bukan masa lalu*
Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”
e. *Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”*
Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.
f. *Fokus pada solusi bukan pada masalah*
Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.
g. *Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan*
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”
h. *Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman*
Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.
I. *Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi*
Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”
j. *Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati*
Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"
kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?
k. *Ganti perintah dengan pilihan*
kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
Kalimat produktif :
“Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi, baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat
Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang IIP/
Sumber bacaan:
_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_
_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_
_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_
_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_
🌸🌸🌸🌸🌸
Sesi Tanya jawab
1⃣
Ria - IIP KalBar
Assalamualaikum Ibu Septi yang di Rahmati Allah.
1. Ibu bagaimana memaksimalkan kalimat produktif di saat kita sedang menghadapi anak yang sedang emosi/tantrum kerena sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Apa yang harus kita perbaiki dari diri kita karena pasti ada sesuatu yang salah dari diri kita sehingga anak menjadi mudah emosi?
2. Kedua, selama ini ketika saya berkomunikasi dengan anak akan lebih mudah bagi saya untuk berkomunikasi secara produktif, menjaga intonasi, berhati-hati memilih kata. Namun ketika saya berbicara dengan pasangan sangat mudah sekali sy terpancing emosi terlebih dalam menjaga intonasi. Apakah ada kaitannya dengan tipe seseorang yang cenderung pendiam Bu, Karena yg saya rasakan pendiamnya saya dulu membuat saya kurang pengalaman dalam berkomunikasi atau mengungkapkan sesuatu melalui kata2.
Terima kasih Ibu πŸ™πŸ˜Š
Jawaban 1⃣
a.mbak Ria di kalbar, anak emosi/tantrum krn sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya akan menjadi "modus operandi" apabila kita loloskan keinginannya. Maka yg harus kita lakukan adalah jadi raja tega.
"Tidak ada yg berhasil di rumah ini dengan menangis dan teriak-teriak"
Anda tunggu saja sampai nangisnya usai, ambil air wudhu, baru ditanya baik-baik.
Karena menangis/tantrum ketika minta sesuatu adalah tingkat ketrampilan anak yg paling rendah, kalau dg cara ini saja sukses, maka ketrampilan komunikasinya tidak akan naik.
Saat aqil baligh kalau mau minta sesuatu, pakai ngambek.
Saat jadi orangtua kelak, pakai komunikasi tingkat paling rendah yaitu mengancam ke anaknya/pasangan hidupnya.
"Awas ya kalau tidak mau belajar, uang sakunya mama kurangi" 😬ngancam tapi nggak pakai logika, makin parah ini. Jika X ( tidak mau belajar), maka Y ( menjadi tidak paham), bukannya uang sakunya berkurang.
"Pokoknya aku mau mas ngerti ttg aku, kalau begini terus, aku nggak akan ngurusi orangtuamu" 😳
b. Ketika komunikasi dg pasangan, belajarlah untuk memahami Frame of Reference dan Frame of Experience pasangan kita. Setelah itu selesaikan segala macam dendam yg ada, segala tantangan di keluarga yg belum selesai. Mulai gunakan kaidah 2 C, choose the right time, 7-38-55 dll
Insya Allah pola komunikasi kita makin terasah
2⃣
Assalamu'alaikum
Siti-IIP Jatsel
Bu bagaimana ya komunikasi yang tepat untuk menyampaikan tugas kepada rekan kerja agar tidak terkesan memerintah?
Trm ksh..
Jawaban 2⃣
Wa'alaykumsalam mbak siti di jatim selatan. Apabila rekan kerja anda satu level, maka ajaklah diskusi, duduk bareng, paparkan job listnya, kmd tawarkan mau pilih yg mana.
Kalau rekan kerja 1 level di bawah kita dan scr komando memang harus anda perintah, maka sampaikan tugas dg jelas (clear) kasih kesempatan unt tanya ( clarify)
3⃣
Assalamualaikum
Saya Esme dr IIP Bogor...ini pertanyaan saya:
Bagaimana menghadapi anak yg sering frustasi saat tidak bs melakukan sesuatu? Misal sulit memakai celananya, sulit membuka pintu, atau membuka botol minum...Kadang saya membiarkannya untuk berusaha dulu sblm membantunya. memintanya untuk berusaha tenang dan melakukannya perlahan...Namun makin lama saya dtg membantu, makin frustasilah dia dan berhenti berusaha (ujungnya menangis marah)..
bagaimana komunikasi yg efektif agar anak saya mw berusaha terlebih dulu sebelum meminta bantuan...karena saya selalu berusaha mengapresiasi usahanya betapapun hasilnya jauh dr kata memuaskan...Usia anak saya (2th 9bln) .
Terima kasih bu septi
Jawaban 3⃣
Wa'alaykumsalam mbak esme yg ada di Bogor. Apa yg mbak lakukan sudah benar, menunggunya sampai dia bisa, sampai si anak sendiri yg minta bantuan. Selama tidak minta bantuan jangan dibantu. Dia akan belajar menghadapi kefrustasian.
Komunikasi yg efektif adalah sampaikan progress.
"Kak, kemarin kakak hebat, berhasil memakai celana sendiri dalam waktu 15 menit
Sekarang ibu beritahu cara yang lebih cepat ya, biar kakak bisa pakai celana kurang dari 15 menit"
4⃣
Assalamualaikum wr. Wb.
Saya Prima Iip malang.
Bu Septi, setelah baca materi saya bold bagian ini. Karena merasa dekat sekali dengan kehidupan sehari² saya yg tinggal dengan Ibu Mertua. Neneknya si kecil.
*Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu*
*Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua*
Nah, saya merasa sudah mengedepankan nalar bukan emosi. Dengan menjelaskan kenapa ini "tidak bisa dilakukan, tidak boleh dilakukan" dengan mengharap pengertiannya. Setelah penjelasan ini biasanya tetua sulit menerima, Bu. Langsung marah, hingga akhirnya memaksa kami untuk acc maunya Ibu biar ndak marah, sedangkan yg lain mengalah. Kira² kalau untuk yang komunikasi produktif dengan orang yang sudah tua agar FoE/FoR ku dan FoR/FoEmu ==> FoR/FoE kita?
Jawaban 4⃣
Wa'alaykumsalam mb prima yg ada di malang. Komunikasi dg ortu/mertua itu sama dg komunikasi ke anak-anak.
Maka jangan pakai konsep komunikasi ke pasangan ( org dewasa)
Orangtua itu tidak suka digurui, diceramahi,
Orangtua itu senang merdeka
Orangtua itu semua keinginannya ingin terpenuhi
Maka kita yg harus paham
Komunikasi tidak produktif :
"Ibu, cucu-cucu ibu itu sudah harus dididik dengan cara yg berbeda, bukan dg pola ibu dulu"
Komunikasi produktif:
"Ibu, keren ya, bisa mendidik 4 anak di jaman susah ekonomi waktu itu, teknologi juga tidak secanggih sekarang. Kalau untuk cucu, yg hidup di jaman serba canggih ini, ibu ingin pola pendidikan yg seperti apa?"
Kemudian berikan 1 porsi yg ibu sebutkan.
Yg lain akan mbak lakukan.
5⃣
Saya irma dari lampung
Tentang komunikasi dengan anak.. Bagaimana caranya komunikasi yang lebih produktif ke anak yang lebih kritis atau bukan tipe penurut.. Anak saya yang pertama.. Usia 4y selalu punya argumentasi sendiri dalam hal apapun.. Terkadang saya jd terjebak dalam situasi sulit mengendalikan emosi untk menghadapi nya..πŸ˜“
Bolehkah kita mengkomunikasikan ekspresi sedih kita karena tingkah atau kelakuan anak2 ke anaknya langsung.. Misal umi sedih kalau kamu.....
Trimaksh bu septi atas pencerahannya
Jawaban 5⃣
mbak Irma di lampung, langkah pertama lakukan tahap memahami , bahwa suka kritis dan berargumentasi itu bagian dari kekuatan anak, yg tidak semua anak punya.
Setelah itu lakukan Reframing ( membangun kembali dari sudut pandang yg berbeda):
Puji : kak, kamu itu jago banget deh memberikan argumentasi dan memberi kritikan tajam.
Berikan peran yg tepat :
Sepertinya bakalan cocok banget nanti kalau dipakai dalam forum debat, jadi pengacara, membela kebenaran, politisi handal dll.
Tempat yg tepat : Gunakan kemampuan itu di pengadilan, lomba debat, dan saat kita berdiskusi keluarga.
Posisi sekarang :
Nah kalau sedang bicara sama ibu, tidak perlu berdebat ya sayang, nanti ibu buatkan forum debat di rumah ini setiap hari sabti, bagaimana?
6⃣
Assalamu'alaikum wrwb, bunda.... saya Ratna dari IIP SUMUT... saya mau nanya... komunikasi seperti apa yg hrs Kita lakukan terhadap teman yg sering kali memonopoli pembicaraan. Bgmn agar komunikasi yg berlangsung dapat produktif dan memuaskan semua pihak... tks
Jawaban 6⃣
wa'alaykumsalam mbak ratna, teman yg memonopoli pembicaraan, harus segera di cut atau dibatasi ruang lingkup bicaranya. Sehingga akan lebih fokus.
Kasih peran secukupnya saja, berikan tim kecil, carikan partner yang cocok. Biasanya orang tipe ini sangat cocok bekerjasama dg tipe server.
7⃣
Tien IIP Makasar
Assalamu'alaikum,
Terima kasih tuk ilmunya yg sangat bermanfaat bu. Pertanyaan saya:
1. Khusus bagi pasutri yg LDR, bgmn sebaikx menyelesaikan mslh RT smntra komunikasi scra langsung bgtu terbatas(aplg porsi non verbal mgkin sulit
diamati). Apakah baik mendiamkan mslhnya dulu smpai ketemu langsung pasangan atau ttp menyelesaikan via tlp or chat wa, meski terasa kurang efektif.
2. Bgmn cara mengkomunikasikan ke suami bahwa istri/perempuan itu adalah makhluk verbal. Sesederhana apapun itu, suami hendaknya ttp bs m'verbalkan pikiran2nya 😁.
Terima kasih,
Jawaban 7⃣
wa'alaykumsalam kak tien di Makassar. LDR harus memperkuat komunikasi jarak jauhnya dengan berbagai media yg ada. Maka pelajari bahasa tulisan, dan investasi pulsa untuk bisa berbicara setiap saat, minimal 1 hari 1 x bicara.
Tidak semua perempuan itu makhluk verbal. Andaikara anda lebih menyukai komunikasi verbal dan suami non verbal, berarti harus saling belajar. Yg verbal belajar non verbal, yg non verbal belajar verbal
8⃣
Fitri Purbasari IIP Depok
Bagaimana mensiasati orang tua bersumbu pendek bu? Terutama saat PMS. Terima kasih.
Jawaban 8⃣
Hilangkan keyakinan bahwa setiap PMS setiap perempuan pasti emosi, dan hal ini kita jadikan permakluman ketika kita sedang bersumbu pendek.# kayak kompor ya
Pengalaman saya, ketika menjelang PMS, saya sudah siap, sebentar lagi ada perubahan hormon. Maka saya ajak hormon-hormon itu berbicara, berubahlah secara baik, sehingga tidak mengganggu fisik dan emosi saya"
Maka mulai dari lulus kuliah sampai sekarang saya tidak pernah emosi menjelang PMS
Bahkan rasa sakitpun bisa saya ajak kompromi. Misal saya sdg sakit kepala, padahal mau jadwal seminar. Maka saya berkomunikasi dg rasa sakit itu.
"Sakit, tolong berkurabg dulu selama 3 jam ya, saya perlu kondisi fit"
Rasa sakitpun patuh, dan setelah 3 jam balik lagi, krn memang fitrahnya harus sakit, maka saya minta tunda saja.
Berlatihlah ini ilmu konunikasi yang lain
Ketika kita sdh bisa berkomunikasi produktif dg diri kita sendiri, pasangan, dan anak-anak, maka kita akan terlatih berkomunikasi dengan makhluk hidup yg lain, termasuk sel, hormon, bakteri, dll.
9⃣
Ibu, ada 3 hal yg ingin saya tanyakan. Mohon penjelasannya. πŸ™πŸΌ
1. Bagaimana cara agar tetap bisa menggunakan komunikasi produktif kepada anak saat kita sedang ingin marah atau merasa kesal?
2. Apakah FoE bepengaruh terhadap gaya komunikasi terutama dalam hal intonasi dan bahasa tubuh?
3. Jika dalam sebuah rumah tangga komunikasi antar pasangan sudah tidak efektif sehingga sering menimbulkan prasangka bahkan perdebatan, apa langkah pertama yg harus diambil untuk memperbaikinya?
Terima kasih atas jawabannya, Ibu
Savira_IIP Tangerang
Jawaban 9⃣
mbak savira fi Tangerang, kalau ingin marah jangan di dekat anak-anak ya, menyendirilah.
Bila saat ingin marah kita dalam posisi berdiri, duduklah, kalau duduk, berbaringlah, setelah itu segera ambil air wudhu.
Dan saran saya marahlah di back stage anda, tentukan mana ruang back stage, ketika ketemu anak-anak anda sudah masuk on stage lagi.
FoE akan sangat mempengaruhi komunikasi seseorang, baik dari sisi suara, intonasi maupun bahasa tubuh.
Kalau terjadi perselisihan buatlah golden rules, misal tetaplah berkomunikasi seberapapun emosi dll
πŸ”Ÿ
Assalamualaikum bunda
Perkenalkan ,saya Irma dari IIP Sumut Medan. Ingin bertanya nih bunda septi. Saya ibu dr Annisa 2y,8m . Anak saya termasuk anak yang aktif sekali , saat ini berbicara sudah lancar , menanggapi perkataan ortu nya pun sudah bisa. Skrg ini saya hampir kewalahan bun ,setiap kalimat perintah yg saya ucapkan akan selalu ada jawaban dr nisa . Misal " kk sekarang waktunya tidur y ,bsk kita bermain lg" . Nah nisa akan jwb "ndak mau kk main dulu, sy kasih jeda dan sy ulangi lg .dia tidak mau malah marah dan menangis.
1. Apakah komunikasi sy ini kurang tepat bunda?
2. Pertanyaan kedua bun .komunikasi dan pendekatan apa yg hrs sy lakukan kpd annisa kl dia selalu ingin ikut ayah nya bun. Hingga kdg pekerjaan ayahnya tidak siap2 krn hrs diikuti terus.
Terima kasih bunda.😊
Jawaban πŸ”Ÿ
Wa'alaykumsalam mbak Irma di Sumut, gunakanlah bahasa yg dipahami anak-anak.
"Annisa, 5 menit lagi kita tidur ya, bunda tunggu di kamar"
Kondisikan lampu, tv, dan semua pekerjaan selesai.
Karena sejatinya secara fitrah anak-anak pasti akan tidur setelah isya, dan bangun saat shubuh. Itu bioritme alamiah anak-anak. Kitalah orang dewasa yg kadang mengubah bioritme tsb.
Maka kembalikan ke fitrah
apabila annisa lebih suka ke ayahnya, maka kondisikan jam berapa saja ayah bisa bersama dengan annisa. Maka spare waktu khusus misal 1 jam bersama annisa sebelum bekerja, shg rutin terpenuhi kebutihan annisa
1⃣1⃣
arisa-sidoarjo.
trkait *ganti perintah dengan pilihan*. jika ternyata pemberian waktu yang diberikan tidak dilaksanakan/lewat dari waktu yang ditentukan bagaimana bu supaya anak mau menyegerakan diri? apa perlu ada semacam konsekuensi yang akan diterima anak? misal tidak boleh bermain d luar hari itu.
Jawaban 1⃣1⃣
mbak Arisa di Sidoarjo, betul mbak berikan konsekuensi, tapi harus yang masuk logika.
Misal sdh diberi waktu 15 menit buat mengancingkan baju, belum selesai juga, maka konsekuensinya berangkat dengan kancing yg belum sempurna. Bukan tidak boleh main.
Saya dulu pernah memberikan konsekuensi tsb ke anak-anak ketika kecil, sudah dikasih waktu untuk pakai sepatu, tapi muteer saja, resikonyq adalah jalan dengan sepatu satu.
Tapi bahasa tubuh kita mengatakan ini konsekuensi yg asyik meski susah.
Saya ajak mereka bercanda selama jalan, dan saat di angkot baru dibetulkan lagi.
Yang penting jangan buru-buru dihukum.
1⃣2⃣
Henny wilda IIP Sumut
Aslkm bunda
Anak pertama saya prempuan 5y, dia mengalami gangguan pendengaran berat. Jika berkomunikasi dengan nya harus menggunakan bahasa isyarat, namun sering sekali saya mengalami kendala dalam berkomunikasi secara produktif, dan mengenai rasa sepertinya anak saya kurang peka bun, bagaimana mengatasi situasi seperti ini bun, selama ini saya sudah mencoba mencari informasi agar bisa berkomunikasi lebih baik, namun sepertinya sampai saat ini komunikasi antara anak saya dan saya masih sering mis. Bagaimana ya bu komunikasi yg produktif dengannya
Yg ke 2
Jika waktu berkomunikasi dengan suami hanya 5 jam dalam sehari dan dengan kondisi menemani anak2 juga. apa sebaiknya yang saya lakukan agar komunikasi menjadi lebih produktif bun.
Jawaban 1⃣2⃣
mbak henny wilda di sumut, belajarlah bahasa isyarat dengan baik, ini pelajaran yg diberikan Allah dengan jelas untuk mbak henny lewat ananda.
Jadilah ahli di dalamnya
2. Waktu 5 jam sehari dengan suami, itu luar biasa. Maka ajak berkegiatan bersama anak istri 1 jam saja sehari, sdh terjalin komunikasi yg efektif. Main..main dan main.
Tapi kalau 12 jam bahkan 24 jam bersama tidak ada aktivitas komunikasi, maka apalah arti sebuah waktu?
1⃣3⃣
Assalamualaikum bu Septi...
Kalau anak agak susah mengungkapkan perasaan dan menceritakan tentang suatu kejadian yang baru dia alami apa juga karena komunikasi yang tidak produktif bu?
Risa ferina - malang
Jawaban 1⃣3⃣
wa'alaykumsalam mbak risa di malang. Harus dilihat dulu mbak, apakah hal tsb karena takut, karena malas ngomong, atau karena lebih senang dg cara lain, misal visual.
Kalau karena takut dan malas ngomong, bisa jadi kita harus mereleksi cara komunikasi kita.
kalau ternyata ingin mengungkapkan dg cara lain, segera kasih kesempatan
1⃣4⃣
πŸ™‹sasha - Lampung
1⃣Bagaimana pola komunikasi ke anak batita dengan penguasaan verbal yang belum terlalu lancar, apakah rumus 7,38,55 tetap berlaku
2⃣bagaimana sebaiknya kita bersikap dan berkomunikasi kepada anak yang mendapat kata-kata "ajaib" menjurus negatif dari pergaulannya di luar rumah
3⃣bagaimana kami sebagai wanita yang butuh penyaluran kata-kata 20rb setiap harinya, sedangkan pasangan cenderung pasif saat di ajak berkomunikasi
Jawaban 1⃣4⃣
mbak sasha di lampung
a. Anak batita itu sedang belajar mengcopy, maka gunakan pola 7-38-55 dengan benar. Kita ortunya harus benar vokal suaranya, intonasi jelas dan bahasa tubuh kita ikut berbicara. Nanti lama-lama kita takjub, mengapa anak-anak ini baru datang saja sdh memberikan rasa bahagia. Nanti kalau sdh besar, baru masuk ruangan org di dalamnya sudah setuju dg apa yg akan diucapkannya. Ini karena pengaruh pola komunikasi yg tepat saat batita.
b. Kalau ada kata ajaib, segera berirahukan artinya, dan tegur unt tidak diucapkan
c. Kalau tidak mendapat saluran bicara, maka anda rekam suara anda, kalau tidak bisa lagi, menulislah, biar huruf demi huruf itu yg berbicara.
Yang pasti jangan paksa suami / anak-anak unt mengubah polanya, kita yg haris bisa berubah dulu
🌸🌸🌸🌸🌸
Alhamdulillah, demikian resume materi & tanya jawab, yuk kita baca perlahan2 sambil dresapi pemahamannya
Bunda2 sayang, berikut adl resume materi dan tanya jawab Bunda Sayang sesi #1: Komunikasi Produktif
🌸🌸🌸🌸🌸
_Institut Ibu Profesional_
_Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1_
*KOMUNIKASI PRODUKTIF*
Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.
*_KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI_*
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.
*_Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir_*
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.
_Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda_
Kata *masalah* gantilah dengan *tantangan*
Kata *Susah* gantilah dengan *Menarik*
Kata *Aku tidak tahu* gantilah *Ayo kita cari tahu*
Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.
*_Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya_*
Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.
Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.
*_KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN_*
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.
Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.
Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki *_Frame of Reference (FoR)_* dan *_Frame of Experience (FoE)_* yang berbeda dengan kita.
FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.
FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.
Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.
Komunikasi dilakukan untuk *MEMBAGIKAN* yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.
*_Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA_*
Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.
Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; *_bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi_*
Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.
Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.
Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.
Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.
Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.
Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:
1. *Kaidah 2C: Clear and Clarify*
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.
2. *Choose the Right Time*
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.
3. *Kaidah 7-38-55*
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.
4. *Intensity of Eye Contact*
Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.
5. *Kaidah: I'm responsible for my communication results*
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.
*KOMUNIKASI DENGAN ANAK*
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
*_Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy_*
Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.
Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?
a. *Keep Information Short & Simple (KISS)*
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya” ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)
b. *Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah*
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)
Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.
c. *Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan*
Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”
d. *Fokus ke depan, bukan masa lalu*
Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”
e. *Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”*
Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.
f. *Fokus pada solusi bukan pada masalah*
Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.
g. *Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan*
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”
h. *Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman*
Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.
I. *Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi*
Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”
j. *Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati*
Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"
kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?
k. *Ganti perintah dengan pilihan*
kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
Kalimat produktif :
“Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi, baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat
Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang IIP/
Sumber bacaan:
_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_
_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_
_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_
_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_
🌸🌸🌸🌸🌸
Sesi Tanya jawab
1⃣
Ria - IIP KalBar
Assalamualaikum Ibu Septi yang di Rahmati Allah.
1. Ibu bagaimana memaksimalkan kalimat produktif di saat kita sedang menghadapi anak yang sedang emosi/tantrum kerena sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Apa yang harus kita perbaiki dari diri kita karena pasti ada sesuatu yang salah dari diri kita sehingga anak menjadi mudah emosi?
2. Kedua, selama ini ketika saya berkomunikasi dengan anak akan lebih mudah bagi saya untuk berkomunikasi secara produktif, menjaga intonasi, berhati-hati memilih kata. Namun ketika saya berbicara dengan pasangan sangat mudah sekali sy terpancing emosi terlebih dalam menjaga intonasi. Apakah ada kaitannya dengan tipe seseorang yang cenderung pendiam Bu, Karena yg saya rasakan pendiamnya saya dulu membuat saya kurang pengalaman dalam berkomunikasi atau mengungkapkan sesuatu melalui kata2.
Terima kasih Ibu πŸ™πŸ˜Š
Jawaban 1⃣
a.mbak Ria di kalbar, anak emosi/tantrum krn sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya akan menjadi "modus operandi" apabila kita loloskan keinginannya. Maka yg harus kita lakukan adalah jadi raja tega.
"Tidak ada yg berhasil di rumah ini dengan menangis dan teriak-teriak"
Anda tunggu saja sampai nangisnya usai, ambil air wudhu, baru ditanya baik-baik.
Karena menangis/tantrum ketika minta sesuatu adalah tingkat ketrampilan anak yg paling rendah, kalau dg cara ini saja sukses, maka ketrampilan komunikasinya tidak akan naik.
Saat aqil baligh kalau mau minta sesuatu, pakai ngambek.
Saat jadi orangtua kelak, pakai komunikasi tingkat paling rendah yaitu mengancam ke anaknya/pasangan hidupnya.
"Awas ya kalau tidak mau belajar, uang sakunya mama kurangi" 😬ngancam tapi nggak pakai logika, makin parah ini. Jika X ( tidak mau belajar), maka Y ( menjadi tidak paham), bukannya uang sakunya berkurang.
"Pokoknya aku mau mas ngerti ttg aku, kalau begini terus, aku nggak akan ngurusi orangtuamu" 😳
b. Ketika komunikasi dg pasangan, belajarlah untuk memahami Frame of Reference dan Frame of Experience pasangan kita. Setelah itu selesaikan segala macam dendam yg ada, segala tantangan di keluarga yg belum selesai. Mulai gunakan kaidah 2 C, choose the right time, 7-38-55 dll
Insya Allah pola komunikasi kita makin terasah
2⃣
Assalamu'alaikum
Siti-IIP Jatsel
Bu bagaimana ya komunikasi yang tepat untuk menyampaikan tugas kepada rekan kerja agar tidak terkesan memerintah?
Trm ksh..
Jawaban 2⃣
Wa'alaykumsalam mbak siti di jatim selatan. Apabila rekan kerja anda satu level, maka ajaklah diskusi, duduk bareng, paparkan job listnya, kmd tawarkan mau pilih yg mana.
Kalau rekan kerja 1 level di bawah kita dan scr komando memang harus anda perintah, maka sampaikan tugas dg jelas (clear) kasih kesempatan unt tanya ( clarify)
3⃣
Assalamualaikum
Saya Esme dr IIP Bogor...ini pertanyaan saya:
Bagaimana menghadapi anak yg sering frustasi saat tidak bs melakukan sesuatu? Misal sulit memakai celananya, sulit membuka pintu, atau membuka botol minum...Kadang saya membiarkannya untuk berusaha dulu sblm membantunya. memintanya untuk berusaha tenang dan melakukannya perlahan...Namun makin lama saya dtg membantu, makin frustasilah dia dan berhenti berusaha (ujungnya menangis marah)..
bagaimana komunikasi yg efektif agar anak saya mw berusaha terlebih dulu sebelum meminta bantuan...karena saya selalu berusaha mengapresiasi usahanya betapapun hasilnya jauh dr kata memuaskan...Usia anak saya (2th 9bln) .
Terima kasih bu septi
Jawaban 3⃣
Wa'alaykumsalam mbak esme yg ada di Bogor. Apa yg mbak lakukan sudah benar, menunggunya sampai dia bisa, sampai si anak sendiri yg minta bantuan. Selama tidak minta bantuan jangan dibantu. Dia akan belajar menghadapi kefrustasian.
Komunikasi yg efektif adalah sampaikan progress.
"Kak, kemarin kakak hebat, berhasil memakai celana sendiri dalam waktu 15 menit
Sekarang ibu beritahu cara yang lebih cepat ya, biar kakak bisa pakai celana kurang dari 15 menit"
4⃣
Assalamualaikum wr. Wb.
Saya Prima Iip malang.
Bu Septi, setelah baca materi saya bold bagian ini. Karena merasa dekat sekali dengan kehidupan sehari² saya yg tinggal dengan Ibu Mertua. Neneknya si kecil.
*Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu*
*Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua*
Nah, saya merasa sudah mengedepankan nalar bukan emosi. Dengan menjelaskan kenapa ini "tidak bisa dilakukan, tidak boleh dilakukan" dengan mengharap pengertiannya. Setelah penjelasan ini biasanya tetua sulit menerima, Bu. Langsung marah, hingga akhirnya memaksa kami untuk acc maunya Ibu biar ndak marah, sedangkan yg lain mengalah. Kira² kalau untuk yang komunikasi produktif dengan orang yang sudah tua agar FoE/FoR ku dan FoR/FoEmu ==> FoR/FoE kita?
Jawaban 4⃣
Wa'alaykumsalam mb prima yg ada di malang. Komunikasi dg ortu/mertua itu sama dg komunikasi ke anak-anak.
Maka jangan pakai konsep komunikasi ke pasangan ( org dewasa)
Orangtua itu tidak suka digurui, diceramahi,
Orangtua itu senang merdeka
Orangtua itu semua keinginannya ingin terpenuhi
Maka kita yg harus paham
Komunikasi tidak produktif :
"Ibu, cucu-cucu ibu itu sudah harus dididik dengan cara yg berbeda, bukan dg pola ibu dulu"
Komunikasi produktif:
"Ibu, keren ya, bisa mendidik 4 anak di jaman susah ekonomi waktu itu, teknologi juga tidak secanggih sekarang. Kalau untuk cucu, yg hidup di jaman serba canggih ini, ibu ingin pola pendidikan yg seperti apa?"
Kemudian berikan 1 porsi yg ibu sebutkan.
Yg lain akan mbak lakukan.
5⃣
Saya irma dari lampung
Tentang komunikasi dengan anak.. Bagaimana caranya komunikasi yang lebih produktif ke anak yang lebih kritis atau bukan tipe penurut.. Anak saya yang pertama.. Usia 4y selalu punya argumentasi sendiri dalam hal apapun.. Terkadang saya jd terjebak dalam situasi sulit mengendalikan emosi untk menghadapi nya..πŸ˜“
Bolehkah kita mengkomunikasikan ekspresi sedih kita karena tingkah atau kelakuan anak2 ke anaknya langsung.. Misal umi sedih kalau kamu.....
Trimaksh bu septi atas pencerahannya
Jawaban 5⃣
mbak Irma di lampung, langkah pertama lakukan tahap memahami , bahwa suka kritis dan berargumentasi itu bagian dari kekuatan anak, yg tidak semua anak punya.
Setelah itu lakukan Reframing ( membangun kembali dari sudut pandang yg berbeda):
Puji : kak, kamu itu jago banget deh memberikan argumentasi dan memberi kritikan tajam.
Berikan peran yg tepat :
Sepertinya bakalan cocok banget nanti kalau dipakai dalam forum debat, jadi pengacara, membela kebenaran, politisi handal dll.
Tempat yg tepat : Gunakan kemampuan itu di pengadilan, lomba debat, dan saat kita berdiskusi keluarga.
Posisi sekarang :
Nah kalau sedang bicara sama ibu, tidak perlu berdebat ya sayang, nanti ibu buatkan forum debat di rumah ini setiap hari sabti, bagaimana?
6⃣
Assalamu'alaikum wrwb, bunda.... saya Ratna dari IIP SUMUT... saya mau nanya... komunikasi seperti apa yg hrs Kita lakukan terhadap teman yg sering kali memonopoli pembicaraan. Bgmn agar komunikasi yg berlangsung dapat produktif dan memuaskan semua pihak... tks
Jawaban 6⃣
wa'alaykumsalam mbak ratna, teman yg memonopoli pembicaraan, harus segera di cut atau dibatasi ruang lingkup bicaranya. Sehingga akan lebih fokus.
Kasih peran secukupnya saja, berikan tim kecil, carikan partner yang cocok. Biasanya orang tipe ini sangat cocok bekerjasama dg tipe server.
7⃣
Tien IIP Makasar
Assalamu'alaikum,
Terima kasih tuk ilmunya yg sangat bermanfaat bu. Pertanyaan saya:
1. Khusus bagi pasutri yg LDR, bgmn sebaikx menyelesaikan mslh RT smntra komunikasi scra langsung bgtu terbatas(aplg porsi non verbal mgkin sulit
diamati). Apakah baik mendiamkan mslhnya dulu smpai ketemu langsung pasangan atau ttp menyelesaikan via tlp or chat wa, meski terasa kurang efektif.
2. Bgmn cara mengkomunikasikan ke suami bahwa istri/perempuan itu adalah makhluk verbal. Sesederhana apapun itu, suami hendaknya ttp bs m'verbalkan pikiran2nya 😁.
Terima kasih,
Jawaban 7⃣
wa'alaykumsalam kak tien di Makassar. LDR harus memperkuat komunikasi jarak jauhnya dengan berbagai media yg ada. Maka pelajari bahasa tulisan, dan investasi pulsa untuk bisa berbicara setiap saat, minimal 1 hari 1 x bicara.
Tidak semua perempuan itu makhluk verbal. Andaikara anda lebih menyukai komunikasi verbal dan suami non verbal, berarti harus saling belajar. Yg verbal belajar non verbal, yg non verbal belajar verbal
8⃣
Fitri Purbasari IIP Depok
Bagaimana mensiasati orang tua bersumbu pendek bu? Terutama saat PMS. Terima kasih.
Jawaban 8⃣
Hilangkan keyakinan bahwa setiap PMS setiap perempuan pasti emosi, dan hal ini kita jadikan permakluman ketika kita sedang bersumbu pendek.# kayak kompor ya
Pengalaman saya, ketika menjelang PMS, saya sudah siap, sebentar lagi ada perubahan hormon. Maka saya ajak hormon-hormon itu berbicara, berubahlah secara baik, sehingga tidak mengganggu fisik dan emosi saya"
Maka mulai dari lulus kuliah sampai sekarang saya tidak pernah emosi menjelang PMS
Bahkan rasa sakitpun bisa saya ajak kompromi. Misal saya sdg sakit kepala, padahal mau jadwal seminar. Maka saya berkomunikasi dg rasa sakit itu.
"Sakit, tolong berkurabg dulu selama 3 jam ya, saya perlu kondisi fit"
Rasa sakitpun patuh, dan setelah 3 jam balik lagi, krn memang fitrahnya harus sakit, maka saya minta tunda saja.
Berlatihlah ini ilmu konunikasi yang lain
Ketika kita sdh bisa berkomunikasi produktif dg diri kita sendiri, pasangan, dan anak-anak, maka kita akan terlatih berkomunikasi dengan makhluk hidup yg lain, termasuk sel, hormon, bakteri, dll.
9⃣
Ibu, ada 3 hal yg ingin saya tanyakan. Mohon penjelasannya. πŸ™πŸΌ
1. Bagaimana cara agar tetap bisa menggunakan komunikasi produktif kepada anak saat kita sedang ingin marah atau merasa kesal?
2. Apakah FoE bepengaruh terhadap gaya komunikasi terutama dalam hal intonasi dan bahasa tubuh?
3. Jika dalam sebuah rumah tangga komunikasi antar pasangan sudah tidak efektif sehingga sering menimbulkan prasangka bahkan perdebatan, apa langkah pertama yg harus diambil untuk memperbaikinya?
Terima kasih atas jawabannya, Ibu
Savira_IIP Tangerang
Jawaban 9⃣
mbak savira fi Tangerang, kalau ingin marah jangan di dekat anak-anak ya, menyendirilah.
Bila saat ingin marah kita dalam posisi berdiri, duduklah, kalau duduk, berbaringlah, setelah itu segera ambil air wudhu.
Dan saran saya marahlah di back stage anda, tentukan mana ruang back stage, ketika ketemu anak-anak anda sudah masuk on stage lagi.
FoE akan sangat mempengaruhi komunikasi seseorang, baik dari sisi suara, intonasi maupun bahasa tubuh.
Kalau terjadi perselisihan buatlah golden rules, misal tetaplah berkomunikasi seberapapun emosi dll
πŸ”Ÿ
Assalamualaikum bunda
Perkenalkan ,saya Irma dari IIP Sumut Medan. Ingin bertanya nih bunda septi. Saya ibu dr Annisa 2y,8m . Anak saya termasuk anak yang aktif sekali , saat ini berbicara sudah lancar , menanggapi perkataan ortu nya pun sudah bisa. Skrg ini saya hampir kewalahan bun ,setiap kalimat perintah yg saya ucapkan akan selalu ada jawaban dr nisa . Misal " kk sekarang waktunya tidur y ,bsk kita bermain lg" . Nah nisa akan jwb "ndak mau kk main dulu, sy kasih jeda dan sy ulangi lg .dia tidak mau malah marah dan menangis.
1. Apakah komunikasi sy ini kurang tepat bunda?
2. Pertanyaan kedua bun .komunikasi dan pendekatan apa yg hrs sy lakukan kpd annisa kl dia selalu ingin ikut ayah nya bun. Hingga kdg pekerjaan ayahnya tidak siap2 krn hrs diikuti terus.
Terima kasih bunda.😊
Jawaban πŸ”Ÿ
Wa'alaykumsalam mbak Irma di Sumut, gunakanlah bahasa yg dipahami anak-anak.
"Annisa, 5 menit lagi kita tidur ya, bunda tunggu di kamar"
Kondisikan lampu, tv, dan semua pekerjaan selesai.
Karena sejatinya secara fitrah anak-anak pasti akan tidur setelah isya, dan bangun saat shubuh. Itu bioritme alamiah anak-anak. Kitalah orang dewasa yg kadang mengubah bioritme tsb.
Maka kembalikan ke fitrah
apabila annisa lebih suka ke ayahnya, maka kondisikan jam berapa saja ayah bisa bersama dengan annisa. Maka spare waktu khusus misal 1 jam bersama annisa sebelum bekerja, shg rutin terpenuhi kebutihan annisa
1⃣1⃣
arisa-sidoarjo.
trkait *ganti perintah dengan pilihan*. jika ternyata pemberian waktu yang diberikan tidak dilaksanakan/lewat dari waktu yang ditentukan bagaimana bu supaya anak mau menyegerakan diri? apa perlu ada semacam konsekuensi yang akan diterima anak? misal tidak boleh bermain d luar hari itu.
Jawaban 1⃣1⃣
mbak Arisa di Sidoarjo, betul mbak berikan konsekuensi, tapi harus yang masuk logika.
Misal sdh diberi waktu 15 menit buat mengancingkan baju, belum selesai juga, maka konsekuensinya berangkat dengan kancing yg belum sempurna. Bukan tidak boleh main.
Saya dulu pernah memberikan konsekuensi tsb ke anak-anak ketika kecil, sudah dikasih waktu untuk pakai sepatu, tapi muteer saja, resikonyq adalah jalan dengan sepatu satu.
Tapi bahasa tubuh kita mengatakan ini konsekuensi yg asyik meski susah.
Saya ajak mereka bercanda selama jalan, dan saat di angkot baru dibetulkan lagi.
Yang penting jangan buru-buru dihukum.
1⃣2⃣
Henny wilda IIP Sumut
Aslkm bunda
Anak pertama saya prempuan 5y, dia mengalami gangguan pendengaran berat. Jika berkomunikasi dengan nya harus menggunakan bahasa isyarat, namun sering sekali saya mengalami kendala dalam berkomunikasi secara produktif, dan mengenai rasa sepertinya anak saya kurang peka bun, bagaimana mengatasi situasi seperti ini bun, selama ini saya sudah mencoba mencari informasi agar bisa berkomunikasi lebih baik, namun sepertinya sampai saat ini komunikasi antara anak saya dan saya masih sering mis. Bagaimana ya bu komunikasi yg produktif dengannya
Yg ke 2
Jika waktu berkomunikasi dengan suami hanya 5 jam dalam sehari dan dengan kondisi menemani anak2 juga. apa sebaiknya yang saya lakukan agar komunikasi menjadi lebih produktif bun.
Jawaban 1⃣2⃣
mbak henny wilda di sumut, belajarlah bahasa isyarat dengan baik, ini pelajaran yg diberikan Allah dengan jelas untuk mbak henny lewat ananda.
Jadilah ahli di dalamnya
2. Waktu 5 jam sehari dengan suami, itu luar biasa. Maka ajak berkegiatan bersama anak istri 1 jam saja sehari, sdh terjalin komunikasi yg efektif. Main..main dan main.
Tapi kalau 12 jam bahkan 24 jam bersama tidak ada aktivitas komunikasi, maka apalah arti sebuah waktu?
1⃣3⃣
Assalamualaikum bu Septi...
Kalau anak agak susah mengungkapkan perasaan dan menceritakan tentang suatu kejadian yang baru dia alami apa juga karena komunikasi yang tidak produktif bu?
Risa ferina - malang
Jawaban 1⃣3⃣
wa'alaykumsalam mbak risa di malang. Harus dilihat dulu mbak, apakah hal tsb karena takut, karena malas ngomong, atau karena lebih senang dg cara lain, misal visual.
Kalau karena takut dan malas ngomong, bisa jadi kita harus mereleksi cara komunikasi kita.
kalau ternyata ingin mengungkapkan dg cara lain, segera kasih kesempatan
1⃣4⃣
πŸ™‹sasha - Lampung
1⃣Bagaimana pola komunikasi ke anak batita dengan penguasaan verbal yang belum terlalu lancar, apakah rumus 7,38,55 tetap berlaku
2⃣bagaimana sebaiknya kita bersikap dan berkomunikasi kepada anak yang mendapat kata-kata "ajaib" menjurus negatif dari pergaulannya di luar rumah
3⃣bagaimana kami sebagai wanita yang butuh penyaluran kata-kata 20rb setiap harinya, sedangkan pasangan cenderung pasif saat di ajak berkomunikasi
Jawaban 1⃣4⃣
mbak sasha di lampung
a. Anak batita itu sedang belajar mengcopy, maka gunakan pola 7-38-55 dengan benar. Kita ortunya harus benar vokal suaranya, intonasi jelas dan bahasa tubuh kita ikut berbicara. Nanti lama-lama kita takjub, mengapa anak-anak ini baru datang saja sdh memberikan rasa bahagia. Nanti kalau sdh besar, baru masuk ruangan org di dalamnya sudah setuju dg apa yg akan diucapkannya. Ini karena pengaruh pola komunikasi yg tepat saat batita.
b. Kalau ada kata ajaib, segera berirahukan artinya, dan tegur unt tidak diucapkan
c. Kalau tidak mendapat saluran bicara, maka anda rekam suara anda, kalau tidak bisa lagi, menulislah, biar huruf demi huruf itu yg berbicara.
Yang pasti jangan paksa suami / anak-anak unt mengubah polanya, kita yg haris bisa berubah dulu
🌸🌸🌸🌸🌸
Alhamdulillah, demikian resume materi & tanya jawab, yuk kita baca perlahan2 sambil dresapi pemahamannya