🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
🙇 *RESUME KULWHAP IIP Cirebon Raya*🙇♀
*Waktu* : Kamis, 12 Oktober 2017, jam 13.00- 15.00 Wib
*Moderator* : Riefki Amalia
*Narasumber* : Elma Fitria
*Peresume* : Niken Panhasti
⭐ Profil Narasumber ⭐
*Elma Fitria*
*Seorang ibu pembelajar.*
📌 _Misi hidup : Merekontruksi keluarga menuju hakikatnya yang sejati._
Istri dari Muhammad Firman, praktisi Talents Mapping.
Ibu 4 anak (usia 10, 6, 4, dan 2 tahun)
🎓S1 Teknik Lingkungan ITB (2001 – 2005)
📬 Alamat : Dago Utara, Bandung
📱 Facebook : Elma Fitria
📱Twitter-Instagram : @elmafitria
📌 *Aktivitas :*
🔅 Ibu rumah tangga menuju profesional
🔅 Strength Based Family Practitioner bersama suami
🔅 Mendalami Talents Mapping dibimbing suami
🔅 Belajar jadi Home Educator dan Ibu Profesional
🔅 Mengisi seminar dan diskusi parenting.
🔅 Menulis di blog www.elmafitria.wordpress.com
🔅 Tergabung di One Day One Post (ODOP) dan bersama 32 ibu hebat menulis buku Me Time Story, Perjalanan Ibu Bahagia
🔅Sedang menulis buku “Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak” bersama suami, mudah-mudahan bisa rilis Desember 2017.
📌 *Pengalaman Belajar dan Berguru :*
🔅sejak 2004 : Bu Linda Saptadji (Trainer/Psikolog)
🔅sejak 2006 : Ust. Adriano Rusfi (Psikolog/Konsultan SDM)
🔅sejak 2011 : Abah Rama Royani (creator Talents Mapping)
🔅sejak 2013 :
- Ust. Nouman Ali Khan (video ceramah di youtube dan bayyinah.tv)
- Bu Septi Peni Wulandani sekeluarga
- Bu Elly Risman, Psi
- Ust. Harry Santosa
📌 *Pengalaman Mengisi Seminar dan Diskusi Parenting :*
🔅Bersama suami menyelenggarakan Talents Mapping Basic Training (2016 dan 2017) diisi oleh Abah Rama Royani dan suami (Muhammad Firman)
🔅Bersama suami menjadi narasumber tetap materi Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak di Bandung, Jakarta, Jogja. Kota lain menyusul. (sepanjang 2017)
🔅 Launching SEMAI 2045 (sebagai Ketua) bersama Bu Elly Risman,Psi. (Juni 2014)
🔅Moderator untuk Mbak Enes Kusuma dan Andri Rizki Putra dalam “Yang Muda Berani Beda” (akhir 2014)
🔅“Anakku Kunci Surgaku” dalam Konferensi Hulu Hilir Halal (Januari 2015) bersama Ustadz Bendri Jaisyurrahman dan Ustadz Cahyadi Takariawan
🔅“Work and Family in Harmony” Kementerian Keuangan (2014 dan 2017)
🔅TNI Angkatan Darat (2015) bersama Mien Uno, dan Ketua Komisi Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait
🔅Selama 2015, di Fatherhood Forum bersama suami dan teman-teman SEMAI 2045 menyelenggarakan seminar berseri dengan pembicara : Pak Dodik Mariyanto (suami Bu Septi Peni Wulandani), Ustadz Adriano Rusfi, Ustadz Harry Santosa, Ustadz Bendri Jaisyurrahman, Bu Elly Risman, Keluarga Bu Septi Peni Wulandani, Ustadz Saiful Islam Mubarak.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
[9/10 20.06] +62 852-2120-7887: 🐳🐳🐳🐳🐳🐳🐳🐳🐳🐳🐳
📋 Prinsip dan Metode
*Mengenal dan Menemukan Bakat Anak*
oleh : Teh *Elma Fitria*
*Ada dua hari yang penting dalam hidup seseorang* :
🌼 Hari pada saat Anda dilahirkan
🌼 Hari pada saat Anda menemukan jawaban mengapa Anda dilahirkan
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Allah SWT memberi setiap orang bakat yang unik. Kumpulan bakat unik pada diri seseorang ini adalah potensi kekuatan. Baru hanya sekedar potensi, kalau tidak dikelola. Tapi akan jadi kekuatan jika dikelola dengan baik. Kekuatan ini Allah anugerahkan untuk menunaikan misi hidup yang unik, berbeda untuk setiap orang.
*Bakat* ini adalah pola perilaku, cara berpikir, dan cara merasa yang bisa didayagunakan optimal untuk aktivitas produktif.
Adalah tugas setiap manusia untuk menemukan potensi keunikan diri yang disebut bakat ini,.
Allah SWT menyatakan dalam *Al quran Al-Israa ayat 84* bahwa :
*“... Setiap orang akan berbuat sesuai Syakilaah-nya masing-masing ...”*
💫🌟💫🌟💫🌟💫🌟💫🌟💫
*Syakilaah* inilah modal unik yang Allah SWT install dalam diri setiap orang, dengan tujuan menunaikan misi yang berbeda demi tujuan besar sebagai rahmatan lil’aalamiin.
Sebagai orang dewasa, kita masih di jalan menemukan bakat kita, mengelolanya menjadi kekuatan, dan kemudian mewujudkan menjadi misi hidup yang mulia. Namun, sebagai orang tua, adalah tugas penting kita juga untuk mendampingi anak menemukan bakat uniknya sendiri. Oleh karena itu, kita perlu sadar (aware) dan peka dengan pertumbuhan fitrah bakat anak. Bagaimana mungkin kita bisa tahu bagaimana membantu anak mengelola bakatnya, jika kita tidak pernah mengobservasi dan mengenalinya ?
Ketika kita dan anak-anak tahu apa bakat anak-anak, maka kita jadi paham apa arahan tugas yang Allah SWT embankan kepada anak ini.
Modal bakat itu mencerminkan apa tugas atau misi anak di dunia. Cita-cita yang tepat bagi anak adalah yang selaras dengan tugas ini.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Mengapa orangtua bersama anak perlu mengenali “keunikan bakat” anak ?
Because *“You Can Be Anything You Want”* is totally *WRONG* ❎‼❎‼❎‼
Seiring manusia dewasa, kita hanya akan bisa semakin menjadi diri kita sendiri, dan justru itulah letak kekuatan kita. Anak kita tidak perlu menapaki jalan yang sama dengan orang lain, justru anak akan sukses dalam jalan anak sendiri, jalan yang disitu seluruh potensi kekuatannya termanfaatkan maksimal. Inilah jalan menuju misi unik anak. Di jalan ini, aktivitas yang dilakukan adalah aktivitas yang mempertemukan bakat, passion, dan produktivitas sekaligus.
*Ciri aktivitas ini adalah 4E* :
✔ENJOY
✔EASY
✔EXCELLENT
✔EARN
Inilah sebabnya menurut Abah Rama Royani, mengetahui jalan sukses itu harus lebih dahulu daripada cara mencapai suksesnya. Karena kalau kita (orang tua dan anak) sudah tahu jalannya, sudah berada di jalan yang tepat, maka selambat apapun caranya, anak akan sampai ke kesuksesan. Tapi kalau anak salah jalan, secanggih apapun caranya tetap tidak sampai ke kesuksesan 😍😍
*Kesuksesan* ini bukan tentang kekayaan materi, tapi tentang kebahagiaan sejati, kehidupan yang bermakna dan bermanfaat bagi orang lain.
💗💐💗💐💗💐💗💐💗💐💗
3 alasan penting mengapa orang tua berada pada posisi strategis untuk mengenali bakat anak :
👨👩👧👦 Orang tua lah pihak pertama dan utama yang paling mempengaruhi pertumbuhan self worth dan proses self discovery.
👨👩👧👦 Orang tualah yang paling mungkin memberikan ruang pertumbuhan yang sehat untuk fitrah bakat anak sepanjang hidup anak.
👨👩👧👦 Orang tua lah yang bisa menjadi coach membimbing anak melatih dan mengandalkan bakat kuatnya, dan membimbing anak menyiasati bakat lemahnya sendiri.
📣📣📣📣📣📣📣📣📣📣📣
*Bagaimana caranya mengenali bakat anak ?*
🙇🙇🙇🙇🙇🙇🙇🙇🙇🙇🙇
Langkah pertama dan utama mengenali bakat anak adalah *Observasi* jangka panjang.
*OBSERVASI* artinya kita mengamati secara obyektif, bebas dari asumsi dan persangkaan kita. Secara umum, yang diobservasi adalah setiap aktivitas yang dilakukan anak. Untuk itu, anak perlu diberikan keleluasaan mengalami berbagai ragam aktivitas, sehingga benar-benar tahu bagaimana rasanya ketika menjalani aktivitas tersebut.
Amati 5 ciri yang menunjukkan bahwa aktivitas anak ada dalam area bakat anak dari waktu ke waktu:
[9/10 20.07] +62 852-2120-7887: Setelah *observasi*, kita tuangkan atau rekam dalam dokumentasi sederhana atau portofolio. Kita buat simpel saja, misalnya mengumpulkan karya anak, mendokumentasikan aktivitas anak dan respon anak dalam kegiatan tersebut, dll. Intinya adalah kita punya rekam jejak yang bisa memberikan data bagi anak sehingga baik orang tua maupun anak bisa aware dengan bakatnya dan menyusun cita-cita sesuai tugasnya.
📝✏📝✏📝✏📝✏📝✏📝
*Kapan observasi bakat anak ini dimulai ? Dan sampai kapan ?*
Untuk tahu waktu pengamatan ini, pahami tahap perkembangan anak sampai dewasa menurut Islam.
Mengacu dari buku Fitrah Based Education yang disusun Ustadz Harry Santosa dan Ustadz Adriano Rusfi, serta pengalaman nyata keluarga Bu Septi Peni Wulandani, maka timeline nya adalah sebagai berikut :
▶ *0 – 6 tahun :*
Masanya membangun bonding dengan orang tua. Pastikan kelekatan terbangun baik, karena anak hanya akan bisa jadi dekat, dan kelak jadi sahabat kita, jika di usia ini berhasil membangun kelekatan.
Berikan keleluasaan bagi anak untuk mengalami beragam aktivitas dan memahami berbagai wawasan.
Mendokumentasikan aktivitas.
▶ *7 – 10 tahun :*
Masanya melakukan berbagai aktivitas dengan melibatkan gagasan terkait aktivitas itu. Jadi di usia ini, setiap kegiatan dimaknai tidak hanya sebagai wawasan, tapi juga untuk membangkitkan gagasan/ide pada diri anak.
Perbanyak Tour de Talents, mengenal berbagai ragam profesi, melakukan ekspedisi dan visiting ke berbagai tempat pusat aktivitas.
Mendokumentasikan portofolio. Di usia ini, jika anak sudah mulai menghasilkan karya, karyanya sudah bisa dikumpulkan dan akan jadi rekam jejak perkembangan fitrah bakatnya.
Jangan terjebak dengan rutinitas akademik yang membuat anak terpaku pada 1 ragam aktivitas tertentu saja, karena akan menyulitkan mengenal bakat anak di usia 10 tahun.
▶ *10 – 14 tahun :*
Mewujudkan gagasan dan kompetensi anak dengan beberapa cara berikut :
Magang di suatu pusat aktivitas
Belajar bersama Maestro
Project Based Talents Development : Pengembangan bakat dengan mengerjakan proyek.
Orangtua mendampingi dengan menyusun bersama : Personalized Curriculum.
Memetakan bakat anak dengan jelas dengan Talents Mapping.
▶ *>15 tahun :*
Masa Aqil Baligh : Anak kita bukan anak-anak lagi, sudah masuk kategori dewasa menurut Islam. Sudah bertanggungjawab penuh atas dirinya sendiri, menanggung pahala dan dosa sendiri.
👦👕👧👗👦👕👧👗👦👕👧
*Baligh* 👉 mencapai kedewasaan biologis dengan ciri kematangan alat reproduksi.
*Aqil* 👉 mencapai kedewasaan psikologis, sosial, finansial, mampu memikul tanggungjawab syariah.
Anak sendiri sudah mulai mengambil peran sesuai talentsnya : *Talentspreneur.*
‼ *Relasi anak dan orang tua disini adalah partner.* ‼
♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨♨
Penutup materi dari saya, saya ingin mengutip quote tentang tugas kita sebagai orang tua :
*The real task of parenting is not to prepare the path for our children rather to prepare them for the path they will inevitably need to walk.*
-Wayne Hammond, Ph.D-
1⃣ Riefki_ Cirebon
Assalamu'alaikum mbak elma ☺
Anak sya laki-laki usia 10thn skrng lg hobi bgt buat komik ringan sesuai dgn imajinasinya,, bahkan dia sdh mengkoleksi bbrp hasil komik buatannya sendiri. Pertanyaannya :
1. Apakah hobi ananda tsb sdh bisa dikatakan sbg bakat?
2. Apabila itu bisa dikatakan bakat, apakah bakat tsb akan bertahan selamanya atau ada masa dmn dia akan beralih ke bakat yg lain?
3. Bagaimana caranya agar hobinya dlm membuat komik bisa disalurkan ke arah yg lebih serius,, krn ananda sdh berulang kali ingin komik buatannya tsb bs dinikmati orang banyak bahkan ingin diterbitkan layaknya buku-buku yg ada di toko buku ☺
Terimakasih mbak 🙏🏻
*Jawaban*
1⃣ Mba Riefki Yth.
Hobi bisa disebut berada dalam area bakat anak jika memenuhi 5 ciri yang saya jelaskan di materi :
Yearning (Nagih)
Satisfaction (Memuaskan)
Flow (larut dan lupa waktu)
Rapid Learning (Cepat belajar)
Glimpses of Excellence (ada tanda keunggulan)
Jika pada hobi ini, Ayah/Bunda melihat ananda menunjukkan 5 ciri ini, maka ini adalah area bakatnya. Jadi Ayah/Bunda yang bisa menilainya langsung, bukan orang lain 😊.
Jika memang bakat, biasanya bertahan terus, bisa menemukan bentuk yang berbeda, tapi intinya sama.
Misalnya : yang menjadi kekuatan Ananda ketika membuat komik adalah kemampuan menyajikan cerita. Maka inilah sebenarnya bakatnya, ini bisa diwujudkan dalam bentuk lain misalnya menjadi storyteller, sutradara, presenter acara, penulis, dll. Bisa juga tetap diwujudkan dalam bentuk membuat komik. Jadi bakat itu tidak sekedar tentang mampu gambarnya, tapi bagaimana cara dia melakukannya.
Tentang menyalurkan keinginan serius membuat komik, tinggal hubungi penerbit dan bawa semua hasil gambarnya 😊. Satu penerbit nolak, coba lagi yang lain. Ada banyak penerbit, dari mayor sampai indie yang pernah menerbitkan komik yang digambar anak-anak☺ ✅
2⃣ Indah_ Bekasi
Pertanyaan : Bagaimana jika dalam perjalanan observasi, saya menemukan bakat anak pada bidang musik (menyanyi atau bermain alat musik) sedangkan saya tidak ingin anak saya menggeluti bidang tersebut nantinya?
Terima kasih
*Jawaban*
2⃣ Bu Indah Yth.
*Pada dasarnya anak dan orangtua itu berjodoh, Allah yang Mengaturnya*
Jadi adanya anak ini dengan bakatnya juga pasti ada maksudnya sehingga dipasangkan dengan Anda sebagai orangtuanya.
Pahami dulu ini di awal, sehingga kita tidak lagi melihat perbedaan sikap antara orang tua dan anak sebagai masalah.
Kita bisa melihat situasi ini sebagai : _*situasi yang Allah kehendaki menjadi bagian dari perjalanan hidup kita sebagai orang tua dan anak.
Jika anak berbakat di bidang musik, sementara anda tidak berkenan anak mendalami bidang musik. Maka duduklah bersama untuk sama sama membahas hal berikut :
1. Apa yang ananda sukai dari musik ?
2. Apa yang ingin ananda ciptakan dengan musikmu itu ?
3. Apa yang Bunda rasakan tentang musik ?
4. Apa yang membuat Bunda tidak berkenan memilih bidang musik ?
Setelah clear jawabannya baru bahas solusi.
Contohn jawaban dan solusinya, ini saya ambil contoh anak yang sudah mulai besar ya.
1. Yang aku sukai dari musik adalah musik itu bisa diterima siapa pun, semua orang ngerti "bahasa" musik, kayaknya kita bisa cerita apapun lewat musik.
2. Yang mau aku ciptakan dari musik adalah rasa kebersamaan, bahwa semua orang itu sama sama butuh disayangi dan kita bisa saling menyayangi.
3. Yang Bunda rasakan tentang musik adalah banyak membawa hal negatif, dan diterima orang tanpa sadar.
4. Yang membuat Bunda tidak berkenan adalah Bunda khawatir anak Bunda jadi terbawa hal negatif dari dunia selebriti yang menjadi pelaku musik.
Kalau sudah jelas apa duduk perkaranya dan jelas sikap masing-masing, baru tentukan solusi, misalnya :
a. Oke, kamu bisa bermusik, tapi musik yang hanya akanmembawa pesan kedamaian, dan agenmu adalah Bunda, Bunda yang akan bantu memfilter kamu dari dunia selebriti.
b. Tidak, sebaiknya kamu tidak bermusik, kita pilih jalur lain untuk menyampaikan pesanmu ke dunia. (lalu bahas jalur lain itu seperti apa).
Diskusinya tentu akan berbeda, jika anak masih kecil. Karena alasan/motif mereka ingin menekuni musik masih sangat dipengaruhi faktor eksternal seperti role model, pergaulan, peer common interest, dll.
Jika, misalnya, alasan Bunda adalah alasan yang Bunda yakini syar'i maka sampaikan juga ke anak. Bantu anak paham bahwa ini adalah prinsip bagi keluarga, sehingga pilihan aktivitas yanag diambil hanya bisa yang sesuai dengan syar'i.
kalau melihat contoh yang saya berika n, maka kuncinya di komunikasi ya, Ini yang harus diperkuat di awal, sehingga beda minat atau persepsi bisa dibicarakan dengan netral dan tidak jadi sumber masalah.
✅
3⃣Titi Suhartin _ Bandung
Assalamu'alaikum
Pertanyaan :
Anak saya sekarang sudah kelas 3 Smp mondok dipesantren, sebentar lagi persiapan Sma, kami jarang bertemu & berkomunikasi karenanya.. apa yang harus saya lakukan untuk bisa mengenali potensi dan bakat anak yang tepat di usianya sekarang ini.
Terimakasih
*Jawaban*
3⃣ Bu Titi Yth.
Saya perlu menyampaikan prinsip dasarnya dulu. Ini berlaku untuk semua model pendidikan yang orang tua pilih untuk ananda.
*Untuk mengenali potensi dan bakat anak, kebutuhan utama yang mutlak adalah orang tua membersamai anak, sehingga mampu observasi mendalam*
Kalau menurut Bu Septi Peni Wulandani :
*Engange-Observe-Watch-Listen- write*
Engage adalah tahap pertama, terhubung sepenuhnya tahap tahap ini yang akan membantu kita mengenal anak dan mengenali bakatnya
Sebenarnya *keputusan memilih pondok pesantren untuk pendidikan anak pun adalah bagian dari hasil kita mengenal bakat anak*
Misalnya anak menunjukkan bakat tekun mempelajari sesuatu, minat terhadap topik agama, punya kemandirian mengurus dirinya, dan daya juang tinggi untuk belajar. Maka anak seperti ini sangat cocok masuk ke pesantren, karena pesantren akan membuat bakatnya terasah optimal dan signifikan melompatkan kemampuannya. Banyak ustadz ustadz sekitar kita tumbuh besar seperti ini.
Lalu bagaimana kalau sudah masuk pesantren.?
Jika sebelum masuk pesantren, ayah ibu belum benar-benar mengenali bakat anak, maka selama di pesantren, ayah ibu perlu *memastikan bahwa di pesantren anak mengalami berbagai ragam aktivitas, tidak hanya aktivitas belajar akademik, dan membahas topik yang seragam*.
Mengapa perlu begini ? karena hanya anak yang menyelami banyak ragam aktivitas yang akan bisa mengukur saya suka apa, minat apa, mudah mengerjakan apa, dll.
Bagaimana memastikan anak mengalami berbagai ragam aktivitas di pesantren ?
Pertama, Memilih pesantren yang menyajikam ragam aktivitas.
Kedua, orang tua terhubung dengan baik ke para pengasuh di pesantren tersebut.
Ketiga, memanfaatkan betul momen bertemu dengan anak atau ketika anak pulang untuk menyajikan aktivita slain yang tidak sempat dia alami di dalam pesantren.
Tanggungjawab pengasuhan dan pendidikan ada di tangan orang tua, apapun dan siapa pun wakil pendidik yang kita pilih (sekolah, pesantren, mentor, dll) 😊
✅
4⃣ Nia Yuningsih_ Purwakarta
Assalamu'alaikum
Pertanyaan :alhamdulillah, sudah 4 buah hati kami (12th, 10th, 8th, 2th) yg sulung (perempuan) insyaAllah sudah menjelang Aqil baliqh dan rasanya sudah menemukan bakatnya, yg no. 2&3 (laki-laki) rasanya cukup sulit kami tangkap apa yg menjadi bakatnya, karena mereka cukup sulit diajak berkomunikasi, yg dibicarakan biasanya hanya tentang bermain dan bermain, saya kesulitan membangun komunikasi dengan mereka, kemudian suami merencanakan mereka untuk mondok di pesantren saya kurang setuju (yg sulung sudah mondok, insyaAllah sesuai dengan keinginannya).Menyambung dengan teori membimbing mereka sesuai fitrahnya, saya merasa banyak kecolongan dlm pengasuhan mereka selama ini. Saya ingin "membayar" pola pengasuhan sesuai fitrah untuk mereka.
Tapi bingung harus memulai dari mana dulu.
Terimakasih
*Jawaban*
4⃣ Bu Nia Yth.
Yang perlu kita ingat selalu sebagai orang tua adalah semua anak itu tidak sama. Mereka punya keunikan masing-masing, dan jalan hidup masing-masing.
Oleh karena itu, jika suatu cara efektif untuk mengasuh anak yang satu, belum tentu efektif untuk mengasuh anak yang lain. Ini paling terlihat dalam konteks mengembangkan bakat anak.
Ayah perlu terbuka dengan segala alternatif yang mungkin disebutkan oleh anaknya. Ingat, bahwa everything is negotiable kecuali hukum syar'i dan prinsip keluarga (yang juga berlandaskan syar'i).
Apapun yang disampaikan anak, kita selalu bisa mengajak mereka eksplorasi mendalam dan diskusi tentang masa depan. Kita sampaikan pemikiran kita, dan kita tanya serat gali apa pemikiran anak.
Jika anak terlihat sulit diajak berkomunikasi karena biasanya hanya bicara seputar bermain, maka coba mengawali pembicaraan dengan mengajak dia ke tempat dimana hobinya itu adalah profesi serius.
Misalnya, anak suka bermain mobil-mobilan, maka bawa dia ke sirkuit dan melihat balapan asli. Perlihatkan bahwa dari minat pun, sesuatu itu bisa berkembang menjadi profesi, jika ada bakat disitu, dan mau menekuninya dengan sabar dan tawakal.
Dan kita perlu ingat juga, bahwa segala ragam profesi yang tidak menabrak batas syar'i pada dasarnya sangat bisa dijadikan adalah jalan dakwah juga.
Komunikasi juga akan memampukan ayah bunda melihat apa yang bolong dari perkembangan fitrah anak anak selama ini, Jadi selalu berkomunikasi✅
5⃣ Stephanie Betha_ Indramayu
Assalamu'alaikum
Pertanyaan : Apakah cara mengenali bakat anak bisa dengan melihat jenis permainan yang sering dia mainkan? hal ini sesuai dengan pengalaman saya sendiri..sewaktu kecil, kata ibu saya, saya suka sekali bermain peran sebagai guru atau mengajar...sampai saya lulus kuliah..saya tidak menyadari jika saya punya potensi untuk mengajar..dan atas saran ibu saya, saya disuruh mencoba profesi ini..
Alhamdulillah sampai skr saya sangat menikmati sekali bisa berbagi ilmu ke yang lain dan ternyata ini memang passion saya..Apakah memang ada hubungannya antara jenis permainan yang sering dimainkan saat kecil dengan bakat seseorang?
Terima kasih
*Jawaban*
5⃣ Bu Stephanie Yth.
Benar Bu, sangat bisa. Jadi bakat kita itu diinstall oleh Allah dalam ruh kita, ada video tafsir Alquran yang membahas surat Al-Israa ayat 83 - 85 yang membahas tentang syaakilaah (bentukan diri) dan ruh. Nanti saya share link videonya.
Jadi bakat ini sudah ada sejak awal dalam diri kita. Bakat ini akan menuntun minat kita. Artinya kita akan berminat pada hal hal yang disitu Allah sudah menyiapkan bakat untuk kita mengerjakannya dengan sangat baik.
Jika anak terlihat senang bermain permainan tertentu, dan menunjukkan 5 ciri bakat yang sudah saya share sebelumnya, maka kita bisa mengamati apa bakatnya melalui aktivitas permainan tersebut.
Misalnya, ibu Anda mengamati anda waktu kecil senang bermain sebagai guru dan meniru aktivitas mengajar. Maka besar kemungkinan Anda punya bakat bakat yang mendukung untuk mengajar.
Manusia punya 34 bakat sifat yang akan muncuk sebagai bakat kuat atau lemah dalam kadar yang berbeda pada setiap orang. Ini adalah hasil penelitian panjang selama 20 tahun melalui wawancara mendalam kepada 2 juta orang, oleh Gallup Organization
Ada bakat bakat tertentu yang mendukung untuk menjalani peran Teaching (dilakukan oleh guru) salah satunya adalah Developer, senang mendampingi orang lain belajar
Saya akan bahas ini di akhir ya, tentang ragam bakat.✅
6⃣ Yayu _ Garut
Pertanyaan : anak saya kelas 2 SD. Ada kekurangan dalam mata pelajaran tertentu. Apakah memang dia tidak berbakat dalam pelajaran tersebut atau memang mungkin dia kurang memahami? Jika dia tidak berbakat apakah mungkin bisa membuat dia lebih mengerti pelajaran tersebut.
Terimakasih.
*Jawaban*
6⃣ Bu Yayu Yth.
Untuk memahami apa masalah yang sebenarnya terjadi, kita perlu memetakan faktor faktoa yang mempengaruhi anak ketika belajar pelajaran tersebut.
Ada faktor tentang pelajaran itu sendiri, ada faktor gurunya, ada faktor kepercayaan diri anak ketika belajar itu, dll
JIka tidak ada masalah dari guru, fasilitas buku juga cukup, maka tinggal dilihat apa anak minat atau tidak ketika mulai belajar pelajaran itu
Jika tidak minat, kemungkinan besar, anak tidak berbakat di bidang tersebut.
Apakah pelajaran ini ditinggalkan saja ? Bisa ditinggalkan atau tetap dipelajari sebatas kemampuan, tidak perlu menargetkan bernilai bagus. Karena anak bagus di bidang dan pelajarn lain. Ini mungkin bertolak belakang dibandingkan dengan pemahaman umum yang ada di pikiran orang tua. Kalau anak kurang di pelajaran tertentu maka dia harus dikasih les disitu, didrill belajar disitu.
Drill pelajaran yang memang anak tidak minat dan tidak bakat, tidak akan menjadikan dia bagus di plajaran tersebut, bisa jadi hanya membaik. Namun untuk itu, anak mengeluarkan energi ekstra besar karena mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai minat dan bakatnya.
Apakah ini buruk ? tergantung motif. JIka motifnya adalah ingin anak sempurna nilainya dimana-mana, lalu mengorbankan perasaan dan keunikan anak, maka anak akan tumbuh tanpa benar benar mengenal dirinya dengan baik, dan berpotensi jadi remaja galau.
Jika motifnya adalah, mengusahakan sebaik mungkin hanya sekedar untuk mengejar target nilai minimal yang memungkinkan dia lulus, maka biasanya tidak akan berdampak buruk ke anak. Pastikan saja perasaannya ditanya/dikonfirmasi terus dan diterima kerja kerasnya.
✅
7⃣ Debbie Chintya_ Jakarta
Pertanyaan :
Pembuatan portofolio untuk tour de talents biasanya apa saja yg di dokumentasikan? Apakah dideskripsikan secara naratif berdasarkan apa yg dirasakan anak? Bagaimana jika si anak menolak membuat portofolio tsb?
Terima kasih
*Jawaban*
7⃣ Mba Debbie Yth.
Portofolio pada dasarnya adalah dokumentasi kegiatan anak dan bagaimana perasaan anak ketika menjalani kegoatan tersebut. Amati 5 ciri bakat yang sudah saya jelaskan apakah tampak ketika anak beraktivitas ?
Lebih jauh lagi bisa dilihat apakah anak Enjoy mengerjakannya, Easy mengerjakannya, dan hasilnya Excellent.
Boleh dengan deskripsi naratif, boleh point point, check list, apapun yang dianggap mudah oleh Ayah Bunda
Begitu pun dengan Tour de Talents, minta anak menceritakan apa yang dia amati dan pelajari ketika mengungjungi para maestro di bidang pekerjaannya masing-masing.
Yang pertama membuat portofolio adalah ayah bunda. Umumnya anak bisa diajak melanjutkan membuatnya sendiri, setelah anak menemukan minat dan bakatnya sendiri.✅
8⃣ Rachmi Wulandari _ Sidoarjo
Pertanyaan : Saya Ibu dari 4 anak laki2 usia 12,10,5,dan 4th..
Apa langkah awal yang harus saya terapkan agar saya bisa memberikan underline pada kesukaan dan bakat anak saya...
karena selama ini saya tidak menemukan *cara* yang pas untuk menerapkan ke anak2. sehingga..semua nya mengambang..tidak bisa saya garis bawahi..ini lho bakat anak saya.
mohon bantuan nya Bunda Elma..dari pengalaman dan ilmu nya..agar bisa saya jadikan literatur untuk menentukan dan menemukan bakat anak saya.
jazakillah
*note:anak saya yg ke2 pernah diindikasikan sbg ABK*
*Jawaban*
8⃣ Mba Rahmi Yth.
Kuncinya dalam mengenali bakat anak adalah obervasi dan mengamati apakah ada aktivitas yang menunjukkan 5 ciri bakat yang saya sampaikan di materi.
Kalau belum bisa disimpulkan mana yang menunjukkan 5 ciri bakat tadi, ya tidak apa-apa, semua proses kan butuh waktu. Orang tua butuh waktu untuk belajar cara mengenali bakat anak. Anak juga butuh waktu untuk menyelami satu aktivitas sampai dia bisa merasakan sendiri apakah dia memang ada bakat dalam melakukan aktivitas tersebut atau tidak.
Yang terpenting dari mengenali bakat anak, bukanlah segera menemukan apa bakat anak. Tapi proses orang tua belajar menerima dan mengenali anak, serta proses anak mengenali dirinya dan menerima keunikan dirinya. Anak juga tidak perlu digegas supaya segera hebat dengan bakatnya kok. Berjalan saja secara alami. Allah SWT akan punya kurikulum tersendiri untuk setiap orang. itulah sebabnya Allah menyajikan jalan hidup yang berbeda-beda untuk setiap orang, karena semua diasah dengan cara berbeda. Tentu saja, karena misi masing-masing orang juga beda.
Allah menginstall bakat ini untuk misi tertentu. Itulah yang perlu dicari oleh setiap manusia dalam perjalanan hidupnya.
Jadi sangat mungkin kita baru melihat tanda tanda bakat justru ketika anak beranjak besar, lalu anak butuh waktu lama mengasah bakatnya menjadi suatu karya produktif, lalu butuh waktu lama juga untuk akhirnya menemukan misi hidupnya. Dan Allah takdirkan umur kita, orang tuanya, tidak sampai kesitu.
Ini semua bisa saja terjadi.
Maka yang penting adalah ini:
Kita memastikan bahwa hidup kita saat ini adalah *dedikasi membersamai anak tumbuh menjadi dirinya sendiri yang otentik dan berkesadaran* bahwa dia adalah hamba Allah, akan mengemban misi dari Allah, dan hidup dalam jalan yang Allah pilihkan.
Selama prinsip ini terjiwai terus dalam hidup kita sebagai orang tua anak ini, maka _everything is fine_.
_You're on the track*_ ✅
9⃣ Imelda _ Tangerang
Assalamu'alaykum
Pertanyaan :
Saya memiliki anak yang pertama usia 6 thn, sekarang duduk dibangku sekolah fullday kelas 1, karena konsepnya full day pulang jam 2 siang.
Yang ingin saya tanyakan adalah berapa jam dalam sehari anak boleh belajar akademik? Krn seminggu 3x saya ikutkan les melalui lembaga les yg waktunya menyesuaikan dengan sikon anak .
Efektifkah mengenali bakat anak melalui kursus terlebih dahulu?
Terima kasih.
*jawaban*
9⃣ Mba Imelda Yth.
Mengenali bakat anak dimulai dari aktivitas yang dipilih secara alami oleh anak, bukan yang kita pilihkan.
Sepanjang yang saya amati, les tidak bisa jadi sarana mengukur bakat anak. Tidak efektif, karena faktor spontanitas dan otentisitas disitu tidak terjadi.
Ketika anak les ataupun berada dalam sistem belajar terstruktur seperti sekolah, anak sudah lebih dulu wajib mengikuti silabus dan kurikulum tertentu, sebelum dia mengenali dan memahami betul apakah dia berminat dalam bidang itu. Ini yang sering terjadi. Les, biasanya, hanya baik dilakukan, jika anak sudah menunjukkan minat dan bakat pada bidang itu dalam jangka waktu lama, lalu kita asah, salah satunya melalui cara ikut les.Tentang jam akademik, tidak ada patokan baku berapa jam harus mempelajari akademik.
Kenapa ?
Karena bahkan jika manusia tidak sedikit pun belajar hal yang berasal dari akademik, itu pun tidak apa-apa. Manusia bertemu minat dan bakatnya bukan karena akademik, tapi karena menjalani jalan hidup yang sudah Allah rancang untuknya.
Belajar sistem terstruktur secara akademik adalah bentukan budaya kita. Mau dipakai, silakan. Tidak dipakai, juga gapapa. Tentukan itu dalam diskusi keluarga, perjelas prinsip keluarga ini apa, dan pilih jalur belajar yang sesuai prinsip keluarga dan kebutuhan masing-masing anak.
✅
1⃣0⃣ Kurniawati Purnama Dewi_ Cianjur
Pertanyaan : Setelah mengenali bakat anak apa yang seharusnya dilakukan? Bagaimana memberikan motivasi utk anak agar potensinya optimal?
*JaWaban*
1⃣0⃣ Mba Kurniawati Yth.
Kalau abakat anak sudah dikenali, tanya pendapatnya apa yang ingin dia lakukan untuk mengembangkannya.
Setelah ditanya, silakan ajukan tawaran aktivitas yang menurut kita mungkin bisa membantu mengembangkan bakat anak.
Ini adalah proses panjang. Sekali lagi, karena Allah punya rencana atas anak ini, anak ini akan dibawa dalam berbagai tantangan hidup dan ujian. Yang terpenting adalah selalu bersama-sama berpegang teguh pada Allah, percaya pada yang Allah pilihkan karena itulah yang terbaik, dan anak bersedia menjalani segala jatuh bangun dalam hidupnya karena tahu itulah cara Allah mengasah dirinya juga bakatnya.
Dan sebagai orang tua, kita menjadi orang pertama, utama, bahkan bisa jadi satu-satunya yang mendukung anak.
Bayangkan jika orang tua anda 100% mendukung pilihan dan ikhtiar anda, dan bersedia melihat jatuh bangun ikhtiar anda, tanpa sedikit pun meragukan keyakinan dan pilihan anda. Bukankah itu dukungan terbaik yang bisa orangtua anda berikan ? Hidup yang keras sekali pu, rasanya akan sanggup kita tanggung, karena ada Allah dan ada orang tua kita yang percaya pada kita.
Begitu pun yang akan anak anda rasakan dari kita
1⃣1⃣ Yossi silvia_ Pasuruan
Assalamu'alaikum
Pertanyaan : untuk mengetahui bakat anak, boleh tidak sebagai orang tua mengarahkan atau cukup memantau anak kita mengarah kemana bakatnya.
Terimakasih
*Jawaban*
1⃣1⃣ Mbak Yossi Yth.
Dimulai dari memantau, sambil menyajikan berbagai aktivitas yang meliputi beragam bakat. Lihat apa yang anak pilih, lalu kembangkan dan arahkan mulai dari sana.
Kalau ditulis sih hanya 1-2 kalimat ya. Prakteknya mah panjaaaang dan tahunan, kita perlu stok sabar dan sayang dan percaya ketika menjalani ini semua ✅
1⃣2⃣ Rianpuspita sari_ Karawang
Assalamu'alaikum
usia anak 4 tahun laki laki, sepengetahuan saya kalau sekolah negeri masalah minat dan bakat ini belum terlalu di prioritaskan seperti sekolah swasta sentra atau sekolah alam. bagaimana misalnya anak di sekolahkan di sekolah negeri tp minat dan bakat nya tersalurkan, apakah dengan mengikuti berbagai macam tambahan (les) dapat membantu?
karena isu di domisili saya kalau misalnya sudah masuk ke sekolah swasta, nanti ke depannya susah masuk sekolah negeri, sampai kuliah pun susah.
awalnya saya mantap mau menyekolahkan anak ke sekolah yg menunjang minat dan bakat sejak dini, mendengar isu tsb saya jd ragu
terimakasih 😊
*Jawaban*
1⃣2⃣ Mba Rianpuspita Yth
Jika sudah duduk berdua dengan suami menentukan tujuan pengasuhan ke anak-anak. Lalu lanjut diskusi keluarga menentukan jalan belajar yang akan disajikan ke anak. Dan kemudian memutuskan bahwa anak akan masuk sekolah, maka pilih sekolah yang akan membantu ayah bunda dalam mengasuh anak sesuai tujuan pengasuhan.
Dari pertanyaan bunda tadi, bunda galau menentukan apakah sekolah negeri atau swasta karena ada isu jika swasta akan susah ke negeri bahkan kuliah.
Disini saya perlu mengajak bunda melihat lagi lebih dalam dan menentukan apa yang sebenarnya penting untuk anak bunda
yang penting adalah tumbuh kembang anak sejak kecil optimal karena baik sekolah maupun orang tua se-pemikiran, atau yang penting adalah anak bisa sekolah di negeri dan kuliah ?
Mengapa itu yang ayah bunda pilih ?
yang penting adalah anak melalui jalur sekolah lalu kuliah atau yang penting adalah anak menjalani hidupnya secara otentik ?
Anak bisa kok tumbuh otentik dengan tetap sekolah dan kuliah. Banyak yang begitu. Banyak juga yang tidak.
Anak kita yang mana ?
Jadi, menentukan jalur pendidikan anak, tidak sekedar memilih negeri atau swasta, tidak sekedar mencari mana yang mudah untuk kuliah atau tidak.
Anak kita akan menjalani apa di masa depan, bukan ditentukan oleh pilihan sekolah kita sekarang.
Hidup tidak linier. Hidup itu dinamis.
Jadi, ayah bunda bisa rileks menjalani ini semua karena hidup anak kita terjamin dalam rencana Allah SWT. Tugas kita adalah memilih pilihan yang paling tepat sesuai kebutuhan anak, terlepas apapun anggapan umum yang berkembang di luar.
✅
1⃣3⃣ Laila Faiqoh _ Kab. Ketapang Kalbar
Pertanyaan : untuk mengenali bakat dan gaya belajar anak dimulai dr usia berapa? Anak saya Fathan usia 3y1m, sangat aktif sehingga jarang sekali mau duduk diam dan belajar. Mengajarinya hafalan surat2 pendek n do'a sehari2 saja sambil dia lari-larian, belajar mengenalkan sholat jadi lebih berat karena dia gak mau diam dengan posisi yg sama lebih dr 1 menit. Cepat sekali bosan. Dia sudah saya sekolahkan tapi masih main2 saja, kadang berangkat kadang gak. Dan di sekolahkanpun dia sangat aktif, ketika teman2 yg lainnya bisa duduk diam dan menulis dia malah naik2 ke atas meja dan jalan ditempat di meja 😅😪.
Intinya dia sangat aktif dan gak bisa diam, jadi sebaiknya bakatnya diarahkan kemana?
Jazakillah khoir mbak..
*Jawaban*
1⃣3⃣ Mba Laila Yth.
Pertama, saya mau menyampaikan selamat dulu, karena anak Mba sepenuhnya NORMAL 😊😃.
Serius 😄.
Saya diamanahi 4 anak, yang semuanya unik. 4 anak saya ketika mereka 3 tahun, dan semua anak berusia 3 tahun yang pernah saya amati, memang aktif, tidak mungkin bisa diam, tidak bisa menerima instruksi terstruktur seperti sholat, ngaji, sekolah, dll. Juga tidak bisa diajak ikut atau bahkan sekedar dikenalkan dengan aktivitas terkait kognitif seperti belajar duduk rapi, dll.
Jadi, dalam hal ini bukan anak kita yang perlu "diperbaiki", tapi pola pikir kita dalam memandang anak yang perlu diperbaiki 😊
Ada alasan kuat mengapa Allah memerintahkan belajar sholat di usia 7 tahun. Ada alasan kuat juga mengapa manusia masuk periode menerima konsekuensi ketika tidak sholat, di usia 10 tahun.
Allah yang menciptakan manusia, menciptakan otak. Allah memang merancang otak manusia siap menerima aktivitas terkait kognitif itu di usia 7 tahun.
Jadi berharap anak bisa belajar terstruktur di usia di bawah 7 tahun adalah usaha yang sebenarnya tidak pas, bahkan dalam banyak kasus bisa mencederai otak anak.
Lalu apa yang tepat dilakukan di usia anak di bawah 7 tahun ? Perhatikan hidup Rasulullah saw
Di bawah usia 7 tahun, yang dialami oleh Rasulullah adlaah memperkuat bahasa ibu dan terhubung dengan alam. Itu semua memperkuat pondasi aqidah karena fitrah keimanan nya tumbuh subur. Golden age bagi fitrah keimanan adalah 0 -7 tahun.
Jadi perbanyak aktivitas membersamai anak yang membangun bonding ayah bunda ke anak, dengan banyak membangkitkan rasa terhubung antara anak dengan Allah. Itu alami, ada di setiap manusia. Orang tua hanya perlu membangkitkan dan menyuburkannya.
Dan ini bukan melalui diajak sholat, sekolah, ngaji, dll.
Tapi melalui berkisah tentag Rasulullah, menjawab semua pertanyaan anak (pasti lagi cerewet2nya) dan mengaitkan jawaban dengan Allah. Banyak memeluk anak dan mencium anak, dilakukan baik oleh bunda, maupun oleh ayah, sehingga terbentuk trust dan kelekatan antara orang tua dan anak.
✅