Selasa, 28 Maret 2017

Pentingnya Meningkatkan Kecerdasan Anak Demi Kebahagiaan Hidup




Dalam kehidupan ini ada dua kata yang selalu diinginkan manusia dalam hidup yaitu *SUKSES* dan *BAHAGIA*

☘ Makna SUKSES

Menurut D. Paul Reily dalam bukunya _Success is Simple_ mendefinisikan sukses sebagai pencapaian yang berangsur-angsur meningkat terhadap suatu tujuan dan cita-cita yang berharga

Sedangkan menurut lela swell dalam bukunya _Success_mengemukakan pendapatnya bahwa *sukses adalah*  _peristiwa atau pengalaman yang kita akan mengingatnya sebagai pemuasan diri_

☘ Makna BAHAGIA

Menurut Prof. Martin Selligman dalam bukunya _Authentic Happiness_ mendefinisikan kebahagiaan hidup dalam tiga kategori :

*A. Hidup yang penuh kesenangan* (Pleasant Life )
Hidup yg penuh kesenangan, ialah kondisi kehidupan dimana pencarian kesenangan hidup, kepuasan nafsu, keinginan dan berbagai bentuk kesenangan lain nya, menjadi tujuan hidup manusia

 Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat material.

*B. Hidup nyaman* ( Good Life)
Hidup yg nyaman, ialah kehidupan, dimana segala keperluan kehidupan manusia secara jasmani, rohani dan sosial telah terpenuhi.. Hidup yg aman, tentram, damai. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat mental

*C. Hidup Bermakna* ( Meaningful Life)
Hidup yang bermakna, lebih tinggi lagi dari tingkat kehidupan yang nyaman, selain segala keperluan hidupnya telah terpenuhi, ia menjalani hidup ini dengan penuh pemahaman tentang makna dan tujuan kehidupan. Selain untuk diri dan keluarga nya, ia juga memberikan kebaikan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Rasa kebahagiaan yg timbul ketika banyak orang lain mendapatkan kebahagiaan karena usaha kita, _pleasure in giving, kebahagiaan dalam berbagi. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat spiritual_

Untuk mencapai kategori hidup SUKSES dan BAHAGIA *kita perlu memiliki berbagai macam kecerdasan hidup*.

☘ KECERDASAN
Para ahli berpendapat untuk tidak membicarakan atau memberikan batasan yang jelas tentang kecerdasan. Karena kecerdasan itu merupakan status mental yang tidak memerlukan definisi. Para ahli lebih memusatkan perhatian pada perilaku kecerdasan seperti kemampuan memahami dan menyelesaikan masalah dengan cepat, kemampuan mengingat dan daya kreativitas serta imajinasi yang terus berkembang.

πŸ“šMACAM-MACAM KECERDASAN

*A. Kecerdasan Intelektual* (Intellectual Quotient)

Adalah  kemampuan untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan masalah, belajar memahami gagasan, berfikir, penggunaan bahasa dan lainnya.
Howard Gardner pakar psikologi perkembangan, menjelaskan ada sembilan macam kecerdasan manusia. Kecerdasan tersebut meliputi kecerdasan bahasa (linguistic), musik (musical), logika-matematika (logical-mathematical), spasial (spatial), kinestetis-tubuh (bodily-kinesthetic), intrapersonal (intrapersonal), interpersonal (interpersonal), naturalis (naturalits) dan eksistensial (existensial)

*B. Kecerdasan Emosional* (Emotional Intelleigence)
kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungannya dengan orang lain.
*Komponen-komponen dasar kecerdasan emosional adalah* :
1.  Kemampuan Mengenali Emosi diri sendiri (kesadaran diri).
2.  Kemampuan Mengelola Emosi.
3.  Kemampuan Memotivasi Diri Sendiri (Motivasi).
4.  Kemampuan Mengenali Emosi Orang lain (Empati).
5.  Membina Hubungan Dengan Orang Lain (Ketrampilan sosial).


*C. Kecerdasan Spiritual* ( Spiritual Intelligence)
Kemampuan untuk mengenal Allah  dan memahami posisinya sebagai hamba Allah. Inilah yang disebut dalam agama sebagai fitrah keimanan.

Secara ilmiah Kecerdasan Spiritual pertama kali dicetuskan oleh Donah Zohar dari Harvard University dan Ian Marshall dari Oxford University, yang diperoleh berdasarkan penelitian ilmiah yang sangat komprehensif.  Pada tahun 1977. Seorang Ahli Syaraf, V.S Ramachandran bersama timnya menemukan keberadaan God Spot dalam jaringan otak manusia dan ini adalah pusat spiritual (spiriitual center) yang terletak diantara jaringan syaraf dan otak.

Dari spiritual center ini menghasilkan suara hati yang memiliki kekmampuan lebih dalam menilai suatu kebenaran bila dibandingkan dengan panca indra.

πŸ“ŒAda Tiga prinsip dalam kecerdasan Spiritual yaitu :
- Prinsip Kebenaran
- Prinsip keadilan
- Prinsip kebaikan

*D. Kecerdasan Menghadapi Tantangan*  (Adversity Intelligence)
Kemampuan untuk mengubah hambatan menjadi peluang.

πŸ“ŒAda tiga tipe  menurut Stoltz yaitu :
1. Quitter , adalah orang-orang dengan Adversity Intelligence ( AI) yang rendah, bilamana bekerja dan ketemu masalah cenderung segera menghindar dan menyalahkan orang lain. Keluar (berhenti) dari apa yang sedang dikerjakannya dan membiarkan persoalannya berlarut2.

2. Campers itu orang dengan AI moderate, berusaha bekerja dengan baik. Meskipun demikian cenderung menghindari resiko, terutama berkaitan dengan resiko pribadi.

Jika bertemu halangan berusaha mengatasinya selama tidak beresiko. Jika tekanan terlalu besar, akan berhenti dan mencari aman. Kadang dengan mengulur2 menyelesaikannya.

3. Climbers , adalah orang2 dengan AI tinggi, yang berani menghadapi tantangan dan resiko, mengubah hambatan menjadi peluang, senantiasa fokus pada solusi.

Climbers percaya bahwa dirinya diciptakan untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik dan juga menaruh kepercayaan kepada orang lain bahwa mereka pada dasarnya baik dan dapat bekerja dengan baik

πŸ“Œ Kecerdasan Intellektual : Membuat anak pandai, sehingga bisa menjadi sarana meraih kebahagiaan hidup yang penuh kesenangan (pleasant life). Seperti masuk universitas ternama, mendapat pekerjaan dan jabatan yang tinggi. Memiliki rumah, mobil dan kesenangan materi yang lain.

πŸ“Œ Kecerdasan Emosional : membuat anak bisa mengenali dan mengendalikan emosi diri serta emosi orang lain. Kecerdasan ini sangat diperlukan agar seseorang bisa mencapai taraf kebahagiaan di ranah nyaman ( good life), karena kebutuhan jasmani, rohani dan spiritualnya terpenuhi.

πŸ“Œ Kecerdasan Spiritual : membuat hidup penuh arti, anak akan mampu memberi makna pada kehidupan, dan paham apa misi Allah menciptakan diri kita di dunia ini. Membuat anak berpikir secara luas makna sebuah kesuksesan. Hal ini akan mendorong anak-anak mencapai kebahagian hakiki yaitu kehidupan penuh makna (meaningful life).

πŸ“Œ Kecerdasan Menghadapi Tantangan : Menentukan seberapa tangguh anak ini untuk mencapai tingkat kebahagiaan hidup yang dia inginkan.

πŸ“š LATIHAN-LATIHAN-LATIHAN

Untuk melatih 3 materi yang sudah kita pelajari yaitu Komunikasi Produktif, Kemandirian, dan mengasah Kecerdasan ini, kita bisa menyelenggarakan Projek Keluarga. Mari kita pahami bersama apa itu projek keluarga.

❤ *PROJEK KELUARGA* ❤

Salah satu aktivitas yang bisa kita jalankan di keluarga sebagai sarana belajar seluruh anggota keluarga dalam meningkatkan komunikasi keluarga, melatih kemandirian dan menstimulus kecerdasan adalah projek keluarga.

πŸ“Œ APA ITU PROJEK KELUARGA

*Projek keluarga* adalah aktivitas yang secara sadar dibicarakan bersama, dikerjakan bersama   oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama pula.


πŸ“Œ CIRI-CIRI PROJEK KELUARGA

a. Fokus pada proses, bukan pada hasil
b. Sederhana
c. Menyenangkan
d. Mudah – Menantang
e. Memiliki durasi pendek

πŸ“Œ KOMPONEN PROJEK KELUARGA

a. Sasaran
SMART : Specific, Measurable, Achiveable, Reliable, Tangible
Maksimum 3 sasaran.
b. Sarana
Alat dan Bahan yang diperlukan.
Dana yang diperlukan ( apabila ada)
c. Sumber Daya Manusia
Penanggungjawab
Pelaksanan
d. Waktu
Jadwal Pelaksanaan
Durasi
e. Nama Projek
Berikan nama khusus terhadap projek yang dikerjakan keluarga.

πŸ“Œ BAGAIMANA CARANYA MEMANTAU PROJEK KELUARGA

*Lakukan APRESIASI bukan EVALUASI*

Apabila sudah menjalankan projek keluarga maka segera buat forum apresiasi keluarga diantara jeda projek tersebut, apabila projek memiliki durasi lebih dari 1 minggu – 1 bulan. Apabila projek hanya berdurasi 1-3 hari, maka lakukan pada akhir projek berjalan.

Anak-anak belum memerlukan evaluasi, yang kita lakukan hanya memberikan apresiasi saja, karena hal ini penting untuk menjaga suasana selalu menyenangkan dan  membuat anak senantiasa bersemangat dalam mengerjakan projek selanjutnya.

Apabila ada hal-hal  yang kita rasa penting untuk diperbaiki atau diubah strateginya, maka cukup anda catat saja, simpan dengan baik bersama satu file catatan projek ini, dan buka kembali saat kita dan anak-anak akan merencanakan projek berikutnya. Hal ini akan lebih membuat perencanaan kita lebih efektif, karena anak-anak akan melakukan perubahan menjelang  melakukan projek, bukan diberitahu kesalahan setelah melakukan sebuah projek. Efek yang muncul akan sangat berbeda.

πŸ“Œ BAGAIMANA CARA MENGAPRESIASI

Perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan. Di IbuProfesional, forum keluarga seperti ini  terkenal dengan nama *“MASTER MIND”*. Bagaimana cara menjalankan master mind, ciptakan suasana yang santai di rumah, kemudian tanyakan 3 hal saja:
a. Ada yang punya pengalaman menarik selama menjalankan projek ini?
b. Apa yang sudah baik?
c. Minggu depan apa yang akan kita lakukan?

πŸ“Œ CONTOH PROJEK KELUARGA

*Nama Projek*  : WARNAI DUNIA WARNAMU

*Gagasan* : Sudah 2 tahun cat tembok rumah tidak pernah berganti, kali ini anak-anak punya ide, dengan diskusi pertanyaan berikut, mengapa cat rumah itu kok satu warna? Bagaimana jika rumah itu warna-warni? Mengapa tidak kita cat tembok rumah kita warna warni?

*Pelaksanaan* : Tentukan durasi waktunya, misal  hari Minggu, 26 Maret 2017, tentukan penanggungjawabnya (PIC), kasih jabatan misal  “Jendral Cat Warna”. Berikan ruang sang jendral untuk mengambil keputusan terhadap segala tantangan yang muncul selama projek berjalan.

*Nama Projek* :  SUNDAY LIBRARY

*Gagasan* : Anak-anak sangat senang membaca, banyak buku yang sudah terbaca, tidak dibaca lagi. Anak-anak ingin berbagi manfaat . Mengapa perpustakaan itu harus bentuk bangunan? Bagaimana jika perpustakaan itu bergerak dari satu tempat ke tempat lain? Mengapa tidak kita membuat perpustakaan keliling setiap minggu di event Car Free Day?

*Pelaksanaan* : Tentukan waktunya, setiap hari minggu, tentukan PIC mingguannya, kasih jabatan misal “Library man”, berikan ruang sang library man dan tim untuk menghadapi tantangan  yang muncul selama projek berjalan

*AMATI, TERLIBAT, TULIS*

πŸ“Œ AMATI
*Aspek Komunikasi Produktif*
Bagaimanakah pola komunikasi anak-anak kita selama menjalankan sebuah projek?

*Aspek Kemandirian*
Apakah sudah makin terlihat tingkat kemandirian anak-anak dalam mengerjakan projek?

*Aspek Kecerdasan*
Bagaimana cara anak meningkatkan rasa ingin tahunya? ( IQ), bagaimana cara anak mengelola emosi selama projek berjalan ?(Emotional Intellegence/EI), Bagaimana cara anak meningkatkan kebermanfaatan dirinya dengan projek tersebut? ( Spiritual Intellegence. SI), Bagaimana cara anak mengubah masalah menjadi peluang ( Adversity Intellegence,AI)

πŸ“Œ TERLIBAT
Dalam setiap projek yang dibuat libatkan diri kita, para orangtua, untuk menjadi bagian anggota tim, asyik menjalankan bersama sebagai pembelajaran. Belajarlah menjadi follower yang taat pada keputusan leader. Saat menyelenggarakan master mind, bergantilah peran menjadi fasilitator yang baik.

πŸ“Œ TULIS
Tulis pengalaman kita setiap hari baik cerita gagal maupu cerita sukses dalam menjalankan projek demi projek., baik cerita bahagia maupun cerita mengharubiru. Alirkan rasa anda setiap hari.

Selamat mengunci ilmu dengan amal anda,










Manusia hidup berkegiatan:

*Kegiatan berbahasa:*
πŸ—£ berbicara
πŸ‘‚πŸ» menyimak
✍🏻 menulis
πŸ“– membaca

*Kegiatan mengindra:*
πŸ‘ melihat
πŸ‘‚πŸ»mendengar
πŸ‘ƒπŸ»membaui
πŸ‘…mengecap
πŸ–πŸ»merasa dengan syaraf kulit

*Kegiatan rohani:*
πŸ€” berpikir
❤ merasa dengan hati
πŸ’­ berimajinasi
πŸ’‘ berkehendak
☝🏻 mengingat

πŸƒπŸ» *Kegiatan Jasmani:*
menggerakkan tangan, kaki , badan, paru2 dst

Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan di *Lingkung:*

☀Alam Fisik (tanah, air udara, cahaya, temperatur, dst)

🌴Alam Hayati (tumbuhan, binatang)

πŸ‘¨‍πŸ‘©‍πŸ‘§‍πŸ‘¦Masyarakat (individu, kelompok)

πŸ‡²πŸ‡¨Budaya (pencaharian, peralatan hidup dan teknologi, organisasi sosial, pengetahuan, kesenian, bahasa)

πŸ•Œ Kehidupan Beragama

Tugas orangtua adalah meramu kegiatan sehari-hari  dalam konteks hidup (lingkung) di mana mereka tinggal.

Maka akan tercipta beragam kegiatan aktif, kreatif, unik, kontekstual yang akan memperkaya pengalaman anakSalam Ibu Profesional,



/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

Sumber Bacaan :
Stoltz, Paul G, PhD, 1997 Adversity Quotient, Mengubah hambatan menjadi Peluang, Jakarta , Grasindo
Melva Tobing, MPsi, Daya Tahan Anak Hadapi Kesulitan, Jakarta.
D. Paul Reily ,  “Success is Simple”, Gramedia, Jakarta
Lela Swell, Success, Grasindo, Jakarta
Martin Selligman, Authentic Happiness, Jakarta

Jumat, 17 Maret 2017

Tentang Rasa "Melatih Kemandirian"

Tantangan melatih kemandirian ini merupakan game level 2 di kelas bunda sayang. Tantangan kali ini melatih saya untuk konsisten dalam melatihkan kemandirian anak-anak serta konsisten menuliskannya untuk dilaporkan. Sebenarnya saya sudah biasa melatihkan kemandirian anak-anak sejak dini serta melakukan pencatatan kemajuan kemandiran anak di buku, tetapi saya kurang konsisten dalam melakukannya. Dengan adanya tantangan ini saya berlatih untuk lebih konsisten. Selain itu saya juga belajar melalukan pencatatan di blog. Walaupun hanya beberapa kalimat atau gambar namun sudah mewakili yang terjadi selama proses latihan kemandirian


Latihan kemandirian ini saya lakukan dengan menumbuhkan kesadaran kepada anak-anak mengapa mereka harus bisa melakukan sendiri. Setelah kesadaran itu tumbuh, anak-anak memilih sendiri kemandirian apa yang ingin mereka lakukan.
Oza (7 tahun) yang dulunya sudah berani tidur sendiri, karena sakit bulan lalu jadi terbiasa tidur dengan mama.  Selama 15 hari  ini dia belajar berani tidur sendiri, dimulai dari pisah ranjang sampai pisah kamar. Hasilnya selama 15 hari latihan, oza berhasil 3x tidur di kamar sendiri dan 12 kali tidur pisah ranjang. Sampai saat ini Oza masih latihan tidur sendiri. Karena untuk kemandirian yang lain seperti mengurus keperluan pribadi, memasak, mencuci, kebersihan kamar, manajemen finansial sudah bisa dia lakukan sendiri.


Aisya (4 tahun) selama 15 hari berhasil latihan makan sendiri dan ke kamar mandi sendiri untuk BAK ataupun BAB termasuk istinjak sendiri. Kalau biasanya saya antar sekarang bisa sendiri tanpa harus melapor dulu. Toilet training dulu Aisya sudah selesai sebelum usia 2 tahun, setelah itu saya dampingi ke kakamar mandi, sekarang sudah bisa sendiri. Setelah tantanan latihan kemandirian, Aisya menantang dirinya sendiri untuk tidur sendiri di kamarnya, membuat susu tanpa dibantu dan merapikan tempat tidur sendiri. Alhamdulilahnitu bonus luar biasa dari tantangan ini, dan sampai saat ini Aisya berhasil melakukannya.


Karena telah berhasil menaklukan game level 2 ini, saya mendapat 2 bedge cantik yaitu Yes I can dan outstanding perfomance. Bukan karena lebih baik dari yang lain saya mendapat bedge tersebut. Tetapi saya desain agar pelaporan lebih mudah sehingga saya bisa konsisten. Laporan latihan kemandirian yang saya laporkan tidak panjang tetapi sudah menceritakan proses latihan hari itu. Saya dimudahkan ijin dengan anak-anak selama 30 menit untuk mengetik membuat pelaporan. Saya sangat bertetimakasih kepada Bu Septi yang telah memberikan ilmunya serta ide-ide game yang bisa kami coba di rumah, dan tidak lupa kepada ketua kelas dan ketua bulanan yang mempermudah pelaporan dengan membuat link di gform. Tantangan latihan kemandirian ini tidak berhenti sampai disini, semoga saya diberi kekuatan untuk mengawal dan menjadi fasilitator anak-anak dalam latihan kemandirian ini sampai meeja aqil baligh. Aamiin




Sabtu, 11 Maret 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Hari ke 17

Tantangan hari ke 16 sudah di draft dari kemarin, tetapi ternyata sejak kemarin sinyal tidak bersahabat dan baru terkirim hari ini. Hari ini tantangan hari ke 17. Qodarullah saya sakit, suami kerja luar kota saat week end. Hm....pas kerjaan di eumah seabrek cucian, setrikaan banyak, yang jadwalnya saya selesaikan pagi ini jadi nggak kepegang.... saya hanya ada di bawah selimut. Oza tahu pasti bagaiman jika ibunya ini skait. Tanpa bertanya banyak Oza membuat lauk sendiri, goreng nugget. Saya sediakan nugget dan telur untuk persediaan darurat hehehe. Mencuci pakaian dengan mesin cuci dilakukan Oza sendiri, mesin cuci 2 tabung,tanpa bilang dengan saya dulu. Saat adiknya bangunpun disiapkan nasi dan lauk. Melihat setrikaan yang segunung, dia memilih pakaian-pakaian miliknya untuk di setrika sendiri. Selain itu Oza juga memanaskan air untuk mandi Oza dan adik. Alhamdulilah....laa haulawalaaquwataillabilah. Ini benar-benar latihan kemandirian. Saya minum obat minta ijin beberapa waktu untuk istirahat, karena jam 11 anak-anak ingin bermain ke rumah saudara. Alhamdulilah 10.45 saya sudah agak baikan. Kamipun bisa bermain ke rumah saudara bersama-sama. Saya sangat berterimakasih kepada Oza. Terimakasih ya kak.....

#level2
#Kuliahbunsayiip
#melatih kemandirian

Tantangan Melatih Kemandirian Hari ke 16

Saat saya sudah kehabisan ide mau melatih kemandirian apalagi, saya memohon petunjuk kepada Allah. ya......saya awalnya kami hanya ngobrol-ngobrol. Tiba-tiba Aisya bilang, mamah aku pengin buat sisi sendiri. Saya jawab"oke". Saya hanya mengawasi smbil ditanya "susunya segini mah" gulanya segini mah.... Saya jawab "iya", dan yeeeee aku berhasil. Dan semenjak tanggal 10 Maret 2017 Aisya sudah buat susu sendiri. Dan dia bilang mulai sekarang aku buat susu sendiri

Untuk Oza, hm....saya masih belum punya ide untuk Oza. Hm...Ozapun juga belum ada ide....
Kita liat tanggal 11 sapa tahu Oza ada ide, atau Allah memberi kami petunjuk lagi



#level 2
#kuliahbunsayiip
#melatih Kemandirian

Jumat, 10 Maret 2017

Tantangan Melaatih Kemandirian Hari ke 15

Akhirnya setelah 14 hari tanpa jeda, di hari ke 15 saya mundur 1 hari mengumpulkan tantangan.Karena kesibukan saya di hari Senin sampai dengan Rabu, jadi fasilitator grup matrikulasi IIP Jogja, maka di hari kamis saya memutuskan off dan fokus ke family time. 
Di hari ke 15 ini tantangan masih berjalan, karena anak-anak sudah berhasil menyelesaikan tantangannya maka family time kali ini, saya menikmati hasil latihan kemandirian aisya dengan makan di luar tanpa menyuapi aisya. 

Saya sangat suka sekali dengan gambar ini. Betapa aaisya menikmati makan sendiri. Perjuangan melatih kemandiran makan sendiri terbayar sudah. sekarang saya bisa makan bersama, tidak harus menunggu menyuapi Aisya dulu baru makan. Hm....alhamdulilah....


#level2
#kuliahbunsayiip
#melatih kemandirian

Kamis, 09 Maret 2017

KURIKULUM ALLAH

Resume Kulwap Grup Hebat Nasional
Tanggal: 7 Maret 2017

KURIKULUM ALLAH

Oleh Adriano Rusfi

Semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini adalah rencana Allah, program Allah, blueprint Allah. Tak ada yang kebetulan dan tak ada yang sia-sia (3 : 190-191)

Setiap peristiwa hadir sebagai bagian dari sunnatullah, untuk merespons perilaku, permasalahan dan kebutuhan manusia. Musibahpun hadir sebagai jawaban atas ulah manusia (30 : 41)

Alhasil, atas kekuasaan Allah maka setiap peristiwa adalah pelajaran bagi manusia. Terjadinya sejumlah peristiwa "asbabun nuzul"nya adalah perangai  manusia itu sendiri, agar manusia belajar darinya.

Hebatnya lagi, setiap peristiwa yang Allah ciptakan dapat dimaknai dan diambil pelajarannya secara berbeda dan beragam oleh orang yang berbeda, sesuai dengan permasalahan dan kebutuhannya masing-masing. Itulah yang disebut dengan HIKMAH

Maka, apapun yang terjadi dalam kehidupan ini adalah KURIKULUM ALLAH. Seluruh peristiwa hadir untuk pendidikan dan pelajaran bagi kita dan anak-anak kita, sebagai bekal untuk menjalani kehidupan, di dunia dan akhirat.

Dengan demikian, pada dasarnya untuk menjalani kehidupan ini, untuk memiliki life skills dasar (Basic Life Competence), yang manusia butuhkan hanyalah Kurikulum Allah. Sedangkan Kurikulum rancangan manusia dibutuhkan untuk membangun kompetensi-kompetensi sekunder dan tingkat lanjut (Advanced Secondary Competence)

Dan agar anak-anak kita terdidik dengan Kurikulum Allah, yang kita butuhkan adalah :

Pertama, mencemplungkan anak-anak kita ke dalam realitas seutuhnya dengan penuh iman dan tawakkal pada Allah bahwa dia adalah pendidik, pemelihara dan pelindung terbaik anak-anak kita.

Kedua, berbaik sangka pada Allah, lingkungan dan kehidupan bahwa segala hal yang terjadi adalah penuh hikmah, pendidikan, maslahat dan manfaat bagi pendidikan anak-anak kita

Ketiga, membangun kepekaan ayahbunda dan anak terhadap terhadap segala peristiwa, dan bermujahadah penuh untuk mengambil pelajaran dan hikmah darinya.

Keempat, tidak "mengepung" anak dengan kurikulum-kurikulum akademik dan artifisial yang begitu padat, teknis dan rinci, sehingga anak-anak seakan terhalangi untuk belajar langsung dari Tuhannya. Kalau anak ingin belajar dari kurikulum Allah, maka OPTIMALKAN YANG ALAMI DAN MINIMALKAN YANG REKAYASA

DISKUSI📳
👳bang Aad

*Bunda Ana, Silvy, Primaria, Elma, Yesi, Ninin yang baik,* mungkin yang perlu kita "bersihkan" dari pemikiran produk-produk sekolahan kayak kita ini adalah kecenderungan untuk menstrukturkan dan mendokumenkan Kurikulum Allah.

Kurikulum Allah adalah kurikulum alami, mengalir. Kalau istilah orang Minang, Kurikulum Allah adalah "Alam terkembang menjadi guru"

Jadi kalau anak kita ingin dididik dengan kurikulum Allah, kita tak memerlukan desain, sistem, mekanisme, prosedur, LKS, lesson plan dan sebagainya.

Saya malah khawatir, jangan-jangan saya salah memberikan nama "Kurikulum Allah" nih, sehingga kita terjebak pada hal-hal yang bersifat struktural dan prosedural nih.

Justru kata kunci dari Kurikulum Allah adalah : natural, mengalir, non-rekayasa  dsb.

Kekuatan utama dari Kurikulum Allah bukan terletak pada sistematikanya, tapi pada kepekaan kita dalam mengambil pelajaran darinya.

Mari kita belajar dari proses turunnya AlQur'an. Bukankah "berantakan dan acak-acakan" serta sangat responsif terhadap peristiwa alias Asbabun nuzul ? Nah seperti itulah kira-kira gambaran kurikulum Allah

Justru kata kunci dalam menjalankan kurikulum Allah Adalah kerelaan untuk mengalir dan mengikuti sunnatullah-sunnatullah dalam kehidupan ini.

Apakah berarti kurikulum Allah itu tanpa panduan ? Sesungguhnya kurikulum Allah itu selalu memiliki panduan, namun Allah yang mengerti rahasianya. Kita hanya mengikutinya saja.

Mungkin ada yang pernah menonton film Forrest Gump. Film Itu adalah sebuah contoh yang baik bagaimana seorang hamba Allah menjalani hidupnya mengikuti kurikulum Allah  lalu dia menjadi Manusia berhasil. Itu sekaligus menjadi jawaban bagi Bunda Yesi apakah anak berkebutuhan khusus bisa mengikuti kurikulum Allah. Sekaligus juga menjawab pertanyaan Bunda Ninin Apakah non muslim juga bisa mengikuti kurikulum Allah, karena Forrest Gump adalah non Muslim, dan film Forrest Gump adalah kisah nyata.

Justru yang ingin saya pesankan Pada kesempatan ini adalah Jangan membuat program yang terlalu terstruktur, detail dan tertib terhadap anak-anak kita, seakan-akan kita telah menghalangi anak-anak kita untuk berinteraksi dengan kurikulum Allah.

Pernah dalam satu kesempatan, sebuah panitia Ramadhan telah membuat kurikulum ceramah tarawih yang begitu rapinya dengan target yang jelas pada akhir Ramadhan. Saya mengapresiasi upaya itu. Tapi saya juga mengingatkan, jika pada malam keduabelas, misalnya, ada sebuah peristiwa tertentu, maka tolong pada malam keduabelas itu sesuaikan materi ceramah dengan peristiwa tersebut. Itu namanya mengakomodasi kurikulum Allah ✅

momod Asih

wah, contohnya menarik sekali Forrest Gump 😍
👳bang Aad

Jadi saya sangat sarankan Bunda sekalian untuk suatu saat bisa nonton bareng film Forrest Gump. Film itu sangat baik menjelaskan Bagaimana kurikulum Allah berjalan pada diri seorang anak. Kata kuncinya adalah :

Run, Forrest... Run..."

👳bang Aad

Film Forrest Gump diawali dari simbol bulu ayam yang terbang ditiupkan angin. Itulah kurikulum Allah : anak-anak kita adalah bulu ayam itu. Angin itu adalah kurikulum Allah

🎙momod Asih

punteun bang Aad, apakah dlm kurikulum Allaah ini juga berupa konsep berserah diri? sy tiba2 menangkap konsep tsb saat membaca penjelasan bang Aad..😀
👳bang Aad

Betul, berserah diri dan tawakal. Tapi bukan berarti tanpa sistem. Sebagaimana Alquran yang turun secara acak merespons asbabun nuzul, tapi ada Rasulullah yang menata dan merapikannya kembali untuk kita. Maka kita para Ayahbunda adalah Rasulullah bagi anak-anak kita sendiri

👳bang Aad

Betul banget. Berserah diri pada Allah baru akan terjadi jika kita yakin bahwa Allah lebih hebat daripada kita

Menanggapi➡ 🎙 *momod Asih*

juga saat sy mengingat tagline Forrest Gump:  "Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get." menurut sy itu filosofi berserah diri...

👳bang Aad

Pendidikan Surau Merantau yang saya lakukan di Tangerang pada dasarnya adalah ingin menjadikan mereka berguru langsung kepada Allah. Sedangkan tugas para mentor hanya menata dan merapikan apa-apa yang mereka dapatkan dari kehidupan.

momod Asih

topik kedua
pertanyaannya seputar memilih metode pendidikan utk anak

PILIHAN METODE PENDIDIKAN

A. Ihsan, Pangkalpinang
Dalam konteks kurikulum Allah
a.bagaimana kita menempatkan dan memilihkan sekolah yang tepat buat anak?
b. Apakah juga harus memgikuti tes bakat?
c. Bagaimana konsep sekolah berasrama (umum atau sekolah tahfidz) yang anaknya sejak awal SD berpisah dengan ortu di luar kota, apakah ini baik untuk tumbuh kembang anak?

B. Novie, Batam
Bagaimana caranya kita menentukan pendidikan yg bagus dan tepat untuk anak..jujur saja skrg saya sedang bingung dengan pendidikan di sekolah2..mau di pendidikan negeri takut agama kurang..mau di sekolah islam tapi banyak sekolah2 tertentu yg mengarahkan anak ke aliran2 tertentu..dan saya belom bisa membedakan mana yg benar dan mana yg salah..karena yg tau hanya Allah semata.. Saya takut kalau sampai anak saya mendapat ilmu yg malah membawa anak ke arah yg "sesat" (bahasa kasarnya)..

C. Vivi, Bontang
Saya Vivi umma hafa (6mo). Jadi ustadz, jika anak tetap masuk dalam lingkup sekolah formal dengan jadwal padat, adakah upaya yg bs dilakukan orang tua untuk meminimalisir efek dr kurikulum artifisial yg padat tersebut? Atau jalan satu2nya memang harus home schooling?

D. Kiky
Saat ini begitu besar "godaan" kita utk menghafidzkan anak kita. Dari rayuan surga sampai kuliah diberbagai perguruan tinggi negara Timur maupun Barat.
Anak saya lelaki usia 10 tahun (5 SD). Saat ini bersekolah di sekolah alam, dgn metode yg lebih "fun" dan tidak terlalu fokus pada tahfidz.
Pertanyaan saya adalah bagaimanakah cara yg tepat dalam mentahfidzkan anak agar anak enjoy (sesuai dgn human development) dan hapalan itu pun tidak mudah sirna. Dengan target lulus sma sudah hafidz.

👳bang Aad

A. Ayah Ihsan dari Pangkalpinang, kalau kita ingin menerapkan kurikulum Allah pada anak-anak kita, maka Pilihlah sekolah yang tidak terlalu membebani anak-anak kita dengan kurikulum yang bermacam-macam, sehingga seakan akan menghalangi anak kita berinteraksi langsung dengan kehidupan. Kurikulum  Allah baru akan berfungsi pada anak-anak kita jika anak-anak kita memiliki kesempatan yang sangat besar untuk berinteraksi dengan kehidupan.

Nah justru lewat kurikulum Allah, ketika anak kita berinteraksi dengan kehidupan dia akan menemukan bakat-bakat sejatinya. Dalam kurikulum Allah akan ada Talent mapping yang luar biasa. Karena pada dasarnya salah satu prinsip agar anak kita menemukan bakat dan potensi dirinya adalah terus mencoba dan mencoba dalam kehidupan.

Sedangkan pendidikan berasrama hanya akan cocok setelah anak melewati masa kecilnya. Pendidikan berasrama adalah pendidikan yang cocok untuk mengembangkan kecakapan sekunder dan tersier. Sedangkan kecakapan hidup primer justru akan didapatkan di kehidupan itu sendiri, yang seakan ingin dihindari oleh pendidikan berasrama.

B. Bunda Novie dari Batam, memilih pendidikan yang bagus untuk anak itu sangat tergantung dari definisi kita tentang pendidikan itu sendiri. Jika pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan akademis, mungkin di luar negeri malah lebih baik. Jerman adalah contoh dari negara dengan pendidikan akademis yang baik.

Jika yang dimaksudkan itu adalah pendidikan agama, barangkali Mesir.

Tapi jika yang kita maksudkan pendidikan itu adalah pendidikan karakter, pendidikan watak, pendidikan kepribadian, maka tidak ada pendidikan yang lebih baik daripada di rumahnya sendiri, di kehidupan tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, di kurikulum Allah.

C. Bunda Vivi dari Bontang,jika Bunda Vivi sudah merasa Siap dengan home education, maka itu adalah pendidikan yang terbaik untuk membangun manusia Aqil baligh yang berwatak, berkepribadian, tahu potensi dan bakatnya.

Namun, jika belum siap, sebaiknya pindahkan anak bunda ke sekolah lain yang tidak terlalu membebani anak dengan kurikulum kurikulum artificial, yang saat ini dia tidak butuhkan, yang justru semakin menjauhkan dirinya dari kehidupan, semakin menjauhkan dirinya dari kurikulum Allah.

D. Bunda Kiky, tidak setiap anak Allah berikan bakat untuk menjadi seorang Hafidz. Sangat banyak ibadah-ibadah lainnya yang juga menawarkan karunia pahala, keunggulan,  Fadhillah buat orang tua, di luar menjadi Hafidz

Jadi, Biarkanlah anak-anak kita memilih ibadah-ibadah utamanya sendiri.

Kalau kita ingin anak kita menjadi Hafidz dengan enjoy dan penuh kesadaran, rajin-rajinlah membacakan kepada anak kisah-kisah yang terdapat dalam Alquran. Ceritakanlah semua itu sambil memegang Alquran, sambil mengutip ayat ayatnya. Insya Allah itu akan menginspirasinya untuk menghafalkan Alquran. Sekali lagi jika ia memang berbakat untuk itu. ✅
momod Asih

Jd ortu Ini Baiknya mengarahkan pendidikan anak utk cakap hidup sesuai dg keterampilan dan bakatnya ya pak?

👳bang Aad

Sampai anak menginjak usia Aqil baligh, pada dasarnya pendidikan untuk anak itu adalah menyiapkan nya menjadi manusia yang dewasa, yang mengembangkan bakat bakat dan potensinya, agar dia kelak menjadi manusia sukses.

Ukuran sukses itu sendiri ada tiga :

Pertama, dia berbahagia

Kedua, potensinya teraktualisasi secara utuh

Ketiga, dia bermanfaat

Rabu, 08 Maret 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Hari ke 14

Alhamdulilah sudah 1t hari. Yang dilakukan selama 14 hari ini ternyata sudah menjadi kebiasaan baik anak-anak. Bahkan anak-anak berinisiatif melakukan kegiatan mandiri yang lain tanpa diminta. Saya masih bingung menentukan latihan kemandirian apalagi yang harus saya tanamkan untuk saat ini. Karena anak-anak sudah mandiri, coba saya cek ricek dulu

OZA (7 tahun), sudah bisa;

- Mandiri dalam urusan pribadi (mandi, ganti baju, makan, minum)
- sholat dengan kesadaran
- Mandiri finansial (menghasilkan iang 10.000/minggu dengan jualan snack, dan mengelola keuangannya sendiri)
- Mencuci baju dan mencuci piring
- Merapikan kamarnya, dan membantu membersihkan rumah dan kamar mandi
- Merapikan pakaiannya
- bersepeda keliling sendiri
- bermain sendiri
- Di rumah sendiri
- Tidur sendiri
-belajar mandiri

Yang belum bisa pergi dengan transportasi umum sendiri...tapi saya belum tega hehehe
Saya jarang menyuruh untuk mandiri, tapi saya mengijinkan dia mencoba hal-hal baru tentang kemandirian sejak kecil. Saya cuma memastikan keamanannya saja. Saya beri kepercayaan dia untuk mencoba, dan saya mengawasi dan mengamati. Seperti tidur sendiri, awalnya saya gagas, dalam pelaksanaannya gagal, tidak ada hukuman, cuma saya tumbuhkan kesadarannya manfaat tidur sendiri, alhamdulilah berhasil. Begitu pula dengan Aisya, hal yang sama saya lakukan. Dan perkembangannya sangat wow bagi saya. Nggak saya suruh, malah coba melakukan sendiri. Alhamdulilah....

Besok kami akan diskusi lagi tantangan apa yang akan kami lakukan.

Aisya (4 tahun ) bisa
-makan, minum, mandi, ganti baju, milih baju sendiri
- istinjak sendiri
- merapikan baju sendiri
- menyiapkan peralatan pergi sendiri
- mengembalikan mainan
- mengembalikan piring kotor ke tempat cuci piring
- tidur sendiri

Hm... saya perlu inspirasi apa yang Aisya belum bisa sendiri ya....

#level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandiriananak

Selasa, 07 Maret 2017

Ayah Bunda, Biarka Anakmu Berproses

🍮🍓🍵Cemilan Rabu #3🍵🍓🍮

Jika anak kerap meminta secara berlebihan dan selalu ingin dilayani, layaknya kita waspada. Apa yang terjadi pada diri anak kita kemungkinan sinyal bahwa ia tidak tumbuh menjadi anak yang mandiri. Namun jangan pula terburu-buru menyalahkan anak. Sebab apa yang terjadi tak lepas dari bagaimana kita mendidiknya.

Melatih anak mandiri memang bukan persoalan gampang. Seringkali orang tua bersikap *ambivalen* dalam menghadapi anak. Di satu pihak mereka menuntut anak menjadi mandiri, namun di sisi lain orang tua kurang berteguh hati untuk memberikan kesempatan pada anaknya untuk mencoba. Padahal keyakinan diri anak-anak tumbuh ketika mereka menyelesaikan aktivitas  kemandirian mereka. Bagi anak, dengan memberikan kontribusi dalam keluarga, mereka melihat dirinya sebagai anggota yang penting dari "tim" keluarga. Di samping itu, ketika mereka menguasai keterampilan baru mereka merasa berkompeten.

Sikap bijaksana orangtua memang sangat diperlukan dalam membentuk kemandirian anak. Orang tua tidak perlu bersikap terlalu melindungi. Berikanlah anak kebebasan untuk mengungkap segala keinginan dan pikirannya. Orang tua juga tidak perlu malu atau gengsi jika anak melakukan kesalahan.

Ukuran kebenaran bagi anak tidak dapat dilihat dari kacamata orang dewasa. Lagi pula dari kesalahan itu, anak akan belajar lebih banyak. Ingatlah, bahwa orang tua tidak selalu ada di samping anak untuk membantunya seumur hidup. Karena itu, ketika anak belajar mandiri, tunjukkanlah bahwa orang tua memperhatikan hal-hal yang mereka lakukan. Pujian dan dorongan akan memotivasi anak dan membuat mereka merasa bangga.

Anak-anak senang ketika mereka diliputi kehangatan yang mengalir dari persetujuan orang tua yang selalu mereka cari. Anak juga berharap orang tua memberikan tanggung jawab kepada mereka, Karena bila larangan itu hadir, kelak anak akan menjadi bingung dan kehilangan respek terhadap orang tua yang tidak memberikan kepercayaan dan tanggung jawab.
Maka Ayah Bunda biarkanlah anak  mandiri dan bertanggung jawab, meskipun hasilnya belum maksimal, terus fokus mendampingi anak berproses secara bertahap.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Bahan Inspirasi :

Nina Chairani & Nurachmi W., penyunting. Biarkan Anak Bicara, Jakarta. Republika, 2003

William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

Tantangan Melatih Kemandirian Hari ke 13

Alhamdulilah sudah hari ke 13, dan latihan kemandirian sudah menjadi new habit buat anak-anak

1. OZA (7 tahun)

Alhamdulilah tidur sendiri tidak menjadi hal mengerikan lagi buat Oza. Oza menyiapkan kamarnya agar nyaman digunakan untuk tidur. Bangun subuh tanpa dibangunkan, karena Oza menghidupkan alarm sendiri, dan merapikan tempat tidurnya sendiri. Saat semua dilakukan dengan kesadaran tanpa diminta ini sangat menyenangkan bagi saya. Alhamdulilah, semoga selalu istiqomah ya naaak. Dan anehnya Oza sudah tidak lagi berpikir tentang bintang.

2. Aisya(4 tahun)

Alhamdulilah ke kamar mandi sendiri sudah menjadi kebiasaan baik Aisya. Istinjak sendiri, menyiapkan air sendiri, memakai pakaian sendiri. Tantangan ini akan berakhir di hari ke 14. Semoga berlanjut seterusnya ya Aisya.....

#level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandirian

Senin, 06 Maret 2017

Tantangan Latihan Kemandirian Hari ke 12

Alhamdulilah, sudah masuk di hari ke 12 dan hasilnya menggembirakan sesuai dengan harapan, semoga ini berlanjut untuk hari-hari berikutnya

1. Oza (7 tahun) 

Setelah 11 hari akhirnya tadi malam Oza tidur sendiri. Awalnya dia ragu, lalu saya buka kan buku perkembangan Oza. Sejak 22 Mei 2015, Oza sudah tidur sendiri. Dan 1 bulan terakhir sejak sakit, Oza jadi takut tidur sendiri. Saat itu Pza berusia 5 tahun lebih menjelang 6 tahun. Oza pemberani, berani tidur sendiri. Akhirnya Oza sepakat tidur sendiri tadi malam. Kamar di tata sesuai keinginannya, diberi kipas angin, diganti sprei. Alhamdulilah sampai pagi tidak terbangun. Tidak ada juga jelajah kamar. Pagi pun bangun dengan semangat saat azan subuh berkumandang, tanpa harus dibangunkan. Alhamdulilah semoga istiqomah. Karena kaka sudah hebat 1 bintang hijau untu kakak.

Foto ini saya ambil saat jam 04.00 pagi menjelang subuh


2. Aisya (4 tahun)
Aisya sampai saat ini masih konsisten dengan tantangan ke kamar mandi sendiri dan istinjak sendiri. Walaupun ngantuk, nangis, marah tetep ke kamar mandi sendiri dan istinjak sendiri. Saat pup juga langsung dilepas dan menyiapkan air untuk membersihkan wc dan istinjak sendiri. Alhamdulilah... 1 bintang hijau untuk Aisya.


#level2
#kuliahbundayiip
#kemandirianak

Minggu, 05 Maret 2017

Tantangan Kemandirian Anak Hari ke 11

Hari ini hari ke 11, atau laporan malam ke 10 untuk Oza (tadi malam) dan hari ke sebelas untuk Aisya. Sebenarnya tidak wajib untuk melaporkan perkembangan latihan kemandirian anak ini, tetapi karena saya ingin Oza berhasil melalui tantangan tidur sendiri, jadi saya akan mencatat latihan kemandirian Oza tidur sendiri sampai Oza berhasil tidur sendiri, minimal 3 hari berturut-turut. Ini akan jadi portofolio untuk Oza dan akan dikenangnya saat dia besar nanti.

1. Oza (7 tahun)
Tadi malam kepala saya pusing, jadi saya ijin tidur lebih awal. Sebelum saya tidur saya berpesan lepada Oza dan ayahnya, karena Oza sudah berjanji tidur sendiri, maka Oza harus menepati. Saat itu Aisya sudah terlelap di kamarnya sendiri. Sayapun tidur di kamar saya setelah sholat isya. Ternyata apa yang terjadi saat saya sudah tidur, Oza nego ke ayahnya untuk tidur di kamar saya tapi pisah ranjang. Dan ayahnya pun mengijinkan dengan alasan wajah Oza memelas saat itu. Hiks... gagal lagi gagal lagi , walaupun Oza dapat bintang kuning karena pisah ranjang dengan saya, hari ini saya tumbuhkan semangatnya untuk dapat bintang hijau. Saya bilang "mama akan lebih senang kalau kakak tidur sendiri di kamar kakak". "Iya mah " jawab Oza

2. Aisya (4 tahun)
Hm...Aisya semakin lancar untuk ke WC sendiri dan istinjak sendiri. Tidur sendiri...semangat semua sendiri, pilih baju sendiri.... baru ingin mencoba ini itu. Alhamdulilah ini tantangan kedua Aisya untuk istinjak sendiri di hari ke 4 minggu ke 2 ini Alhamdulilah lancar... asal air sudah saya siapin di ember, jadi dia nggak perlu junjit-jinjit di bak kalau pas air sedikit. Semoga istiqomah ya naaakkkk....bintang hijau satu lagi untuk Aisya

#level 2
#kuliahbunsayiip
#latihankemandirian

KEMANDIRIAN ANAK DAN ADVERSITY QUOTIENS

🍶🍫🍮Cemilan Rabu #2🍮🍫🍶

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

Kemandirian Anak dan Adversity Quatiens

Berbagai rutinitas harian anak, seringkali menantang dan menghadapkan kita pada pilihan apakah akan 'membantunya' atau 'melatihnya melakukan sendiri'. Sebut saja, misalnya: makan, memakai sepatu, mandi, membereskan mainan, dan lain-lain.

Dengan alasan 'sudah terlambat', seringkali kita pada akhirnya 'membantu' menyuapi si tiga tahun. Tak jarang juga, kita bantu pasangkan sepatu si dua tahun, hanya karena tak sabar melihatnya berproses memakai sepatunya. Lalu bagaimana dengan si 10 tahun yang akan berangkat sekolah? Dengan alasan yg kurang lebih sama, kita sibuk menyiapkan seragam dan berbagai kebutuhan sekolahnya.

Padahal, yang kita cita-citakan bersama tentulah mempersiapkan calon ibu yang tangguh, serta calon ayah yang penuh tanggung jawab bukan? Dan kemandirian sejak dini adalah kunci awalnya.

Maka, bila anak-anak kita yang masih berusia 0-1 tahun masih sepenuhnya bergantung pada orang lain di sekitarnya, seiring dengan pertumbuhannya, sepatutnya kita melatih juga kemandirian anak. Misal: anak usia 3 tahun sewajarnya bila sudah tidak disuapi lagi, dan anak usia 4 tahun sepatutnya sudah bisa membersihkan tubuhnya sendiri.

Adalah  Adversity Quotient yang menggambarkan pola seseorang dalam mengolah tanggapan atas semua bentuk dan intensitas dari kesulitan. Menurut Paul G. Stoltz, _Adversity Quotient_ merupakan kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

Adversity Quotient memiliki  tiga tingkatan dengan terminologi pendaki gunung.

1. AQ rendah
Mereka cenderung mudah menyerah dan tidak berdaya. Mudah menyalahkan orang lain tanpa memperbaiki situasi. Kesulitan yang dihadapi mempengaruhi semua aspek hidupnya sehingga selalu merasa dikelilingi kesulitan.  Seringkali menolak kesempatan yang diberikan. Mereka diidentikkan sebagai orang yang terhenti ( _quitter_)

2. AQ sedang
Memiliki banyak perhitungan. Mereka mampu memandang kesulitan sebagai sesuatu yang sementara dan cepat berlalu, tetapi ketika kesulitan itu semakin menumpuk, maka akan membuat putus harapan dan memandang kesulitan tersebut akan berlangsung lama dan menetap.

Seringkali sudah melakukan sedikit lalu berhenti di tengah jalan. Mereka mau mendaki meskipun akan berhenti di pos tertentu dan merasa cukup sampai disitu ( _camper_)

3. AQ tinggi
Inilah pembelajar seumur hidup. Mereka mempu untuk mengendalikan setiap kesulitan. Kesulitan yang muncul pada satu aspek kehidupan tidak meluas pada aspek yang lain. Mereka memandang kesulitan yang ada bersifat sementara dan cepat berlalu. Mampu memandang apa yang ada di balik tantangan tanpa memikirkan suatu hal sebagai hambatan. Mereka membuktikan diri untuk terus mendaki ( _climber_)

Pandu anak-anak supaya terbentuk AQ yang tinggi. Bukankah ini penting bagi mereka dalam menghadapi tantangan sehari-hari? Supaya mereka bisa melewati tantangan hidup. Menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana hingga yang sulit dapat mereka lakukan dengan penuh percaya diri. 

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Bahan Inspirasi :
Stoltz, P.G. 2000. Adversity Quotient, Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. PT. Grasindo

Sabtu, 04 Maret 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Anak Hari ke 10

Alhamdulilah sampai di hari ke 10, atau hari ke 3 di minggu ke 2. Berikut perkembangan latihan  kemandirian Oza dan Aisya.

1. Oza
Sudah hari ke 10, tantangannya pun sama yaitu tidur sendiri. Tapi sampai saat ini Oza masih galau ;(  Tadi malam sudah tidur sendiri di kamar, sudah saya temani, saat Oza tertidur saya pindah kamar. Ternyata jam 12 Oza terbangun dan pindah kamar saya. Di kamar saya Oza menyiapkan kasur lantai dan tidur di bawah. Jadi saya tidak menyadari pindahnya Oza, saya baru tahu saat pagi hari. Saat sudah bangun Oza saya tanya, kenapa pindah kak? Dia menjawab Oza pindah karena mendengar suara glodak2 dari dapur. Sudah saya jelaskan bahwa suara itu berasal dari tetangga yang jualan daging ayam, aktivitasnya tiap tengah malam menyembelih ayam. Oza mengerti dan berjanji malam ini akan tidur sendiri seperti adiknya.

2. Aisya
Ini hari ke 3 Aisya ke kamar mandi sendiri untuk istinjak sendiri. Alhamdulilah selama 3 hari ini aisya sudah tidak minta bantuan saya sama sekali baik pipis ataupun pup. Semua sudah dilakukan sendiri. Rasanya seperti berkurang pekerjaan saya. Sudah tidak terdengar lagi "mah, sudah mah" saat sedang pup hehehe, 1 bintang hijau untuk Aisya

Itulah perkembangan anak-anak dihari ke 10, semoga di hari-hari berikutnya perkembangannya semakin baik.

#level2
#kuliahbunsayiip
#melatihkemandiria

Jumat, 03 Maret 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Anak Hari ke 9

Melatih kemandirian Anak di hari ke 9

1. Oza (7 tahun)
Di hari ke 9 ini sama dengan hari sebelumnya. Oza traveling pindah-pindah kamar sebelum akhirnya memutuskan kamar mana sekiranya paling nyaman, dan anggota keluarga lain menyesuaikan. Awalnya Oza memutuskan di kamarnya sendiri. Di tengah malam dia pindah kamar, karena kamar awal nggak nyaman. Sebelum tidur, Oza juga menidurkan adiknya terlebih dahulu. Aisya baru latihan tidak tidur dengan saya atas permintaannya sendiri. Karena prestasinya itu, oza mendapat bintang hijau di hari ke 2 minggu ke 2.

2. Aisya (4 tahun)
Alhamdulilah, Aisya saat ingin ke belakang (pipis), Aisya sudah terbiasa sendiri, hanya ijin saya "mama aku pengin pipis / pup", setelah itu dia ke kamar mandi sendiri, membersihkan sendiri. Karena bak air masih terlalu tinggi, maka saya sediakan air di ember khusus untuk istinjak Aisya. Jika saya lupa menyiapkan air, Oza setelah mandi menyiapkan air untuk istinjak adiknya, jika kehabisan, Aisya menyiapkan sendiri. Atas usahanya ini, Aisya mendapat bintang hijau

Demikian laporan singkat proses melatih kemandirian anak-anak di hari ke 9. Proses katihan ini tidak menjadi beban anak-anak karena anak-anak memilih sendiri tantangannya.

#level 2
#kuliahbunsayiip
#MelatihKemandirian

Kamis, 02 Maret 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Hari ke 8

Yup hari ini adalah hari ke delapan atau hari ke 1 di minggu ke dua ini. Hasil dari tantangan hari ini adalah sebagai berikut.

1. Oza (7 tahun)
Tantangan hari ini melanjutkan tantang minggu lalu yaitu tidur sendiri. Tadi malam Oza awalnya ingin tidur di kamar saya. Karena diawal kami sepakat untuk malam ini Oza tidur sendiri, jadi Oza saya tinggal sendiri di kamar saya. Saya pindah di kamar Aisya beserta ayah dan Aisya. Selang beberapa saat terdengar suara anak menangis. Ternyata Oza menangis di kamar saya. Ayahnya datang menghampirinya, dan mereka berdiskusi, sesaat kemudian Oza datang di kamar yang ditempati saya dan Aisya. Di kamar ini ada 2 ranjang, Aisya tidur sendiri, Oza minta tidur dengan saya. Saya mengiyakan,tapi saat Oza sudah tidur saya akan pindah kamar. Yup akhirnya Oza berhasil tidur sendiri di kamar Aisya, dengan ranjang yang terpisah dengan adiknya. Walau tidur 1 kamar dengan adiknya, sesuai kesepakatan kami, Oza tetap mendapat bintang hijau, karena yang penting sudah tidak 1 kamar dengan mama dan ayah, oza harus pisah kamar dengan Aisya saat usia Oza 10 tahun.
Alhamdulilah saat bangun pagipun Oza ceria dan langsung ambil air wudhu dan sholat subuh. Setelah itu Oza merapikan tempat tidur kamarnya sendiri, untuk persiapan tidur nanti malam bersama adik. Jadi untuk saat ini Oza ingin menjelajah kamar, tiap malam tidur di kamar yang berbeda, agar tidak bosan yang penting sudah tidak sekamar dengan ayah dan mama

2. Aisya (4 tahun)
Tantangan di minggu ke 2 ini untuk Aisya adalah ke kamar mandi sendiri dan istinjak sendiri. Tantangan ini semakin menantang karena tangan kiri Aisya sedang terluka. Awalnya, Ais menolak untuk  istinjak sendiri. Tapi saya meyakinkan, bahwa lukanya akan sakit sedikit, Aisya mampu melakukan sendiri. Alhamdulilah, Aisya percaya dengan saya dan mau melakukan sendiri. Hari ini, Aisya menyelesaikan tantangan dengan baik, berkali-kali ke kamar mandi sendiri. Walaupun setelah dari kamar mandi, Aisya bilang, mamah lukanya sudah tidak berdarah tapi masih sakit sedikit. Hehehehe, hebat kay nak. Satu bintang hijau untuk Aisya

Rabu, 01 Maret 2017

Tantangan Melatih Kemandirian Hari ke 7

Alhamdulilah sampai di hari ke 7. Hasil di hari ke tujuh tidak sesuai dengan yang saya harapkan. setelah malam kelima Oza berhasil tidur sendiri, tadi malam Oza gelisah tidak bisa tidur, berpindah-pindah kamar. Tadinya ada di kamar saya terus pindah di ranjang adiknya, pindah di kamar dia sendiri sampai sekitar pukul 12 akhirnya Oza memutuskan tidur di kamar saya. Walau tanpa kelon dan memutuskan tidur sendiri, terjadi kemunduran dari malam sebelumnya. hal ini disebabkan dia tidak puas dengan jawaban saya saat menjelang tidur, mengapa di usia tujuh tahun harus tidur sendiri, sedangkan ayah yang sudah dewasa boleh tidur dengan mamah. Saya hanya menjelaskan bahwa ayah dan mamah sudah menikah jadi tidur bersama, sedangkan kakak sedang belajar berani dan mandiri tidur sendiri yang nantinya akan menjadi ayah yang menjaga istri dan anak-anaknya. Jawaban saya membuat Oza gelisah. Malamnya dia jadi berpikir dan tidak bisa tidur. karena masih tidur di kamar saya walaupun pisah ranjang, akhirnya Oza mendapatkan bintang kuning. Dari 7 hari ini, dimulai dengan hari pertama persiapan tidur sendiri sampai malam ke enam yaitu di hari ke tujuh ini hasilnya Oza mendapatkan 5 bintang kuning dan 1 bintang hijau. bintang kuning adalah bentuk penghargaan karena dia sudah berusaha sedangkan bintang hijau adalah hadiah karena sudah berhasil.
Karena hasilnya baru 1 bintang hijau, maka untuk minggu ke 2 ini kami putuskan untuk melanjutkan tantangan tidur sendiri ini, belum beralih ke tantangan lain. Jadi di minggu ke dua Oza masih menjalankan tantangan tidur sendiri.


Gambar Perolehan bintang Oza

Berbeda dengan Oza, Aisya semakin mantap makan sendiri dan meletakkan piring yang selesai digunakan untuk makan di tempat cuci piring. Aisha mengumpulkan 1 bintang kuning dan 6 bintang hijau. alhamdulilah Aisya selesai dengan tantangan makan sendiri. Untuk minggu ke 2, Aisya akan menyelesaikan tantangan ke kamar mandi sendiri, aisya selesai toilet training di usia 21 bulan, dan biasanya saya mengantar ke kamar mandi, dan untuk kali ini tantangan Aisya adalah ke kamar mandi sendiri.  Dengan level sebagai berikut:
  1. Bintang Kuning : ke kamar mandi sendiri, tetapi minta tolong dibantu saat istinjak
  2. Bintang Hijau : ke kamar mandi sendiri dan istinjak sendiri
  3. Lingkaran menangis: minta di antar ke kamar mandi, dan minta dibantu istinjak.
Bismilah semoga besΓΆk berjalan lancar di hari ke delapan (minggu ke 2)

Gambar Perolehan bintang Aisya

#level2
#kuliahbunsayIIP
#MelatihKemandirian