Rabu, 20 September 2017

Melatih Anak Cerdas Finansial Sejak Dini Dapat Menjadi Bekal Yang Berharga di Masa Depannya

🌭🍟🍷 *Cemilan Rabu #8.2* 🍫🍨🍿

*Melatih Anak Cerdas Finansial Sejak Dini Dapat Menjadi Bekal Yang Berharga di Masa Depannya.*

Di tengah arus kompleksitas perubahan zaman dan gemuruh publikasi korupsi negeri ini, orang tua dituntut lebih cerdas mendidik anaknya. Tentunya kita tidak sudi melihat anak tumbuh sebagai koruptor yang menyengsarakan.

Dari situ, selain membesarkan anak yang sehat secara fisik dan emosional, orang tua juga wajib mendidik anak secara benar.

Karena, mendidik anak bukan berarti mengabulkan setiap keinginannya. Tetapi, bagaimana orang tua mampu memberi teladan dan mengenalkan anak segala akhlak terpuji, terutama pengajaran kecerdasan finansial.

Maraknya lalu lintas rayuan iklan di segala media bisa mendikte anak menjadi pribadi yang konsumtif dan hedonis.

Namun, orang tua tak perlu khawatir, ketika anak sejak dini sudah dilatih kecerdasan finansialnya. Maka hasilnya, anak akan menjadi pribadi yang tangguh dan cermat dalam mengelola uang.

Di sinilah, peran orang tua sangat vital, mengingat “buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, sehingga *teladan orang tua menjadi pelajaran pertama bagi anak.*

Hal ini terbukti efektif menciptakan perubahan perilaku anak-anak agar tak terlena dengan uang. Karena, *mengajarkan anak tentang uang secara benar dapat membentuknya menjadi pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki jiwa kewirausahaan.*

Mulai dari cara mengenalkan uang, menabung, berhemat, dan mengajarkan bertanggung jawab dengan uang saku, dengan menggunakan panduan akan konsep *spesifik ( _specific_), terukur ( _measurable_), dapat dicapai ( _atainable_), realistis ( _realistic_) dan jangka waktu ( _time bound_).*

Perpaduan konsep itu akan meninggikan mentalitas dan spirit anak dalam mengelola uang demi hasilnya bagi masa depan.

Selain itu, Kak Seto dan Kak Lutfi memberi gambaran metode:
*"10/10/10/70 ( _Pay yours first_)."*

Arti angka tersebut menggambarkan besaran persentase pembagian dari total uang saku yang diperoleh anak.

Semisal, 10 % untuk beramal ( _pay your soul first_),
10 % menabung ( _pay your safe first_),
10 % investasi ( _pay your self first_),
dan 70 % untuk pengeluaran kebutuhan mendasar.

Lewat pelaksanaan konsep ini akan mendorong penguatan akhlak anak menyadari bahwa uang bukanlah alat tukar untuk membeli barang semata. Lebih dari itu, uang bisa dimanfaatkan sebagai relasi penguatan penentram jiwa dan nilai spiritual ketika disedekahkan secara ikhlas.

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang Nasional/

📚Sumber bacaan:
"Financial Parenting" penerbit Nourabooks, Jakarta.
Penulis: Kak Seto Mulyadi dan Kak Lutfi Trizki.

Selasa, 19 September 2017

Cerdas Finansial #6

Berbeda dengan hari Senin, Oza tidak menggunakan uang sakunya sama sekali. Hari ini dia jajan Rp. 3.000, lalu mencatatnya di buku kas Oza. Sambil berlatih membuat pencatatan Oza juga belajar penjumlahan dan pengurangan. Math arround us...

Seperti biasa, Aisya masih belajar keinginan dan kebutuhan. Mengendalikan nafsu jajannya. Hari ini dia ingin bawa uang saku seperti temannya.
A : mah, bawa uang ya...
M : pesan bu guru kan nggak boleh bawa uang
A : iya mah, aku pengin ilona (temannya sekelas)
M : bawa bekal aja ya, yang banyak biar temannya ikut makan, nggak usah jajan semua...
A : asyyiiik...

#day6
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#level8
#RejekiPastiKemulyaanHarusdicari
#cerdasFinansial


Senin, 18 September 2017

Cerdas Finansial #5

Hari ini, hari senin bagian Oza mendapatkan jatah 3 harian Rp. 10.000, lalu Oza mencatat di buku kas Oza bulan September. Hari ini pun Oza tidak jajan, katanya uangnya akan di simpan, buat cadangan kalau makanan ayamnya habis.

Aisya masih mebedakan keinginan dan kebutuhan
A : mah rasanya kalau ada warung baru pengin beli terus
M : kenapa?
A : pengin mah...
M : itu namanya....
A : Boros....hahahaha

#day5
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10hari
#level8
#cerdasFinansial
#RejekiPastiKemulyaanHarusdicari

Minggu, 17 September 2017

Cerdas Finansial #4

Hari ini Oza tidak terlibat aktivitas Keuangan, Nggak jajan juga. Cukup di rumah bahagia membuat brownis hehehehe.

Aisya hari ini belajar mebedakan keinginan dan kebutuhan,

A : mah aku mau beli stiker, di warung sebelah jualan stiker, jualan mainan macem-macem gemes pengin beli beli, pakai uangku, sisa lebaran

M: stiker? Gambar apa? Mau taruh mana?

A:  ya nggak tau, nanti milih di sana, terus nggak tau ditaruh mana

M : Aisya mulai belajar yuk,membedakan kebutuhan dan keinginan,

A : apa itu mah?

M : Kebutuhan itu misalnya laper, klo nggak makan bisa sakit, lha keinginan itu pengin beli ini itu, sebenarnya klo nggak beli nggak papa
Lha kalau keinginan dituruti terus namanya boros

A : ooo gitu, nggak jadi beli aja

M: klo boros itu temannya...

A : Setaaaaan.... hahahaha

#day 4
#Tantangan10hari
#level8
#KuliahBunsayIIP
#cerdasFinansial
#RejekiPastiKemulyaanHarusdicari

Sabtu, 16 September 2017

Cerdas Finansial #3

1. Oza (8tahun)
Jumat malam sebelum tidur, saya ngobrol dengan Oza tentang kegiatan positif yang dilakukan hari Jumat. Oza akhirnya bercerita kalau dia shodaqoh di masjid sebanyak seribu rupiah (Alhamdulillah).

Setelah cek pakan ayam dan ternyata habis, Oza minta tolong ayah untuk membelikan bekatul, dengan memberi uang Rp. 5.000., lalu melakukan pencatatan di buku.  Betapa bahagianya Oza ternyata ada kejutan bonus dari ayah, pakan ayam kali ini gratis dari ayah (Alhamdulillah)

2. Aisya (4 tahun 11 bulan)
Belajar tentang pembagian penggunaan uang
A : mah kalau aku punya uang banyak, sebagian mau ditabung, sebagian mau beli mainan
M : yang buat sedekah mana?
A : oiya ding ya mah, ada yang buat sedekah (sambil meringis)

#day3
#Tantangan10hari
#KuliahBunsayIIP
#Level8
#RejekiPastiKemulyaanHarusdicari
#cerdasFinansial

Jumat, 15 September 2017

Cerdas Finansial #day2

Hari ini hari Jum'at. Seperti biasanya Oza melaksanakan sholat Jum'at bersama ayah. Hari ini Oza persiapan lebih awal. Sejak pagi setelah mandi sudah mengenakan baju koko. Lalu dilanjutkan dengan menemani mama siaran di Radio Suara Salatiga. Sesaat setelah sampai rumah, ternyata masjid mulai memperdengarkan bacaan ayat suci Al Quran. Oza menunggu ayah pulang dari kantor untuk sholat jum at bersama. Sementara itu Oza memberi makan ayam-ayamnya.
Saat ayah tiba, mereka pun bersiap mengambil wudu untuk berangkat sholat Jumat. Ada kejadian menarik sebelum berangkat ke masjid. Oza masuk kamar, dan membuka dompetnya, dia lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Lalu saya tanya,
M : Buat infaq ya kak?
O : (Tersenyum sambil lari kecil)
M : Berapa itu?
O : (tidak terjawab)

Sampai laporan ini dibuat Oza masih merahasiakan jumlah uang yang disedekahkan, dan belum mau menuliskan di pembukuannya (pe bukuan Oza terlampir). Dia hanya menuliskan uang yang digunakan untuk jajan kemarin, hari ini dia tidak jajan. Karena dia tahu sedekah yang baik, yang dirahasiakan. Barokallahufikum.

Lain Oza lain Aisya, Aisya masih belajar komsep rejeki. Dia bilang kepada saya
A : mah, besok ke ramayana yuk?
M ; doa dulu sama Allah biar mamah punya rejeki yang cukup
A: kan cuma 5 ribu (main timezone)
M : belum parkir, belum jajan, itu kalau cukup 5 ribu mainnya.
A : eh iya ding (sambil nyengir)

A : mah, tunjuk ngajiku patah, aku pemhin beli yang baru yang lebih tebel biar gak patah, nanti pegangnya nggak ditekan-tekan
M: ya, nanti mamah kasih uang, Ais beli sendiri ya
A : ya mah

Hari ini Aisya belajar konsep rejeki dan mem edakan kebutuhan dan keinginan

#day2
#Tantangan10hari
#level8
#KuliahBunsayIIP
#RejekiPastiKemulyaanHarusdicari
#cerdasFinansial

Kamis, 14 September 2017

Cerdas Finansial #day1

Cerdas Finansial, tanpa sadar sudah saya stimulus sejak anak-anak masih bayi. Entah karena bakat ibunya ini analitical, sehingga semua selalu diperhitungkan secara finansial, lebih-lebih saat LDR dengan suami, anak-anak adalah satu-satunya tempat saya bersiskusi, tentang belanja, tentang uang yang tinggal sedikit, hahaha, (masa perjuangan), walau mereka tidak me jawab, tapi itu sangat melegakan saya. Ternyata apa yang saya diskusikan melekat di hati mereka, dan saat mulai bisa bicara mereka mulai berpendapat, dan trnyata ini melatih kecerdasan finansial anak-anak.

1. Oza
Sejak usia 6 tahun, saya baru mengenalkan tentang mata uang. Sebelumnya konsep rejeki sudah saya sampaikan walaupun belum maksimal. Oza sudah mulai "nyelengi" walau belum paham tentang mata uang, saat menerima pemberian dari saudara. Mulai usia 6 tahun ini saya memberiNya uang setiap hari Rp. 2.000. Uang itu bukan hanya untuk jajan, tetapi untuk membeli keinginannya seperti mainan. Saat itu belum saya kenalkan tentang konsep kebutuhan dan keinginan.

Meningkat saat usia 7 tahun, dan dia mulai HS. Dia ingin menggandakan uang dengan cepat. Maka munculah ide-ide untuk berjualan dengan tujuan tertentu.

A. Bulan Juli 2016
Berjualan jus jambu untuk mendapatkan uang dengan cepat, belajar memisahkan uang modal dan keuntungan. Berhenti saat harga jambu  dan gula naik, sedangkan harga jual tidak bisa naik. (Kemampuan beli teman-temannya).

Selain jualan jus jambu oza juga usaha ngeprint. Walau prakteknya saya harus membantu ngeprint. Tetapi pengelolaannya oleh Oza, mulai kulakan kertas, dan tinta. Usaha printer masih berjalan hingga sekarang.

B. Maret 2017
Usaha jual snack dengan merk "oza snack" untuk membeli otopad. Berhenti saat sudah membeli otopad.

C. Juni 2017
"Nasi Box" Oza, menerima pesanan nasi box, dalam praktenya saya dan budhe turun tangan, produk ini karena Oza hobi masak...hehehe, masih berjalan nunggu ada pesanan

D. Agustus-September 2017 (Oza 8 tahun)
Melanjutkan projek beternak ayam untuk investasi katanya besok kalau beranak bisa dijual. (Melanjutkan game level 7)
Sekarang saya memberi uang harian Rp. 3000, sekarang saya beri uang per 3 hari, jadi total Rp. 9.000.
Selanjutnya, saya tanya apa saja yang kamu butuhkan ?
1. Pakan ayam
2. Jajan
3.  Sedekah saat sholat jumat.
4. Tabungan pribadi

Untuk saat ini belum saya ajari prosentase, karena akan terasa sulit, cuma ingin saya amati bagaimana dia mengelola dengan dicatat.

2. Aisya  usia 4,5 tahun

Aisya baru belajar konsep rejeki. Hari ini dia ingin sekali gantungan kuda poni, seisi toko mau dibeli semua.
A : mama kalau punya uang belikan gantungan kuda poni ya?
M : kita doa dulu yuk sama Allah biar dapat rejeki dan bisa beli.

Selain konsep rejeki juga saya ajarkan bagaimana mengelola keinginan. Aisya ingin jajan banyak kalau pulang sekolah. Nah saya batasi hanya Rp. 2000 saja, tidak boleh lebih.

#day1
#Level8
#Tantangan10Hari
#RejekiPastiKemulyaanHarusdicari
#CerdasFinansial



Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Resume Diskusi Materi 8

Selasa, 12 September 2017 pukul 20.00 - 21.00

Fasilitator : Septi Peni Wulandani

Korlan : Evi Kumala K

Materi

Institut Ibu Profesional

Kelas Bunda Sayang sesi #8

MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI

Apa itu Cerdas Finansial?

Menurut para ahli cerdas finansial adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mengelola keuangan.

Apabila disesuaikan dengan konsep di Ibu Profesional bahwa uang adalah bagian kecil dari rejeki, sehingga dengan belajar mengelola uang artinya kita belajar  bertanggungjawab terhadap bagian  rejeki yang kita  dapatkan di dalam kehidupan ini.

Apa pentingnya cerdas finansial ini bagi anak-anak?

Di dalam Ibu Profesional kita memahami satu prinsip dasar dalam hal rejeki yaitu,

Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari

Ketika anak sudah paham konsep dirinya, maka kita perlu menstimulus kecerdasan finansialnya agar :

Kemuliaan Anak Meningkat

dengan cara :

a. Anak paham konsep harta, bagaimana memperolehnya dan memanfaatkannya sesuai dengan kewajiban agama atas harta tersebut.

b. Anak bertanggungjawab atas pengelolaan keuangan sendiri.

c. Anak terbiasa merencanakan (membuat budget) berdasarkan skala prioritas.

d. Anak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

e. Anak memiliki rasa percaya diri dengan pilihan "gaya hidup" sesuai dengan fitrahnya, tidak terpengaruh dengan gaya hidup orang lain.

f. Anak paham dan punya pilihan hidup untuk menjadi employee, self employee, bussiness owner atau investor.

Bagaimana Cara Menstimulus Cerdas Finansial pada Anak?"

1.Anak-anak perlu dipahamkan terlebih dahulu bahwa rejeki itu datang dari Sang Maha Pemberi Rejeki,  sangat luas dan banyak, uang/gaji orangtua itu hanya sebagian kecil dari rejeki.

Sehingga jangan batasi mimpi anak, dengan kadar rejeki orangtuanya saat ini.

Karena sejatinya Anak-anak adalah milik Dia Yang Maha Kaya, bukan milik kita

Sehingga kalau akan minta sesuatu yang diperlukan anak, mimpi sesuatu,  mintalah ke Dia Yang Maha Kaya, bukan ke manusia,  meski itu orangtuanya.

2. Ajak anak berdialog tentang arti KEBUTUHAN dan KEINGINAN

Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda

Keinginan adalah sesuatu yang bisa ditunda.

Bantu anak-anak membuat skala prioritas kebutuhan hidupnya berdasarkan dua hal tersebut di atas.

3. Setelah paham dengan prioritas kebutuhan hidupnya, maka latih anak untuk membuat "mini budget", sebagai bentuk latihan merencanakan berdasarkan skala prioriitas

Mini budget ini bisa dibuat 3 harian, 1 minggu atau 1 bulan bergantung pada kemampuan dan usia anak.

Dengan adanya mini budget ini anak akan berkomitmen untuk mematuhi apa yang sudah disepakati, kemudian bertanggung jawab menerima konsekuensi apapun atas kesepakatan yang sudah dibuatnya

4. Anak dilatih mengelola pendapatan berdasarkan ketentuan yang diyakini oleh keluarga kita.

Contoh : Apabila mini budget sudah disetujui oleh orangtua, dana sudah keluar,  anak-anak akan belajar memakai ketentuan yang sudah disepakati keluarga misal kita ambil contoh sbb:

Hak Allah : 2,5 - 10% pendapatan

Hak orang lain : max 30% pendapatan

Hak masa depan : min 20% pendapatan

Hak diri sendiri : 40-60% pendapatan

5. Lakukan apresiasi setiap anak menceritakan bagaimana dia menjalankan mini budget sesuai kesepakatan.

Latih lagi anak-anak untuk membuat mini budget berikutnya dengan lebih baik.

Prinsipnya adalah : Latih - percayai-jalani-supervisi-latih lagi.

Ingat sekali lagi prinsip di Ibu Profesional

for things to CHANGE, I MUST CHANGE FIRST

Apabila kita menginginkan perubahan maka mulailah dari diri kita terlebih dahulu.

Maka sejatinya materi ini adalah proses kita sebagai orangtua agar cerdas finansial dengan cara learning by teaching belajar mengajar bersama anak-anak. Jadi yang utama harus belajar tentang cerdas finansial ini adalah kita, orangtuanya, kemudian pandu kecerdasan finansial anak-anak kita sesuai tahapan umurnya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Sumber bacaan

Ahmad Gozali, Cashflow for muslim, 2016

Septi Peni Wulandani, Mendidik Anak Cerdas Finansial, bunda sayang, 2015

Eko P Pratomo, Cerdas Finansial, artikel Kontan, 2015

Sesi Tanya Jawab

1⃣ Assalamualaikum,

Saya nurul dari kaltara

Yang ingin saya tanyakan di tantangan kali ini dari usia berapa kita memulai mengenalkan uang kepada anak dalam artian  ini uang rp.1000, rp 2000 dan seterusnya.

Mengingat saya belum memperkenalkan uang kepada anak saya di usia nya yang 4tahun 10bulan.

Saya hanya selalu mengingatkan bahwa kita tidak harus selalu membeli apa yg kita inginkan.

Kita harus menabung.

1⃣ Wa'alaykumsalam mbak Nurul di Kaltara. Mengenalkan uang pada anak itu tidak ada patokan,  bergantung pada lingkungan dimana anak-anak dibesarkan.

Misal di lingkungan pedagang, maka anak-anak pasti akan lebih cepat ingin mengenal uang karena mereka melihat hal tersebut setiap hari.

Anak yang lingkungannya hobi jajan, pasti juga ingin mengenal uang lebih cepat.

Anak yang berada di lingkungan pegawai, dan tidak suka jajan biasanya rasa ingin tahu tentang uangnya lebih lama dibandingkan dua lingkungan sebelumnya.

Maka aksi yang mbak Nurul ambil agar anak menabung dulu unt sesuatu yg akan dia beli, ini bagus, karena mrngajak anak berpikir, yang dia ingin beli itu masuk kebutuhan/keinginan. Akan lebih bagus lagi apabila anak diajarkan untuk berinventasi. ✅

2⃣Assalamualikum bu Septi..

Berkaitan dengan kecerdasan finansial anak, ada beberapa yang ingin saya tanyakan :

1. Mulai kapan kita bisa mengenalkan kecerdasan finansial pada anak?

2. Untuk usia 4 tahun, dimana anak belum mengerti ttg uang bagaimana menumbuhkan kecerdasan finansialnya?

Terimakasih bu..

Dian Kusumawardani- IIP SBY RAYA

2⃣ Wa'alaykumsalam wr.wb Mbak Dian di Surabaya.

Sebelum masuk ke kecerdasan finansial yang perlu kita fokuskan  justru konsep rejeki dan uang terlebih dahulu yang perlu dipahamkan ke anak-anak.

Contoh : anak usia 3 th ingin mobil-mobilan warna biru. Merengek minta ke ortunya.

Respon ortu : "Kak, bukan bapak ibu yang bisa memenuhi permintaanmu, hanya Allah yang bisa memenuhinya, maka mintalah ke Allah, Dia Yang Maha Kaya"

Apabila kita sudah ada kelebihan rejeki dan tergerak membeli mobil warna biru sesuai spec yg diingankan anak kita, segera belilah, dan berikan kejutan ke anak-anak

Ortu : "Kak, alhamdulillah Allah mengabulkan doamu, bapak ibu diberikan rejeki, dan digerakkan untuk membeli mobil-mobilan kesukaanmu, ini dia,  segera bersyukur ke Allah ya"

Konsep rejeki sudah bisa mulai dilatihkan sejak anak mulai bisa berbicara usia 1 th ke atas - 7 th (usia sekolah) anak sudah punya keinginan dan kebutuhan.

Dipahamkan berulang-ulang, mana yg menjadi keinginan dan mana kebutuhan. Penuhi yang masuk kategori kebutuhan terlebih dahulu.

Setelah anak-anak paham konsep rejeki dan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, barulah dilatih unt merencanakan mini budget, sekitar usia -usia sekolah ( ingat, bukan uang jajan tetapi mini budget).

Tanyakan ke anak :

Usia 7-10 th:

"Apa saja kebutuhan kakak selama 3 hari - 1 minggu ini?"

Usia 11 -14 th: " Apa saja kebutuhan kakak selama 1 minggu - 1 bulan ini?"

Usia 14 th ke atas :

"Apa saja kebutuhan kakak selama 3 bulan - 1 tahun ini dan bagaimana cara mendapatkannya?"

Biarkan anak menyebutkan, menuliskan dan kita mempertimbangkan, menolak/menyetujui mini budget yg diajukan anak.

Biarkan mereka bertanggungjawab mengelolanya.

Ketika anak di bawah usia 14 th, sudah bisa berinisiatif untuk buka usaha sendiri unt memenuhi kebutuhannya, acungi jempol. Itu BONUS untuk anak.

Kalau uang jajan masih minta kita, berati BENAR, karena kebutuhan anak masih TANGGUNG JAWAB  kita. Maka lanjutkan mini budget anak, dan latih terus sampai mahir mengelola pendapatan, tanpa harus mengungkit ungkit BONUS usaha yg dilakukan anak pre aqil baligh.

Ketika usianya masuk aqil baligh atau sudah 14 th ke atas, dan masih minta uang jajan kita itu artinya kita sedang ber SEDEKAH kepada fakir miskin, karena anak kita sdh aqil baligh, belum memiliki pekerjaan, atau sudah memiliki pekerjaan dan belum bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Maka jelaskan konsep ini ke anak aqil baligh dan IKHLASLAH ketika masih harus bersedekah ke mereka. Terima sebagai bentuk konsekuensi kesalahan pola pendidikan kita dulu. ✅

3⃣ Assalamualaikum bu septi. Si sulung sebulan lagi 4 tahun insyaa Allah. Saat saya sedang dalam trimester pertama, kami 'ngungsi' ke rumah mertua dan kebiasaan jajannya terbentuk. Saat ini kami sudah kembali ke rumah, saya berusaha membuatkan kudapan dan jarang membawanya ikut serta ke warung, tapi dia masih suka meminta jajan sampai menangis keras karena tidak diberi. Apa yang harus saya lakukakn?          Anggi- Sulsel

3⃣ Wa'alaykumsalam mbak Anggi. Apa yang sudah mbak anggie lakukan benar, menyiapkan jajan yg diperlukan anak di dalam rumah, bukan di warung. Maka kalau anak menangis silakan buat kesepakatan  bahwa tidak ada yg berhasil do rumah ini dengan teriak dan menangis-nangis.

Jangan berikan selama anak masih menangis.

Kalau sudah tenang, minta anak untuk berdoa ke Allah minta sesuatu. Lakukan tahapan seperti jawaban no sebelumnya✅

4⃣ Bagaimana mengajarkan anak usia 5thn dan 7thn untuk menabung?

Abang nya setiap membawa bekal uang selalu habis, awalnya saya memberikan 5rb /hari. Uang bekal sebanyak itu terkadang ada teman nya yang meminta di jajanin.

Setelah kami evaluasi ternyata kami mengajarkan kemudahan bagi nya, bekal yang banyak juga Catering. Mengingat anak saya Dzuhur di sekolah.

Akhirnya sekarang kami rubah dengan membawa bekal 3.000 dan membawa kue / Snack dari rumah.

Tapi sudah sepekan ini bekal uang nya selalu habis. Kadang kalau saya tanyakan digunakan untuk apa saja. Abang nya menjawab membeli Milkuat atau minuman dingin lainnya.

Lain hal nya dengan adeknya, yang belum mengerti banyak tentang nominal uang. Dan masih coba diajak main belanja belanja an.

Mohon pencerahannya.

Karina - IIP Babel

4⃣ Mbak Karina, jangan diartikan sempit kecerdasan finansial hanya sebatas bisa mengelola yang jajan

Ingat bukan "uang jajan" karena kebutuhan hidup anak kita itu tidak sekedar jajan.

Nanti kita akan terkaget-kaget ketika anak ternyata di mini budgetnya tidak mencantumkan "jajan".

Jujur saya dulu terheran-heran dg mini budget anak-anak saya,  mengapa mereka tidak jajan, sampai saya harus mengajari jajan, berharap anak-anak normal, krn kebanyakan anak lain adalah tukang jajan. Tapi ternyata jajan tetap tidak menjadi item mini budget anak-anak.

Mereka baru jajan ketika emaknya pengin jajan, (karena dulu kecilnya saya tukang jajan😬, pak dodik tidak pernah jajan), ternyata efek pak dodik lebih besar ke anak-anak. Saya banyak belajar dari pola pendidikan pak dodik dulu. Dan ternyata saya yang harus banyak belajar ke anak-anak ttg konsep jajan ini. 🙈

Ketika anak-anak mulai berjualan, dapat hadiah uang karena prestasinya,  maka latih anak-anak untuk memahami pengelolaan uangnya sesuai ketentuan yg diyakini keluarga kita ( ini pentingnya punya standar pengelolaan keuangan keluarga).

Anak paham mana yg menjadi haknya dan mana yg menjadi kewajjban, sehingga mereka paham cara apa yg harus ditempuhnya berinvestasi atsu menabung. Kalau mrnabung pasti muncul kesadaran diri unt menabung tanpa diminta, demikian sebaliknya ✅

5⃣ Assalamualaikum bu..saya Esme dr Bogor..

Mw tanya, stimulasi cerdas finansial seperti apa ya yg cocok utk anak yg blm bs berhitung sama sekali? Utk menabung di celengan, membedakan kebutuhan dan keinginan sudah lama diterapkan...

5⃣ Mbak Esme, wa'alaykumsalam wr.wb.

Silakan lihat jawaban saya di no 2 👆 bahwa anak usia 1 th - 7 th disrimulus kecerdasan finansialnya dengan memahami konsep rejeki dan uang terlebih dahulu seperti tahapan di atas✅

6⃣ Dari Ingrid....

Assalaamu'alaikum Ibu Septi yg baik hati,

1. Saya msh blm begitu faham dgn poin2 dlm mini budget :

-Hak org lain

-Hak Masa depan

-Hak Diri sendiri

Boleh tlg diberi contohnya? 😊

2. Bagaimana pengelolaan yg benar utk  :

-uang saku 10ribu/hari

-pemberian dr saudara (utk ditabung atau dibelikan keinginan)

Tks byk Bu 😊

6⃣ Mbak Inggrid, wa'alaykumsalam wr.wb.

1. Mini budget itu dibuat oleh anak berdasarkan kebutuhan mereka. Misal anak menuliskan mini budget  sbb :

a. Uang jajan @Rp 10.000/hari x 5

b. Beli buku @ Rp 20.000 x 1

Maka total uang yg disetujui adalah Rp 70.000/minggu.

Maka anak akan bisa mengolahnya sbb :

a. Hak Allah

b. Hak untuk orang lain ( misal apakah anak-anak ada hutang ke temannya yg harus dibayar), atau hutang-hutang kecil lainnya.

c. Hak Masa Depan, misal anak sudah lihat apa yg diinginkan, maka iya berkomitmen untuk menyisihkan setiap minggunya sebesar berapa?

d. Hak diri sendiri, termasuk uang jajan, beli keperluan diri sendiri dll. Kalau di orang dewasa, unt makan sehari-hari, bayar listrik, PAM dll itu termasuk hak diri sendiri.

2. Pembelian dari saudara masukkan ke pos pendapatan lain, maka mau digunakan unt kebutuhan arau keinginan itu bebas. Kalau anak sdh paham ke utihan dan keinginan maka pasto akan memilih kebutuhan✅

Contoh uang saku Rp 10.000/hr maka

Pendapatan total : Rp 70.000

Anak-anak latihan mengelola uangnya

Hak Allah : 2,5-10% = Rp 7000

Hak orang lain (kalau ada) = max 30% =  Rp 2100/minggu.

Hak masa depan : min 20% = Rp 1400/minggu untuk sebuah mimpi yg diinginkan.

Hak Diri Sendiri : baru sisanya untuk jajan selama 1 minggu/ sesuai kebutuhan anak.

Diskusi Bebas

📝 Maaf bu mau bertanya..

Berawal dari berkah id fitri kemarin. Alhamdulillah ananda 4,5th mulai mengenal uang. Bersamaan dg family project maka saya berikan opsi tuk bikin kolam ikan. Sesuai dg impiannya. Yg agak lebar dr yg sblumnya.. Berlanjut   dg impiam jd penjual ikan dg modal sisanya tadi kita beli sama2..dan dijual. Uangnya berputar terus sampai bertahan di bulan ini uang itu masih ada meski sering digunakan tuk keperluan beli kebutuhannya ( karena kadang ada yg memberi lagi)  dari sini sya mencoba membiasakan rajin berbagi misal pergi k masjid pasti bawa uang tuk dimasukan kotak,  atau ketika ada pengemis. Tapi dg harapan ada yg memberi lagi lbih banyak sesuai dg yg dijanjikan allah yg ada dibukunya. 🙈

Maaf, Pertanyaan saya bu septi.

1. Apa saya berlebihan mempercayakan pengelolahan uang tuk umur 4,5 th. Meski kadang ada diskusi jk dia ingin sesuatu?tp kadang merasa apa sya terlalu tega ya..

2. Bagaimna cara menanamkan ikhlas memberi tanpa harapan imbalan tuk usia ini?

Trims😊🙏

-Nifsah-

🍀 Mbak Nisfah anak usia 4 th sebaiknya dikenalkan betapa Allah sayang kepada hambaNya lewat rejeki yg diberikan ke kita tiada terhingga.

Maka setiap hasil penjualan ikan biarkan anak paham bagaimana cara mengelolanya.

Dimasukkan 4 hak seperti contoh fi atas misalnya, maka anak akan paham, kalau dapat rejeki maka bagaimana caranya mengelola.

Setelah itu tunaikan apa yg sdh diposkan, kalau untuk ZIS ya biarkan anak mrlakukannya tanpa berharap apapun, lillahi ta'ala.  Ananda mrlakukan itu karena kecintaannya pada Allah, bukan karena berharap akan dapat seauatu yg lebih banyak.

📝 Hak masa depan..ini bisa digunakan utk traveling keluarga atau acara2 keluarga ya Bu?? Jadi sudah ada posnya masing-masing gitu ya??

-Febrina-

🍀 Ya betul mbak, itu untuk membiayai mimpi

📝 Tanya bu ☝...anak saya itu memang gak suka jajan bu tapi ttp aja minta cemilan.. Jadinya saya sediakan... Tapi jika datang abang ponakan suka bujukin buat jajan... Gimana bu biar gak ngikut abangnya.... Kadang saya kasian juga bu liat anak saya yang gak pernah jajan.. Kalo jajan cuma ngambil satu😁😁😁

-+62 856 5230 6081-

🍀 Sekali-kali merasakan jajan nggak papa

📝 Izin bertanya bu, untuk mengajarkan investasi pada anak usia 6-10 thn bagaimana ya baiknya bu?

-Lita-

🍀 Kalau saya bergantung passion anak. Dulu Ara saat usia 10 th investasi satu sapi, kmd belajar jual sapi 1, dibelikan anak sapi 2.

Kalau Elan dg membuat robocycle dijual programnya

Enes dengan mengolah sampah jadi berkah, from trash become cash.

Seperti itu mb

📝 Oww..berarti yang bisa digunakan anak² 40%(jajan dll) nya ya Bu?. dari mini budget yang sudah  direncanakan..

-+62 812 2558 3684-

🍀 👍

Rabu, 06 September 2017

Aliran Rasa "Semua Anak adalah Bintang"

Mengamati polah tingkah anak-anak, mengamati kegiatan yang membuatnya berbinar adalah hal yang paling menyenangkan bagi saya. Setiap anak adalah bintang, ya...Oza dan Aisya lahir ari rahim yang sama tetapi mereka memiliki keuNikan masing-masing.

Oza yang selama 20 hari ini masih setia dengan project merawat anak ayam, memberi makan, membersihkan kandang mengamati pertumbuhannya, mencari tahu bagaimana merawat ayam, bagaimana usaha ternak ayam, bagaimana usaha beternak ayam yang tidak merugikan tetangga dengan baunya. Kegiatan ini melatihnya di semua ranah baik interpersonal, intrapersonal, perubahan dan spiritual.

Berbeda dengan Oza, Aisya kegiatannya beragam mulai rutin membaca AlQuran, bermain dengan teman, menulis dan bermain peran. Aisya masih menguatkan ranah intrapersonal, dan mulai berlatih di ranah interpersonal.

Game level 7 ini menuntun saya, dalam mengamati anak-anak dan menstimulusnya agar menjadi khalifah di bumi sesuai kehendakNya.

Terimakasih Bu Septi, atas ilmunya semoga menjadi jariah, Mbak Mekar sebagai ketua Bulanan yang telah mendampingi dan merekap pengumpulan tugas, saya ucapkan banyak terimakasih.

Semua Anak Adalah Bintang

#aliranrasa
#gamelevel7
#KuliahBunsayIIP
#BintangKeluarga

Selasa, 05 September 2017

PROJECT BASED LEARNING

Diswapp Komunitas Hebat Grup Kader Nasional
📆 _Kamis, 31 Agustus 2017_
⏰ _jam 16.00-17.00 wib_
👩‍⚖ Bersama : Septi Peni Wulandani

Pengantar Materi

PROJECT BASED LEARNING

Assalamu'alaykum wr.wb

Apa kabar ayah bunda HEBAT semuanya? semoga kita semua selalu diberikan nikmat sehat dan semangat dalam membersamai langkah kaki anak-anak kita menuju peran peradabannya. Aamiin.

Menemani ngabuburit ayah bunda pada sore hari  ini, kita akan ngobrol bareng tentang "Project Based Learning". Seperti biasanya, saya tidak akan pernah menyampaikan segala sesuatu yang belum pernah saya kerjakan, sehingga sore hari inipun saya tidak akan mengemukakan teori apapun tentang project based learning. Saya hanya akan sharing pengalaman saya dalam menerapkan project based learning ini ke pola pendidikan anak-anak.

Beberapa hal tentang Project Based Learning ini sudah saya tuliskan di blog keluarga kami www.padepokanmargosari.com , maka ada baiknya sebelum masuk forum diskusi, ayah bunda membaca terlebih dahulu satu persatu proses project based learning yang kami jalankan bersama 3 anak kami berikut ini:

1. *Project Based Learning #1*
https://padepokanmargosari.com/2017/03/07/belajar-dari-perjalanan-enes/

2.  *Project Based Learning #2*
https://padepokanmargosari.com/2017/03/08/munculnya-sang-integrator/

3.  *Project Based Learning #3*
https://padepokanmargosari.com/2017/03/09/menemani-sang-komunikator-berproses/

Selamat menyimak terlebih dahulu, sampai jumpa di forum diskusi, insya Allah jam 16.00-17.00 wib nanti, 

Wassalamu'alaykum wr.wb

Salam HEBAT,

/ _Septi Peni Wulandani_ /

*sesi diskusi*
1⃣ pertanyaan pertama dari teh Elma Fitria
Assalamualaikum Bu Septi.

Apakah makna dewasa menurut keluarga Ibu ? Dan bagaimana Ibu dan Pak Dodik menggunakan project based learning sebagai media mereka belajar menjadi manusia dewasa, juga jadi jalan menemukan peran peradabannya ?

✍🏼 jawaban :
Wa'alaykumsalam wr.wb teh Elma.
Bertambah usia itu pasti, tapi kalau dewasa itu pilihan.

Menurut kami dewasa tidak selalu ditentukan dengan banyaknya usia, tapi ditandai dengan kematangan pola pikir dan perilaku, sehingga anak tersebut sudah mampu memikul kewajiban syar'i baik selaku individu maupun sosial.

Kami menggunakan project based learning ini sebagai media agar anak memahami konsep dirinya, menguatkan hubungan dengan sesama, memantik diri mereka jadi changemaker, dan endingnya menguatkan hubungan merrka dengan sang pencipta.

PBL inipun kami lakukan juga selaku orangtua untu berkarya bersama anak-anak membangun team bersama.

Contoh : dalam setahun kami membuat event camping nasional 3 x, yang panitianya full kami berlima, ini PBL ala keluarga kami.✅

2⃣ pertanyaan kedua dari ayah Eko

Terima kasih bunda Yardha...
Bu Septi....
Ketika saya baca perjalanan putra putrinya...kenapa sampah,susu dan robot yg muncul....
Apakah ini berhubungan dg lingkungan atau kondisi yg sdh kita siapkan sebelumnya atau lingkungan yg tersedia saat itu disekitar kita....?

✍🏼jawaban :
Pak Eko, ini berdasarkan passion anak saat itu pak. Kemudian setelah menemukan _passion_,  kami menambahkannya dengan _perseverance_ lewat project bases learning. Passion + perseverance inilah senjata kami untuk mendeteksi awal apa sesungguhnya peran hidup anak-anak di muka bumi ini, senjata apa yang sudah diberikan Allah padanya.

Mengapa harus PBL, dari sana anak mulai terlatih untuk melihat isue sosial di sekitarnya,.

Contoh : passion anak di bidang persampahan ➡ kami ajak untuk mendeteksi issue soaial di sekitar kami ttg sampah.

Passion anak ttg sapi dan peternakan ➡ maka kami mengajak anak tetsebut mendekat ke komunitas peternakan dan melihat issue sosial yg muncul

Demkkian juga ttg robot ➡ anak diminta untuk melihat ada issue sosial apa saja seputar anak dan teknologi.

Setelah melihat issue sosial kami mengajaknya bertanya dengan model :

_mengapa?_
_bagaimana jika?_
_mengapa tidak_?

Dari 3 hal tsb muncullah faktor changemaker di diri anal-anak

Selama menjalankan project ternyata berefek anak-anak makin cinta dengan Sang Khalik.✅

👋🏽 tanggapan :
Berarti kita harus sudah punya konsep ya bu ?

✍🏼 jawaban :
Betul pak. Saya dan pak dodik sudah menguatkan home based education sebelum anak-anak lahir, minimal ada values yang sudah kami pegang dan perjuangankan bersama. Values tetsebut terus diterjemahkan dalam pendidikan anak,  bisnis, komunitas dll. Sehingga kami menjadi pasangan yang sangat yakin bahwa antar

_mendidik anak, berkarya dan menjemput rejeki itu satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, apalagi dikorbankan_

3⃣ pertanyaan ketiga
Bu Ani Ch

Salam kangen bunda Septi..Saya tertarik dengan ide project based learning, bahkan saya merasa nuansa belajar dengan cara ini perlu diperkenalkan sebelum 10 tahun.

Saya pernah dampingi anak umur 5 tahun yg suka sekali belalang, lalu kita buat proyek 'mengumpulkan macam-macam belalang'. Akhirnya dia menguasai, berbagai spesies belalang bahkan di usianya masih dini. Dia adalah ensiklopedia 'berjalan' ttg belalang. Bahkan mengkampanyekan dunia belalang, walaupun hanya level sekolah dan sekitar rumahnya.

Menurut bunda Septi, apakah bisa dimulai sejak dini, nuansa proyek ini. Saya merasa, proyek sbg sebuah kegiatan 'bertujuan' serta 'terstruktur' prosesnya sangat penting dikenal anak usia dini. Atau mungkin bunda Septi punya pandangan khusus mengenai ini, apa yang bisa atau apa yang belum waktunya?

✍🏼 jawaban :
Salam kangen kembali bunda Ani, kalau bunda yakin bahwa PBL ini akan berjalan untuk anak usia dini silakan dikerjakan bun, nanti kita lihat bekerja dengan baik atau tidak.

Kalau dikeluarga kami, tidak berjalan. Karena PBL yang kami sepakati adalah project team, berkaitan dengan masyarakat, membawa perubahan dan melatih anak-anak menerima segala kehendakNya.

Di keluarga sangat pas ketika usia analk 9-10 th ke atas.

Sebelumnya kami menggunakan pola family forum, tantangan harian dengan durasi 1 jam -  max 3 hari dan menanamkan ke 4 hal :

Intellectual curiosity
Creative imagination
Art of discovery and invention
Noble attitude

Inilah pondasi dasar anak untuk masuk PBL. Karena di PBL kami sudah memakai durasi minimal 1 tahun.

Konsep ini saya terapkan di sekolah yang saya bangun, lebah putih ( www.lebahputih.com) jadi anak Kelas TK - kelas 3, konsep tematik, anak kelas 4 ke atas project based

👋🏽tanggapan :
Terimakasih bunda septi, intinya bisa dicoba dulu ya...lalu kita observasi spt apa

✍🏼 jawaban :
Betul karena konsep ini secara fitrah sangat bekerja untuk keluarga kami, tapi belum tentu cocok unt fitrah keluarga lain. Karena ada ruh konsep diri dan ada ruh konsep keluarga yang masing2 berbeda. Tugas kita mencari dan menyelaraskannya, tidak boleh asal copas.

4⃣. Pertanyaan ke empat
Bu Ninin

‬Apa indikator sukses atau tidaknya PBL?
Dan bu septi kan juga pernah cerita bahwa saat ini anak anak ternyata menekuni hal hal yg agak berbeda dg passion masa kecilnya
Misalnya mba ara yg tdk lagi mengurusi persapi an dan persampahan ... juga yg lain....

Untuk anak anayg yg sudah baligh semua apakah ada perbedaan konsep PBL mereka dg waktu kanak kanak?

✍🏼 jawaban :
Wa'alaykumsalam bunda Ninin, untuk indikator setiap project berbeda-beda. Karena sebelum menjalankan sebuah project, anak-anak kami latih untuk membuat indikator keberhasilan project yang akan dipimpinnya.

Contoh enes dengan sampah : salah satu
Indikatornya adalah belajar memahami berorganisasi dengan teman sebaya.

Ara justru membuat salah satu indikator di moo's projectnya adalah memahami kulturisasi budaya masyarakat desa.

Maka ketika ara menginisiasi untuk pagelaran wayang dalam rangka mengedukasi para peternak agar mau membuat desa incorporation, dia sangat tekun belajar konsep kulturisasi wali songo dan akhirnya menugaskan saya belajar dalang.

Jadi jangan pernah terjebak pada bidang yg ditekuninya. Justru saya konsentrasi pada peran yg dijalankan ara di desa itu.

Saya melihat kekuatan ara adalah sebagai integrator.

Maka setelah aqil baligh, dia membuat project based sendiri di bidang travelearning, Menjalankan peran integratornya ini dengan sangat baik.

Dia kumpulkan para changemaker global untuk bertemu dg para youngchangemaker belahan dunia lain. Untuk saling bertemu.

Sama terampilnya saat dia menemukan para profesor peternakan di kampus dengan para petani di desa.

Peran inilah yang membuat ara terpilih pertukaran pemuda di pilipina dan korea bulan september -oktober nanti unt bertemu dg para changemaker asia

Alhamdulillah selesai
Terima kasih atas kebersamaan teman-teman sore ini.

Terima kasih bun yardha.

*Host* :
Terimakasih banyak ibu Septi Peni Wulandani  atas ilmunya sore hari ini , sangat mencerahkan  sekali 😊🙏🏻

Mohon maaf bila kami masih banyak kurang dan salah kata.

Terimakasih juga kepada ayah bunda HEbAT semua, para arsitek peradaban yg selalu semangat menimba ilmu.

Sebagai rangkaian akhir diswapp kita sore ini, marilah kita tutup dg membaca istighfar 3x dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Jazakumullah Khairan Katsira…

Selamat menanti waktu berbuka puasa...

Wassalamu'alaikum...🙏🏼🙏🏼

Bu Septi: Wassalamu'alaykum wr.wb

Senin, 04 September 2017

Temukan Bakat Orang Tua Sebelum Menggali Bakat Anak

🏋🏼 🤺 🤼‍♀ ⛷🏂🤸🏼‍♀⛹🏼‍♀🤾🏼‍♀🏌🏼‍♀🏄🏼🏊🏼‍♀🤽🏼‍♂

Resume Diswap *HEbAT* Semarang

🏅  *Temukan Bakat Orangtua Sebelum Menggali Bakat Anak* 🏅

👨🏽‍🏫Narasumber: Bapak Kholik

🗓 Waktu: Sabtu,19/Agustus/2017
⏰ 20.00-Selesai
🎙 Host :  Bunda Lala
📝 Notulen : Bunda Nineng

*Profil*

✨ *Data Diri*
Nama : Kholik (Abdul Kholiq Junaidi)
Umur : 47 thn
♦ Founder Sekolah Karakter Imam Syafi’I (SKIS) Semarang
♦ Fasilitator *HEbAT Semarang*
♦ Pengurus Komunitas Pendidikan Karakter Nabawiyah
♦ Instruktur Nasional Kurikulum 2013
♦ Guru sekolah Formal sejak 1989 - sekarang
♦ Praktisi pendidikan Non Formal sejak 2004 – sekarang
♦Penulis Buku:
  🔹 “Pendidikan Karakter Nabawiyah”
  🔹“Kurikulum Sekolah Karakter Islam”
♦ Hobi : bersahabat dengan anak kecil

✨ *Pendidikan*
🏢SD         : di Semarang 1982
🏢SMP-SMA : di Demak 1985, 1988
🏢IKIP Negeri Semarang, jurusan Pendidikan Teknik Elektro 1994
🏢Santri Talents Mapping - 2016

✴✴✴✴✴✴✴✴✴

📋 Materi 📋

_Menurut Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF) Irene Guntur, M.Psi., Psi., CGA, sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia salah jurusan_

Astaghfirullah…, 87% mahasiswa Indonesia SALAH JURUSAN…?

⚠Kayaknya kita-kita orangtua juga harus banyak istighfar dech…!

Coba yang Ijasahnya cocok dengan perannya sekarang  siapa? Ngacung…!

Yakin dech, banyak yang salah jurusan…! Ngaku aja dech, gak usah malu2…! (termasuk saya juga he he…, malu jadinya) 

Kalau sekarang kita-kita orangtua sudah terlanjur sekolahnya salah jurusan, kuliahnya salah jurusan, kerjanya juga salah jurusan, apa masih mau pensiunnya juga salah jurusan?

Mau …, anak-anaknya salah jurusan juga?

Makanya sebelum menggali bakat anak, kita temukan bakat kita-kita orangtua terlebih dahulu.  *Bagaimana bisa nemukan bakat anak, wong bakatnya sendiri aja gak tahu…!*

Ada cerita begini…

💬Percakapan dgn seorang Bapak Bapak dan Saya

💬Bapak : Kerjaanku nggak salah jurusan tuh, lihat.. kerjaku hebat bukan…?

💬Saya :  Ketika hari jum’at sore tiba (besoknya libur) apa perasaan Bapak?

💬Bapak2: “Ya.., senang sekali, setidaknya bisa terbebas dari beban kerja meskipun  dua hari saja” 

💬Saya : ”Hebat belum tentu bakat Pak..!”

💬Bapaknya bilang lagi: Yang namanya kerja ya pasti ada beban kan…, namanya juga kerja keras…!

💬Saya bilang lagi: Bapak tidak berbakat dipekerjaan itu.

💬Bapak : ????!! (bingung), lha terus bakat itu yang bagaimana?

Lagi…

💬Ada kakek-kakek bilang: “Dulu waktu kakek kerja, kerjaannya sangat cocok banget dengan bakat kakek, prestasinya selalu luar biasa, temen2 kakek selalu acungkan jempol. Alhamdulillah sekarang kakek sudah pensiun, lega rasanya sudah terbebas dari beban bekerja.

💬Saya katakan: itu sih bukan bakat kek…!.

💬Kakek: ???!#!@=+><*

Satu lagi…

💬Emak-emak bilang : Aku tuh bakat banget dengan kerjaanku. sampai-sampai temen2 ku pada suka sama aku. Seneeeng banget. Asyiiikk gitu loh..!

💬Saya tanya: Emang eMak kerja apaan?

💬Emak : “nGrumpi” katanya.

💬Saya: ^%&*??!@!...., “itu sih bukan bakat mak..!”

Lalu…

❓❓❓❓❓❓❓❓❓
Bakat itu yang bagaimana?
❓❓❓❓❓❓❓❓❓

✴ *RUMUS BAKAT* ✴

Untuk mengetahui apa itu bakat, sangat Gampaaang..!

Ada rumusnya koq.

Aktifitas sehari-hari yang  kita lakukan termasuk bakat apabila memenuhi rumus :

✨ *“4E”* _(Enjoy, Easy, Excellent, Earn)_.
✨ *_Enjoy:_,* Asyik dalam melakukan aktifitas, saking senangnya kadang lupa waktu.
✨ *_Easy:_* Bisa melakukannya dengan mudah.
✨ *_Excellent:_* Hasilnya bagus
✨ *_Earn:_* Bermanfaat (dapat uang, atau manfaat sosial lainnya).

Kalau hanya *Easy, Excellent, dan Earn,* ~tanpa Enjoy~, namanya bukan bakat, tapi *kompeten* atau *hebat* atau *terampil*.

Kalau hanya *Enjoy, Easy, Excellent*, ~tanpa Earn~, itu juga bukan bakat, itu namanya *_Hobby_*
Nah..,kira-kira dari tiga cerita diatas  sudah tahu ya jawabnya, kenapa mereka bertiga disebut tidak berbakat..?

✴ Rumus Bakatmatika:

✨ _Bakat = Terampil+Enjoy_
✨ _Bakat = Hobby+manfaat_

*Jadi*

✨ _Bakat – Enjoy = Terampil_
✨ _Bakat – manfaat = Hobby_

Sekarang sudah tahu apa itu bakat, kompetensi, dan hoby khan? Kalau sudah tahu berarti…

*SELESAI*

Lho.., masih bingung?
❓❓❓

Kalau masih bingung berarti Ayah Bunda kurang aktifitas..!

Sudah Bapak - Emak koq kurang aktifitas, ngapain aja waktu mudanya dulu..? Salah jurusan ya…?

Gak apa-apa, gak ada kata terlambat menemukan bakat, walau sudah lansia sekalipun.

✴ *SOLUSI CEPAT MENEMUKAN BAKAT**

Setiap orang memiliki kekuatan dan keterbatasan.

Untuk lebih mudahnya untuk mengetahui kekuatan dan keterbatasan , kunjungi saja ke www.temubakat.com.

Ikuti saja semua petunjuknya dengan berpedoman pada “4E”, dan hasil pemetaan berupa gambar,  untuk dibaca waktu kulwap.

Ditunggu hasil gambarnya ya...

✴ *UNTUK APA SETELAH MENGENAL BAKAT?*

✨ Mengenal bakat sebenarnya untuk mengenal jati diri sehingga dengan mantab berani mengatakan “Inilah Aku”. 

Setelah mengenal kekuatan dan keterbatasan diri selanjutnya “Be your self”, karena jadi apapun kita, yang paling membahagiakan adalah menjadi diri sendiri.

✨ Setelah mengenal bakat akui kekuatan dan keterbatasan, kemudian fokus pada kekuatan dan siasati keterbatasan sehingga tidak menjadi kelemahan.

✴ *KENAPA HARUS BAKAT?*  

✨ Tidak ada manusia tidak berbakat, karena bakat adalah fitrah

✨ Dengan menemukan bakat berarti Anda telah menemukan misi hidup anda sebagai khalifah.

Anda telah menemukan peran spesifik sebagai khalifah di bumi.

✨ Dengan bakat produktifitas  makin meningkat

✨ Dengan bakat hidup makin menghebat

✨ Dengan bakat hidup bisa menjadi lebih bahagia

✨ Dengan mengenal bakat suami istri dan keluarga bisa lebih saling memahami.

✨ Dengan bakat hidup bisa lebih bermanfaat.

✨ Dengan bakat berpotensi menjadi manusia terbaik. Karena sebaik-baik manusia adalah paling bermanfaat bagi orang lain..

Satu lagi...

dengan bakat bisa *awet muda* loh….! Gak percaya…? Buktikan…!!!

✨✨✨✨✨✨✨✨✨

✍Sesi Pertanyaan✍
❓❓❓❓❓❓❓

🎤 *Host* :
Assalamu'alaikum pak....
Sebelum dimulai diskusi kita malam ini, apakah ada yg mau disampaikan kpd aybund disini pak?

🎯 *Bapak Kholik* :
Waalaikumussalam. Bismillah diswapp kita mulai.
Semoga Ayah bunda semua selalu dalam bimbingan Allah ta'ala.
Tetap semangat ayah bunda disini kita banyak teman untuk berbagi.

🎤 *Host* :
Kita langsung ke pertanyaan pertama.
1⃣ Bunda Ummu Alfatih

💬 Apakah bakat yang dimiliki  orangtua bisa "ditularkan" ke anak? ?

💬 Rasa tanggung jawab yang besar dalam pekerjaan kadang membuat kita lelah dan bosan. Apakah hal tsb berarti kita tdk bisa enjoy dan tidak sesuai bakat? Jaazakallohu khairan.

Silakan pak...

🎯 *Bapak Kholik* :
Bunda Ummu Alfatih yang dirahmati Allah...

Bakat adalah fitrah, yang menjadikan setiap orang spesial berbeda dari yang lainnya. Sehingga  bakat orangtua pasti berbeda dengan bakat anak. hanya saja bidang bakat atau perannya bisa jadi sama.
Jadi yang dapat ditularkan ke anak adalah "kompetensi" atau keterampilan, bukan bakat.

Rasa tanggung jawab adalah termasuk karakter moral (Fitrah Keimanan) yang harus tumbuh sebelum mengembangkan karakter kinerja (Fitrah Bakat).  Walaupun pekerjaan belum sesuai bakat bukan berarti tanggung jawab boleh dilepas. Terus temukan bakat dengan diringi rasa tanggung jawab.
Ibnul Qayyim berkata:

هذا كله بعد تعليمه ما يحتاج إليه في دينه ، فإن ذلك ميسر على كلأحد؛ لتقوم حجة الله على العبد، فان له على عباده الحجة البالغة، كما لهعليهم النعمة السابغة، والله أعلم
_“Semua itu (Bakat)  tentu saja dilakukan setelah  memahami berbagai pengetahuan yang diperlukan dalam menjalankan agama, mengingat pendidikan agama bukanlah hal yang sulit dan dapat dilakukan oleh setiap orang. Demikian itu agar sang anak kelak dapat mengemukakan alasannya (hujjah) kepada Allah, karena sesungguhnya Allah memiliki hujjah yang kuat terhadap hamba-hambanya, sebagaimana Dia telah melimpahkan nikmat Nya yang melimpah kepada mereka.  Wallahu ‘alam. (Ibnul Qayyim, tuffatul maudud bi Ahkamil Maulud, hlm 354)_

🎤 *Host* :
Berikutnya pertanyaan ke-2

2⃣ Bunda Inez

💬 Bagaimana mengembangkan bakat pada anak lelaki jika  lingkungannya men cap bakat tsb harusnya mnjadi bakat perempuan?
Dan sebaliknya
Misal anak lelaki senang memasak, anak perempuan senang otomotif..

Monggo pak

🎯 *Bapak Kholik* :
Bunda Inez yang baik...

Tenang aja bun..., selama fitrah gender (fitrah seksualitas) tumbuh dengan baik dan indah, maka kelak anak akan menggunakan bakatnya sesuai peran kelelakian atau keperempuanan nya,   insya Allah.

Selama masih anak-anak..., ya kembangkan aja....
So...rileks dan optimis.

🎤 *Host* :
Ini spt anak laki saya, suka kalo liat bunga. Jadinya saya belokin ke arah positif, semoga nanti jd petani bunga hehe.

🎯 *Bapak Kholik* :
Aamiin

👩🏻 *Bunda Zahara* :
Jadi pak, kalau anak balita laki2 suka main masak2an, fokusnya bukan diproses memasaknya sih, tapi pura2 di restoran atau cafe, dia jadi pemilik sekaligus chef, waiter & cashier, ga masalah ya pak?

🎯 *Bapak Kholik* :
Betul bu Zahara...
Ngalir aja...

🎤 *Host* :
Bunda inez ada tangapan kah. Silakan disampaikan.....

Lanjut pertanyaan berikutnya.
3⃣ Bunda Resi

💬1. Selama mengisi assessment sebenarnya sy bingung. Karena banyak yg sy check list tidak terlalu sesuai dg kepribadian sy.
Misal, ada pertanyaan yg mengaitkan antara penemu & penulis (itu yg sy tangkap). Sy suka menulis. Tp sy bukan orang yg suka menghasilkan sebuah penemuan.
Nah sy jd bingung jawabnya.
Akhirnya sy check list yg mendekati.
Apakah Hal tsb mempengaruhi keakuratan hasilnya?

💬2. Mungkin kah orang yg sama dpt results yg berbeda jika mengisi diwaktu yg berbeda.
Kl mungkin terjadi, berarti bakat itu bs berubah ya?

🎯 *Bapak Kholik* :
Bunda resi yang semangat ....

Alat pemetaan bakat hanya alat bantu untuk menemukan bakat. Yang paling tepat dalam menemukan bakat, ya pemilik bakat itu sendiri, yaitu yang bersangkutan...

Sebelum usia 10 tahun, bakat masih berubah-ubah, baru setelah 10 tahun mulai mengerucut dan menetap.
Bakat adalah pembawaan yang tidak dapat berubah. Adapun yang berubah-ubah adalah cara mengenali bakat yang dimiliki.  Bisa jadi hasilnya akan berbeda jika assessment di isi ketika suasana tenang dengan suasana yang tidak kondusif. Maka baiknya diulang-ulang aja bunda Resi..
tetap semangat ...semoga sukses

🎯 *Bapak Kholik* :
Sebelum saya tunjukkan cara membaca gambar peta bakat, mungkin ada pertanyaan dan tanggapan lagi?

🎤 *Host* :
Jadi bisa mencoba lagi  bunda resi utk mengisi temubakat nya.

Saya udah ngisi 3x, dan kayaknya mau yg ke-4 krn setelahnya baru paham beberapa bakat yg ada di kuesionernya.

🎯 *Bapak Kholik* :
Baik saya tunjukkan cara membaca gambar peta bakat njih AyBund... 

📄 *PEMBACAAN PETA BAKAT*

*_Perhatikan gambar hasil pemetaan bakat Anda ...!_*

🔎 Lingkaran tipe-tipe bakat yang berwarna *MERAH* merupakan *KEKUATAN* Anda 🔍

🔎 Lingkaran tipe-tipe bakat yang berwarna *HITAM* adalah *KETERBATASAN* Anda 🔍
( 🏞 _Gb. 3 Tipe Kepribadian_ )

*KEPRIBADIAN ANDA*

1⃣ *Introvert  / Intra personal / Individual*

Anda lebih senang berada dalam kesunyian atau kondisi yang tenang, daripada di tempat yang terlalu banyak orang.

2⃣ *Extrovert / Inter personal / Sosial*

Anda lebih senang berada dalam keramaian atau kondisi dimana terdapat banyak orang, daripada di tempat yang sunyi.

3⃣ *Ambievert*

Anda memiliki 2 kepribadian, yaitu _Introvert_  dan  _Extrovert_.  Orang dengan kepribadian ambievert jadi sering terlihat moody, karena sifatnya yang sering berubah-ubah.

🎯 *Bapak Kholik* :
Lanjut njih.. tentang Tipe pribadi Ayah Bunda...
( 🏞 _Gb. 4 Tipe Pribadi_ )

*Apa tipe pribadi Anda?*

1⃣ *Tipe Pekerja*

Anda memiliki sifat waspada, bertanggung jawab ,  sesuai aturan , terencana ,  fokus , suka menata ,  disiplin dan suka memperbaiki sesuatu.

2⃣ *Tipe Pemikir*

Anda memiliki sifat suka berpikir jauh kedepan  maupun kemasa lalu , penuh ide , analitis , suka mengumpulkan informasi , suka belajar , dan strategik.

3⃣ *Tipe Bersahabat*

Anda memiliki sifat bersahabat , ceria , peduli ,  ingin memajukan orang lain , tidak suka konflik ,  guyub , tahu tentang pribadi teman-temannya , mudah beradaptasi , mudah mengambil hikmah dari setiap kejadian.

4⃣ *Tipe Pemimpin*

Anda memiliki sifat tidak sabar bertindak , berani tatap muka , bicaranya jelas , berselera tinggi , penuh keyakinan tampil didepan umum , semangat berkompetisi , berani bicara dengan siapapun didekatnya.

🎯 *Bapak Kholik* :
Selanjutnya ...nih, biar makin pusing nih...ada 8 cluster bakat.
( 🏞 _Gb. 8 Cluster Bakat_ )

*Apa Tipe Bakat Anda?*

1⃣ Servicing (S): Kumpulan bakat-bakat yang terkait dengan peduli dan melayani orang.

2⃣ Technical (Te): Kumpulan bakat-bakat yang terkait dengan teknik, yaitu keterampilan anggota badan.

3⃣ Reasoning (R) : Kumpulan bakat-bakat yang terkait dengan kerja otak kiri bawah, yaitu segala sesuatu harus ada dasar atau fakta.

4⃣ Elementary (E): Kumpulan bakat-bakat yang terkait dengan administrasi dan bahasa.

5⃣ Networking (N): Kumpulan bakat-bakat yang terkait dengan berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain.

6⃣ Generating Idea (Gi): Kumpulan bakat-bakat yang terkait dengan kerja otak kanan, yaitu pemikiran tentang Ide, rencana jangka panjang, dll.

7⃣ Thinking (T): Kumpulan bakat-bakat yang terkait dengan kerja otak kiri atas, yaitu pola pikir analitis.

8⃣ Headman (H) : Kumpulan bakat-bakat yang terkait dengan aktifitas untuk tujuan meyakinkan atau mempengaruhi orang.

_Disingkat dengan kata_   *“STRENGTH”*

🎤 *Host* :
Wah warna warni nya mulai pada keluar....pusiang nih

🎯 *Bapak Kholik* :
He he...biar keliatan keren bu...😬

👩🏻 *Bunda Zahara* :
Lbh mantep workshop offline sih ini

🎤 *Host* :
Ealah saya S nya nyungsep...🙈

🎯 *Bapak Kholik* :
kalau sudah pusing, lanjut pembacaan hasil assessment aja yah...
khan sudah ada warna warninya sebagai rujukan...

🎤 *Host* :
Baik. Berikutnya pertanyaan ke-4 dari bunda Fathiya
4⃣ ( 🏞 _Gb. Assessment Bunda Fathiya_ )

🎯 *Bapak Kholik* :
Oh ya, sebentar coba saya baca, tapi mohon maaf ya Ayah Bunda barangkali ada yang menyinggung perasaan saya mohon maaf. Ini semata-mata hanya upaya untuk mengenal bakat kekuatan dan keterbatasan.

🎤 *Host* :
Semoga ayahbunda bisa memaklumi adanya 🙏🏻
Hai mbak Fath 💐 bnyk merah nya juga nih

🎯 *Bapak Kholik* :
Bu Fathiya yang baik. Atau dipanggil Mbak Fath aja ya...

Gini....
Kalau mbak Fath dikasih kerjaan sebagai bendahara atau buat pembukuan akuntasi kayaknya alergi ya mbak...🙏, soalnya waktu sekolah gak suka matematika kayaknya🙏

Tapi kalau dapat giliran mengajar atau memotivasi orang rasanya gue banget gitu yah...😊

Banyak nulis juga ya mbak., bagi dong tulisannya..

Mbak fath termasuk tipe Ibu yang bersahabat (gaul) dan bisa memimpin urusan rumah tangga.
Kalau sehari gak nyuruh2 orang rasanya gimana gitu ya mbak...
🙏 maaf.., hanya sekedar membacakan aja...

Jangan banyak2 mbak kalau ngoleksi barang, soalnya kalau rusak mbak Fath gak suka mbetulin.

Sekian
Pangapuntene sing kathah Mbak Fath.

👩🏻 *Bunda Fatheyah* :
🙏 maturnuwun sanget pak Kholik. Jd tambah clear. Mboten tersinggung. Banyak benernya. Hehe..

🎤 *Host* :
Sptnya pak kholik dan mbak fath sama2 gaul nih

🎯 *Bapak Kholik* : Saya introvert bu...hanya karena kompetensi aja..

🎤 *Host* :  Baik lanjut.. dari bunda Zahara
5⃣ ( 🏞 _Gb. Assessment Bunda Zahara_ )

🎯 *Bapak Kholik* :
Bu Zahara yang hebat....

Kalau disuruh urusan design, merancang, atau yg terkait ide2, mendingan bayarin orang mengeksekusi gitu yah...
Mending pakai design yg sdh jadi aja gampang, gak usah repot2 mikir.

Sering agak memaksakan kehendak kalau punya keinginan atau ide.

Khawatiran dan hati2 banget, sampai2 kunci motor didobeli. Gak bisa tidur kalau belum ngecek kunci pintu rumah.

Tapi Ibu hebat lho ... dalam mendidik dan menulis. Juga pinter banget ngatur rumah tangga sampai2 seringnya suami ngikut aja.👍

🙏...1000 x

🎤 *Host* :
Ta kira mb zhra commandnya gak merah lho hehe

👩🏻 *Bunda Zahara* :
Ga merah kok mbak. Cuma kuning

🎯 *Bapak Kholik* :
Kuning itu hampir merah...

👩🏻 *Bunda Zahara* :
Bener bgt sih pak, khawatiran.

🎤 *Host* :
Siipp.  Lanjut berikutnya hasil punya nya bunda intan
6⃣ ( 🏞 _Gb. Assessment Bunda Intan_ )

🎯 *Bapak Kholik* :
wow...super networker.
Bu Intan yang supel dan ramah...

Ibu bukan tipe pekerja keras, sehingga kadangkala rumah berantakan masih bisa enjoy2 aja...🙏 ehm maaf.

Kalau bicara sama anak2 atau siapa aja cenderung agak keras dan setengah memaksa....🙏 maaf lagi bu...barangkali keliru...

Gak suka administrasi dan mbikin2 apa gitu...pokoknya gak suka dengan teknik2 gitu lah...

Tapi hebatnya, bu Intan adalah seorang Ibu Pendidik, komunikator, motivator yg handal, dan pengatur keluarga yg handal juga.

Bu intan termasuk tipe Ibu yang gaul bagi anak2, dan dekat dg anak2 juga.

🎤 *Host* :
Ada tanggapan kah mb intan?
Ohh iya sdg tdk standby krn sdg ada aktivitas yang lain.

Baik lanjut ke assessment berikutnya, bunda Resi.
7⃣ ( 🏞 _Gb. Assessment Bunda Resi_ )

🎯 *Bapak Kholik* :
Bunda Resi...

Bakat yg ibu miliki merata pada semua tipe.  Sehingga Ibu sering disebut Ibu serba bisa.

Tetapi, bakat yg paling menonjol adalah di bidang "networking" seperti mengajar, trainer, motivator, komunikator dan sejenisnya.

Keterbatasan Ibu pada sifat kiritis diotak kiri bawah.  Nggak bakat jadi detektif dan peneliti sejarah kayaknya..😁🙏

Jadi pendidik bagi anak2 aja bu..., Hebat banget gitu...👍

Demikian bu Resi...
Mohon maaf njih.

🎤 *Host* :
Berikut assessment manual bunda Nenny.

8⃣ Nama : Ariandani (Nenny), Semarang

✅ *Paling Sesuai :*
1. Analyst
2. Caretaker
3. Designer
4. Evaluator
5. Restorer
6. Sythesizer

❎ *Paling Tidak Sesuai :*
1. Produser
2. Safekeeper
3. Treasury
4. Seller

🎯 *Bapak Kholik* :

Ibu Nenny cenderung memiliki tipe kepribadian introvert thinking, yaitu lebih senang dengan pekerjaan berpikir yang tidak banyak ketemu orang.
Namun demikian kepedulian Ibu terhadap orang lain sangat tinggi, sehingga Ibu tidak tegaan terhadap orang.

Karena banyak tenaga terkuras untuk berfikir sampai-sampai aras-arasen untuk bekerja yang terkait dengan kinerja fisik, sehingga tidak jarang pekerjaan beres-beres rumah terbengkalai.
Jika Ibu melihat sesuatu yang rusak atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya, pinginnya segera diberesi.

Kurang hati-hati dan waspada  sehingga sering kehilangan barang-barang yang dianggap sepele, dan suka lupa mengunci sesuatu, menganggap tidak perlu memasang kunci double pada mobil, motor atau lainnya.

Santai-santai saja ketika orang lain banyak yang khawatir tentang sesuatu.  

Peran yang mungkin cocok: Analis data, peneliti, perancang mode, tim pengembang dalam sebuah organisasi, atau pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan urusan berpikir.

Peran yang kurang cocok: Safety enginer, auditor, pengawas, bendahara, sales dan produsen barang.

Mohon maaf jika salah ya bu..
“fokus pada kekuatan siasati keterbatasan”

👩🏻 *Bunda Nenny* :
Nggih, matur nuwun. Alhamdulillah, pas 👍🏼😇
Sampaikan terima kasih kagem ustadz Kholik 🙏🏾

🎤 *Host* :
Hasil temubakat bunda wiwik Purwodadi
9⃣ ( 🏞 _Gb. Assessment Bunda Puji Pratiwi_ )

🎯 *Bapak Kholik* :
Ibu Puji yang ramah dan cerdas…

Ibu adalah pendidik yang ramah dan cerdas. 
Disebut pendidik karena Ibu senang memotivasi, mendorongnya untuk maju, pandai berkomunikasi dengan orang.

Ibu Puji termasuk Ibu yang ramah, enjoy bergaul dengan orang, peduli, dan suka melayani.
Ibu Puji memiliki kinerja otak kiri atas yang dominan, sehingga memiliki sifat analitis yang pandai bekerja dengan angka-angka dan data. Sehingga orang sering menyebutnya sebagai ibu yang cerdas.

Ehmm maaf Ibu…
Ibu bukan tipe pekerja , sehingga untuk urusan bersih2 dan beres2 rumah kadangkala terbengkalai.
Ibu termasuk  tipe orang yang tidak tegaan, suka mengalah jika terjadi konflik dengan orang lain (termasuk suka mengalah kepada suami…he.he..maaf, tetapi itu bagus lho bu…)

Peran yang cocok dengan potensi Ibu: Guru, dosen, motivator, trainer, pendidik anak dirumah yang patuh sama suami, dll.

Peran yang kurang cocok: Teknisi, technical enginering, manager perusahaan, HRD, auditor, pengacara, politikus, dll

Mohon maaf jika salah ya bu Puji…
“Fokus pada *kekuatan* siasati keterbatasan”

👩🏻 *Bunda Puji Pratiwi*:
Terimakasih Bu Lala, Pak Kholik. Insya Alloh sgt bermanfaat.

🎤 *Host* : 
Hasil temubakat bunda Hesti Pekalongan
🔟 ( 🏞 _Gb. Assessment Bunda Hesti Robithoh_ )

🎯 *Bapak Kholik* :
Ibu Hesti yang lembut…

Ibu Hesti adalah tipe ibu yang suka dengan keteraturan dan kerapian, sehingga asyik apabila melakukan kegiatan berupa beres-beres dan tata-menata isi rumah.

Ibu Hesti memiliki potensi yang dominan pada kinerja otak kiri atas, sehingga memiliki sifat analitis yang pandai bekerja dengan angka-angka dan data. Sehingga orang sering menyebutnya sebagai ibu yang cerdas. (waktu sekolah dulu senang dengan matematika ya bu..?)

Ibu Hesti termasuk Ibu yang ramah, enjoy bergaul dengan orang.
Ibu termasuk  tipe orang yang tidak tegaan, suka mengalah jika terjadi konflik dengan orang lain (termasuk suka mengalah kepada suami…he.he..maaf, tetapi itu bagus lho bu…)

Peran yang cocok dengan potensi Ibu: Guru, dosen, motivator, trainer, pendidik anak dirumah yang patuh sama suami, dll

Peran yang kurang cocok: Pengacara, politikus, manager perusahaan,  pekerjaan-pekerjaan yang terkait konfrontasi dengan orang, dll
designer, arsitek, pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan rancang merancang dll

Mohon maaf jika salah ya bu Hesti…
“Fokus pada kekuatan siasati keterbatasan”

👩🏻 *Bunda Hesti* :
Terima kasih Pak Kholik.... waduh banyak cocoknya, jdi senyam senyum sendiri 😄

🎤 *Host* :
Oya pak saya mau nanya, dari hasil yg keluar itukan ada bbrp yang lingkarannya putih,  tanpa warna. Kalo spt itu bgmn ya?

🎯 *Bapak Kholik* :
urutan kekuatan itu mulai dari warna MERAH, KUNING, PUTIH, ABU2, dan HITAM. Jadi warna putih itu tengah2 antara gue banget dan tidak gue banget alias netral.

🎤 *Host* :
Kalo misal waktu mengisi asal saja alias ga tahu maksud kuesionernya gitu, apkh tmsuk netral ?  Saya ngisi yg pertama kali banyakan putih nya hehe.  Ketahuan kalo kurang aktifitas 🙈

🎯 *Bapak Kholik* :
belum tentu netral bu.., tergantung tema bakat yang lainnya mana yang dipilih atau dicentang.

🎤 *Host* :
Alhamdulillah semua pertanyaan sudah mdpt jawabannya msg2.  Sebelum di tutup, apakah ada yang mau disampaikan kpd ayah bunda disini pak kholik ?

🎯 *Bapak Kholik* :
Ayah bunda hebat yang dirahmati Allah.
Bakat adalah karunia dari Allah ta'ala yang diberikan kepada setiap manusia untuk dijadikan sebagai bekal peran spesifiknya pada peradaban.
Memang bakat tidak ditanyakan di hadapan Allah ta'ala. tetapi umur akan ditanyakan untuk apa digunakan. kalau kita menggunakan umur kita untuk kegiatan yang kurang bermanfaat bagi orang lain karena tidak produktif akibat salah bakat, bagai mana kita mempertanggungjawabkannya. Lalu dikemanakan karunia bakat yang telah Allah  berikan...
mohon direnungkan..
sekian semoga bermanfaat

🎤 *Host* :
MasyaAllah nasihatnya

Maturnuwun sanget Pak kholik atas ilmunya malam ini , sangat mencerahkan 

Mohon maaf bila kami masih banyak kurang dan salah kata

Terimakasih juga kepada ayah bunda HEbAT semua, para arsitek peradaban yg selalu semangat menimba ilmu.

Sebagai rangkaian akhir diswap kita malam ini, marilah kita tutup dg membaca istighfar 3x dan do'a kafaratul majelis:

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد ان لا إله إلا أنت أستغفرك وآتوب إليك

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik

“Maha Suci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq disembah melainkan diri-Mu, aku memohon pengampunan-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”

Jazakumullah Khairan Katsira…

Kami dari tim pengurus HEbAT Semarang mohon undur diri ayah bunda HEbAT semua,

Selamat beristirahat

Wassalamu'alaikum wr wb 🙏

⛷🏊🏼‍♀🤾🏼‍♀🏌🏼‍♀🤸🏼‍♀🤺⛹🏼‍♀🤾🏽‍♂🤼‍♀🏂🏋🏼🤽🏼‍♂

Minggu, 03 September 2017

DISCOVERING ABILITY

_Review Tantangan 10 hari Sesi #7_

_Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional_

*DISCOVERING ABILITY*

Tantangan 10 hari yang sudah bunda lakukan di game level #7, kali ini berjaitan dengan "Discovering Ability".

Dua kata dalam bahasa inggris di atas, apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi panjang yaitu, kemampuan daya jelajah para orangtua dan guru selaku pendidik anak-anak untuk menemukan harta karun potensi-potensi yang ada dalam diri anak-anak.

Ada empat ranah yang sudah dilakukan oleh para Ibu Profesional di kelas bunda sayang ini  untuk melakukan proses pencarian potensi kecerdasan anak yaitu :

a. *Ranah intrapersonal (Konsep Diri)*

b. *Ranah Interpersonal (Hubungan dengan sesama)*

c. *Ranah Change Factor (Hubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan perubahan)*

d. *Ranah spiritual : (Hubungan dengan Sang PenciptaNya)*

Mari kita bahas satu persatu

1⃣ *Ranah Intrapersonal : KONSEP DIRI ANAK*

Konsep diri pada anak adalah suatu persepsi tentang diri dan kemampuan anak yang merupakan suatu kenyataan bagaimana mereka memandang dan menilai diri mereka sendiri .

Hal ini  berpengaruh pada sikap yang mereka tampilkan.

Konsep diri anak terbentuk melalui perasaan anak tentang dirinya sendiri sebagai hasil dari :

a.Interaksi dan pengalaman dengan lingkungan terdekat

b.Kualitas hubungan yang signifikan dengan orangtua dan keluarga terdekat

c.Atribut yang diberikan lingkungan terhadap dirinya.

Langkah-langlah yang wajib dikenalkan oleh orangtua dalam rangka proses mengenal konsep diri anak adalah sbb:

a. *Mengenal Allah dan ciptaanNya*

Anak yang makin mengenal dirinya pasti akan makin mengenal siapa penciptaNya

b. *Dilatih untuk membaca diri*

Dua fase penting dalam hidup  anak kita adalah ketika mereka  dilahirkan dan ketika mereka  menemukan jawaban mengapa mereka dilahirkan. Maka bantu anak-anak untuk meyakinkan dirinya sebagai ciptaan Allah yang terindah dan khalifah di muka bumi ini.

c. *Dilatih untuk membaca alam*

Anak-anak dilatih untuk memahami mengapa mereka ditempatkan Allah di alam dimana mereka tinggal saat ini. Memahami kearifan lokal dimana mereka dibesarkan.

d. *Dilatih membaca jaman*

Anak-anak bukanlah milik kita, mereka adalah milik jamannya. maka didiklah anak-anak kita sesuai jamannya. Mereka akan belajar mengapa mereka dilahirkan di jaman seperti ini dan tantangan jaman apa saja yang harus mereka hadapi.

Bantu anak-anak untuk mempersiapkan dirinya sehingga percaya diri menghadapi jamannya.

e. *Membaca Kehendak Allah*

Anak-anak yang sudah diilatihkan segala macam konsep diri dengan metode Iqra' seperti yang sudah dijelaskan di atas (membaca diri, membaca alam, membaca jaman) maka akan menjadi orang yang ikhlas dengan segala kehendak Allah padanya.  

Cara memahami konsep diri di atas akan menguatkan anak di ranah

*IMAN Dan AKHLAK*

Dua hal inilah yang perlu dikuatkan ke anak-anak di ranah konsep diri.

2⃣  *Ranah Interpersonal: HUBUNGAN DENGAN SESAMA*

Setelah anak memahami konsep dirinya dengan baik, saatnya mereka kita latih untuk menguatkan kecerdasan interpersonalnya (hubungan dengan sesama) lewat konsep diri yang sudah didapatkannya dengan menguatkan IMAN dan AKHLAK.

Dengan demikian diharapkan ketika berinteraksi dengan orang lain anak tetap kuat imannya, makin baik akhlaknya, makin mengenal jati dirinya dan tidak mudah terpengaruh.  

Dua fase penting dalam hidup seseorang adalah ketika bertemu dengan jodohnya ( jodoh ini bisa pasangan hidup, bisa partner kerja, bisa tetangga, bisa pekerjaan, bisa komunitas dll) dan fase di saat kita menemukan jawaban mengapa kita dipertemukan.  

Kecerdasan hubungan dengan sesama ini menjadi hal yang sangat penting bagi anak, karena akan menguatkan peran hidupnya dalam menjaga amanah berikutnya, yaitu amanahnya sebagai khalifah di muka bumi ini.

Ketika sudah masuk usia aqil baligh mau tidak mau anak  harus berhubungan dengan orang lain, minimal jodoh hidupnya dan keluarganya.

Dua senjata utama yang perlu dilatihkan ke anak-anak untuk meningkatkan kecerdasan hubungan dengan sesama adalah

*ADAB dan BICARA*

ADAB  akan membuka tabir ilmu yang tertutup, BICARA akan memudahkan seseorang untuk menyampaikan ilmu yang dimilikinya.

Untuk itu anak-anak perlu :

a. Belajar berbagai ADAB dalam hidup ini, agar bisa diterima  oleh lingkungan dimana mereka akan ditempatkan.

b Belajar mengkomunikasikan semua gagasan dan ilmunya dalam berbagai cara.

3⃣  *Ranah Perubahan: FAKTOR PERUBAHAN*

Sebagai Khalifah di muka bumi ini, salah satu tugas anak-anak ketika aqil baligh nanti adalah membawa perubahan ke arah yang lebih baik terhadap apa yang dipimpinnya. Perubahan itu minimal adalah perubahan pada dirinya sendiri, karena sejatinya semua orang adalah pemimpin untuk dirinya sendiri.

Anak yang sudah paham konsep diri, memiliki kecerdasan berhubungan dengan sesama, akan selalu membandingkan dirinya hari ini dengan dirinya kemarin. Hal ini memicu perubahan pada dirinya sebelum melakukan perubahan pada orang lain.

Seseorang yang sudah bisa memimpin dirinya, membawa perubahan untuk dirinya akan bisa membawa perubahan untuk keluarganya.

Seseorang yang bisa memimpin dirinya dan keluarganya, akan dengan mudah membawa perubahan untuk masyarakat/komunitas sekitarnya.

Dengan pola ini insya Allah kita bisa mengantarkan anak-anak menuju peran peradabannya, mampu memikul kewajiban baik secara individu maupun secara sosial.

4⃣  *Ranah Spiritual : HUBUNGAN dengan PENCIPTANYA*

Ketika anak-anak memahami peran peradabannya di muka bumi ini, maka mereka akan tumbuh menjadi individu yang meletakkan ranah spiritual sebagai yang utama dan pertama dalam kehidupannya. Mereka akan kembali ke fitrah sebagai makhluk spiritual, yaitu makhluk yang   pada dasarnya menerima siapa dirinya, mampu menjadi diri sendiri sesuai dengan peran hidup dari penciptaNya, dan mampu menyelaraskan dengan kebenaran yang hakiki.

Spiritualitas yang sesungguhnya adalah kemampuan setiap jiwa untuk hidup selaras dengan Sang Pencipta, hidup sesuai dengan kehendakNya.

Dari penjelasan di atas, Semakin yakin kita bahwa "discovering ability" yang dilakukan orangtua pada anak menjadi hal penting yang harus kita lakukan dalam membersamai anak-anak. Karena hal tersebut tidak hanya berpengaruh dalam peran hidup anak secara individu saja, melainkan sangat berpengaruh terhadap perubahan peradaban umat manusia di saat anak-anak kita aqil baligh dan menjalankan peran kekhalifahannya  di muka bumi ini.


_Salam Ibu Profesional_

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚 *Sumber Bacaan* :

_Howard Gardner, Multiple Intellegences, ISBN : 9789791208642, 2006_

_Septi Peni Wulandani,  Pola Pendidikan di Padepokan Margosari, makalah ilmiah, 2017_

🍁🍁🍁🍁🍁

1⃣Teh mekar, izin bertanya

Assalamu'alaikum ibu septi,
1. Bisa dicontohkan teknis memperkenalkan konsep diri kpd anak berumur 2th?
2. Bagaimana tahapan usia golden age anak utk pengenalan 4 ranah tsb?
3. Bagaimana jika ada ibu yg terlanjur belum memahami konsep dirinya, sehingga berimbas pada ranah hubungan dengan sesama, khususnya adab dan bicara kepada keluarga pasangan?

Terimakasih ibu🙏🏻

➡ Wa'alaykumsalam wr.wb

1.Bunda, untuk anak umur 2 tahun, konsep diri yang perlu dilatihkan adalah mulai dari ranah tentang proses "aku" anak ini. Misal namaku, rumahku, orangtuaku, makananku dll.

Setelah itu kenalkan  dengan berbagai ciptaan Allah yang ada di muka bumi ini, karena manusia yang makin mengenal dirinya maka dia makin memgenal siapa Tuhannya.

2.Untuk anak golden age, mulai saja dg mengenal siapa dirinya dan memahami lingkungan sekitar. Belum perlu ke ranah change factor dan ranah spiritual

3.Seorang ibu yang belum memahami konsep dirinya biasanya akan menjadi ibu yang "tuna adab" saat masuk ke ranah hubungan dengan sesama.

Maka kita perlu menguatkan konsep diri terlebih dahulu✅

2⃣Saya mau menanyakan, bila pada perjalanan mengamati interpersonal  nya anak anak. Lalu kita menemukan hal yang tidak baik pada anak. (Ujian bagi ranah intrapersonalnya) misalnya anak meniru apa yang dilakukan teman nya (sikap).
Bagaimana cara mengatasi hal tersebut?

Apakah mengurangi intensitas bermain dengan teman nya. Sambil mengokohkan interpersonal nya.

Rasanya kok seperti membentuk antibodi gitu ya Bu.

Karina - IIP Babel

➡Mbak Karina, seseorang yg konsep dirinya belum kuat, biasanya akan menjadi gampang terpengaruh ketika masuk di ranah hub dengan sesama.

Sehingga solusinya adalah menguatkan konsep diri anak, bukan mengurangi intensitasnya di ranah hub dengan sesama✅

Karina : Berarti tahapan itu harus terevaluasi dan dikuatkan terus menerus ya Bu?

Sambil lihat kembali jawaban Nomor 3.

Bu Septi : Betul mbak, tidak akan pernah terputus, harus dikuatkan pijakan awalnya, karena akan berpengaruh pada pijakan berikutnya. Dan ini tidak boleh berhenti sampai akhir hayat✅

3⃣Assalamualaikum Ibu,

Saya Lulu - Bekasi

Bu, sebelumnya Terimakasih sekali penjelasannya, jadi semakin paham posisi "Discovering Ability" ini memang Saya fokus ke 4 ranah itu selama tantangan, dan minim sekali materi tentang penjelasannya... Akhirnya sampai bertemu dengan artikel Howard Gardner...

Rasa curiosity Saya belum selesai bu...

Tadinya Saya memaknai Discover Ability ini ke arah potensi atau dikaitkan dengan talent anak anak...

Bagaimana cara mengaitkan dan menyimpulkannya Bu? Senang sekali jika diiringi dengan contoh...

Jazakillah Khairan Katsiran Bu 🙏

➡ wa'alaykumsalam wr.wb, mbak lulu. Kalau dikaitkan dg multiple intelkegences nya howard gardner, maka memahami kecerdasan anak ini masuk rabah konsep diri.

Contoh :

Konsep diri,
kita amati kekuatan anak ternyata di kecerdasan natural.

Ranah hubungan dengan manusia,
Kita ajak anak-anak untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki passion yg sama di ranah natural.

Ranah change factor,
Mulailah anak-anak mengasah dengan 3 pertanyaan. Mengapa, bagaimana jika, mengapa tidak?

Ranah spiritual
Anak-anak jadi semakin paham apa kehendak Allah ataa dirinya✅

4⃣Bu Septi, bagaimana jika konsep diri ini belum selesai dipahami untuk orang dewasa?
Bagaimana treatment yang sebaiknya dilakukan, karena untuk membersamai anak maka kita harus selesai terlebih dahulu,
Mohon pencerahannya 🙏🏻😊

Fitri - Tangsel

➡Mbak Fitri, ketika anak sudah ada di rahim kita, artinya diri kita sudah disiapkan Allah untuk mendidik anak-anak.sehingga pakai prinsip "belajar bersama" bukan "mengajar"

Karena belajar bersama maka tentukan jam belajar bersama, paling dasar adalah  berbagi bukan saling menuntut✅

5⃣Iyie-Cirebon
Membaca review ibu Septi ttg game level 7 ini, membuat saya merinding, karena bukan tugas yang bisa dibilang mudah. Dan sebenarnya bisa lebih mudah dijalani dengan kesamaan visi dengan pasangan. Jadi yang ingin saya tanyakan, *langkah apa yang harus diambil jika "negatif thinking" pasangan yang sepertinya mengambil porsi lebih besar pada pemikiran anak dibanding "positif thinking" saya*.
Contohnya begini, dalam banyak hal, anak saya selalu berpikir yang jelek dulu jika ditawarkan sesuatu misalnya outbond, biasa memikirkan akan jatuh, kotor terluka dan pikiran jelek lainnya. Padahal ketika terpaksa mengikuti outbond itu, akhirnya malah ketagihan.
Yang saya amati, pasangan saya pun hampir seperti itu, terbiasa menganggap negatif dulu dari segala sesuatu (entah itu kiriman berita, postingan tulisan saya di FB, bahkan tulisan-tulisan saya yang kadang memang berlatar belakang masalah kami, dengan tujuan berbagi hikmah, juga disikapi negatif) sebelum akhirnya mengambil kesimpulan bahwa itu memang bertujuan baik.
Makasih...

➡ Bunda Iyie, kl saya justru merinding  ketika menuliskan review ini, bahwa discovering ability ini bukan sekedar passion, talent, atau kognitif saja, itu bagian kecil dari proses discovering ability. Yang paling mendasar justru ini proses menjadi insan kamil.

Untuk tantangan bunda di keluarga, maka ini penting unt menguatkan pola komunikasi di keluarga kita. Ubahlah sesuatu yg negatif menjadi positif. Termasuk mengungkapkan kalimat negatif menjadi positif.

Misal : masalah ➡ tantangan

Nggak tahu ➡ ayo kita cari tahu.

Kalimat itu merepresentasikan pola pikir kita✅

6⃣Kami lihat putri2 kami, alhamdulillah tidak bermasalah dalam bersosialisasi. Kami lihat bisa bergaul dengan usia kelompok umur mana saja. Akan tetapi nenek dan kakeknya selalu khawatir karena (nenek dan kakek) seperti diintimidasi oleh lingkungan/orang2 yg bertanya ttg sosialisasi anak2 HS. Bagaimana sebaiknya menyikapi ini Bu?

Betty

➡ Nibet, berikan bukti bukan janji. Jadi tidak perlu banyak menjelaskam atau mengklarifikasi ttg konsep sosialisasi anak HS. Cukup berikan bukti bahwa anak-anak kita bisa bersosialisasi baik secara horisontal maupun vertikal✅

7⃣Menurut saya discovering ability itu proses seumur hidup...benarkah?

-Kris-

➡Betul bu Tati, tidak ada batas usianya karena ini proses menuju insan kamil.

Yang menjadi kendala kita dan para ahli pendidikan serta pengembangan bakat, discovery ability itu hanya seputar bakat dan ilmu kognitif yang perlu dijelajah

Padahal kedua hal tsb hanya bagian kecil saja.✅

8⃣Oya Bu, bila di usia Ananda yang 7tahun.

Apakah bisa diberikan kesempatan untuk memilih melanjutkan sekolah atau tidak?
Karena kalau saya ajak ngobrol sepulang sekolah yang diceritakan hal yang membahagiakan bagi nya ketika sekolah adalah bertemu dengan teman teman nya..
Hmm kadang cerita juga sih tentang belajar nya..

-Karina-

➡ Kalau sudah bahagia nggak perlu diganggu kebahagiaannya, nanti lama-lama anak akan menemukan sisi ketangguhan di ranah passion yg mana.✅

9⃣ Berarti yang paling awal daei discovering ability itu yang pemahaman diri ya bu?

Maaf saya masih belum "dapet" nih😅

-Rima-

➡Mbak Rima,

1. Ini tahapan yg harua diselesaikan satu-satu. Karena biasanya anak yg belum selesai konsep dirinya ketika masuk hub dengan sesama akan terjadi "Tuna Adab"

2. Apabila hanya kuat salah satunya, maka perjalanan ke insan kamilnya tidak sempurna.

Karena semua akan terjadi totalitas dan utuh

Anak yg memiliki konsep diri positif ➡ membuat/gabung komunitas positif ➡ membawa perubahan positif ➡ menjadi makhluk spiritual yang totalitas mengabdi pada Allah

Demikian juga sebaliknya.

Bakat, Kecerdasan majemuk itu ada di ranah konsep diri. Anak yakin, Pede dengan kecerdasan yang dimilikinya, kemudian menggunakan kecerdasan itu unt menjalankan tahapan berikutnya. Jadi kecerdasan itu hanya bagian kecil yg diperlukan anak.✅

Rima :Owh ya bu, mulai memahami😊

Sebuah hal baru buat saya nih😍
Telat menyadari saya nya🙈
➡ Wajar mb, karena kebanyakan dr kita melihat sesuatu yg tersurat, sehingga menyamarkan yg tersirat hehe...✅

🔟Berarti Kalau kita melihat anak yang suka mengikuti arus temannya berarti konsep diri belum kuat ya bu?
-Fahrina-

➡Betul mb, indikator anak sudah kuat di konsep diri ➡ rasa PERCAYA DIRI nya tinggi ➡ shg siap jadi khalifah, minimal memimpin dirinya sendiri ➡ anak yg sdh bisa memimpin dirinya sendiri kelak akan memimpin keluarganya ➡ seseorang yg sdh selesai dengan diri dan keluarga maka akan memimpin umat

Demikian juga sebaliknya✅

1⃣1⃣ Bu jika prosesnya terus menerus berkelanjutan bagaimana memandirikan anak anal bua setelahnya akil baligh terkait dgn discovering ability ini? Pematangan di konsep diri juga kah?
-lulu-

1⃣2⃣ Membaca penjelasan ibu tentang konsep diri diatas, bikin saya "cenut cenut" dan melihat di sekitar bahwa "tuna adab" yang terjadi di sekitar kita ini, berkaitan erat dengan konsep diri individu tersebut.

Saya sangat merasakan kalau sedang ada di kelas untuk mengajar, banyak rekan pengajar pun yang mengeluhkan tentang "adab" anak2 sekarang 🤔.

Berarti, konsep dirinya dulu yang harus dibenahi ya bu.

-Ummi-

➡Mbak lulu dan mbak ummi,

Ranah konsep diri ini menjadi SANGAT PENTING
, dengan membaca review ini kita jadi paham harus banyak "IQRA'" unt memahami konsep diri.

2.Untuk anak aqil baligh, ajak anak berpikir tentang jamannya,

kalau anak pre aqil baligh, dikayakan wawasan dan aktivitasnya, kemudian latih logika berpikirnya, ijinkan anak-anak melatih pola pikirnya. Jangan didikte dengan konsep kita.

Dengan harapan setelah aqil baligh anak siap memimpin jamannya.

3.Indikator  tahapan konsep diri adalah rasa PERCAYA DIRI nya tinggi.

Indikator ranah hubungan dengan sesama : anak-anak mulai bermanfaat untuk lingkungan terkecilnya, lingkungan terdekatnya.

Indikator Ranah perubahan : anak-anak mulai melakukan aksi/project untuk melakukan perubahan

Indikator Ranah spiritual : anak-anak sudah *IKHLAS* terhadap segala kehendak Allah terhadap dirinya.

Ikhlas ini mendekatkannya pada ridho Allah, sehingga hidupnya senantiasa dinaungi keberkahan ➡ keberkahan ini pemicu BAHAGIA✅

1⃣3⃣Ibu izin bertanya unt konsep diri apakah ada batasan usia anak sebaiknya usia berapa sudah mampu menjadi pemimpin dan paham konsep diri.

Apakah ini tidak berkaitan dengan bakat kepemimpinan pada anak yang setiap bakat anak berbeda-beda bu?
-Lita-

➡Mbak lita, tugas manusia di muka bumi ini adalah sebagai khalifah, maka tidak perlu bicara bakat memimpin, karena setiap orang ditakdirkan bisa memimpin dirinya sendiri. Tinggal scope area kepemimpinannya ini akan selaras dengan ujian dan ikhtiar di dalam kehidupannya.

Sehingga tidak ada batasan usia, krn konsep diri tidak sebanding dg usia, tapi sebanding dg kapan dia mulai mencari dirinya✅

Jumat, 01 September 2017

Hebat Belum Tentu Fitrah Bakat

🍯 *Cemilan Rabu* 🍯

*Hebat Belum Tentu Fitrah Bakat*

💁🏻 Kita semua percaya bahwa keistimewaan seseorang adalah apabila mereka mampu melakukan sesuatu dengan hebat.

👩‍👧‍👦Lalu bagaimana dengan anak-anak kita?
Hati-hati jika anak kita terlihat hebat dalam sebuah bidang atau peran,sesungguhnya itu belum tentu keistimewaan atau kekuatan dirinya.

👼🏻👼🏻Ciri anak yang melakukan aktivitas dengan penuh bahagia:
❤ Aktifitas itu dinanti-nanti kedatangannya,ditunggu-tunggu dengan suka cita dan tidak sabar.
❤Ketika tiba waktunya maka aktitas itu dijalaninya dengan penuh semangat dan kegembiraan seolah jamberhenti bergerak dan dia tenggelam dalamkeasyikannya.
❤ketika berakhir,maka mereka tidak mengatakan "Ahhh...akhirnya selesai juga..." tetapi tergambar di wajahnya kepuasan dan kebahagiaan yang luar biasa.

👨‍👩‍👧‍👦Tugas orang tua adalah:

💁🏻‍♂Fasilitasi anak-anak kita dengan beragam aktivitas, pilihlah 3 atau 4 saja yang terbaik lakukanlah hanya dua kali dalam sepekan, lengkapi dengan keterampilan dan pengetahuan pendukung maka fitrah bakat ini akan tumbuh subur.

💁🏻‍♂Ketika anak kita mengalaminya catat saat itu juga.

💁🏻‍♂Hebat belum tentu cukup tetapi fitrah bakat harus memenuhi empat hal yaitu _*Easy,Enjoy,Excellent, Earn*_


Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/


📚Sumber Bacaan:

Fitrah Based Education, 2016, Harry Santosa