Kamis, 09 Maret 2017

KURIKULUM ALLAH

Resume Kulwap Grup Hebat Nasional
Tanggal: 7 Maret 2017

KURIKULUM ALLAH

Oleh Adriano Rusfi

Semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini adalah rencana Allah, program Allah, blueprint Allah. Tak ada yang kebetulan dan tak ada yang sia-sia (3 : 190-191)

Setiap peristiwa hadir sebagai bagian dari sunnatullah, untuk merespons perilaku, permasalahan dan kebutuhan manusia. Musibahpun hadir sebagai jawaban atas ulah manusia (30 : 41)

Alhasil, atas kekuasaan Allah maka setiap peristiwa adalah pelajaran bagi manusia. Terjadinya sejumlah peristiwa "asbabun nuzul"nya adalah perangai  manusia itu sendiri, agar manusia belajar darinya.

Hebatnya lagi, setiap peristiwa yang Allah ciptakan dapat dimaknai dan diambil pelajarannya secara berbeda dan beragam oleh orang yang berbeda, sesuai dengan permasalahan dan kebutuhannya masing-masing. Itulah yang disebut dengan HIKMAH

Maka, apapun yang terjadi dalam kehidupan ini adalah KURIKULUM ALLAH. Seluruh peristiwa hadir untuk pendidikan dan pelajaran bagi kita dan anak-anak kita, sebagai bekal untuk menjalani kehidupan, di dunia dan akhirat.

Dengan demikian, pada dasarnya untuk menjalani kehidupan ini, untuk memiliki life skills dasar (Basic Life Competence), yang manusia butuhkan hanyalah Kurikulum Allah. Sedangkan Kurikulum rancangan manusia dibutuhkan untuk membangun kompetensi-kompetensi sekunder dan tingkat lanjut (Advanced Secondary Competence)

Dan agar anak-anak kita terdidik dengan Kurikulum Allah, yang kita butuhkan adalah :

Pertama, mencemplungkan anak-anak kita ke dalam realitas seutuhnya dengan penuh iman dan tawakkal pada Allah bahwa dia adalah pendidik, pemelihara dan pelindung terbaik anak-anak kita.

Kedua, berbaik sangka pada Allah, lingkungan dan kehidupan bahwa segala hal yang terjadi adalah penuh hikmah, pendidikan, maslahat dan manfaat bagi pendidikan anak-anak kita

Ketiga, membangun kepekaan ayahbunda dan anak terhadap terhadap segala peristiwa, dan bermujahadah penuh untuk mengambil pelajaran dan hikmah darinya.

Keempat, tidak "mengepung" anak dengan kurikulum-kurikulum akademik dan artifisial yang begitu padat, teknis dan rinci, sehingga anak-anak seakan terhalangi untuk belajar langsung dari Tuhannya. Kalau anak ingin belajar dari kurikulum Allah, maka OPTIMALKAN YANG ALAMI DAN MINIMALKAN YANG REKAYASA

DISKUSI📳
👳bang Aad

*Bunda Ana, Silvy, Primaria, Elma, Yesi, Ninin yang baik,* mungkin yang perlu kita "bersihkan" dari pemikiran produk-produk sekolahan kayak kita ini adalah kecenderungan untuk menstrukturkan dan mendokumenkan Kurikulum Allah.

Kurikulum Allah adalah kurikulum alami, mengalir. Kalau istilah orang Minang, Kurikulum Allah adalah "Alam terkembang menjadi guru"

Jadi kalau anak kita ingin dididik dengan kurikulum Allah, kita tak memerlukan desain, sistem, mekanisme, prosedur, LKS, lesson plan dan sebagainya.

Saya malah khawatir, jangan-jangan saya salah memberikan nama "Kurikulum Allah" nih, sehingga kita terjebak pada hal-hal yang bersifat struktural dan prosedural nih.

Justru kata kunci dari Kurikulum Allah adalah : natural, mengalir, non-rekayasa  dsb.

Kekuatan utama dari Kurikulum Allah bukan terletak pada sistematikanya, tapi pada kepekaan kita dalam mengambil pelajaran darinya.

Mari kita belajar dari proses turunnya AlQur'an. Bukankah "berantakan dan acak-acakan" serta sangat responsif terhadap peristiwa alias Asbabun nuzul ? Nah seperti itulah kira-kira gambaran kurikulum Allah

Justru kata kunci dalam menjalankan kurikulum Allah Adalah kerelaan untuk mengalir dan mengikuti sunnatullah-sunnatullah dalam kehidupan ini.

Apakah berarti kurikulum Allah itu tanpa panduan ? Sesungguhnya kurikulum Allah itu selalu memiliki panduan, namun Allah yang mengerti rahasianya. Kita hanya mengikutinya saja.

Mungkin ada yang pernah menonton film Forrest Gump. Film Itu adalah sebuah contoh yang baik bagaimana seorang hamba Allah menjalani hidupnya mengikuti kurikulum Allah  lalu dia menjadi Manusia berhasil. Itu sekaligus menjadi jawaban bagi Bunda Yesi apakah anak berkebutuhan khusus bisa mengikuti kurikulum Allah. Sekaligus juga menjawab pertanyaan Bunda Ninin Apakah non muslim juga bisa mengikuti kurikulum Allah, karena Forrest Gump adalah non Muslim, dan film Forrest Gump adalah kisah nyata.

Justru yang ingin saya pesankan Pada kesempatan ini adalah Jangan membuat program yang terlalu terstruktur, detail dan tertib terhadap anak-anak kita, seakan-akan kita telah menghalangi anak-anak kita untuk berinteraksi dengan kurikulum Allah.

Pernah dalam satu kesempatan, sebuah panitia Ramadhan telah membuat kurikulum ceramah tarawih yang begitu rapinya dengan target yang jelas pada akhir Ramadhan. Saya mengapresiasi upaya itu. Tapi saya juga mengingatkan, jika pada malam keduabelas, misalnya, ada sebuah peristiwa tertentu, maka tolong pada malam keduabelas itu sesuaikan materi ceramah dengan peristiwa tersebut. Itu namanya mengakomodasi kurikulum Allah ✅

momod Asih

wah, contohnya menarik sekali Forrest Gump 😍
👳bang Aad

Jadi saya sangat sarankan Bunda sekalian untuk suatu saat bisa nonton bareng film Forrest Gump. Film itu sangat baik menjelaskan Bagaimana kurikulum Allah berjalan pada diri seorang anak. Kata kuncinya adalah :

Run, Forrest... Run..."

👳bang Aad

Film Forrest Gump diawali dari simbol bulu ayam yang terbang ditiupkan angin. Itulah kurikulum Allah : anak-anak kita adalah bulu ayam itu. Angin itu adalah kurikulum Allah

🎙momod Asih

punteun bang Aad, apakah dlm kurikulum Allaah ini juga berupa konsep berserah diri? sy tiba2 menangkap konsep tsb saat membaca penjelasan bang Aad..😀
👳bang Aad

Betul, berserah diri dan tawakal. Tapi bukan berarti tanpa sistem. Sebagaimana Alquran yang turun secara acak merespons asbabun nuzul, tapi ada Rasulullah yang menata dan merapikannya kembali untuk kita. Maka kita para Ayahbunda adalah Rasulullah bagi anak-anak kita sendiri

👳bang Aad

Betul banget. Berserah diri pada Allah baru akan terjadi jika kita yakin bahwa Allah lebih hebat daripada kita

Menanggapi➡ 🎙 *momod Asih*

juga saat sy mengingat tagline Forrest Gump:  "Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get." menurut sy itu filosofi berserah diri...

👳bang Aad

Pendidikan Surau Merantau yang saya lakukan di Tangerang pada dasarnya adalah ingin menjadikan mereka berguru langsung kepada Allah. Sedangkan tugas para mentor hanya menata dan merapikan apa-apa yang mereka dapatkan dari kehidupan.

momod Asih

topik kedua
pertanyaannya seputar memilih metode pendidikan utk anak

PILIHAN METODE PENDIDIKAN

A. Ihsan, Pangkalpinang
Dalam konteks kurikulum Allah
a.bagaimana kita menempatkan dan memilihkan sekolah yang tepat buat anak?
b. Apakah juga harus memgikuti tes bakat?
c. Bagaimana konsep sekolah berasrama (umum atau sekolah tahfidz) yang anaknya sejak awal SD berpisah dengan ortu di luar kota, apakah ini baik untuk tumbuh kembang anak?

B. Novie, Batam
Bagaimana caranya kita menentukan pendidikan yg bagus dan tepat untuk anak..jujur saja skrg saya sedang bingung dengan pendidikan di sekolah2..mau di pendidikan negeri takut agama kurang..mau di sekolah islam tapi banyak sekolah2 tertentu yg mengarahkan anak ke aliran2 tertentu..dan saya belom bisa membedakan mana yg benar dan mana yg salah..karena yg tau hanya Allah semata.. Saya takut kalau sampai anak saya mendapat ilmu yg malah membawa anak ke arah yg "sesat" (bahasa kasarnya)..

C. Vivi, Bontang
Saya Vivi umma hafa (6mo). Jadi ustadz, jika anak tetap masuk dalam lingkup sekolah formal dengan jadwal padat, adakah upaya yg bs dilakukan orang tua untuk meminimalisir efek dr kurikulum artifisial yg padat tersebut? Atau jalan satu2nya memang harus home schooling?

D. Kiky
Saat ini begitu besar "godaan" kita utk menghafidzkan anak kita. Dari rayuan surga sampai kuliah diberbagai perguruan tinggi negara Timur maupun Barat.
Anak saya lelaki usia 10 tahun (5 SD). Saat ini bersekolah di sekolah alam, dgn metode yg lebih "fun" dan tidak terlalu fokus pada tahfidz.
Pertanyaan saya adalah bagaimanakah cara yg tepat dalam mentahfidzkan anak agar anak enjoy (sesuai dgn human development) dan hapalan itu pun tidak mudah sirna. Dengan target lulus sma sudah hafidz.

👳bang Aad

A. Ayah Ihsan dari Pangkalpinang, kalau kita ingin menerapkan kurikulum Allah pada anak-anak kita, maka Pilihlah sekolah yang tidak terlalu membebani anak-anak kita dengan kurikulum yang bermacam-macam, sehingga seakan akan menghalangi anak kita berinteraksi langsung dengan kehidupan. Kurikulum  Allah baru akan berfungsi pada anak-anak kita jika anak-anak kita memiliki kesempatan yang sangat besar untuk berinteraksi dengan kehidupan.

Nah justru lewat kurikulum Allah, ketika anak kita berinteraksi dengan kehidupan dia akan menemukan bakat-bakat sejatinya. Dalam kurikulum Allah akan ada Talent mapping yang luar biasa. Karena pada dasarnya salah satu prinsip agar anak kita menemukan bakat dan potensi dirinya adalah terus mencoba dan mencoba dalam kehidupan.

Sedangkan pendidikan berasrama hanya akan cocok setelah anak melewati masa kecilnya. Pendidikan berasrama adalah pendidikan yang cocok untuk mengembangkan kecakapan sekunder dan tersier. Sedangkan kecakapan hidup primer justru akan didapatkan di kehidupan itu sendiri, yang seakan ingin dihindari oleh pendidikan berasrama.

B. Bunda Novie dari Batam, memilih pendidikan yang bagus untuk anak itu sangat tergantung dari definisi kita tentang pendidikan itu sendiri. Jika pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan akademis, mungkin di luar negeri malah lebih baik. Jerman adalah contoh dari negara dengan pendidikan akademis yang baik.

Jika yang dimaksudkan itu adalah pendidikan agama, barangkali Mesir.

Tapi jika yang kita maksudkan pendidikan itu adalah pendidikan karakter, pendidikan watak, pendidikan kepribadian, maka tidak ada pendidikan yang lebih baik daripada di rumahnya sendiri, di kehidupan tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, di kurikulum Allah.

C. Bunda Vivi dari Bontang,jika Bunda Vivi sudah merasa Siap dengan home education, maka itu adalah pendidikan yang terbaik untuk membangun manusia Aqil baligh yang berwatak, berkepribadian, tahu potensi dan bakatnya.

Namun, jika belum siap, sebaiknya pindahkan anak bunda ke sekolah lain yang tidak terlalu membebani anak dengan kurikulum kurikulum artificial, yang saat ini dia tidak butuhkan, yang justru semakin menjauhkan dirinya dari kehidupan, semakin menjauhkan dirinya dari kurikulum Allah.

D. Bunda Kiky, tidak setiap anak Allah berikan bakat untuk menjadi seorang Hafidz. Sangat banyak ibadah-ibadah lainnya yang juga menawarkan karunia pahala, keunggulan,  Fadhillah buat orang tua, di luar menjadi Hafidz

Jadi, Biarkanlah anak-anak kita memilih ibadah-ibadah utamanya sendiri.

Kalau kita ingin anak kita menjadi Hafidz dengan enjoy dan penuh kesadaran, rajin-rajinlah membacakan kepada anak kisah-kisah yang terdapat dalam Alquran. Ceritakanlah semua itu sambil memegang Alquran, sambil mengutip ayat ayatnya. Insya Allah itu akan menginspirasinya untuk menghafalkan Alquran. Sekali lagi jika ia memang berbakat untuk itu. ✅
momod Asih

Jd ortu Ini Baiknya mengarahkan pendidikan anak utk cakap hidup sesuai dg keterampilan dan bakatnya ya pak?

👳bang Aad

Sampai anak menginjak usia Aqil baligh, pada dasarnya pendidikan untuk anak itu adalah menyiapkan nya menjadi manusia yang dewasa, yang mengembangkan bakat bakat dan potensinya, agar dia kelak menjadi manusia sukses.

Ukuran sukses itu sendiri ada tiga :

Pertama, dia berbahagia

Kedua, potensinya teraktualisasi secara utuh

Ketiga, dia bermanfaat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar